Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Alasan Membaca Al-Qur'an Setelah Tengah Malam

Imam An-Nawawi mendedikasikan satu halaman dalam kitab adab Al-Qur'an karyanya untuk menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an setelah tengah malam bukan sekadar lebih tenang, melainkan sebuah bentuk bacaan yang sama sekali berbeda — dan tiga ayat menjelaskan alasannya.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 9 menit

Halaman 63 dari kitab karya Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur’an — kitab beliau tentang adab terhadap Al-Qur’an bagi para pembawanya — menyampaikan satu argumen dalam sebuah paragraf: siapa pun yang ingin bacaannya lebih berdampak, hendaknya memindahkan lebih banyak porsi bacaannya ke malam hari. Beliau tidak berargumen berdasarkan selera pribadi. Beliau mendasarkannya pada sebuah ayat, dan ayat tersebut benar-benar menjadi fondasi utama dalam kalimatnya, bukan sekadar hiasan.

Hal ini patut kita renungkan sejenak, karena anjuran “membaca di malam hari” sering kali hanya dianggap sebagai nasihat spiritual umum, layaknya kebiasaan ibadah lainnya — seperti membaca lebih banyak, mengurangi rasa khawatir, atau tidur lebih awal. Argumen An-Nawawi lebih spesifik dan unik dari itu. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an itu sendiri, saat menjelaskan tentang pembacaannya, menyebutkan rentang waktu tertentu yang lebih efektif. Bukan lebih praktis. Lebih efektif.

Kitab At-Tibyan adalah buku ringkas yang ditulis untuk satu audiens: orang-orang yang telah menghafal sebagian atau seluruh Al-Qur’an dan ingin mengetahui adab apa saja yang harus ditunaikan selain pelafalan yang benar. Penulisnya, Yahya bin Syaraf An-Nawawi, saat ini lebih dikenal melalui karya syarah hadisnya dibandingkan kitab ini, namun instruksi di dalamnya lebih bersifat praktis daripada teoretis — bagaimana cara duduk, kapan harus berhenti, apa yang harus dilakukan saat melakukan kesalahan, dan, pada halaman 63, kapan waktu terbaik untuk membacanya.

Instruksi terkait hal ini muncul di awal Surah Al-Muzzammil, yang ditujukan langsung kepada sosok yang menerima wahyu tersebut:

إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيْلِ هِىَ أَشَدُّ وَطْـًٔا وَأَقْوَمُ قِيلًا

“Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih kuat dampaknya dan lebih lurus ucapannya.” — Surah Al-Muzzammil, 73:6

Nasyi’atal lail — “bangun di waktu malam” — adalah ungkapan khusus untuk rentang waktu yang spesifik: jam-jam setelah seseorang mulai tertidur, ketika seisi rumah telah hening dan butuh perjuangan untuk bangun kembali. Ayat ini membuat dua klaim terpisah tentang waktu tersebut: bacaan yang dilakukan pada waktu itu memberikan dampak yang lebih kuat (asyaddu wath’an, secara harfiah berarti pijakan yang lebih berat), dan kata-kata yang diucapkan keluar dengan lebih lurus, lebih tepat sasaran (aqwamu qilan). Ayat ini tidak mengklaim bahwa sang pembaca akan merasa lebih suci pada jam 2 pagi. Ayat ini menegaskan bahwa mekanisme mendengar dan mengucapkan Al-Qur’an akan berubah ketika kebisingan di sekitarnya mereda.

Ini adalah klaim tentang fokus yang bisa dibuktikan, bukan sekadar soal suasana hati. Gangguan memiliki harga yang sering kali tersamarkan oleh siang hari — suara bising di latar belakang, tugas berikutnya yang menanti, ponsel di atas meja — dan ayat ini menyebutkan waktu di mana harga dari gangguan tersebut turun ke titik terendah. An-Nawawi memahaminya sebagai sebuah instruksi, dan itulah sebabnya ayat ini menjadi pembuka paragraf di halaman 63 dalam kitabnya.

Ana’al lail — waktu-waktu di malam hari — pada awalnya bukanlah deskripsi tentang suatu umat. Sebelum kedua ayat di bawah ini menggunakannya, ungkapan tersebut telah muncul dalam sabda Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengenai seseorang yang membawa Al-Qur’an. Ibnu Umar meriwayatkannya dalam Shahih Muslim, halaman cetak 1/558 dari :

“Tidak boleh ada hasad (iri hati) kecuali terhadap dua orang: seseorang yang Allah karuniai pemahaman Al-Qur’an, lalu ia membacanya sepanjang waktu malam dan waktu siang; serta seseorang yang Allah karuniai harta, lalu ia menginfakkannya sepanjang waktu malam dan waktu siang.”

“Tidak boleh ada hasad” bukan berarti kecemburuan biasa diperbolehkan dalam hal lain — hadis ini menggunakan kata tersebut dalam konteks yang dibahas oleh para ulama sebagai ghibthah, yaitu menginginkan apa yang telah diberikan kepada orang lain tanpa berharap nikmat itu hilang dari mereka, dan menyebutkan secara spesifik dua orang yang pantas mendapatkan keinginan tersebut. Kedua deskripsi ini mengulang frasa ana’al lail wa ana’an nahar — malam dan siang secara bersamaan, bukan malam saja. Orang yang digambarkan di sini bukanlah seseorang yang hanya beribadah di malam hari; melainkan seseorang yang interaksinya dengan Al-Qur’an tidak terbatas pada salah satu paruh waktu saja.

Perbedaan ini penting untuk memahami dua ayat berikutnya, karena keduanya mengerucutkan ungkapan yang sama khusus pada paruh malam hari — masing-masing memuji postur ibadah yang dilakukan dalam kegelapan, bukan kebiasaan sepanjang hari. Jika dibaca dengan urutan ini, hadis terlebih dahulu lalu kedua ayat tersebut, ungkapan ini bergeser dari menggambarkan seseorang yang seluruh harinya dibentuk oleh Al-Qur’an, menjadi penegasan bahwa porsi malam harinya saja sudah cukup untuk memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang lurus.

Inilah argumen itu sendiri. Segera setelah memberi tahu pembaca bahwa seseorang yang memiliki kebiasaan bangun malam harus memberikan porsi lebih banyak untuk membaca Al-Qur’an, An-Nawawi mengutip dalilnya secara langsung — halaman 63 dari :

“Seseorang yang terbiasa salat malam hendaknya lebih memperhatikan bacaan Al-Qur’an di malam hari. Allah ﷻ berfirman: ‘Di antara Ahli Kitab itu ada umat yang lurus, yang membaca ayat-ayat Allah pada waktu-waktu malam hari, sambil bersujud.‘”

Ayat yang beliau kutip adalah ayat ini, dari Surah Ali ‘Imran:

۞ لَيْسُوا۟ سَوَآءً ۗ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَـٰبِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتْلُونَ ءَايَـٰتِ ٱللَّهِ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ

“Mereka tidaklah sama. Di antara Ahli Kitab itu ada umat yang lurus, yang membaca ayat-ayat Allah pada waktu-waktu malam hari, sambil bersujud.” — Surah Ali ‘Imran, 3:113

Penting untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dipuji oleh ayat ini. Ayat ini tidak sekadar mengatakan bahwa sebagian Ahli Kitab berperilaku baik. Ayat ini memberikan bentuk pada perilaku baik tersebut: qa’imah, lurus atau berdiri tegak — akar kata yang sama dengan yang digunakan untuk berdiri dalam salat — dipadukan dengan membaca secara spesifik ana’al lail, di sepanjang waktu malam. Pujian ini ditujukan pada postur ibadah yang dilakukan pada jam tertentu, bukan pada kesalehan secara umum. Langkah An-Nawawi adalah membaca deskripsi tersebut sebagai sesuatu yang dapat diterapkan: jika berdiri di malam hari bersama Al-Qur’an adalah hal yang membuat satu umat mendapatkan pujian dalam ayat ini, maka hal itu juga menjadi target yang masuk akal bagi umat berikutnya.

Ana’al lail — waktu-waktu di malam hari — bukanlah ungkapan yang hanya muncul sekali. Ungkapan ini kembali hadir dalam Surah Az-Zumar, di dalam sebuah pertanyaan yang dijawab sendiri oleh Allah:

أَمَّنْ هُوَ قَـٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْـَٔاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ

“Ataukah orang yang beribadah dengan taat pada waktu-waktu malam hari, dalam keadaan sujud dan berdiri, takut kepada hari akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya, [sama dengan orang yang tidak demikian]? Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” — Surah Az-Zumar, 39:9

Ayat ini membangun sebuah perbandingan dan kemudian membingkainya kembali sebagai pertanyaan tentang ilmu, bukan tentang usaha. Seseorang yang qanit — taat beribadah, berdiri dan bersujud di sepanjang waktu malam yang sama seperti yang disebutkan dalam dua ayat sebelumnya — ditempatkan di satu sisi. Perbandingan ini tidak diciptakan hanya untuk ayat ini saja: ayat tepat sebelumnya menggambarkan jenis orang yang berbeda — seseorang yang memohon kepada Tuhannya saat tertimpa bencana, lalu melupakan doa tersebut saat keadaannya membaik dan justru menjadikan sesuatu yang lain sebagai sandaran. Ayat yang bertanya “ataukah orang yang beribadah dengan taat pada waktu-waktu malam hari… [sama dengan orang yang tidak demikian]?” sedang mengajukan pertanyaan tersebut untuk dihadapkan pada kontras yang spesifik itu, bukan dihadapkan pada tetangga abstrak yang sekadar berkelakuan lebih baik.

Ayat tersebut kemudian bertanya apakah “orang-orang yang mengetahui” dan “orang-orang yang tidak mengetahui” itu sama, dan menjawabnya sendiri: hanya orang-orang yang benar-benar memahami sesuatu yang dapat mengambil pelajaran. Jika dibaca dengan menyandingkannya pada ayat-ayat sebelumnya, pasangannya sangatlah jelas. Ibadah malam di sini dihadirkan sebagai bukti dari pemahaman, dan ketiadaannya — sifat mudah lupa yang digambarkan satu ayat sebelumnya — sebagai bukti dari kebalikannya. Ini bukanlah penghakiman terhadap karakter seseorang, melainkan sebuah klaim tentang apa yang biasanya dihasilkan oleh pemahaman sejati terhadap Al-Qur’an dalam kehidupan seseorang, malam demi malam, dan bukan hanya pada saat-saat ketika ada sesuatu yang tidak berjalan lancar.

Ada teks keempat yang patut disandingkan dengan ketiga ayat tersebut, karena teks ini menjelaskan mengapa seseorang mau bersusah payah membangun kebiasaan malam dari sebuah instruksi yang berat, alih-alih memilih yang nyaman. Al-Hasan Al-Bashri, salah satu tokoh yang paling banyak dikutip dari generasi setelah para Sahabat, tercatat — pada halaman cetak 2/169 dari , ط المنيرية — mengatakan:

“Orang-orang sebelum kalian memandang Al-Qur’an sebagai surat-surat yang datang dari Tuhan mereka, sehingga mereka akan merenungkannya di malam hari dan mengamalkannya di siang hari.”

Perumpamaan ini memiliki makna yang mendalam. Sebuah surat tidak hanya dibaca sekali lalu diarsipkan; surat dibaca karena ada sosok spesifik yang mengirimkannya, dan surat itu meminta sesuatu dari pembacanya. Al-Hasan Al-Bashri tidak sedang menggambarkan sebuah ibadah yang dilakukan hanya demi ibadah itu sendiri — beliau sedang menggambarkan sebuah korespondensi yang harus dibalas. Malam hari, dalam perumpamaan tersebut, adalah waktu untuk membaca; siang hari adalah waktu untuk membalasnya. Ketiga ayat di atas menjelaskan mengapa pembacaan itu dilakukan setelah gelap: lebih sedikit gangguan, adanya klaim peningkatan dampak, dan — menurut Surah Az-Zumar — menjadi tolok ukur kasar apakah sang pembaca benar-benar memahami isi surat tersebut atau tidak.

Semua ini tidak mengharuskan kita untuk merombak total kehidupan demi ibadah malam yang bagi kebanyakan orang, pada sebagian besar malam, tidak akan mampu dirutinkan. Ketiga ayat tersebut tidak menetapkan durasi waktu minimum; nasyi’atal lail menyebutkan kualitas fokus yang bisa didapatkan bahkan dalam rentang waktu yang singkat setelah rumah menjadi hening — beberapa menit terakhir sebelum tidur, atau beberapa menit setelah bangun sebelum kewajiban pertama di hari itu tiba. Argumen An-Nawawi sendiri ditujukan kepada seseorang yang kebiasaannya sudah mencakup salat malam; itu adalah nasihat tentang di mana sebaiknya menempatkan porsi lebih besar dari praktik yang sudah ada, bukan tuntutan untuk menciptakannya dari nol.

Apa yang diminta oleh teks-teks tersebut adalah pergeseran dalam cara waktu itu digunakan, bukan keharusan untuk memperpanjang durasinya. Jika klaim dalam ayat 73:6 itu benar meski hanya sebagian — bahwa bacaan yang dilakukan dengan lebih sedikit gangguan akan memberikan dampak yang lebih kuat dan keluar dengan lebih presisi — maka ujian sejujurnya bukanlah apakah jadwal tersebut bisa dipertahankan setiap malam, melainkan apakah perbedaannya terasa pada malam-malam saat hal itu dicoba.

Hadis tentang dua orang yang patut dicemburui menjadi pelurus yang berguna di sini, karena hadis ini mencegah argumen tersebut jatuh pada kesimpulan “hanya bacaan malam hari yang dihitung.” Orang yang digambarkan dalam hadis tersebut menghabiskan kedua paruh harinya bersama Al-Qur’an, bukan memilih salah satu dan meninggalkan yang lain. Ketiga ayat tersebut tidak sedang bersaing dengan bacaan di siang hari; ayat-ayat itu menjawab pertanyaan yang lebih sempit — bagian mana dari hari yang sudah terbagi itu yang cenderung membawa bobot lebih besar saat waktu itu tersedia — dan jawaban yang diberikan secara berulang-ulang adalah bagian setelah kebisingan mereda.

Ada juga alasan praktis yang jelas mengapa para pembaca Al-Qur’an generasi awal mengatur kebiasaan mereka dengan cara ini, alih-alih, misalnya, pada jam setelah Subuh atau dengan durasi waktu yang tetap. Malam hari tidak menuntut kita untuk mencari celah dalam jadwal yang sudah padat; malam hari hanya menuntut kita untuk merelakan beberapa menit waktu tidur yang tadinya akan dihabiskan untuk terlelap. Perumpamaan Al-Hasan Al-Bashri tentang Al-Qur’an sebagai sebuah korespondensi sangatlah tepat karena sebuah surat tidak akan menunggu momen yang nyaman — seseorang yang memperlakukannya demikian akan membukanya saat suasana cukup tenang untuk membacanya dengan saksama, yang bagi sebagian besar rumah tangga, dulu maupun sekarang, adalah setelah semua orang pergi tidur.


Waktu-waktu salat, termasuk salat malam, adalah salah satu hal paling sederhana untuk dijadikan fondasi kebiasaan ketika waktu-waktu itu sendiri tidak lagi harus dihitung secara manual — /prayer menyediakannya untuk Anda.

Jika ada hal di atas yang salah dalam menafsirkan ayat atau kutipan, kami lebih memilih untuk dikoreksi daripada dibiarkan dalam kesalahan — hubungi kami, dan kami akan memperbaikinya.

Kami memohon kepada Allah agar menjadikan Al-Qur’an lebih berbobot dalam pendengaran kami pada jam berapa pun kami berhasil membukanya, dan mengampuni kami pada malam-malam saat kami tidak melakukannya.