Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Hauqalah: Harta Karun Surga dalam Tujuh Kata

Tujuh kata dalam bahasa Arab yang disebut oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai harta karun surga ini sama sekali bukanlah sebuah permintaan — melainkan sebuah pernyataan mutlak tentang siapa yang memegang kuasa. Sunah menempatkan kalimat ini saat azan berkumandang, di kala kesulitan melanda, dan di batas kemampuan seorang hamba.

Baca 8 menit4 sumberTasbih

Penulis:The Quran Gallery team

Tujuh kata, diulang oleh umat Islam puluhan kali sehari, sering kali tanpa benar-benar meresapi makna di baliknya:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Kalimat ini memiliki sebutannya sendiri — al-ḥawqalah (hauqalah). Istilah ini dibentuk sebagaimana bahasa Arab merangkai kata benda verbal (masdar) dari ucapan yang sering diulang, sama seperti al-basmalah untuk “bismillāh” dan al-ḥamdalah untuk “al-ḥamdu lillāh.” Berbeda dengan kebanyakan zikir, kalimat ini tidak memuat permintaan maupun pujian. Kalimat ini sekadar menyatakan sebuah hakikat dan membiarkannya begitu saja. Untuk memahami mengapa hal ini penting — dan mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai harta karun, bukan sekadar amal saleh — kita harus memulainya dari dua kata yang menjadi inti maknanya.

Apa yang Sebenarnya Dinafikan oleh Ḥawl dan Quwwah

Ḥawl (daya) adalah kapasitas untuk bergerak atau berubah dari satu keadaan ke keadaan lain — dari sakit menjadi sehat, dari miskin menjadi berkecukupan, dari maksiat menuju ketaatan. Quwwah (kekuatan) adalah kemampuan untuk bertindak setelah pergerakan itu dimulai — untuk mewujudkan sebuah keputusan, mempertahankan pendirian, hingga menyelesaikan apa yang telah dimulai. Gabungkan keduanya dengan penafian “lā” (tidak ada) dan pengecualian “illā billāh” (kecuali dengan pertolongan Allah), maka kalimat ini menyatakan sesuatu yang sangat spesifik: seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mengubah kondisinya sendiri, tidak pula kekuatan untuk mempertahankan suatu tindakan, kecuali sejauh yang Allah berikan kepadanya.

Imam al-Nawawi, saat mengomentari hadis yang menjadi asal mula sebutan kalimat ini, mencatat bagaimana para ulama terdahulu memaknainya:

قَوْلُهُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ. قَالَ الْعُلَمَاءُ: سَبَبُ ذَلِكَ أَنَّهَا كَلِمَةُ اسْتِسْلَامٍ وَتَفْوِيضٍ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَاعْتِرَافٍ بِالْإِذْعَانِ لَهُ، وَأَنَّهُ لَا صَانِعَ غَيْرُهُ وَلَا رَادَّ لِأَمْرِهِ، وَأَنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ شَيْئًا مِنَ الْأَمْرِ. وَمَعْنَى الْكَنْزِ هُنَا أَنَّهُ ثَوَابٌ مُدَّخَرٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهُوَ ثَوَابٌ نَفِيسٌ كَمَا أَنَّ الْكَنْزَ أَنْفَسُ أَمْوَالِكُمْ. قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ: الْحَوْلُ الْحَرَكَةُ وَالْحِيلَةُ، أَيْ لَا حَرَكَةَ وَلَا اسْتِطَاعَةَ وَلَا حِيلَةَ إِلَّا بِمَشِيئَةِ اللَّهِ تَعَالَى. وَقِيلَ: مَعْنَاهُ لَا حَوْلَ فِي دَفْعِ شَرٍّ وَلَا قُوَّةَ فِي تَحْصِيلِ خَيْرٍ إِلَّا بِاللَّهِ. وَقِيلَ: لَا حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِلَّا بِعِصْمَتِهِ وَلَا قُوَّةَ عَلَى طَاعَتِهِ.

Sabda beliau, “Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,” adalah salah satu harta karun di antara harta karun surga. Para ulama berkata: alasannya adalah karena kalimat ini merupakan bentuk kepasrahan dan penyerahan urusan kepada Allah, serta pengakuan ketundukan kepada-Nya — bahwa tidak ada pencipta selain-Nya, tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, dan bahwa seorang hamba tidak memiliki kuasa sedikit pun atas urusannya. Makna “harta karun” di sini adalah pahala yang disimpan di surga, sebuah pahala yang sangat berharga sebagaimana harta karun adalah harta yang paling berharga bagi kalian. Para ahli bahasa berkata: ḥawl adalah pergerakan dan kemampuan mencari jalan keluar — artinya tidak ada pergerakan, tidak ada kemampuan, dan tidak ada jalan keluar kecuali dengan kehendak Allah Ta’ala. Dikatakan pula maknanya adalah tidak ada daya untuk menolak keburukan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah. Dan dikatakan pula: tidak ada daya untuk menghindari maksiat kepada Allah kecuali dengan perlindungan-Nya, dan tidak ada kekuatan untuk menaati-Nya kecuali dengan taufik-Nya.

Sharḥ al-Nawawī ʿalā Muslim, halaman cetak 17/26 dari .

Tiga penafsiran yang saling melengkapi ini bermuara pada satu titik yang sama: ke arah mana pun Anda memaknai kalimat ini — baik untuk menghindari bahaya, meraih kebaikan, mempertahankan ketaatan, maupun menghentikan maksiat — jawabannya tetaplah bahwa seorang hamba tidak dapat mendatangkan kekuatan itu dari dirinya sendiri. Ia hanya diminta untuk mengakuinya, bukan untuk mengubahnya.

Mengapa Nabi Menyebutnya Harta Karun

Kalimat ini mendapatkan gelarnya dari sebuah peristiwa spesifik, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ فِي سَفَرٍ، فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ: أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا. ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، قُلْ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ.

Kami pernah bersama Nabi dalam sebuah perjalanan, dan setiap kali kami mendaki tempat yang tinggi, kami meninggikan suara mengucapkan “Allahu akbar.” Maka Nabi bersabda, “Wahai manusia, kasihanilah diri kalian — kalian tidak sedang menyeru Zat yang tuli atau gaib, melainkan kalian menyeru Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Kemudian beliau menghampiriku saat aku sedang berucap dalam hati, “Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,” lalu beliau bersabda, “Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah: ‘Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,’ karena sesungguhnya ia adalah salah satu harta karun di antara harta karun surga.”

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Daʿawāt, halaman cetak 8/82 dari , dan Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 8/73 dari .

Ada dua detail dalam riwayat ini yang tak kalah penting dari gelar kalimat itu sendiri. Pertama, Abu Musa tidak mengucapkan kalimat tersebut dengan suara keras, dan bukan pula sebagai respons atas kesulitan tertentu — ia mengucapkannya “dalam hati”, secara sembunyi-sembunyi, di tengah perjalanan, namun Nabi tetap mengistimewakannya karena kedudukannya. Kedua, al-Bukhari menempatkan hadis ini di bawah bab tentang doa saat mendaki tempat yang tinggi — tempat yang paling pas bagi kalimat ini, dalam susunan kitab beliau, adalah momen ketika tugas di hadapan Anda terasa lebih berat daripada apa yang telah Anda lalui.

“Harta karun” (kanz) adalah kata yang dipilih bukan tanpa alasan, dan penjelasan al-Nawawi di atas telah menguraikannya: harta karun adalah kekayaan yang disimpan dan dijaga agar tidak hilang, bukan yang dihabiskan lalu lenyap. Pahala untuk hauqalah bekerja dengan cara yang sama — disimpan bagi orang yang mengucapkannya, layaknya harta terpendam yang disimpan untuk pemiliknya, aman dari apa pun yang dapat mengikisnya. Bukan karena kalimat ini sulit diucapkan. Melainkan karena apa yang diakuinya — ketergantungan total, tanpa ada yang disembunyikan — sangatlah sulit untuk benar-benar diresapi, dan Allah memberikan pahala atas peresapan makna tersebut sebesar pahala yang Dia berikan untuk harta yang dijaga tetap utuh.

Di Mana Sunah Menempatkannya: Saat Azan Berkumandang

Hauqalah tidak hanya diucapkan pada momen-momen insidental; sunah menempatkannya pada posisi tetap di dalam azan itu sendiri. Ketika muazin sampai pada dua seruan untuk bertindak — “marilah salat” dan “marilah menuju kemenangan” — pendengar tidak mengulangi kata-katanya seperti yang ia lakukan pada kalimat azan lainnya:

ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.

Kemudian ia [muazin] mengucapkan, “Marilah salat” — Anda mengucapkan, “Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” Kemudian ia mengucapkan, “Marilah menuju kemenangan” — Anda mengucapkan, “Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Ṣaḥīḥ Muslim, dari hadis Umar bin Khattab, halaman cetak 2/4 dari .

Setiap baris lain dalam azan adalah sebuah pengumuman — bahwa Allah Mahabesar, bahwa tidak ada tuhan selain Dia, bahwa Muhammad adalah utusan-Nya — dan pendengar cukup membenarkannya kembali. “Ḥayya ʿalā al-ṣalāh” dan “ḥayya ʿalā al-falāḥ” berbeda: keduanya adalah seruan untuk bertindak, dan mengulang ucapan “marilah salat” di ruangan yang kosong hanyalah akan menjadi gema yang hampa. Sebagai gantinya, sunah memberikan respons yang jujur — sebelum menjawab panggilan tersebut, pendengar mengakui fakta yang gamblang bahwa berjalan menuju tempat salat, berdiri menunaikannya, hingga menyelesaikannya adalah sesuatu yang tidak dapat ia lakukan kecuali jika kekuatan dari Allah menghampirinya terlebih dahulu. Di detik itulah hauqalah bekerja, memastikan bahwa respons terhadap seruan untuk bertindak bukanlah sebuah kesombongan atas kesiapan diri sendiri.

Sebuah Pengakuan, Bukan Permintaan

Penting untuk memahami secara presisi jenis kalimat seperti apa hauqalah itu, karena perbedaan inilah yang menjadi inti dari keseluruhan kalimat dan memisahkannya dari kebanyakan zikir lain yang diucapkan bersamanya. Kalimat ini tidak meminta apa pun kepada Allah. Tidak ada kata kerja permohonan, tidak ada kata perintah, tidak ada “kabulkanlah” atau “berikanlah kepadaku.” Secara tata bahasa, ini hanyalah penafian biasa yang diikuti oleh pengecualian — sebuah pernyataan fakta yang akan tetap benar terlepas dari apakah ada orang yang mengucapkannya dengan lantang atau tidak. Mengucapkannya tidak lantas mendatangkan kekuatan yang sebelumnya tertahan; melainkan mengakui sebuah kekuatan yang sejak awal memang tidak pernah berada di tempat lain.

Bandingkan dengan ayat yang dibaca oleh setiap muslim yang mendirikan salat setidaknya tujuh belas kali sehari, pada paruh kedua Surah al-Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.

— Surah al-Fatihah, 1:5

“Wa iyyāka nastaʿīn” — “dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” — ditujukan langsung kepada Allah, dalam bentuk kata ganti orang kedua, di dalam sebuah surah yang dibangun sebagai percakapan antara seorang hamba dan Tuhannya. Ini adalah sebuah permohonan: sang hamba sedang meminta, pada saat itu juga, bantuan yang belum ia miliki. Hauqalah tidak melakukan satu pun dari hal-hal tersebut. Kalimat ini diucapkan tentang Allah, dalam bentuk kata ganti orang ketiga, tidak ditujukan kepada siapa pun secara khusus, dan tidak meminta sesuatu yang baru — ia sekadar menyatakan apa yang selalu menjadi kenyataan. Istiʿānah, memohon pertolongan, adalah bentuk ibadah yang ditujukan kepada Allah; sedangkan hauqalah adalah bagian dari akidah yang diikrarkan tentang Allah. Yang satu adalah permintaan yang diajukan di saat butuh. Yang lainnya adalah fakta yang tetap berlaku terlepas dari apakah ada kebutuhan yang mendesak atau tidak — dan justru karena itulah kalimat ini sangat cocok diucapkan saat mendaki jalanan menanjak, sama cocoknya dengan saat menghadapi krisis yang paling genting, dan mengapa para ulama memaknainya sebagai “kepasrahan” dan “penyerahan urusan” alih-alih “permintaan.”

Itu jugalah sebabnya mengapa tempat yang paling pas bagi kalimat ini adalah di ambang batas segala sesuatu yang tidak sanggup dipikul oleh seseorang dengan kekuatannya sendiri — perjalanan yang melampaui batas staminanya, penyakit yang melampaui batas kesabarannya, atau tugas yang menanti di balik pintu yang sebenarnya enggan ia lewati. Kalimat ini sama sekali tidak mengubah kesulitan di hadapannya. Yang diubah adalah kesadarannya tentang dari mana kekuatan untuk menghadapinya akan datang, dan kesadaran itulah, yang diucapkan dengan jujur dan diresapi sepenuhnya, yang disampaikan kepada seorang Sahabat sebagai sesuatu yang bernilai layaknya harta karun.

Mengucapkannya sekali mungkin tidak akan terasa istimewa. Namun, mengucapkannya sebagai sebuah keyakinan yang tertanam tentang bagaimana dunia ini sebenarnya bekerja — setiap kali datang tugas yang lebih besar dari kemampuan yang Anda miliki — itulah tujuh kata yang ditunjuk oleh Nabi dan disebut sebagai harta karun. Untuk koleksi zikir harian yang lebih luas yang diajarkan sunah kepada seorang mukmin, beserta sumber dan waktu yang tepat untuk membacanya, silakan kunjungi pustaka zikir.

Lanjutkan

Tasbih

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.