Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Refleksi

Menghitung dengan Jari: Seperti Apa Bentuk Tasbih Nabi

Seorang sahabat pernah menggambarkan apa yang ia saksikan: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menghitung tasbihnya dari satu ruas jari ke ruas jari lainnya di tangannya sendiri. Hadis lain memperingatkan bahwa jari-jemari yang digunakan untuk menghitung kelak akan diminta berbicara. Untuk apa sebenarnya hitungan fisik itu, dan apa yang hilang ketika mencapai angka tertentu menjadi lebih penting daripada meresapi maknanya.

Baca 6 menit2 sumberTasbih

Penulis:The Quran Gallery team

Seorang sahabat pernah merangkum sebuah kebiasaan ibadah hanya dalam satu kalimat. Abdullah bin Amr tidak meriwayatkan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam — ia menceritakan apa yang ia lihat langsung:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitung tasbih.”

— Sunan Abī Dāwūd, hadis 1502, edisi cetak halaman 2/617 dari . Para editor edisi ini menilai sanadnya sahih.

Tasbih (تسبيح) adalah tindakan mengucapkan سُبْحَانَ اللَّهِ — “Maha Suci Allah” — dan kata kerja ‘aqada, yang berarti “mengikat” atau “membuat simpul,” memiliki makna yang kuat dalam riwayat tersebut. Ini adalah kata kerja yang sama yang digunakan untuk mengikat tali. Abdullah bin Amr tidak sedang menggambarkan seseorang yang sekadar berkomat-kamit; ia menggambarkan jari-jemari yang bergerak dengan sengaja, simpul demi simpul.

Tambahan dari Satu Perawi, yang Tidak Disebutkan Perawi Lain

Abu Dawud menerima riwayat ini melalui dua gurunya, yang disebutkan bersamaan dalam sanad yang sama: Ubaidullah bin Umar bin Maisarah dan Muhammad bin Qudamah. Hanya satu dari mereka yang tercatat menambahkan detail yang tidak disebutkan oleh yang lain. Kitab tersebut mencatatnya persis seperti itu — sebagai sebuah tambahan, bukan diselipkan begitu saja ke dalam teks utama:

“…menghitung tasbih.” Ibnu Qudamah berkata: “dengan tangan kanannya.”

Hal ini patut kita renungkan alih-alih sekadar dibaca lalu dilewatkan. Inti dari apa yang dilihat Abdullah bin Amr — tangan yang menggenggam pada setiap ruas jari — diriwayatkan oleh kedua jalur tersebut. Namun, detail spesifik mengenai tangan kanan hanya dibawa oleh satu jalur. Memang sudah menjadi hal yang lumrah bagi ulama belakangan untuk menyebut tangan kanan sebagai tangan untuk bertasbih tanpa perdebatan, tetapi kitab ini menjaga bentuk riwayat yang lebih jujur: sebuah pengamatan yang disepakati, dan satu detail spesifik yang ditambahkan.

Ada detail kecil lain yang patut diperhatikan dalam jilid yang sama. Abu Dawud menempatkan hadis 1502 di dalam bab yang ia beri judul “Menghitung Tasbih dengan Kerikil” — yang berarti menghitung dengan batu-batu kecil sudah menjadi metode yang dikenal di kalangan pembacanya pada saat ia menyusun kitab tersebut, berabad-abad sebelum untaian biji tasbih ada untuk fungsi yang sama. Namun, hadis yang ia pilih untuk membuka bab tersebut sama sekali bukan tentang kerikil. Hadis itu berbicara tentang tangan.

Jari-Jemari yang Akan Diminta Berbicara

Riwayat kedua melangkah lebih jauh dari sekadar menggambarkan metode — riwayat ini menyebutkan alasannya. Yusairah binti Yasir, salah satu wanita pertama yang hijrah ke Madinah, menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara langsung kepada sekumpulan wanita:

عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ، وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ، فَإِنَّهُنَّ مَسْؤُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ، وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ

“Berpegang teguhlah kalian pada tasbih, tahlil, dan takdis, serta hitunglah dengan ujung jari-jemari kalian — karena sesungguhnya mereka akan ditanya, dan mereka akan diminta berbicara. Dan janganlah kalian lalai, sehingga kalian melupakan rahmat.”

— Sunan al-Tirmidhī, hadis 3900, edisi cetak halaman 6/179 dari . Para editor edisi ini menjelaskan bahwa sanadnya cukup kuat untuk dinilai hasan, dan mencatat bahwa riwayat ini diperkuat oleh hadis Abdullah bin Amr di atas.

Al-Tirmidzi membuka bab yang membahas topik ini — yang ia beri judul, “Apa yang Diriwayatkan Mengenai Menghitung Tasbih dengan Tangan” — dengan menyebutkan Yusairah sebagai salah satu sahabat yang meriwayatkannya, sebelum ia mencantumkan redaksi aslinya di bagian selanjutnya dalam kitab tersebut. Sebuah judul bab yang dibangun berdasarkan gerakan fisik, menahan riwayat tersebut sampai sanad lengkapnya dapat diberikan: hal ini saja sudah menunjukkan betapa seriusnya para penyusun kitab-kitab ini menyikapi perbedaan antara bagaimana suatu hal dilakukan dan apa yang sekadar diucapkan tentangnya.

“Diminta berbicara” — mustanṭaqāt — bukanlah sekadar bahasa kiasan. Akar kata n-ṭ-q adalah akar kata yang sama yang digunakan Al-Qur’an untuk Hari Kiamat, menggambarkan anggota tubuh yang dulunya tampak bisu tiba-tiba memberikan kesaksian:

ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

— Surah Yā-Sīn, 36:65

Ayat ini menggambarkan sebuah interogasi, bukan sesuatu yang menenangkan. Jika dibaca berdampingan dengan hadis Yusairah, kemiripan ini bukanlah kebetulan kosakata semata — ini adalah penegasan yang sama tentang tubuh yang diterapkan dua kali, satu sebagai peringatan dan satu lagi sebagai instruksi. Tangan yang akan ditanya tentang apa yang telah dilakukannya adalah tangan yang sama yang diperintahkan, di dunia ini, untuk melakukan sesuatu yang spesifik dan terukur. Jari yang ditekuk dalam zikir adalah jari yang memiliki sesuatu yang jujur untuk dilaporkan.

Mengapa Hitungan Itu Harus Dilakukan Secara Fisik

Di satu sisi, akan lebih sederhana jika kita sekadar mengucapkan kalimatnya dan membiarkan pikiran melacak jumlahnya. Banyak orang melakukannya. Namun, hadis yang ditujukan kepada para wanita Madinah tidak berhenti sampai di situ — hadis tersebut secara langsung menyebutkan titik kelemahannya: kelalaian, ghaflah, pikiran yang mengembara di tengah-tengah zikir tanpa disadari oleh lisan bahwa ia telah berhenti memaknai apa yang diucapkannya. “Dan janganlah kalian lalai, sehingga kalian melupakan rahmat” bukanlah peringatan tentang salah pengucapan. Ini adalah peringatan tentang kehadiran hati.

Jari yang ditekuk adalah sebuah pos pemeriksaan fisik yang kecil untuk mencegah pikiran yang melayang. Gerakan ini tidak membutuhkan konsentrasi — menekuk ruas jari hampir menjadi refleks begitu kebiasaan itu terbentuk — tetapi ia melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh konsentrasi semata: ia meninggalkan jejak di luar pikiran yang bisa diperiksa oleh pikiran itu sendiri. Jika kita kehilangan hitungan di dalam kepala, tidak ada bukti bahwa sesuatu telah terjadi. Jika kita kehilangan hitungan di tangan, tangan itu sendiri akan langsung memberi tahu kita bahwa perhatian kita telah teralihkan. Riwayat tentang pengamatan Abdullah bin Amr dan riwayat yang ditujukan kepada para wanita Madinah menggambarkan disiplin yang sama dari dua arah — yang satu menunjukkan seseorang melakukannya tanpa komentar, yang lain menjelaskan, dalam satu kalimat, apa sebenarnya yang sedang dijaga.

Ketika Angka Itu Sendiri Menjadi Tujuan

Ada satu kondisi spesifik di mana disiplin ini gagal memenuhi tujuannya, dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tidak menggunakan tangan. Kegagalan ini terjadi ketika tangan terus bekerja dengan sempurna sementara alasan di baliknya menghilang — ketika angka seratus menjadi garis finis, alih-alih menjadi wujud dari seratus kali zikir yang dilakukan. Jari-jemari ditekuk sesuai jadwal. Hitungannya tepat. Namun, dengan hati yang lalai, tidak ada satu pun dari ucapan tersebut yang benar-benar ditujukan kepada Allah.

Ini adalah kegagalan yang lebih halus daripada sekadar gangguan, karena ia menghasilkan sesuatu yang terlihat identik dengan keberhasilan. Tidak ada gerakan lahiriah yang berubah. Yang berubah adalah untuk apa gerakan itu dilakukan. Tasbih yang diucapkan dengan penuh perhatian sebanyak sepuluh kali dan tasbih yang diucapkan secara otomatis sebanyak seratus kali bukanlah tindakan yang sama yang dilakukan dalam durasi yang berbeda — keduanya adalah dua tindakan berbeda yang kebetulan memiliki gerakan yang sama. Hanya satu di antaranya yang digambarkan oleh hadis Yusairah ketika disebutkan bahwa jari-jemari akan “diminta berbicara.” Jari yang ditekuk dengan benar tetapi tidak melaporkan kebenaran apa pun tentang keadaan hati di baliknya, pada akhirnya, hanya memiliki sedikit hal untuk disaksikan.

Semua ini bukanlah argumen untuk menentang hitungan hingga seratus, atau menentang angka-angka yang diriwayatkan dari orang-orang yang melakukan jauh lebih banyak dari itu. Ini adalah argumen untuk memperlakukan angka sebagai pelayan bagi kekhusyukan, bukan sebagai penggantinya. Sepuluh kali diucapkan dengan hati yang hadir jauh lebih berbobot daripada seratus kali diucapkan dengan hati yang lalai, bukan dalam hitungan matematika, melainkan dalam esensi untuk apa zikir itu dilakukan. Tangan ada untuk melindungi kehadiran hati tersebut, bukan untuk menggantikannya — dan tangan yang diam-diam telah menjadi keseluruhan dari praktik itu sendiri telah berhenti melakukan satu-satunya tugas yang diberikan kepadanya.

Lain kali saat hitungan itu ada di tangan Anda sendiri, pertanyaan yang patut diajukan bukanlah seberapa jauh ibu jari telah bergerak. Pertanyaannya adalah, jika jari itu benar-benar diminta berbicara, apakah ia memiliki sesuatu yang jujur untuk dikatakan. Koleksi Adhkār Quran Gallery mengumpulkan zikir harian di satu tempat, lengkap dengan sumbernya, tepat untuk jenis hitungan yang lebih perlahan dan penuh makna tersebut.

Lanjutkan

Tasbih

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.