Quran Gallery Blog · Artikel
Dua-Dua, Lalu Witir: Struktur Asli Shalat Tahajud
Aisyah menggambarkan jumlah rakaat yang tidak pernah dilampaui oleh Nabi, bukan target yang harus dicapai. Di antara batas atas dan bawah tersebut, hadis memberikan bentuk tahajud yang pasti — dikerjakan berpasangan, dibuka dengan rakaat yang ringan, ditutup dengan witir, pada waktu yang cukup fleksibel untuk disesuaikan dengan kondisi orang yang mengerjakannya.
Baca 7 menit6 sumber
Penulis:The Quran Gallery team
Ketika Abu Salamah bertanya kepada Aisyah tentang bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak menggambarkan sebuah maraton. Beliau menggambarkan batas maksimal.
مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ، إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي. “Rasulullah tidak pernah melebihi sebelas rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Beliau shalat empat rakaat — jangan tanya betapa bagus dan panjangnya — lalu shalat empat rakaat lagi — jangan tanya betapa bagus dan panjangnya — kemudian shalat tiga rakaat.” Aisyah berkata: “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum shalat witir?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Aisyah, kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak.‘”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 1147, halaman cetak 2/53 dari .
Angka sebelas memiliki makna khusus dalam jawaban tersebut. Aisyah tidak sedang menyebutkan batas minimal yang harus dicapai orang-orang — beliau melaporkan angka yang ia saksikan sendiri, malam demi malam selama bertahun-tahun, yang tidak pernah dilampaui oleh Nabi, baik di bulan saat orang-orang beribadah paling giat maupun di sebelas bulan lainnya ketika tidak ada yang melihat. Jika tahajud sekadar ujian ketahanan fisik, pola wajarnya adalah lebih banyak rakaat di bulan Ramadhan dan lebih sedikit di bulan lainnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya: bentuknya tetap konstan, dan satu-satunya hal yang berubah saat Ramadhan adalah durasi setiap rakaat dari sebelas rakaat tersebut. Durasinya elastis, tetapi jumlah rakaatnya tidak.
Unit Dasarnya Adalah Dua Rakaat
Angka sebelas itu sendiri tidak menjelaskan bagaimana cara kita menjalankan shalat malam — angka itu hanya menunjukkan batas akhirnya. Unit dasar pembentuknya berasal dari riwayat lain, yang disampaikan sebagai jawaban langsung atas pertanyaan langsung yang diajukan kepada Nabi saat beliau berada di atas mimbar:
سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَا تَرَى فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ قَالَ: مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ الصُّبْحَ صَلَّى وَاحِدَةً فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا صَلَّى وَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ: اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ وِتْرًا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ. Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berada di atas mimbar, “Bagaimana pendapatmu tentang shalat malam?” Beliau menjawab, “Dua-dua. Dan jika salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu subuh, hendaklah ia shalat satu rakaat, maka itu akan menjadi witir bagi semua shalat yang telah ia kerjakan.” Dan [Ibnu Umar, yang meriwayatkan hadis ini] sering berkata, “Jadikanlah akhir shalat malam kalian sebagai witir, karena Nabi memerintahkannya.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 472, halaman cetak 1/102 dari .
Gabungkan kedua riwayat tersebut, maka formasi “empat, empat, tiga” dari Aisyah tidak lagi terlihat seperti pembagian yang aneh dan acak, melainkan tiga putaran dari aturan yang sama: dua pasang rakaat yang masing-masing ditutup dengan salam, lalu witir — angka ganjil yang menutup semua rakaat sebelumnya menjadi satu kesatuan yang utuh. Tidak ada jumlah pasti pasangan rakaat yang wajib dicapai seseorang sebelum witir. Yang ada hanyalah panduan arahnya: bangun, shalat dua rakaat, tutup dengan salam, lalu silakan lanjut dua rakaat lagi atau berhenti dan shalat witir kapan pun malam hampir berakhir.
Memulai dengan Ringan, Bukan Panjang
Tidak ada dalam struktur tersebut yang mengharuskan pasangan rakaat pertama menjadi yang paling berat. Malah, petunjuknya justru sebaliknya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi mengarahkan siapa saja yang bangun di malam hari agar tidak membuka shalatnya dengan bacaan terpanjang yang ia hafal:
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ “Jika salah seorang dari kalian bangun di malam hari, hendaklah ia membuka shalatnya dengan dua rakaat yang ringan.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 198 (768), halaman cetak 2/184 dari .
Tubuh yang baru saja bangun dari tidur diminta untuk masuk ke dalam shalat secara perlahan sebelum diminta untuk bertahan lama — dua rakaat yang ringan ini lebih berfungsi sebagai jembatan transisi daripada sekadar pemanasan. Baru setelah itu, instruksi Al-Qur’an mengenai hal ini menetapkan rentang untuk semua rakaat berikutnya, dan rentang ini sangatlah luas:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْمُزَّمِّلُ قُمِ ٱلَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِّصْفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا “Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) seperduanya, atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”
— Surah al-Muzzammil, 73:1–4
Seperdua, “kurang sedikit”, dan “lebih sedikit” semuanya ditawarkan dalam satu tarikan napas, seolah-olah porsi pasti dari malam tersebut adalah variabel yang paling tidak penting dalam instruksi ini. Yang tidak ditawarkan sebagai pilihan adalah tartīl — membaca dengan saksama, memberikan hak pada setiap kata, alih-alih terburu-buru demi mencapai target durasi tertentu. Jika disandingkan dengan hadis tentang membuka shalat dengan rakaat yang ringan, keduanya menyampaikan poin yang sama dari sudut pandang yang berbeda: jumlah rakaat dan durasi malam yang dihabiskan bisa disesuaikan; namun kualitas kekhusyukan di dalam setiap rakaat tidak bisa ditawar.
Waktunya Fleksibel; Urutannya Tidak
Elastisitas tersebut juga berlaku pada kapan witir itu sendiri dikerjakan, dan dalam hal ini hadis secara lugas mengakomodasi keraguan seseorang terhadap kondisi malamnya sendiri:
مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ “Barang siapa yang khawatir tidak akan bangun di akhir malam, hendaklah ia shalat witir di awal malam. Dan barang siapa yang berharap akan bangun di akhir malam, hendaklah ia shalat witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan (oleh para malaikat), dan itu lebih utama.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 162 (755), halaman cetak 2/174 dari .
Perhatikan apa yang tidak dilakukan oleh hadis ini: hadis ini tidak menyuruh orang yang ragu untuk melewatkan witir, atau menebak-nebak, atau menyetel alarm yang mungkin saja akan diabaikannya. Hadis ini memberikan cara yang sah untuk menjaga urutannya — witir sebagai penutup — sambil menggeser kapan penutup itu dilakukan agar sesuai dengan perkiraan jujur mereka terhadap diri sendiri. Alasan mengapa waktu yang lebih akhir disebut lebih utama, bukan sekadar diperbolehkan, dijelaskan di riwayat lain sebagai gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada waktu tersebut:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ “Rabb kita, Tabaraka wa Ta’ala, turun setiap malam ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir tersisa, lalu berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.‘”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 1145, halaman cetak 2/53 dari .
Kedua hadis tersebut menjawab pertanyaan yang berbeda tentang waktu yang sama. Yang satu memberi tahu seseorang bagaimana merencanakan ibadah di tengah kelemahannya sendiri. Yang lain memberi tahu apa yang akan mereka lewatkan jika mereka selalu memilih opsi yang lebih mudah. Di antara keduanya, pernyataan “waktu terbaik adalah sepertiga malam terakhir” tidak lagi sekadar nasihat tanpa alasan, melainkan menjadi deskripsi gamblang tentang apa yang ditawarkan pada waktu tersebut, bagi siapa saja yang terjaga untuk memintanya.
Menutup dengan Tiga Nama
Urutannya sudah tetap — berpasangan, lalu diakhiri dengan rakaat ganjil yang menutupnya — tetapi bahkan bacaan di dalam shalat penutup itu pun memiliki pola yang terbukti dan berulang, alih-alih dibiarkan bebas membaca apa saja yang terlintas di pikiran:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasanya shalat witir dengan membaca [Surah] al-A’la — ‘Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi’ — [Surah] al-Kafirun — ‘Katakanlah, wahai orang-orang kafir’ — dan [Surah] al-Ikhlas — ‘Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa.‘”
— Sunan Ibn Mājah, hadis 1171, halaman cetak 1/370 dari . Editor edisi ini menilai riwayat tersebut shahih.
Tiga surah pendek, satu untuk setiap rakaat dari witir tiga rakaat, bergerak dari kesucian Allah, menuju pemisahan tegas dari apa pun yang menentang-Nya, hingga keesaan-Nya yang dinyatakan tanpa syarat. Ini bukanlah bacaan panjang yang harus dipertahankan — tantangan itu sudah diselesaikan dengan membuka shalat secara ringan — tetapi ini juga bukan sesuatu yang acak. Bahkan hal terakhir yang diucapkan sebelum shalat berakhir pun memiliki bentuk yang selalu diingat.
Semua ini tidak lantas menjadi naskah kaku yang harus diikuti baris demi baris agar sah disebut tahajud. Ini membentuk sesuatu yang lebih spesifik dan lebih bermanfaat: sekumpulan kecil titik tetap — pasangan rakaat sebagai unitnya, witir sebagai penutupnya, sebelas rakaat sebagai batas maksimal alih-alih batas minimal, sepertiga malam terakhir sebagai waktu yang lebih baik alih-alih satu-satunya waktu yang sah — yang di dalamnya hampir semua hal lain sengaja dibiarkan terbuka. Aplikasi Prayer dari Quran Gallery menandai batas antara Isya dan Subuh berdasarkan lokasi Anda sendiri, yang mana ini adalah satu-satunya ukuran yang benar-benar dibutuhkan oleh struktur ini sebelum siapa pun dapat mempraktikkannya.
Terkait
Artikel Dua Surga, Satu Pintu: Apa yang Sebenarnya Dibuka oleh Tahajud Al-Qur'an tidak sekadar menjanjikan pahala untuk salat malam — Al-Qur'an menyebut pahala tersebut tersembunyi, lalu menggambarkannya dengan kosakata Surga itu sendiri. Ibnu Taimiyah mengatakan kepada muridnya bahwa ada dua surga, dan seseorang hanya bisa mencapai surga kedua jika ia telah memasuki surga pertama yang masih terbuka di dunia ini. Artikel Ikatan di Kepala Anda: Mengapa Tahajud Dimulai Sebelum Anda Tidur Sebuah hadis menyebutkan bahwa penghalang utama untuk bangun tahajud bukanlah suara alarm yang kurang keras, melainkan bagian belakang kepala Anda sendiri, di mana tiga ikatan diikatkan setiap malam. Apa yang sebenarnya bisa melepaskan ikatan tersebut, mengapa niat tulus yang gagal tetap bernilai pahala, dan apa yang Al-Qur'an katakan tentang perjuangan di antara keduanya. Artikel Alasan Membaca Al-Qur'an Setelah Tengah Malam Imam An-Nawawi mendedikasikan satu halaman dalam kitab adab Al-Qur'an karyanya untuk menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an setelah tengah malam bukan sekadar lebih tenang, melainkan sebuah bentuk bacaan yang sama sekali berbeda — dan tiga ayat menjelaskan alasannya.
