Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Malam yang Dibangun Menuju Tahajud: Bagaimana Rasulullah Tidur

Lima kebiasaan kecil membentuk waktu antara Isya dan Subuh bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: tidur lebih awal, menyucikan diri sebelum berbaring, posisi tidur dan rangkaian doa yang spesifik, tiupan bacaan surah ke telapak tangan, serta kalimat yang mengawali harinya. Masing-masing mungkin tidak terlihat seperti ibadah jika berdiri sendiri — namun bersama-sama, semuanya membentuk fondasi sunyi dari sebuah malam yang dibangun untuk berdiri menghadap Allah di sepertiga malam terakhir.

Baca 6 menit5 sumberEtiquettes

Penulis:The Quran Gallery team

Saat malam tiba, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghabiskan harinya sebagai seorang hakim, panglima perang, suami, dan ayah, dan tak satu pun dari peran tersebut berhenti saat matahari terbenam. Yang berubah, pada jam-jam antara Isya dan Subuh, adalah siapa yang beliau hadapi. Hampir semua yang diriwayatkan tentang malam beliau tidak ditujukan kepada siapa pun selain Allah. Sangat menarik untuk menelusuri seperti apa sebenarnya jam-jam tersebut — bukan sekadar kesan umum tentang kesalehan, melainkan sebagai urutan spesifik dan berulang yang bisa disaksikan, digambarkan, dan diwariskan kata demi kata oleh para sahabat.

Tidur Lebih Awal, dan Tidak Ada Obrolan Setelahnya

Abu Barzah al-Aslami menggambarkan sebuah kebiasaan, bukan sekadar ucapan:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ، وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum Isya dan berbincang-bincang setelahnya.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 568, halaman cetak 1/118 dari .

Al-Bukhari menempatkan riwayat ini di bawah bab yang secara lugas ia beri judul, “Dibencinya Tidur Sebelum Isya” — yang berarti ini bukanlah sekadar masalah selera pribadi. Obrolan apa pun yang mungkin terjadi di malam hari, tidak sebanding dengan waktu yang akan terbuang. Segala hal yang membangun sisa malam beliau — bacaan Al-Qur’an, wudu, dan sepertiga malam terakhir yang dihabiskan untuk salat — sangat bergantung pada tersisanya waktu malam untuk dihidupkan. Menunda waktu tidur berarti merusak seluruh rutinitas yang menyertainya.

Menyucikan Diri Sebelum Berbaring

Al-Bara’ bin Azib meriwayatkan apa yang diajarkan kepadanya menjelang tidur, dengan kata-kata yang sangat presisi sehingga ia mengulangnya kembali di hadapan Rasulullah:

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلِ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ، فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ

“Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudulah seperti wudumu untuk salat, lalu berbaringlah di sisi kananmu, kemudian ucapkanlah: ‘Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena harap dan cemas kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.’ Jika engkau meninggal pada malam itu, maka engkau meninggal di atas fitrah. Dan jadikanlah kalimat-kalimat ini sebagai ucapan terakhirmu.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 247, halaman cetak 1/58 dari .

Al-Bara’ menambahkan sebuah detail tentang dirinya yang tetap dipertahankan dalam kitab tersebut alih-alih dihilangkan: ia mengulang kembali doa tersebut di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memastikan hafalannya benar. Namun, ketika sampai pada kalimat “dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus,” ia menggantinya dengan “dan rasul-Mu.” Ia langsung dikoreksi saat itu juga — redaksinya harus persis “nabi-Mu,” bukan sinonim yang terdengar mirip. Fakta bahwa seorang sahabat keliru melafalkan doa di depan sumbernya, dan koreksi tersebut tetap abadi di dalam kitab bersamaan dengan doa itu sendiri, menunjukkan betapa pentingnya ketepatan kata, bukan sekadar makna di baliknya. Perintah untuk menjadikan doa ini sebagai ucapan terakhir sebelum tidur juga bukan tanpa alasan — menutup hari dalam keadaan suci, menghadap ke kanan, dan mengikrarkan kepasrahan diri yang sejati adalah fondasi bagi sisa malam tersebut.

Posisi Tidur dan Rangkaian Doa

Riwayat kedua dari Hudzaifah, yang ditempatkan oleh al-Bukhari di bawah bab yang secara khusus membahas hal ini, memberikan detail fisik beserta doa yang diucapkan pada awal dan akhir malam:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا. وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di tempat tidurnya pada malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, lalu mengucapkan, ‘Dengan nama-Mu, ya Allah, aku mati dan aku hidup.’ Dan apabila beliau bangun, beliau mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.‘”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 6314, halaman cetak 8/69 dari .

Kedua kalimat tersebut disusun agar saling melengkapi. Tidur diibaratkan sebagai sebuah kematian, dan bangun tidur sebagai sebuah kebangkitan — dan Al-Qur’an menggunakan perumpamaan yang sama untuk siang dan malam yang Allah tetapkan bagi semua orang, bukan hanya untuk beliau:

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ لِبَاسًا وَٱلنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ ٱلنَّهَارَ نُشُورًا

“Dan Dialah yang menjadikan malam untukmu sebagai pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit kembali.”

— Sūrat al-Furqān, 25:47.

Kata yang digunakan Nabi saat bangun — nusyur, “kebangkitan” — adalah kata yang sama yang menjadi penutup ayat tersebut. Bangun tidur adalah miniatur dari pengembalian ruh, sebuah gambaran kecil dari hari kebangkitan yang akan datang dalam skala yang jauh lebih besar. Seseorang yang memaknai bangun tidurnya dengan cara seperti itu setiap pagi, telah menghadirkan kesadaran akan hari kebangkitan di dalam dirinya bahkan sebelum hari itu benar-benar dimulai.

Penjagaan di Sepanjang Malam

Aisyah menggambarkan amalan penutup yang sama sekali tidak berkaitan dengan posisi tidur atau doa, dan amalan ini terus beliau lakukan bahkan ketika beliau terlalu lemah untuk melakukannya sendiri:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَفَثَ فِي كَفَّيْهِ بِقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَبِالْمُعَوِّذَتَيْنِ جَمِيعًا، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ، وَمَا بَلَغَتْ يَدَاهُ مِنْ جَسَدِهِ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di tempat tidurnya, beliau menadahkan kedua tangannya, meniupnya, dan membacakan di dalamnya Surah al-Ikhlas serta dua surah perlindungan [al-Falaq dan an-Nas], kemudian mengusapkannya ke bagian tubuh yang dapat dijangkaunya, dimulai dari kepala dan wajahnya.” Aisyah berkata: “Dan ketika beliau sakit, beliau menyuruhku untuk melakukannya untuk beliau.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 5748, halaman cetak 7/133 dari .

Ini bukanlah tindakan pencegahan sesekali yang hanya dilakukan pada malam-malam yang menggelisahkan. Ini adalah kebiasaan setiap malam, yang dijaga sedemikian lama dan konsisten sehingga Aisyah bisa menyebutkan surah dan gerakan persisnya dari ingatan. Kebiasaan ini begitu melekat, sehingga ketika penyakit merenggut kekuatan dari tangannya, amalan itu tidak berhenti — hanya siapa yang melakukannya yang berubah. Bacaan penutup yang dipegang teguh, bahkan di saat paling mudah untuk meninggalkannya, adalah bukti paling nyata tentang betapa berartinya amalan tersebut bagi beliau, melampaui deskripsi apa pun tentang pahalanya.

Malam yang Bermuara pada Sepertiga Terakhirnya

Semua ini tidak semata-mata ditujukan untuk sekadar beristirahat. Abu Hurairah meriwayatkan alasan mengapa malam memiliki ritme seperti itu:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita, Tabaraka wa Ta’ala, turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.‘”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 1145, halaman cetak 2/53 dari . Al-Bukhari menempatkannya tepat di bab-bab yang ia khususkan untuk tahajud.

Bacalah kembali seluruh urutan tadi dengan hadis ini sebagai penutupnya, maka kebiasaan-kebiasaan sebelumnya tidak lagi terlihat sekadar sebagai kumpulan adab yang baik. Tidur lebih awal sejatinya bukan tentang istirahat — melainkan tentang memastikan seseorang masih memiliki sepertiga malam terakhir untuk terjaga. Kesucian, posisi tidur, dan bacaan surah adalah bekal yang dibawa seseorang menuju waktu di mana pintu undangan-Nya terbuka lebar. Allah memerintahkan hal ini secara langsung kepada beliau:

وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

— Sūrat al-Isrāʾ, 17:79.

Malam yang dimulai lebih awal, ditutup dalam keadaan suci, dan diapit oleh rangkaian doa di kedua ujungnya bukanlah amalan yang terpisah dari tahajud. Itu adalah persiapan tahajud, yang dibangun berjam-jam sebelumnya. Fitur Waktu Salat dari The Quran Gallery dapat membantu menandai dengan tepat kapan sepertiga malam terakhir itu dimulai, bagi siapa saja yang ingin terjaga di waktu tersebut.

Lanjutkan

Etiquettes

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.