Quran Gallery Blog · Artikel
Satu Jawaban yang Tak Pernah Anda Ucapkan kepada Muazin
Untuk sebagian besar seruan azan, perintahnya sederhana: ulangi persis seperti apa yang diucapkan muazin. Namun, pada dua kalimat, aturan ini sengaja diubah. Penggantinya—bersama dengan syahadat keridaan, selawat kepada Nabi, dan permohonan wasilah—mengubah momen mendengarkan azan menjadi lima amal ibadah singkat yang sering kali luput dari perhatian pendengarnya.
Baca 8 menit6 sumberEtiquettes
Penulis:The Quran Gallery team
Lima kali sehari, suara azan berkumandang di penjuru lingkungan, dan kebanyakan orang tetap melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa. Padahal, tuntunan tentang apa yang seharusnya dilakukan saat azan berkumandang sangatlah jelas. Tuntunan ini tidak meminta kita untuk sekadar meresapi maknanya, melainkan meminta jawaban spesifik, kata demi kata, yang diulang setiap kali azan berkumandang. Sayangnya, banyak orang yang mengaku taat pun masih belum mengetahuinya secara utuh—karena ada satu bagian yang sama sekali bukan sekadar pengulangan. Bagian ini adalah sebuah kalimat pengganti, diucapkan tepat dua kali, dan justru bagian inilah yang paling banyak menyingkap hakikat sebenarnya dari seruan azan tersebut.
Ucapkan Apa yang Ia Ucapkan
Perintah dasarnya muncul lebih dulu, lugas dan tanpa syarat. Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muazin.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 383, halaman cetak 1/288 dari .
Jika dibaca berdiri sendiri, ini tampak seperti aturan tentang meniru: sebuah suara mengagungkan kebesaran Allah, dan Anda menjawabnya dengan kata-kata yang sama, di saat yang sama, selama azan berlangsung. Tentu akan menjadi ibadah yang aneh jika hanya berhenti sampai di situ—sebuah paduan suara tanpa makna selain gema belaka. Namun, nyatanya tidak berhenti di situ. Versi yang lebih lengkap dari perintah ini, yang diriwayatkan melalui Umar bin Khattab, menunjukkan bahwa jawaban azan dibangun dari keseluruhan kalimat azan secara berurutan, dan di dalam struktur tersebut terdapat satu jeda yang sengaja memecah pola.
Dua Kalimat yang Tidak Anda Ulangi
Berikut adalah urutan lengkapnya, persis seperti yang disebutkan dalam riwayat:
إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ. قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ. قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مِنْ قَلْبِهِ - دَخَلَ الْجَنَّةَ “Apabila muazin mengucapkan, ‘Allahu akbar, Allahu akbar,’ lalu salah seorang dari kalian mengucapkan, ‘Allahu akbar, Allahu akbar.’ Kemudian muazin mengucapkan, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallah,’ dan kalian mengucapkan hal yang sama. Kemudian ia mengucapkan, ‘Asyhadu anna Muhammadar rasulullah,’ dan kalian mengucapkan hal yang sama. Kemudian ia mengucapkan, ‘Hayya ‘alash-shalaah,’ dan kalian mengucapkan, ‘Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.’ Kemudian ia mengucapkan, ‘Hayya ‘alal-falaah,’ dan kalian mengucapkan hal yang sama. Kemudian ia mengucapkan, ‘Allahu akbar, Allahu akbar,’ dan kalian mengucapkan hal yang sama. Kemudian ia mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallah,’ dan kalian mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallah’—dari dalam hatinya—niscaya ia masuk surga.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 385, halaman cetak 1/289 dari .
Bacalah kembali urutan tersebut dan perhatikan di mana polanya terputus. Setiap kalimat azan dijawab dengan kalimat yang sama, kata demi kata, kecuali dua: “marilah salat” dan “marilah menuju kejayaan”. Tepat pada dua titik inilah pendengar diperintahkan untuk tidak mengulanginya, melainkan mengucapkan sesuatu yang sama sekali berbeda—laa hawla wa laa quwwata illaa billaah, “tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.” Di bagian azan lainnya, muazin mengumumkan fakta tentang Allah atau bersaksi atas suatu kebenaran, dan tugas pendengar adalah membenarkan fakta tersebut. Namun, “marilah salat” dan “marilah menuju kejayaan” memiliki sifat yang berbeda: keduanya bukanlah pernyataan untuk dibenarkan, melainkan panggilan untuk bertindak, yang ditujukan kepada Anda secara pribadi, saat ini juga. Riwayat tersebut tidak menyuruh pendengar menjawab panggilan dengan panggilan yang sama—karena itu hanyalah gema yang berpura-pura menjadi jawaban. Sebaliknya, pendengar diminta menjawab dengan sebuah pengakuan: bahwa untuk memenuhi panggilan khusus ini, dari semua hal yang diminta untuk dilakukan oleh manusia, tidak ada jaminan kekuatan dari diri Anda sendiri untuk mewujudkannya. Anda bersaksi atas keesaan Allah berdasarkan keyakinan Anda sendiri. Namun, Anda tidak bisa berjanji, dengan kekuatan Anda sendiri, bahwa Anda benar-benar akan bangkit, berwudu, dan mendirikan salat—janji itu membutuhkan pertolongan yang jauh lebih besar daripada sekadar niat.
Dan hadis ini pun ditutup dengan syarat terkecil sekaligus terberat dalam seluruh rangkaian tersebut: bukan sekadar Anda mengucapkan kalimat penutup “tidak ada tuhan selain Allah,” melainkan Anda harus mengucapkannya min qalbihi—dari dalam hati. Semua kalimat sebelumnya, pada prinsipnya, bisa diucapkan secara hafalan meski pikiran sedang melayang ke tempat lain. Namun, kalimat penutup ini menegaskan satu hal yang tidak bisa dipalsukan oleh sekadar hafalan.
Keridaan dalam Sebuah Kalimat
Jawaban kita tidak berakhir saat azan selesai. Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan kalimat kedua, yang diucapkan setelah muazin selesai, yang membawa pahalanya tersendiri:
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ “Barang siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya; aku rida Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama’—niscaya dosa-dosanya diampuni.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 386, halaman cetak 1/290 dari .
Perhatikan apa yang dilakukan kalimat ini yang tidak ada pada pengulangan kata demi kata sebelumnya: kalimat ini berhenti menjawab muazin dan mulai berbicara tentang keadaan diri Anda sendiri. Radhiitu—“aku rida”—bukanlah fakta tentang Allah yang diulang kembali; ini adalah pernyataan dari sang pembicara, yang diucapkan setelah seruan azan hening dan tidak ada lagi suara dari luar yang perlu digemakan. Dua syahadat yang baru saja Anda ulang belasan kali, kalimat demi kalimat, kini dinyatakan kembali dengan suara Anda sendiri, sebagai pendirian Anda yang matang, dan dirangkai dengan deklarasi kepuasan atas seluruh ketetapan ini—Tuhan ini, Rasul ini, agama ini—bukan sekadar pengakuan doktrin semata.
Sepuluh Rahmat dan Kedudukan yang Anda Mohonkan untuk Beliau
Jawaban tersebut kemudian beralih kembali ke luar, kali ini tertuju kepada sosok yang menyampaikan risalah, bukan pada risalah itu sendiri. Abdullah bin Amr meriwayatkan tuntunan langsung dari Nabi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ. ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ. فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا. ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ. فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ. وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ. فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan. Kemudian berselawatlah kepadaku—karena barang siapa yang berselawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali karenanya. Kemudian mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku, karena ia adalah sebuah kedudukan di surga yang tidak pantas diberikan kecuali kepada salah seorang hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba tersebut. Barang siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaat.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 384, halaman cetak 1/288 dari .
Wasilah yang Nabi minta agar dimohonkan untuk beliau bukanlah sekadar kata kiasan untuk kedekatan. Ini adalah kedudukan spesifik, yang dinamai dan dijelaskan dalam redaksi yang lebih lengkap yang juga diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, yang hidup sezaman dengan Abdullah bin Amr, lengkap dengan kalimat pasti yang harus diucapkan:
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan: Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini dan salat yang didirikan, karuniakanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya—maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada Hari Kiamat.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 614, halaman cetak 1/126 dari .
Kata al-wasilah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak hanya terbatas pada hadis ini. Al-Qur’an menggunakan akar kata yang sama untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh setiap pencari kebenaran yang tulus ketika memohon kepada Allah:
أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan [al-wasilah] kepada Tuhan mereka—siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)—dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu itu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.”
— Surah al-Isra’, 17:57
Jika disandingkan, kedua teks ini menggambarkan pergerakan yang sama dari dua sisi. Ayat Al-Qur’an menggambarkan setiap makhluk yang mampu memohon kepada Allah sedang berupaya menuju-Nya melalui jalan apa pun yang bisa mendekatkan diri mereka. Sementara itu, hadis tersebut meminta pendengar untuk mengerahkan upaya yang sama demi orang lain—memohon kepada Allah agar mengaruniakan kedudukan tertinggi tersebut kepada Nabi, alih-alih meminta sesuatu untuk diri sendiri. Di antara lima amalan yang disebutkan di sini, ini adalah satu-satunya amalan yang murni merupakan permohonan untuk orang lain, tanpa menyebutkan keuntungan pribadi selain syafaat yang dijanjikan sebagai balasannya.
Jendela yang Terbuka
Ada satu momen lagi yang berkaitan dengan azan, yang sama sekali bukan merupakan jawaban atas kata-katanya, melainkan pemanfaatan waktu hening setelahnya. Anas bin Malik meriwayatkan penjelasan langsung dari Nabi tentang untuk apa waktu hening tersebut:
الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ “Doa tidak akan ditolak antara azan dan ikamah.”
— Sunan al-Tirmidhī, hadis 212, halaman cetak 1/253 dari . Al-Tirmidzi sendiri menilai riwayat dari Anas ini berderajat hasan.
Tidak ada ketentuan di sini mengenai doa apa yang harus diucapkan, dengan kata-kata apa, atau dalam bahasa apa. Setiap kalimat yang disebutkan sebelumnya dalam tulisan ini memiliki redaksi pasti yang menyertainya; namun yang satu ini tidak. Sebab, pada titik ini, pendengar telah melewati lima amalan lisan—pengulangan, penggantian, persaksian, selawat, dan permohonan untuk orang lain—dan jendela yang terbuka sekarang pada akhirnya diperuntukkan bagi apa pun yang benar-benar perlu diminta oleh orang yang berdiri di sana. Janji umum di baliknya mengalir melalui Al-Qur’an itu sendiri, dalam bahasa yang seolah-olah menjadi penjelasan langsung mengapa jeda khusus antara dua panggilan salat ini diistimewakan:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
— Surah al-Baqarah, 2:186
Sebagian besar dari apa yang diminta azan kepada pendengarnya sudah ditetapkan, kata demi kata, hingga ke dua kalimat yang diperintahkan untuk tidak Anda ulangi. Jendela antara azan dan ikamah adalah satu-satunya bagian yang sengaja dibiarkan terbuka. Segala hal lain dalam interaksi ini telah diatur secara presisi karena jawabannya harus sesuai dengan apa yang diserukan; bagian terakhir ini tidak diatur secara spesifik justru karena, pada titik ini, seruan telah selesai, dan yang tersisa hanyalah hubungan antara sang pemohon dan Zat yang kebesaran-Nya baru saja ia kumandangkan selama beberapa menit terakhir.
Lanjutkan
Etiquettes
Terkait
Etiquettes Tamu di Rumah Allah: Apa yang Diminta Masjid dari Tubuh Kita Masjid bukanlah sekadar aula tempat Anda kebetulan duduk — ia adalah salah satu rumah yang Allah izinkan untuk didirikan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Tulisan ini bukan sekadar daftar tata krama, melainkan sebuah penjelasan mengapa tubuh seorang tamu, dan bukan hanya hatinya, diharapkan bersikap berbeda di dalamnya: bagaimana Anda melangkah masuk, bagaimana Anda berjalan menuju saf, dan apa yang pantang Anda bawa ke dalamnya. Etiquettes Dicatat Berdasarkan Waktu: Rangkaian Sunah di Hari Jumat Sebuah hadis menyebutkan bahwa para malaikat berdiri di pintu masjid pada hari Jumat, mencatat nama-nama sesuai urutan kedatangan; hadis lain menyatakan ada satu waktu di hari yang sama di mana setiap doa akan dikabulkan. Di antara kedua fakta tersebut, terdapat rangkaian sunah di hari Jumat — mandi, berangkat lebih awal, membaca Al-Qur'an, dan memperbanyak selawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Etiquettes Malam yang Dibangun Menuju Tahajud: Bagaimana Rasulullah Tidur Lima kebiasaan kecil membentuk waktu antara Isya dan Subuh bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: tidur lebih awal, menyucikan diri sebelum berbaring, posisi tidur dan rangkaian doa yang spesifik, tiupan bacaan surah ke telapak tangan, serta kalimat yang mengawali harinya. Masing-masing mungkin tidak terlihat seperti ibadah jika berdiri sendiri — namun bersama-sama, semuanya membentuk fondasi sunyi dari sebuah malam yang dibangun untuk berdiri menghadap Allah di sepertiga malam terakhir.
