Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Allāhu Akbar: Kalimat yang Mengerdilkan Segala Sesuatu

Akbar adalah bentuk komparatif (perbandingan), dan tata bahasa Arab mengharuskan kalimat komparatif diselesaikan — lebih besar dari apa? Allāhu Akbar tidak pernah menyebutkannya. Artikel ini mengulas di mana Sunnah menempatkan kalimat yang tak selesai tersebut, dan apa yang terjadi pada sudut pandang seseorang ketika kalimat itu diucapkan tepat di saat rasa takut, marah, atau takjub memaksa kita merasa bahwa ada hal lain yang lebih besar.

Baca 7 menit5 sumberTasbih

Penulis:The Quran Gallery team

Setiap bahasa memiliki cara singkat untuk memuji sesuatu melalui perbandingan: lebih besar dari sebelumnya, lebih baik dari yang diharapkan. Bahasa Arab juga memiliki pola yang sama, dan umat Islam mengucapkannya puluhan kali sehari dalam kalimat yang sering dilafalkan tanpa menyadari struktur tata bahasanya: اَللّٰهُ أَكْبَرُ, Allāhu Akbar. Akbar adalah bentuk komparatif — pola yang sama dalam bahasa Arab untuk “lebih tua”, “lebih murah”, “lebih cepat” — dan sebuah kata komparatif, menurut aturan bahasa pada umumnya, membutuhkan objek pembanding. Lebih besar dari apa? Kalimat ini berhenti tepat di titik di mana perbandingan seharusnya disebutkan, lalu membiarkannya tak selesai.

Perbandingan tanpa pembanding

Kekosongan itu bukanlah bagian yang lupa diisi. Justru di situlah letak maknanya. Menyebutkan dari apa Allah lebih besar — bahkan jika tujuannya untuk meremehkan hal tersebut — sama saja dengan menyejajarkannya dengan Allah, meskipun hanya sebatas dalam sebuah kalimat. Bahasa Arab memiliki tata bahasa untuk ini: akbar min (lebih besar dari) membutuhkan objek, dan objek tersebut haruslah sesuatu yang sepadan untuk dibandingkan. Allāhu Akbar menolak struktur tersebut. Tidak ada kata min, tidak ada kata “dari”, tidak ada tempat bagi apa pun untuk menjadi yang kedua.

Bagian yang kosong itu sengaja dibiarkan tepat di saat pikiran manusia ingin segera mengisinya. Ucapkan kalimat ini saat merasa takut, maka kalimat yang sedang disusun oleh rasa takut Anda — lebih besar dari keselamatanku, lebih besar dari kemampuanku bertahan hidup — akan runtuh sebelum selesai, karena tidak ada ruang dalam Allāhu Akbar untuk ditempati oleh rasa takut itu. Ucapkanlah saat melihat ke bawah dari ketinggian, atau saat menyaksikan sesuatu yang sangat besar terbakar, maka apa pun yang sedang Anda jadikan tolok ukur telah kalah dalam sebuah perlombaan yang bahkan tidak pernah diikutinya.

Pintu gerbang setiap shalat

Islam tidak membiarkan hal ini sekadar menjadi konsep abstrak; Islam menjadikannya fondasi dalam ibadah, dimulai dari pintu gerbangnya.

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya (dari hal-hal di luar shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam.

— Sunan Abī Dāwūd, halaman cetak 1/22 dari , diriwayatkan dari ʿAlī.

Kata taḥrīmuhā memiliki akar kata yang sama dengan ḥarām — takbir yang membuka shalat adalah hal yang membuat aktivitas biasa menjadi terlarang seketika saat diucapkan; tidak boleh lagi berbicara, tidak boleh lagi menoleh. Seseorang tidak bisa memasuki keadaan yang sakral tersebut melalui pintu mana pun kecuali dengan satu kalimat yang mengakui, dengan lantang, bahwa apa pun yang menyita perhatian mereka di luar shalat, pada kenyataannya, bukanlah hal terbesar yang layak untuk dipikirkan. Setiap gerakan shalat selanjutnya — rukuk, bangkit, sujud, berdiri kembali — dirangkai dengan kalimat yang sama, sehingga pengakuan tersebut terus diperbarui pada setiap pergerakan tubuh, bukan sekadar diucapkan sekali lalu dianggap selesai.

Naik, dan turun kembali

Naluri ini tidak terbatas pada shalat saja. Jābir bin ʿAbdullāh menggambarkan kebiasaan para Sahabat saat sedang dalam perjalanan:

كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

Apabila kami naik (melewati jalan menanjak), kami bertakbir, dan apabila kami turun, kami bertasbih.

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 4/57 dari , hadis 2993, diriwayatkan dari Jābir.

Berada di tempat yang lebih tinggi adalah momen di mana ego seseorang cenderung membesar — sudut pandang yang lebih tinggi, kenaikan jabatan, puncak yang berhasil didaki, atau kesempatan apa pun yang menempatkan seseorang secara fisik maupun kiasan di atas posisi sebelumnya. Kebiasaan yang tertanam dalam diri seorang musafir menyambut momen tersebut dengan satu kalimat yang dirancang untuk menolak perbandingan: lebih besar, tanpa ada pembandingnya. Sebaliknya, turun membawa risiko yang berlawanan, yaitu rasa putus asa atau merasa kerdil, sehingga kalimatnya berubah menjadi tasbīḥ — menyatakan Allah Maha Suci dari segala kekurangan — yang mengubah makna penurunan tersebut ke arah yang berbeda: tidak ada satu pun dari tempat yang lebih rendah, sebuah kemunduran, atau sekadar kembali ke pijakan semula yang dapat menodai keagungan-Nya, sehingga hal-hal tersebut juga tidak seharusnya merendahkan harga diri seseorang.

Sepuluh hari di mana setiap orang dianjurkan untuk bersuara lantang

Takbir bukan sekadar kebiasaan pribadi; Sunnah sangat menganjurkan agar kalimat ini diucapkan di tempat umum, pada waktu-waktu tertentu. Puasa Ramadhan diakhiri dengan sebuah perintah yang berkaitan langsung dengan penutupannya:

… وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ …

…dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu…

Sūrat al-Baqarah, 2:185

Respons pertama yang diminta dari seseorang yang baru saja menyelesaikan puasa sebulan penuh bukanlah perayaan semata; melainkan sebuah deklarasi kebesaran, yang ditujukan kepada Allah, bukan pada pencapaian diri sendiri. Naluri yang sama pulalah yang menjadi alasan mengapa sepuluh hari pertama bulan Dhū al-Ḥijjah — hari-hari yang disebut oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) di kesempatan lain sebagai hari-hari terbaik untuk beramal saleh — menjadi hari-hari di mana orang-orang dianjurkan untuk mengucapkannya di jalanan, bukan hanya di dalam masjid:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا

Ibnu ʿUmar dan Abū Hurairah biasa keluar menuju pasar pada sepuluh hari tersebut sambil bertakbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir bersama keduanya.

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 2/20 dari , dicatat tanpa sanad yang bersambung di bawah judul bab dalam Kitab Dua Hari Raya.

Dua dari Sahabat paling senior berjalan memasuki satu-satunya tempat di kota yang sepenuhnya dibangun untuk tawar-menawar harga, lalu mengumumkan — berulang kali, dengan suara lantang, dengan cara yang sengaja agar didengar oleh orang-orang yang berlalu-lalang — bahwa tidak ada satu pun dari barang-barang itu yang menjadi hal terbesar di sana. Kebiasaan di ruang publik inilah yang menjadi akar dari takbir yang diajarkan kepada umat Islam untuk dikumandangkan dengan suara lantang sepanjang sepuluh hari Dhū al-Ḥijjah dan hari-hari ʿĪd setelahnya: bukan sekadar gumaman pribadi, melainkan sebuah pelurusan sudut pandang secara kolektif, yang diucapkan cukup keras hingga terdengar ke seluruh penjuru pasar.

Rasa takut, amarah, dan momen saat rasa takjub menyela

Perintah paling awal untuk bertakbir turun kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam sebuah surah yang dinamai dengan orang yang berselimut:

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

Dan Tuhanmu agungkanlah.

Sūrat al-Muddaththir, 74:3

Surah yang turun kemudian menutup bantahan terhadap setiap sekutu yang diajukan oleh para penentang Allah — seorang anak, sekutu, atau pelindung dari kelemahan — dengan perintah yang sama:

… وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًۢا

…dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.

Sūrat al-Isrāʾ, 17:111

Kedua ayat tersebut menjawab situasi di mana sesuatu baru saja terasa begitu besar — sebuah risalah yang terlalu berat untuk dipikul, sederet klaim yang menentang keesaan Allah — dengan koreksi satu kata yang sama. Pola ini berulang hampir persis ketika langit itu sendiri yang menebarkan ketakutan. Gerhana matahari membuat penduduk kota sangat panik hingga mereka mengira ada tokoh penting yang meninggal dan langit sedang bereaksi terhadapnya:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا اللَّهَ، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka apabila kalian melihat hal itu, bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, shalatlah, dan bersedekahlah.

— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 2/618 dari , dari riwayat ʿĀʾisyah tentang shalat gerhana.

Perintah tersebut tidak diawali dengan penjelasan tentang mekanika orbit. Perintah itu diawali dengan takbir, sebelum shalat, sebelum sedekah — karena langit yang tiba-tiba berubah aneh, dalam beberapa menit, telah menjadi hal terbesar di benak orang yang sedang ketakutan, dan kata pertama yang diberikan kepada mereka dirancang tepat untuk membantah anggapan tersebut.

Hal ini juga berlaku sebaliknya, ketika perasaan yang muncul adalah kelegaan atau rasa syukur yang meluap-luap, bukan rasa takut. Seorang pria yang shalat di belakang Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) diliputi oleh suatu perasaan saat shalat dan, tanpa diminta, mengucapkan lebih dari yang disyariatkan dalam bacaan shalat:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Allah Maha Besar, sebesar-besarnya; segala puji bagi Allah, sebanyak-banyaknya; dan Maha Suci Allah, pagi dan petang.

— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 2/99 dari , hadis 601, diriwayatkan dari Ibnu ʿUmar.

Ia menggandakan bentuk komparatifnya — akbar kabīrā, lebih besar, sebesar-besarnya — seolah-olah satu kata itu saja tidak mampu menampung apa yang ia rasakan. Alih-alih mengoreksi tambahan bacaan shalat yang diimprovisasi tersebut, ia justru diberi tahu bahwa pintu-pintu langit telah terbuka karenanya. Dengan kata lain, kalimat ini memiliki ruang untuk menampung sebesar apa pun perasaan yang muncul; ia tidak perlu dipangkas agar sesuai dengan rumus yang kaku, karena kata “lebih besar” sejak awal bukanlah sebuah takaran yang terbatas.

Amarah berjalan pada versi yang lebih sempit dari kesalahan perhitungan yang sama yang dihasilkan oleh rasa takut dan takjub: amarah membutuhkan sasarannya menjadi hal terbesar yang ada saat itu, cukup besar untuk membenarkan besarnya reaksi yang akan menyusul. Mengucapkan takbir pada momen tersebut tidak menyangkal bahwa provokasi itu terjadi atau menganggap bahwa rasa sakit hati itu tidak penting — takbir menegaskan kembali satu fakta yang sebenarnya tidak pernah diperdebatkan, bahwa apa pun yang baru saja terjadi tidaklah lebih besar dari Allah, dan oleh karena itu bukanlah hal terbesar yang layak untuk dipikirkan saat ini. Ini adalah pelurusan yang sama yang menenangkan seseorang di puncak gunung atau di lapak pasar, namun kali ini ditujukan pada lonjakan emosi sebelum ia berubah menjadi sebuah keputusan.

Mengucapkan dan memaknainya

Kalimat ini cukup pendek untuk diucapkan tanpa berpikir panjang, dan justru itulah alasannya mengapa ia ditanamkan di begitu banyak persimpangan: pintu gerbang setiap shalat, saat mendaki ketinggian, di pasar selama sepuluh hari terbaik dalam setahun, atau saat langit berubah menjadi menakutkan. Pengulangan melatih sudut pandang kita sebelum keadaan darurat tiba, sehingga ketika rasa takut, amarah, atau takjub benar-benar muncul, pelurusan tersebut sudah siap sedia, bukan lagi sesuatu yang harus dicerna dengan susah payah di bawah tekanan. Koleksi zikir Quran Gallery memuat takbir dalam bentuk-bentuk kesehariannya — setelah shalat, saat bangun tidur, bersama dengan zikir-zikir lainnya — dalam bahasa Arab dan terjemahannya, untuk hari-hari biasa di antara momen-momen yang telah dijelaskan dalam artikel ini.

Lanjutkan

Tasbih

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.