Quran Gallery Blog · Artikel
Dicatat Berdasarkan Waktu: Rangkaian Sunah di Hari Jumat
Sebuah hadis menyebutkan bahwa para malaikat berdiri di pintu masjid pada hari Jumat, mencatat nama-nama sesuai urutan kedatangan; hadis lain menyatakan ada satu waktu di hari yang sama di mana setiap doa akan dikabulkan. Di antara kedua fakta tersebut, terdapat rangkaian sunah di hari Jumat — mandi, berangkat lebih awal, membaca Al-Qur'an, dan memperbanyak selawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Baca 8 menit6 sumberEtiquettes
Penulis:The Quran Gallery team
Di pintu setiap masjid, pada setiap hari Jumat, terjadi sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun yang berdiri di saf. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa para malaikat bersiaga di sana dengan lembaran-lembaran yang terbuka, dan mereka tidak sedang menunggu khotbah dimulai — mereka sudah bekerja, mencatat daftar yang akan ditutup tepat saat imam keluar.
إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، وَقَفَتِ الْمَلَائِكَةُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ، يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ، وَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ كَمَثَلِ الَّذِي يُهْدِي بَدَنَةً، ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي بَقَرَةً، ثُمَّ كَبْشًا، ثُمَّ دَجَاجَةً، ثُمَّ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ طَوَوْا صُحُفَهُمْ وَيَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ “Apabila tiba hari Jumat, para malaikat berdiri di pintu masjid, mencatat nama-nama sesuai urutan kedatangan. Orang yang datang lebih awal ibarat seseorang yang berkurban seekor unta; yang berikutnya seperti berkurban seekor sapi; kemudian seekor domba; lalu seekor ayam; dan kemudian sebutir telur. Dan ketika imam keluar, mereka menutup lembaran-lembaran tersebut lalu duduk untuk ikut mendengarkan peringatan (khotbah).”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 929, halaman cetak 2/11 dari edisi .
Tidak ada seorang pun yang datang di urutan keempat puluh akan ditolak — khotbah tetap bisa didengar, salat tetap sah, dan kewajiban tetap tertunaikan. Apa yang dinilai oleh hadis ini bukanlah akses, melainkan usaha: seekor unta tentu lebih mahal daripada sebutir telur, sehingga orang yang datang paling awal pada hakikatnya telah “membayar” paling mahal untuk sebuah tempat yang nantinya akan ditempati secara gratis oleh semua orang di ruangan itu saat imam muncul. Para malaikat tidak sedang menyeleksi siapa yang boleh masuk. Mereka sekadar mencatat siapa yang datang dengan pengorbanan terbesar untuk berada di sana.
Bahkan Sebelum Daftar Itu Dibuka
Pencatatan tersebut sejatinya sudah dimulai jauh sebelum seseorang mencapai pintu masjid. Aws bin Aws meriwayatkan sebuah kalimat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merangkum semua hal yang dilakukan seseorang pada Jumat pagi sebelum ia melangkah keluar rumah.
مَن غَسَلَ يومَ الجُمُعةِ واغتَسَلَ، ثمَّ بكَرَ وابتكرَ، ومشى ولم يَركَب، ودنا مِن الإمامِ فاستَمعَ ولم يَلْغُ، كانَ له بكُل خُطوةٍ عَمَلُ سنةٍ أجرُ صِيامِها وقِيامِها “Barang siapa yang mencuci pada hari Jumat dan mandi, lalu berangkat lebih awal dan termasuk yang pertama tiba, berjalan kaki dan tidak berkendara, mendekat kepada imam, serta mendengarkan tanpa berbicara sia-sia — maka baginya, pada setiap langkah yang diayunkannya, terdapat pahala puasa dan salat malam selama satu tahun.”
— Sunan Abī Dāwūd, hadis 345, halaman cetak 1/259 dari edisi . Para penyunting edisi ini menilai sanadnya berderajat sahih.
Hadis ini sebenarnya menyebutkan dua tindakan pada klausa pembukanya, ghassala dan ightasala, dan komentar dalam edisi tersebut, yang mengutip al-Nawawī, mencatat adanya perdebatan lama tentang bagaimana kata kerja pertama dibaca — apakah dibaca ringan atau dengan huruf yang digandakan (tasydid) — dan menyimpulkan maknanya sebagai membasuh kepala secara khusus. Hal ini karena pada Jumat pagi, orang-orang biasanya mengoleskan minyak dan bahan pembersih ke rambut mereka sebelum mandi besar setelahnya. Ini adalah perbedaan kecil, tetapi menunjukkan betapa sunah ini diamalkan dengan penuh kesengajaan: bukan sekadar mandi terburu-buru saat hendak keluar rumah, melainkan sebuah rangkaian — kepala, lalu tubuh, kemudian perjalanan berjalan kaki itu sendiri, yang setiap bagiannya sudah dihitung sebagai ibadah, bahkan sebelum satu kata pun dari khotbah diucapkan. Ini juga bukan sekadar anjuran yang bersifat pribadi. Sūrat al-Jumuʿah dibuka dengan tuntutan yang sama, ditujukan kepada seluruh jemaah sekaligus:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
— Sūrat al-Jumuʿah, 62:9–10
Kata kerja yang digunakan ayat tersebut untuk bersegera, is’aw, adalah kata yang sama yang digunakan di bagian lain dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan upaya bergerak cepat di antara dua titik. Ini bukanlah kata yang santai, dan jual beli disebut secara spesifik karena itulah satu-satunya hal yang dianggap sepadan untuk menyita waktu di Jumat pagi — ayat ini tidak meminta sebuah toko tutup sekadar karena kebiasaan, melainkan meminta seseorang untuk menimbang antara transaksi yang sedang berjalan dengan mengingat Allah, lalu menjatuhkan pilihan. Hadis Aws bin Aws adalah wujud nyata dari pilihan tersebut saat dipraktikkan, sebuah pahala yang dilekatkan pada setiap langkah kaki dari perjalanan yang diperintahkan oleh ayat itu.
Cahaya Milik Sang Sahabat
Di antara perjalanan menuju masjid dan khotbah, ada satu lagi amalan yang lekat dengan hari ini, meskipun sanad periwayatannya menuntut pembacaan yang lebih teliti dibandingkan yang lain. Abū Saʿīd al-Khudrī tercatat menjelaskan keutamaan membaca Sūrat al-Kahf pada hari Jumat:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ “Barang siapa membaca Sūrat al-Kahf pada hari Jumat, maka akan memancar cahaya baginya dari tempat ia berada hingga ke Baitul Atiq (Ka’bah).”
— Shuʿab al-Īmān, halaman cetak 4/86 dari edisi . Catatan Al-Bayhaqī sendiri mengenai riwayat ini sangatlah terus terang: ia mencatatnya sebagai maḥfūẓ — terjaga dengan benar — dalam bentuk mawqūf-nya, yang berarti ini adalah perkataan Abū Saʿīd sendiri dan bukan sabda Nabi, serta menyebut Nuʿaym bin Ḥammād sebagai perawi yang mengangkatnya menjadi hadis marfū’ (sabda Nabi), seorang perawi yang di tempat lain kerap dikritik karena riwayat-riwayatnya yang ganjil.
Perbedaan status ini patut dipertahankan persis seperti yang ditinggalkan oleh al-Bayhaqī, alih-alih menyederhanakannya menjadi sekadar janji kenabian. Fakta yang benar-benar mapan adalah bahwa seorang sahabat senior menjadikan Sūrat al-Kahf sebagai bacaan khusus pada hari ini dan menggambarkannya sebagai cahaya yang memancar keluar dari mana pun pembacanya berada. Generasi ulama setelah al-Bayhaqī terus mengutip riwayat ini sebagai landasan dari kebiasaan tersebut — namun bentuk sejatinya adalah cahaya milik sang sahabat itu sendiri, bukan janji yang keluar langsung dari lisan Nabi. Dan hal itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikannya amalan yang berharga.
Diperlihatkan Kepadanya
Jika berjalan kaki dan membaca Al-Qur’an adalah amalan di jam-jam sebelum khotbah, ada satu anjuran yang berlaku untuk sepanjang hari itu — dan anjuran ini datang bersama sebuah pertanyaan yang langsung tersemat dalam riwayat yang membawanya. Aws bin Aws, sahabat yang sama yang riwayatnya tentang berjalan ke masjid membuka tulisan ini, juga menjaga alasan yang diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbanyak selawat kepadanya secara khusus pada hari ini:
قال رسولُ الله- صلى الله عليه وسلم: إن مِنْ أفضل أيامِكُم يومَ الجُمعة: فيه خُلِقَ آدَمُ، وفيه قُبِضَ، وفيه النَّفْخةُ، وفيه الصَعقةُ، فأكثروا على مِن الصلاةِ فيه، فإن صلاتكم معروضة علىّ. قالوا: يا رسولَ الله، وكيفَ تُعرَضُ صلاتُنا عليك وقد أرَمْتَ؟ يقولون: بَلِيت. فقال: إن الله حرَّم على الأرض أجساد الأنبياء “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, dan pada hari itu seluruh makhluk jatuh pingsan. Maka perbanyaklah selawat kepadaku pada hari itu, karena selawatmu akan diperlihatkan kepadaku.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana selawat kami diperlihatkan kepadamu sedangkan engkau telah hancur?’ — maksudnya, telah menjadi debu. Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.‘”
— Sunan Abī Dāwūd, hadis 1047, halaman cetak 2/279 dari edisi . Para penyunting edisi ini menilai riwayat tersebut berderajat sahih li-ghayrihi — sahih karena didukung oleh jalur-jalur periwayatan lain yang menguatkannya.
Setiap amalan lain yang disebutkan pada hari ini adalah sesuatu yang dilakukan oleh seorang hamba lalu selesai — mandi usai, perjalanan berakhir, lembaran ditutup. Namun, anjuran yang satu ini berbeda. Ia tidak berakhir pada saat diucapkan; ia digambarkan melakukan perjalanan ke suatu tempat dan tiba di tujuannya. Hari Jumat dikaitkan dengan permulaan Adam dan tiupan sangkakala yang mengakhiri segalanya, kehidupan manusia pertama dan momen terakhir sebelum hari penghakiman. Di dalam rentang waktu tersebut, anjurannya bukanlah untuk merenungkan keduanya, melainkan untuk berbicara langsung kepada sosok yang diseru di tengah-tengahnya.
Waktu yang Tak Bisa Ditunjuk Siapa Pun
Semua yang telah dijelaskan sejauh ini bergantung pada satu syarat yang berlaku begitu khotbah benar-benar dimulai: diam — bukan diam sekadar sebagai bentuk kesopanan, melainkan diam sebagai sebuah hukum yang spesifik, yang dinyatakan dengan sangat jelas sehingga menegur orang lain yang sedang berbicara pun akan menjadi bumerang bagi diri sendiri.
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ “Jika engkau berkata kepada temanmu, ‘Diamlah,’ pada hari Jumat saat imam sedang berkhotbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 934, halaman cetak 2/13 dari edisi .
Aturan ini pada awalnya mungkin terlihat tidak masuk akal — menyuruh seseorang berhenti berbicara pada dasarnya adalah sebuah bentuk pembicaraan, dan hadis tersebut menganggapnya sama dengan gangguan lainnya. Namun, jika dibaca berdampingan dengan apa yang langsung menyusulnya di halaman cetak yang sama dari kitab yang sama, ketegasan ini menjadi sangat masuk akal. Abū Hurayrah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan hari ini dan menamai sesuatu di dalamnya yang tidak boleh dilewatkan oleh siapa pun karena lengah:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ. وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hari Jumat lalu bersabda: ‘Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim menepatinya dalam keadaan berdiri salat, lalu ia meminta sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti akan memberikannya’ — dan beliau berisyarat dengan tangannya untuk menunjukkan betapa singkatnya waktu tersebut.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 935, halaman cetak 2/13 dari edisi .
Tidak ada petunjuk waktu yang diberikan untuk saat tersebut selain “di dalamnya,” dan satu-satunya ukuran yang ditawarkan adalah isyarat Nabi sendiri — tangan yang dirapatkan, menandakan sesuatu yang terlalu singkat untuk bisa ditemukan hanya dengan menatap jam. Sikap diam bukanlah hal yang kebetulan untuk bisa meraihnya. Seorang jemaah yang menghabiskan waktu khotbah dengan sibuk menegur orang di sebelahnya, atau sekadar membiarkan perhatiannya melayang, tidak akan pernah tahu apakah waktu yang dijanjikan itu telah berlalu begitu saja. Perintah untuk diam dan janji akan doa yang dikabulkan bukanlah dua instruksi terpisah yang berada di bawah bab yang berbeda. Keduanya menggambarkan jendela waktu singkat yang sama dari dua arah — yang satu menyebutkan apa yang tidak boleh dilakukan di dalamnya, sementara yang lain menyebutkan apa yang menanti siapa saja yang masih memusatkan perhatian saat waktu itu tiba.
Penutup
Tak satu pun dari bagian-bagian ini berfungsi layaknya daftar periksa yang dicoret satu per satu — mandi, berjalan, membaca Al-Qur’an, berselawat, mendengarkan, berdoa. Semuanya menggambarkan satu sikap utuh yang dipertahankan hampir sepanjang hari: datanglah cukup awal agar catatan malaikat masih memiliki ruang di urutan teratas, jagalah fokus yang telah Anda bayar dengan kedatangan awal tersebut, dan bertahanlah cukup lama sehingga menit mana pun yang ternyata menjadi waktu terkabulnya doa mendapati Anda masih berdiri di sana, bukan sudah pergi. Seekor unta yang dibeli saat fajar akan sia-sia belaka jika keheningan yang telah dibayarnya justru dihabiskan untuk hal lain selain mendengarkan.
Lanjutkan
Etiquettes
Terkait
Etiquettes Satu Jawaban yang Tak Pernah Anda Ucapkan kepada Muazin Untuk sebagian besar seruan azan, perintahnya sederhana: ulangi persis seperti apa yang diucapkan muazin. Namun, pada dua kalimat, aturan ini sengaja diubah. Penggantinya—bersama dengan syahadat keridaan, selawat kepada Nabi, dan permohonan wasilah—mengubah momen mendengarkan azan menjadi lima amal ibadah singkat yang sering kali luput dari perhatian pendengarnya. Etiquettes Tamu di Rumah Allah: Apa yang Diminta Masjid dari Tubuh Kita Masjid bukanlah sekadar aula tempat Anda kebetulan duduk — ia adalah salah satu rumah yang Allah izinkan untuk didirikan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Tulisan ini bukan sekadar daftar tata krama, melainkan sebuah penjelasan mengapa tubuh seorang tamu, dan bukan hanya hatinya, diharapkan bersikap berbeda di dalamnya: bagaimana Anda melangkah masuk, bagaimana Anda berjalan menuju saf, dan apa yang pantang Anda bawa ke dalamnya. Etiquettes Malam yang Dibangun Menuju Tahajud: Bagaimana Rasulullah Tidur Lima kebiasaan kecil membentuk waktu antara Isya dan Subuh bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: tidur lebih awal, menyucikan diri sebelum berbaring, posisi tidur dan rangkaian doa yang spesifik, tiupan bacaan surah ke telapak tangan, serta kalimat yang mengawali harinya. Masing-masing mungkin tidak terlihat seperti ibadah jika berdiri sendiri — namun bersama-sama, semuanya membentuk fondasi sunyi dari sebuah malam yang dibangun untuk berdiri menghadap Allah di sepertiga malam terakhir.
