Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Tamu di Rumah Allah: Apa yang Diminta Masjid dari Tubuh Kita

Masjid bukanlah sekadar aula tempat Anda kebetulan duduk — ia adalah salah satu rumah yang Allah izinkan untuk didirikan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Tulisan ini bukan sekadar daftar tata krama, melainkan sebuah penjelasan mengapa tubuh seorang tamu, dan bukan hanya hatinya, diharapkan bersikap berbeda di dalamnya: bagaimana Anda melangkah masuk, bagaimana Anda berjalan menuju saf, dan apa yang pantang Anda bawa ke dalamnya.

Baca 7 menit7 sumberEtiquettes

Penulis:The Quran Gallery team

Masjid bukanlah milik orang yang salat di dalamnya. Kalimat ini terdengar sangat jelas sampai Anda menyadari betapa jarangnya hal itu tecermin dalam perilaku kita — sebuah bangunan yang diamanahkan sering kali diperlakukan layaknya bangunan milik pribadi. Al-Qur’an secara spesifik menjelaskan untuk apa bangunan-bangunan khusus ini didirikan:

فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْـَٔاصَالِ رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَـٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَـٰرُ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan salat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.”

— Surah al-Nur, 24:36–37

Ada dua hal yang berperan penting dalam deskripsi tersebut, dan tak satu pun bersifat opsional. Rumah itu didirikan dan dinamai untuk satu tujuan — mengingat Allah — dan orang-orang di dalamnya didefinisikan oleh bagaimana aktivitas duniawi seperti perniagaan tidak dibiarkan mengalihkan perhatian mereka selama berada di sana. Semua penjelasan selanjutnya pada dasarnya adalah penjabaran panjang dari klausa kedua tersebut: bagaimana praktiknya ketika fisik seseorang melangkah masuk ke dalam rumah yang dibangun untuk mengingat Allah, tanpa membawa urusan pasar ke dalamnya.

Ambang Pintu dan Sisi yang Dimuliakan

Aisyah, istri Nabi, pernah merangkum seluruh pola perilaku beliau ke dalam satu kalimat: beliau suka mendahulukan bagian kanan dalam segala hal yang bernilai mulia.

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan yang kanan saat memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam segala urusannya.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 168, halaman cetak 1/45 dari kitab .

Frasa “dalam segala urusannya” mencakup pula adab memasuki masjid — berdasarkan prinsip ini, ambang pintu rumah Allah harus dilewati dengan kaki kanan terlebih dahulu, sama seperti insting yang mendahulukan kaki kanan saat memakai sepatu. Namun, hal yang lebih menarik dari kedatangan ini bukanlah kaki mana yang melangkah lebih dulu, melainkan apa yang diperintahkan untuk diucapkan oleh lisan. Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi mengajarkan kalimat yang harus diucapkan tepat saat melangkah masuk:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.’ Dan jika keluar, hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon karunia-Mu.‘”

— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 713, halaman cetak 1/494 dari kitab .

Perhatikan apa yang tidak diminta dalam doa tersebut. Tidak ada permintaan untuk diizinkan masuk ke dalam bangunan — pintunya sudah terbuka. Yang diminta adalah rahmat, seolah-olah pintu fisik dan pintu kedua yang tak kasatmata terbuka pada saat yang bersamaan, dan hanya satu yang bisa didorong terbuka. Seorang tamu yang dipersilakan masuk ke rumah seseorang tidak akan melenggang masuk seolah-olah itu rumahnya sendiri; mereka akan menunggu sejenak untuk disambut. Untaian doa ini adalah bentuk penantian tersebut, yang diucapkan dengan lisan.

Sebelum Duduk, Beri Salam pada Rumah-Nya

Di sebagian besar rumah, seorang tamu diharapkan menyapa tuan rumah sebelum duduk. Masjid, yang tidak memiliki tuan rumah yang berdiri menyambut di depan pintu, disapa dengan cara yang berbeda — dengan tubuh, sebelum lisan mengucapkan sepatah kata pun.

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ، فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, janganlah ia duduk sampai ia salat dua rakaat.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 1163, halaman cetak 2/56 dari kitab .

Tahiyatul masjid — “penghormatan kepada masjid” — adalah nama yang diberikan oleh para ulama di kemudian hari untuk dua rakaat ini, dan nama tersebut bukan sekadar label untuk sebuah ritual. Ia menamai sebuah kewajiban tata krama. Anda tidak akan langsung menghempaskan diri ke kursi di ruang tamu seseorang sebelum memberi tahu bahwa Anda telah tiba; di sini, bentuk pemberitahuan itu adalah sujud. Tubuh menunaikan salam yang menjadi kewajiban seorang tamu, dan barulah setelah itu ia bebas untuk duduk dan menunggu.

Berjalan, Bukan Berlomba

Menunggu itu sendiri memiliki adab, dan itu dimulai sebelum mencapai pintu — dari bagaimana seseorang berjalan menuju ke sana. Panggilan untuk mendirikan salat, yaitu ikamah, memiliki efek yang jelas bagi siapa saja yang mendengarnya saat masih berada di luar: dorongan untuk bergegas. Namun, tuntunan yang ada justru bertentangan dengan dorongan tersebut.

إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ، وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ، وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Jika kalian mendengar ikamah, berjalanlah menuju salat, dan hendaklah kalian bersikap tenang dan berwibawa, dan janganlah tergesa-gesa. Apa yang kalian dapati (bersama imam), maka salatlah, dan apa yang terlewat, maka sempurnakanlah.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 636, halaman cetak 1/129 dari kitab .

Tuntunan ini bukannya tidak peduli apakah seseorang mendapati rakaat pertama — jelas peduli, karena ada instruksi tentang apa yang harus dilakukan jika tertinggal. Yang ditolaknya adalah mengorbankan kewibawaan hanya demi menghemat beberapa detik. Langkah yang tenang menuju saf dianggap lebih berharga daripada memulai salat lebih awal, yang menunjukkan apa yang sebenarnya sedang diuji oleh masjid: bukan seberapa cepat seseorang tiba, melainkan bagaimana sikap yang mereka tunjukkan saat menuju ke sana.

Apa yang Pantang Dibawa Masuk

Sebuah rumah yang dijaga untuk satu tujuan harus menolak apa pun yang bersaing dengan tujuan tersebut, dan dua dari instruksi Nabi tentang masjid adalah larangan yang ditujukan tepat kepada orang-orang yang digambarkan di awal tulisan ini — mereka yang tidak dilalaikan oleh perniagaan.

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ، فَقُولُوا: لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً، فَقُولُوا: لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ

“Jika kalian melihat seseorang melakukan jual beli di dalam masjid, katakanlah, ‘Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perniagaanmu.’ Dan jika kalian melihat seseorang mengumumkan barang hilang di dalamnya, katakanlah, ‘Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.‘”

— Sunan al-Tirmidhī, hadis 1369, halaman cetak 3/161 dari kitab . Al-Tirmidhī sendiri menilai riwayat ini sebagai hasan garib.

Jual beli, dan berteriak mencari barang yang hilang, bukanlah dosa jika dilakukan di tempat lain — itu adalah urusan lumrah di pasar. Yang membuatnya salah di sini hanyalah tempatnya. Masjid adalah satu-satunya ruangan di mana seluruh kosakata tersebut tidak pada tempatnya, dan luar biasanya, jemaah diperintahkan bukan sekadar mengabaikan pelanggaran itu, melainkan meresponsnya dengan lantang, melalui doa balasan. Larangan kedua berkaitan dengan sesuatu yang kurang disengaja dibandingkan perniagaan:

مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ

“Barang siapa yang makan bawang merah, bawang putih, atau daun bawang, janganlah ia mendekati masjid kami, karena para malaikat merasa terganggu oleh apa yang mengganggu anak keturunan Adam.”

— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 564, halaman cetak 1/395 dari kitab .

Tidak ada yang salah dengan makanan itu sendiri. Instruksi ini berkaitan dengan dampak kehadiran seseorang terhadap orang-orang yang berdiri bahu-membahu bersamanya di sebuah ruangan yang dibangun untuk sesuatu yang membutuhkan perhatian penuh dan tidak terganggu. Bau menyengat bukanlah sebuah cacat moral, tetapi tetap saja merupakan gangguan bagi orang-orang di sekitar Anda, dan masjid disebut di sini sebagai tempat di mana gangguan tersebut ditolak demi kenyamanan mereka — bahkan, menurut hadis tersebut, demi kenyamanan makhluk yang tidak kasatmata.

Penyapu Masjid yang Terlupakan

Sejauh ini, setiap aturan berbicara tentang apa yang dilakukan pengunjung saat masuk atau keluar. Namun, ada satu riwayat tentang seseorang yang, pada dasarnya, bukanlah seorang pengunjung — seseorang yang merawat rumah tersebut.

أَنَّ رَجُلًا أَسْوَدَ أَوِ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَ يَقُمُّ الْمَسْجِدَ فَمَاتَ، فَسَأَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْهُ، فَقَالُوا: مَاتَ، قَالَ: أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي بِهِ؟ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ. فَأَتَى قَبْرَهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا

“Seorang laki-laki kulit hitam, atau mungkin seorang perempuan — riwayat ini sendiri tidak pasti — biasa menyapu masjid. Ketika ia meninggal, Nabi bertanya tentangnya, dan para sahabat menjawab, ‘Ia telah meninggal.’ Beliau bersabda, ‘Mengapa kalian tidak memberitahuku? Tunjukkan padaku kuburannya.’ Lalu beliau mendatangi kuburannya dan menyalatkannya.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 458, halaman cetak 1/99 dari kitab .

Tidak ada yang berpikir bahwa kematian ini layak disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah detail yang tidak diperhalus oleh riwayat ini. Seseorang telah menyapu lantai masjid, tampaknya dalam waktu yang cukup lama dan dengan sangat sunyi sehingga ketidakhadirannya tidak dianggap sebagai berita — dan ketika Nabi mengetahuinya, teguran beliau tidaklah ringan. Beliau pergi, secara langsung, ke sebuah kuburan yang tak seorang pun terpikir untuk menunjukkannya kepada beliau. Setiap doa yang diucapkan di pintu, setiap dua rakaat yang didirikan sebelum duduk, setiap langkah tenang menuju saf mengasumsikan adanya lantai untuk dipijak dan ruang yang bersih untuk bersujud. Ada seseorang yang merawatnya. Hadis ini tidak mencatat nama orang tersebut. Hadis ini hanya mencatat bahwa kepeduliannya terhadap sudut rumah yang tidak glamor itu, sama sekali tidak dianggap remeh oleh Sang Pemilik rumah.

Langkah Keluar

Semua ini sebenarnya bukanlah tentang daftar gerakan — kaki mana yang melangkah, doa apa yang dibaca, dua rakaat, langkah yang lebih lambat, menahan lisan dari urusan duniawi, atau makanan yang harus disantap di tempat lain terlebih dahulu. Ini tentang diri seperti apa yang Anda bawa ke dalam rumah yang bukan milik Anda: apakah diri yang datang dengan harapan untuk dilayani, atau diri yang meminta, bahkan sebelum ia duduk, untuk diberikan rahmat yang sebelumnya tidak berhak ia tuntut. Dua rakaat itu mudah dilakukan dengan benar namun esensinya tetap bisa terlewatkan; esensinya adalah sikap batin di baliknya, sikap yang dipertahankan seorang tamu bahkan setelah tuan rumah meninggalkan ruangan. Siapa pun yang menyapu lantai itu memahami sesuatu tentang rumah tersebut yang sebagian besar pengunjungnya tidak pernah punya alasan untuk mempelajarinya — bahwa merawatnya bukanlah bentuk ibadah rendahan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bisa salat dengan baik. Justru itulah yang membuat salat, bagi semua orang, menjadi mungkin untuk didirikan.

Lanjutkan

Etiquettes

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.