Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Dua Surga, Satu Pintu: Apa yang Sebenarnya Dibuka oleh Tahajud

Al-Qur'an tidak sekadar menjanjikan pahala untuk salat malam — Al-Qur'an menyebut pahala tersebut tersembunyi, lalu menggambarkannya dengan kosakata Surga itu sendiri. Ibnu Taimiyah mengatakan kepada muridnya bahwa ada dua surga, dan seseorang hanya bisa mencapai surga kedua jika ia telah memasuki surga pertama yang masih terbuka di dunia ini.

Baca 6 menit3 sumber

Penulis:The Quran Gallery team

Tanyakan apa makna “surga dunia”, dan sebagian besar jawaban akan tertuju pada uang, kesehatan, atau rumah yang tenang — kenyamanan yang sirna seketika saat hidup terasa berat. Bukan surga seperti itu yang terus-menerus disinggung oleh Al-Qur’an ketika menggambarkan orang-orang yang meninggalkan tempat tidur mereka di malam hari. Al-Qur’an tidak sedang menggambarkan sebuah kenyamanan. Al-Qur’an menggambarkan sebuah pintu, yang kini tengah terbuka, menuju sesuatu yang hanya bisa dijelaskan sebagian di dunia ini dan baru akan dibayar lunas di akhirat kelak.

Balasan yang Sengaja Dirahasiakan

Gambaran Al-Qur’an tentang siapa saja yang bangun di malam hari disertai dengan sebuah janji yang unik — bukan berupa angka, bukan pula tingkatan, melainkan sebuah kebisuan yang disengaja:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

— Surah As-Sajdah, 32:16–17

Sebagian besar pahala di dalam Al-Qur’an disebutkan namanya — kebun, sungai, sutra, naungan. Namun, yang satu ini secara eksplisit ditahan gambarannya, dan penahanan itulah intinya: apa pun yang menanti di sana tidak dapat diungkapkan dengan kosakata yang dipahami oleh manusia yang masih hidup, karena ia tidak pernah diciptakan dari apa pun yang pernah disentuh manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa Allah berfirman secara langsung mengenai apa yang hanya diisyaratkan oleh ayat-ayat ini:

قَالَ اللهُ ﵎: «أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ: مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: اقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ: ﴿فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ﴾»

Allah berfirman: “Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati manusia.” Abu Hurairah berkata, “Bacalah jika kalian mau: ‘Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.‘”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 4779, halaman cetak 6/115 dari , dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an, bab tentang Surah As-Sajdah.

Imam Bukhari menempatkan hadis ini tepat di bawah ayat tersebut bukan tanpa alasan — keduanya dibaca sebagai satu pernyataan yang sama, yang satu melalui firman Allah yang menggambarkan ciptaan-Nya sendiri dan yang satu lagi di dalam Al-Qur’an yang menggambarkan apa yang terjadi pada jiwa yang mencarinya. Tak satu pun dari kedua teks tersebut merinci bentuknya. Keduanya menegaskan bahwa pahala ini berada dalam kategorinya tersendiri, dan keduanya mengaitkannya dengan gambaran yang sama: seseorang yang memilih untuk meninggalkan tempat tidurnya alih-alih tetap terlelap di sana.

Tidur yang Ditukar dengan Mata Air

Jika pahalanya sengaja tidak digambarkan, tidak demikian dengan harganya. Al-Qur’an sangat spesifik mengenai apa yang dikorbankan oleh orang-orang ini, dan spesifik dalam menyebutkan balasannya menggunakan satu kosakata yang baru saja enggan digunakannya di halaman sebelumnya — kosakata tentang sebuah taman yang nyata:

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّـٰتٍ وَعُيُونٍ ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا۟ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَفِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air, mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik: mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah), dan pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”

— Surah Adz-Dzariyat, 51:15–19

Perhatikan urutannya. Taman dan mata air disebutkan lebih dulu di dalam ayat tersebut, sementara terjaganya mereka di malam hari disebutkan setelahnya — pahala dinyatakan sebelum sebabnya, seolah-olah poin yang ingin disampaikan bukanlah “lakukan ini dan nanti kamu akan mendapatkan itu”, melainkan “seperti inilah orang-orang tersebut, dan taman-taman itu hanyalah wujud asli dari orang-orang semacam ini begitu tabir kehidupan dunia disingkap.” Sedikit tidur di malam hari tidak ditawarkan di sini sebagai sebuah transaksi. Hal itu ditawarkan sebagai bukti — ciri khas yang dengannya “orang-orang yang berbuat baik” dapat dikenali sebelum ada yang melihat taman tempat mereka bernaung kelak.

Pintu Bernama Keselamatan

Pernyataan paling gamblang mengenai apa yang dihasilkan oleh salat malam tidaklah terselip dalam catatan pinggir para ulama. Atas pilihan Nabi sendiri, hal itu menjadi salah satu kalimat pertama yang beliau sampaikan di hadapan publik. Abdullah bin Salam — seorang ulama Yahudi di Madinah yang telah mempelajari ciri-ciri nabi yang akan datang dengan sangat saksama hingga mampu mengenali wajah yang jujur pada pandangan pertama — menerobos kerumunan pada hari kedatangan Nabi di kota itu, murni hanya untuk melihat beliau. Apa yang pertama kali ia dengar bukanlah klaim tentang diri beliau sendiri. Melainkan sebuah instruksi:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan salatlah di malam hari ketika orang-orang sedang tidur — niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.”

— Sunan Ibnu Majah, hadis 1334, halaman cetak 1/423 dari . Editor edisi ini menilai sanadnya sahih.

Tiga instruksi, satu tujuan, dan instruksi salat malam adalah satu-satunya dalam rangkaian tersebut yang harus dilakukan saat orang lain sedang terlelap. Menyebarkan salam dan memberi makan adalah tindakan yang disaksikan — masyarakat bisa melihat Anda melakukannya dan menghargai Anda karenanya. Salat saat orang-orang tidur menghilangkan penonton sepenuhnya. Patut direnungkan fakta bahwa seorang pria yang baru saja melangkah masuk ke sebuah kota sebagai orang asing, yang memiliki segala alasan untuk membuka pembicaraan dengan sesuatu yang akan segera memikat hati kerumunan di hadapannya, justru membukanya dengan sebuah amalan yang tak seorang pun di kerumunan itu akan pernah melihatnya melakukannya.

Dua Surga, Satu Pintu

Ada alasan mengapa ketiga teks ini terus menggunakan bahasa taman (surga) alih-alih sekadar bahasa pahala dan dosa. Ibnu Qayyim, saat menggambarkan apa yang terjadi pada hati yang tidak terkikis oleh terlalu banyak bergaul, terlalu banyak makan, atau terlalu banyak tidur, mencatat sesuatu yang sering diucapkan oleh gurunya sendiri — dan menyebutkan bentuk persis dari klaim yang menjadi pembuka artikel ini:

فَلَهُ جَنَّتَانِ لَا يَدْخُلُ الثَّانِيَةَ مِنْهُمَا إِنْ لَمْ يَدْخُلِ الْأُولَى. وَسَمِعْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ يَقُولُ: إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ

“Maka ia memiliki dua surga, dan ia tidak akan memasuki surga yang kedua tanpa terlebih dahulu memasuki surga yang pertama. Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga Allah menyucikan jiwanya, berkata: ‘Sesungguhnya di dunia ini terdapat sebuah surga; barang siapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan memasuki surga di akhirat kelak.‘”

— Ibnu Qayyim, Madārij al-Sālikīn, halaman cetak 1/452 dari , mengutip gurunya.

Dalam bagian yang sama, Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa terlalu banyak tidur adalah satu dari lima hal yang dapat memadamkan cahaya hati. Jika disandingkan, pernyataan gurunya tersebut tidak lagi terdengar seperti metafora tentang kepuasan batin secara umum, melainkan mulai terdengar seperti gambaran dari sebuah transaksi yang spesifik: jam-jam yang rela dikorbankan seseorang dari waktu tidurnya adalah jam-jam yang akan terus menyala, dan hati yang terus menyala adalah satu-satunya jenis hati yang kelak mampu mengenali surga yang selama ini telah ia latih untuk dimasukinya. Itulah yang digambarkan dari tiga arah berbeda oleh pahala tersembunyi dalam Surah As-Sajdah, tidur yang ditukarkan dalam Surah Adz-Dzariyat, dan kata-kata pertama Nabi di Madinah. Bukan sekadar amal yang ditabung untuk nanti. Melainkan sebuah pintu, dan ia terbuka dari sisi dunia ini terlebih dahulu.

Semua ini tidak menuntut Anda untuk menghidupkan sepanjang malam. Ia hanya meminta bagian malam yang sudah tidak lagi digunakan oleh kebanyakan orang. Fitur Prayer dari Quran Gallery dapat memberi tahu Anda secara pasti kapan bagian malam tersebut dimulai.

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.