Quran Gallery Blog · Artikel
Lā Ilāha Illā Allāh: Kalimat yang Menopang Segalanya
Empat kata yang diulang dalam azan, di setiap salat, dan diharapkan menjadi ucapan terakhir di penghujung usia—namun kalimat ini bukanlah sekadar pujian untuk Allah. Ia adalah sebuah peniadaan yang diikuti dengan pengecualian, dan tata bahasanya sendiri memuat pernyataan yang, seperti disampaikan kepada para Sahabat, mampu mengalahkan sembilan puluh sembilan gulungan dosa.
Baca 8 menit5 sumberTasbih
Penulis:The Quran Gallery team
Empat kata ini memikul beban kehidupan seorang Muslim lebih dari kalimat mana pun di luar Al-Qur’an. Keempatnya menjadi pembuka panggilan salat, menjadi inti persaksian yang memasukkan seseorang ke dalam Islam, dan menjadi kata-kata yang diharap setiap Muslim dapat terucap dari lisannya sendiri di saat kematian tiba:
لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ Tidak ada tuhan selain Allah.
Karena begitu sering diucapkan, kalimat ini perlahan tidak lagi terdengar sebagai sebuah pernyataan, melainkan sekadar bunyi—hanya menjadi latar suara sehari-hari alih-alih sesuatu yang sarat makna. Namun, lā ilāha illā Allāh bukanlah sekadar pujian yang ditujukan kepada Allah, seperti halnya ucapan “Allah Mahabesar” atau “Segala puji bagi Allah”. Kalimat ini dibangun dari dua struktur tata bahasa yang sangat berbeda dan saling bertumpuk, dan memahami fungsi dari masing-masing struktur tersebut adalah kunci utama untuk memahami makna kalimat ini seutuhnya.
Fungsi Tata Bahasanya
Kalimat ini terbagi menjadi dua bagian yang menjalankan fungsi saling bertolak belakang. Lā ilāha—“tidak ada tuhan”—adalah sebuah peniadaan (negasi), dan sifatnya mutlak: kata lā dalam bahasa Arab yang digunakan dengan cara ini tidak sekadar menolak satu tuhan tertentu sambil membiarkan kemungkinan adanya tuhan lain; kata ini mengosongkan seluruh kategori ”ilāh”, yakni segala sesuatu yang dianggap berhak disembah, secara serentak. Tidak ada satu pun yang tersisa setelah dua kata pertama ini. Kemudian, illā Allāh—“selain Allah”—membuka kembali kategori tersebut khusus untuk satu entitas saja. Meniadakan segalanya, lalu menyebutkan satu-satunya pengecualian: itulah keseluruhan arsitektur kalimat ini, dan setiap kata di dalamnya menjalankan salah satu dari dua fungsi tersebut.
Muḥammad bin ʿAbdul Wahhāb, dalam suratnya kepada penduduk Riyadh dan Manfūḥah, menyandingkan kedua bagian ini dengan penjelasan yang kurang lebih serupa:
فاعلموا أن قول الرجل: لا إله إلا الله: نفي وإثبات، إثبات الألوهية كلها لله وحده، ونفيها عن الأنبياء والصالحين وغيرهم Ketahuilah bahwa ucapan seseorang ‘tidak ada tuhan selain Allah’ adalah peniadaan dan penetapan: menetapkan ketuhanan seutuhnya hanya bagi Allah semata, dan meniadakannya dari para nabi, orang-orang saleh, dan selain mereka.
— Muḥammad bin ʿAbdul Wahhāb, Surat ke-28 untuk Penduduk Riyadh dan Manfūḥah, halaman cetak 187 dari .
Beliau melanjutkan, dalam surat yang sama, dengan sebuah poin yang patut direnungkan: peniadaan ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah. Penduduk Makkah yang beliau gambarkan sebenarnya sudah mengakui, ketika ditanya secara langsung, bahwa hanya Allah yang menurunkan hujan, menguasai pendengaran dan penglihatan, menghidupkan yang mati, dan mengatur urusan dunia—sebuah pengakuan yang direkam sendiri oleh Al-Qur’an dari lisan mereka. Kesalahan mereka bukanlah ketidakpercayaan pada Sang Pencipta. Kesalahan mereka adalah mengarahkan ibadah—berdoa, bergantung, dan bernazar—kepada para nabi dan orang-orang saleh yang telah wafat, di samping menyembah-Nya. Lā ilāha illā Allāh pada dasarnya bukanlah argumen untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Kalimat ini adalah sebuah tuntutan tentang ke mana ibadah boleh diarahkan, dan justru itulah alasan mengapa kalimat ini memicu reaksi keras saat pertama kali diserukan di hadapan publik:
إِنَّهُمْ كَانُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ Sungguh mereka dahulu apabila dikatakan kepadanya, “Tidak ada tuhan selain Allah,” mereka menyombongkan diri.
— Surah al-Ṣāffāt, 37:35.
Perhatikan apa yang tidak disebutkan dalam ayat tersebut. Ayat itu tidak mengatakan bahwa mereka kebingungan, menuntut bukti, atau mendebat pernyataan tersebut. Mereka menyombongkan diri—sebuah reaksi dari orang-orang yang sangat memahami kalimat itu namun tidak menyukai apa yang dituntut darinya. Sebuah ungkapan yang sekadar menyatakan fakta mungkin akan ditanggapi dengan keraguan. Namun, sebuah ungkapan yang meruntuhkan segala bentuk ketundukan, ibadah, dan ketaatan kepada selain-Nya, lalu menyerahkan semuanya hanya kepada satu Zat, akan ditanggapi dengan sesuatu yang lebih menyerupai rasa terusik.
Mengapa Bukhari Membuka Kitab Ilmunya dengan Kalimat Ini
Al-Bukhārī memberi judul bab pertama dalam Kitab Ilmu karyanya—bahkan sebelum mencantumkan satu pun hadis yang berisi perintah—dengan “Ilmu Sebelum Ucapan dan Perbuatan”, dan ayat yang beliau gunakan untuk mendasari urutan tersebut dibangun di atas kalimat yang sama:
بَابٌ: الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى ﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ﴾ فَبَدَأَ بِالْعِلْمِ Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan selain Allah”—Maka Dia memulai dengan ilmu.
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, bab pembuka Kitāb al-ʿIlm, halaman cetak 1/24 dari .
Di sini, al-Bukhārī tidak sedang mengutip hadis tentang syahadat; beliau mengutip ayat itu sendiri—”faʿlam” (maka ketahuilah), sebuah kata kerja perintah yang berakar dari kata ilmu, bukan dari kata yang berarti ucapan—dan menyusun argumen editorialnya sendiri dari urutan kata tersebut. Allah tidak memerintahkan agar kalimat ini diucapkan sebelum memerintahkan agar ia diilmui. Dia memerintahkan ilmu terlebih dahulu, dan menempatkan ucapan sebagai hasil dari ilmu tersebut. Urutan inilah yang menjadi alasan utama mengapa pola peniadaan-lalu-penetapan itu sangat penting: seseorang bisa saja mengucapkan keempat kata tersebut dengan benar tanpa pernah benar-benar meresapi kedua proses tata bahasa itu di dalam hatinya—tanpa ada sesuatu pun yang benar-benar disingkirkan, dan tanpa ada sesuatu pun yang benar-benar ditetapkan sebagai gantinya. Al-Bukhārī membuka seluruh ensiklopedia hadis nabawinya dengan menegaskan bahwa kalimat ini pada dasarnya bukanlah sekadar sesuatu untuk dilafalkan. Kalimat ini adalah sesuatu untuk dipahami, barulah kemudian diucapkan.
Hal Pertama yang Diminta untuk Diucapkan
Kalimat yang sama juga menjadi poin pertama dalam daftar periksa Nabi tentang bagaimana risalahnya harus disampaikan kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya. Ketika beliau mengutus Muʿādz bin Jabal ke Yaman, instruksi beliau diberikan dalam urutan yang baku, dan syahadat lā ilāha illā Allāh adalah titik awal dari urutan tersebut:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ، فَقَالَ: ادْعُهُمْ إِلَى: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ، فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ Nabi mengutus Mu’ādz ke Yaman, lalu bersabda, “Serulah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam…”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 1395, halaman cetak 2/104 dari .
Segala hal lain dalam instruksi tersebut—salat, lalu zakat, yang baru disampaikan setelah orang-orang yang diseru “taat” pada poin pertama—bergantung pada tersampaikannya kalimat ini terlebih dahulu. Kalimat ini bukanlah sekadar satu poin dalam daftar panjang kewajiban Islam yang kebetulan berada di urutan pertama secara alfabetis. Ia adalah gerbang di mana setiap kewajiban lainnya menunggu di belakangnya. Seseorang tidak diajari salat terlebih dahulu lalu diberi tahu kepada siapa ia salat; mereka pertama-tama diberi tahu siapa yang berhak disembah, dan segala hal yang mengikutinya—salat, sedekah, dan seluruh bentuk kehidupan seorang Muslim—adalah buah dari mendengar, dan menerima, keempat kata tersebut.
Seberapa Berat Timbangannya
Tradisi Islam tidak hanya menggambarkan pentingnya kalimat ini secara abstrak. Sebuah riwayat memberinya bobot yang seolah nyata secara fisik, dihadapkan pada tumpukan dosa yang begitu besar hingga tampak mustahil untuk ditebus. ʿAbdullāh bin ʿAmr bin al-ʿĀṣ meriwayatkan bahwa Nabi menceritakan tentang seorang pria yang dihadapkan kepada Allah pada Hari Kiamat dengan membawa sembilan puluh sembilan gulungan dosa, yang masing-masing panjangnya sejauh mata memandang:
فتُخْرَجُ بِطاقةٌ فِيها: أشْهدُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وأشْهدُ أنَّ محمدًا عَبْدُهُ ورَسولُهُ، فيقولُ: أحْضِرْ وَزْنَكَ، فَيقولُ: يا رَبَّ ما هذه البطاقةُ مَعَ هذه السِّجلّاتِ، فقال: إنّكَ لا تُظْلَمُ، قال: فتُوضَعُ السِّجلاتُ في كِفَّةٍ والبِطاقةُ في كِفَّةٍ، فطاشتِ السِّجلَّاتُ وثَقُلتِ البطاقةُ، ولا يَثقُلُ مع اسمِ اللهِ شيءٌ Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu yang di dalamnya tertulis: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Lalu dikatakan kepadanya, “Hadirkanlah timbanganmu.” Ia berkata, “Wahai Tuhanku, apalah arti kartu ini dibandingkan dengan gulungan-gulungan ini?” Maka dikatakan, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.” Lalu gulungan-gulungan itu diletakkan di satu daun timbangan dan kartu itu di daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan itu menjadi ringan (terangkat) dan kartu itu menjadi berat, dan tidak ada sesuatu pun yang berat jika disandingkan dengan nama Allah.
— Sunan al-Tirmidzi, hadis 2829, halaman cetak 4/585 dari . Al-Tirmidzi menilainya ḥasan gharīb; para penyunting edisi ini mendeskripsikannya sebagai ḥadīts qawiyy (riwayat yang kuat) dan mencatat bahwa hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Mājah, dalam Musnad Ahmad, dan dalam Ṣaḥīḥ Ibnu Ḥibbān.
Riwayat ini memberikan detail yang sangat bermakna: bukan sekadar “pria itu diampuni”, melainkan ada objek spesifik—sebuah kartu, biṭāqah, yang cukup kecil untuk digenggam di tangan—yang secara fisik dihadapkan pada sembilan puluh sembilan gulungan yang masing-masing ujungnya tak terlihat. Ketimpangan inilah yang menjadi inti dari kisah tersebut. Gulungan-gulungan itu tidak dihapus atau dimaklumi; semuanya ditimbang, secara adil, melawan kartu tersebut, dan ternyata kalah. Hal yang memberatkan timbangan bukanlah amal perbuatan pria itu—ia tidak menawarkan pembelaan apa pun, dan mengakui bahwa ia tidak punya alasan—melainkan keempat kata di atas kartu itu sendiri, pola peniadaan-lalu-penetapan yang sama seperti yang telah dibahas sebelumnya, hadir dalam satu-satunya bentuk yang pada akhirnya paling menentukan: persaksian tertulis yang tetap bertahan ketika segala hal lain runtuh.
Sebuah Pengakuan, Bukan Kata Sandi
Ada cara pandang keliru yang bisa mengubah lā ilāha illā Allāh menjadi sesuatu yang lebih mirip kata sandi—empat suku kata yang, begitu diucapkan, akan membuka sebuah hasil tanpa memedulikan apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh pengucapnya. Sebuah riwayat tentang ʿItbān bin Mālik, seorang Sahabat tunanetra yang meminta Nabi untuk salat di salah satu sudut rumahnya agar ia bisa menjadikan tempat itu sebagai tempat salatnya sendiri, menutup rapat celah pemahaman tersebut. Selama kunjungan itu, seorang pria di ruangan tersebut dituduh sebagai orang munafik. Nabi membelanya hanya dengan satu alasan:
أَلَا تَرَاهُ قَدْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يُرِيدُ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ؟ ... فَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ “Tidakkah engkau melihat bahwa ia telah mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan selain Allah,’ dengan mengharap wajah Allah?” … “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan selain Allah,’ dengan mengharap wajah Allah.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 33, halaman cetak 2/126 dari .
Dua kali dalam satu percakapan singkat, Nabi mengulang syarat yang sama—yurīdu, yabtaghī, “mengharap”—yang disematkan pada keempat kata yang sama, seolah-olah kalimat itu sendiri bukanlah subjek utama dari janji tersebut. Hal yang dilindungi bukanlah sekadar ucapannya; melainkan ucapan yang diarahkan pada sesuatu, diucapkan oleh seseorang yang benar-benar mencari rida Allah alih-alih sekadar merapal mantra untuk mengakhiri percakapan. Ini bukanlah syarat terpisah yang ditempelkan pada kalimat tersebut dari luar. Ini adalah bentuk yang sama dengan tata bahasanya sendiri, yang diselami satu tingkat lebih dalam. Lā ilāha menyingkirkan setiap klaim tandingan atas ibadah; illā Allāh menyebutkan satu-satunya arah yang tersisa untuk dituju; dan yabtaghī bidzālika wajh Allāh—mengharap, dengan ucapan itu, wajah Allah—adalah wujud nyata ketika hati seseorang benar-benar melakukan gerakan yang sama dengan yang baru saja dilakukan oleh lisannya. Sebuah kartu dengan kata-kata yang tepat tertulis di atasnya bukanlah kartu yang tercipta secara kebetulan. Jika dipahami, diresapi, dan diarahkan dengan benar, kartu itu menjadi satu-satunya catatan amal yang ia butuhkan.
Empat kata, yang diulang dalam azan dan di setiap salat, menuntut hal yang sama setiap kali diucapkan—bukan sekadar bunyi yang dilafalkan dengan benar, melainkan sebuah kategori yang dikosongkan dan diisi kembali, secara sadar, hanya dengan satu nama di dalamnya. Koleksi Adzkar Quran Gallery menghimpun persaksian ini bersama dengan zikir harian lainnya, lengkap dengan sumber-sumbernya, bagi siapa saja yang ingin meluangkan waktu sejenak untuk benar-benar meresapi maknanya.
Lanjutkan
Tasbih
Terkait
Tasbih Hauqalah: Harta Karun Surga dalam Tujuh Kata Tujuh kata dalam bahasa Arab yang disebut oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai harta karun surga ini sama sekali bukanlah sebuah permintaan — melainkan sebuah pernyataan mutlak tentang siapa yang memegang kuasa. Sunah menempatkan kalimat ini saat azan berkumandang, di kala kesulitan melanda, dan di batas kemampuan seorang hamba. Tasbih Tasbih, Tahmid, dan Takbir: Tiga Kalimat yang Timbangannya Lebih Berat dari Kelihatannya Tasbih, tahmid, dan takbir adalah tiga kalimat yang paling sering diulang dalam kehidupan seorang muslim, dan masing-masing memiliki makna tersendiri tentang Allah — satu menafikan segala kekurangan, satu menetapkan segala pujian, dan satu lagi membesarkan-Nya tanpa bandingan. Riwayat-riwayat sahih menyebutkan bahwa kalimat-kalimat ini sangat ringan diucapkan namun sangat berat di timbangan amal. Tasbih Menghitung dengan Jari: Seperti Apa Bentuk Tasbih Nabi Seorang sahabat pernah menggambarkan apa yang ia saksikan: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menghitung tasbihnya dari satu ruas jari ke ruas jari lainnya di tangannya sendiri. Hadis lain memperingatkan bahwa jari-jemari yang digunakan untuk menghitung kelak akan diminta berbicara. Untuk apa sebenarnya hitungan fisik itu, dan apa yang hilang ketika mencapai angka tertentu menjadi lebih penting daripada meresapi maknanya.
