Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Dua Titik Tetap dalam Keseharian Anda: Mengapa Dzikir Pagi dan Petang Layak Mendapat Waktu Anda

Al-Qur'an menyandingkan perintah tanpa batas untuk mengingat Allah dengan dua waktu yang spesifik — pagi dan petang — dan mengaitkan keduanya, lebih dari sekali, dengan kesabaran serta janji akan kondisi batin tertentu. Telaah mendalam terhadap apa yang ditambahkan oleh Sunnah pada penyandingan ini menjelaskan mengapa amalan tersebut bertumpu pada dua titik waktu yang tetap, bukan sekadar kebiasaan yang mengalir begitu saja.

Baca 7 menit2 sumberMorning & Evening

Penulis:The Quran Gallery team

Perintah Al-Qur’an untuk mengingat Allah, di satu tempat, sama sekali tidak memiliki batas maksimal — namun pada kalimat berikutnya, batas waktunya ditentukan dengan sangat presisi.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan zikir (namanya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

— Surah Al-Ahzab, 33:41–42

Bagian pertama dari ayat tersebut meminta sesuatu yang tidak dapat diukur: dhikran kathīran, “zikir sebanyak-banyaknya,” tanpa ada batas atas yang disebutkan di mana pun. Bagian kedua langsung mengerucut pada dua waktu yang disebutkan secara spesifik — bukratan, pagi, dan aṣīlan, petang. Sebuah perintah yang sifatnya terbuka, dalam satu tarikan napas, diikuti oleh perintah dengan waktu yang pasti. Hal ini patut kita renungkan sebelum membahas lebih jauh. Jika mengingat Allah “sebanyak-banyaknya” sudah mencakup setiap jam kita terjaga, lantas apa fungsi penyebutan pagi dan petang sebagai poin kedua yang terpisah? Penjelasan berikut adalah upaya untuk menjawab hal tersebut secara jujur — bukan dengan mengesampingkan perintah umumnya, melainkan dengan menunjukkan apa fungsi dari dua waktu spesifik ini yang tidak bisa dijamin hanya dengan perintah terbuka untuk “sering” berzikir.

Perintah yang Dikaitkan dengan Tugas yang Lebih Berat

Al-Qur’an tidak membiarkan perintah zikir pagi dan petang berdiri sendiri sekadar sebagai anjuran ibadah yang indah. Di beberapa surah, Al-Qur’an terus mengaitkannya dengan sesuatu yang jauh lebih berat: sabr, kesabaran, di bawah tekanan yang nyata.

فَٱصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِٱلْعَشِىِّ وَٱلْإِبْكَـٰرِ

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”

— Surah Ghafir, 40:55

فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam.”

— Surah Qaf, 50:39

Kedua ayat tersebut ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat beliau tengah menghadapi cemoohan terang-terangan dan penolakan mentah-mentah dari orang-orang yang sudah menutup telinga. Perintahnya bukanlah “sembahlah Aku saat engkau merasa ingin.” Perintahnya adalah “bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah memuji-Ku sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam” — kesabaran dan zikir disandingkan dalam satu kalimat, seolah-olah yang satu tidak bisa diharapkan berjalan tanpa yang lain sebagai bahan bakarnya.

Penyandingan tersebut menjelaskan sesuatu tentang pemilihan waktunya. Sabr bukanlah suasana hati yang bisa dipertahankan begitu saja setelah sekali dirasakan; ia adalah sikap yang harus terus diperbarui, dan ia paling cepat menipis di dua titik transisi dalam sehari — di awal hari, sebelum berbagai provokasi datang dan tekad masih sebatas teori, serta di penghujung hari, ketika berbagai gesekan telah menumpuk dan kesabaran hanyalah sisa-sisa tenaga setelah semuanya terkuras. Memerintahkan zikir tepat di kedua waktu tersebut, alih-alih membiarkannya kapan pun seseorang merasa tergerak, sama halnya dengan memerintahkan seseorang untuk mengisi bahan bakar tepat di saat tangkinya dipastikan akan paling cepat kosong.

Kondisi Batin yang Dihasilkan oleh Kedua Waktu Tersebut

Ayat ketiga mengambil penyandingan yang sama dan memberikannya sebuah tujuan.

فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ ءَانَآئِ ٱلَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ ٱلنَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ

“Maka sabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit, dan sebelum terbenam; dan bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari, agar engkau merasa rida.”

— Surah Taha, 20:130

Perhatikan klausa tujuan di akhir ayat: laʿallaka tarḍā, “agar engkau merasa rida.” Dua waktu spesifik yang sama, diulang kembali, dan kali ini tidak hanya dikaitkan dengan ketahanan mental tetapi juga dengan sebuah hasil — riḍā, kondisi batin yang merasa cukup, tenang, dan damai dengan ketetapan antara diri Anda dan Tuhan Anda. Ayat ini secara gamblang menyatakan bahwa untuk itulah kedisiplinan ini dilakukan.

Dalam praktiknya, seperti apa bentuk permohonan untuk mencapai kondisi tersebut sebagai sebuah kebiasaan lisan, bukan sekadar tujuan abstrak? Sunnah memberikan kalimat yang nyata:

مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي: رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ

“Barang siapa yang mengucapkan ketika petang tiba: Aku rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi — maka sudah menjadi hak bagi Allah untuk meridainya.”

— Sunan al-Tirmidhī, hadis 3686, edisi cetak halaman 6/18 dari . Al-Tirmidhī sendiri menutup riwayat tersebut dengan penilaiannya, ḥasan gharīb min hādhā al-wajh — hasan namun gharib (diriwayatkan oleh satu perawi) melalui jalur ini. Para penyunting cetakan ini menambahkan dalam catatan kaki mereka, bahwa sanad spesifik ini lemah karena satu perawi, tetapi redaksinya dikuatkan oleh jalur-jalur lain, termasuk yang terpelihara dalam Musnad Aḥmad melalui Abū Saʿīd al-Khudrī yang mereka nilai ṣaḥīḥ secara mutlak — menjadikan hadis ini, secara keseluruhan, ṣaḥīḥ li-ghayrihi: sahih karena adanya riwayat penguat, meskipun satu riwayat tunggal tidak cukup kuat untuk berdiri sendiri.

Kata yang diberikan hadis ini kepada pembacanya adalah kata yang sama dengan yang disebutkan Al-Qur’an sebagai tujuan — riḍā, tarḍā, dari akar kata yang sama. Al-Qur’an mengatakan: lakukan ini agar engkau merasa rida. Sunnah memberikan kata-kata yang nyata dan mengaitkannya dengan balasan yang spesifik: ucapkan ini, dan Allah telah mengikat Diri-Nya, dengan janji-Nya sendiri, untuk membalasnya dengan hal yang serupa — pada hari ketika keridaan akan sangat sulit didapatkan dari sumber mana pun. Dua kali sehari, seseorang tidak sekadar berharap untuk merasa damai dengan keadaannya; mereka sedang mengulang-ulang kalimat pasti yang membawa jaminan bahwa keridaan itu akan dikembalikan kepada mereka kelak, di saat hal itu jauh lebih penting daripada saat ini.

Jaminan yang Diperbarui Setiap Dua Belas Jam

Al-Qur’an membingkai kedua waktu tersebut sebagai latihan kesabaran dan keridaan. Sebuah hadis lain memberikan alasan yang lebih tajam dan harfiah mengapa latihan ini tidak boleh dilewatkan.

سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. قَالَ: وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Penghulu istigfar adalah engkau mengucapkan: Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku menetapi perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu yang diberikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku — maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.” Beliau bersabda: “Barang siapa yang mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal pada hari itu sebelum petang tiba, maka ia termasuk penghuni Surga. Dan barang siapa yang mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal sebelum pagi tiba, maka ia termasuk penghuni Surga.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 5947, edisi cetak halaman 5/2323 dari .

Perhatikan bagaimana jaminan ini sebenarnya dibangun. Jaminan ini tidak berlaku tanpa batas waktu. Ia mencakup tepat pada jeda antara satu ucapan dengan ucapan berikutnya — pagi ke petang, petang ke pagi — dan tidak lebih dari itu. Ucapkan sekali saat fajar menyingsing, dan janji yang dibawanya akan habis masa berlakunya saat matahari terbenam; ia harus diucapkan lagi sebelum malam menyelimuti Anda, dan versi yang diucapkan pada malam hari hanya bertahan hingga fajar. Di antara beberapa hal yang disampaikan hadis ini, terdapat penjelasan yang sangat harfiah tentang mengapa kedisiplinan ini berjalan pada dua titik waktu yang tetap, bukan sekadar anjuran terbuka untuk memohon ampunan kapan pun tebersit di pikiran. Seseorang tidak bisa mengucapkannya sekali lalu menganggap perlindungannya berlaku sepanjang minggu. Pembaruannya harus terjadi pada ritme yang sama dengan kemungkinan datangnya kematian, dan kematian tidak pernah mengumumkan sebelumnya dua belas jam mana yang telah ia pilih.

Hal ini lebih berat untuk direnungkan dibandingkan sekadar memikirkan janji pahalanya itu sendiri — ampunan, pembebasan dari Neraka, masuk ke dalam Surga. Semua itu tidak menggambarkan hari Selasa yang biasa-biasa saja. Semua itu menggambarkan apa yang tersisa di genggaman seseorang jika hari yang sedang dijalaninya ternyata adalah hari terakhirnya. Al-Qur’an membingkai kedua waktu tersebut sebagai latihan sabr dan riḍā; hadis memberikan alasan yang lebih jelas mengapa latihan ini tidak boleh dilewatkan — paruh hari mana pun yang sedang Anda jalani saat ini bisa jadi adalah waktu yang menentukan segalanya.

Mengapa Dua, dan Bukan Satu

Rangkai semua kepingan ini, maka bentuk utuh dari amalan ini akan terlihat jelas. Perintah tanpa batas untuk mengingat Allah dikerucutkan menjadi dua waktu spesifik karena di dua titik transisi inilah, bukan satu, kesabaran seseorang berada pada titik paling tipis — di awal hari sebelum ia diuji oleh apa pun, dan di penghujung hari setelah ia diuji oleh segalanya. Dua waktu yang sama ini membawa permohonan spesifik untuk keridaan karena keridaan bukanlah sekadar fakta tentang keadaan; ia adalah kondisi batin yang harus diperbarui sesering keadaan mengancam untuk mengusiknya, dan satu hari memberikan dua kesempatan alami yang dapat mengusiknya bahkan sebelum hari itu berakhir. Dan dua waktu yang sama ini membawa janji yang melekat pada penghulu istigfar, karena jaminan yang ditawarkannya sengaja dibuat berumur pendek — ia hanya bertahan hingga matahari terbit atau terbenam berikutnya, yang berarti seseorang tidak pernah berjarak lebih dari setengah hari untuk perlu mengucapkannya lagi.

Amalan yang hanya dilakukan saat matahari terbit saja, atau saat matahari terbenam saja, akan membiarkan tepat separuh dari setiap hari tidak terlindungi oleh semua ini — kesabaran, keridaan, dan ampunan yang diperbarui sepenuhnya. Menit-menit yang diminta oleh kedua waktu ini bukanlah beban tambahan di hari yang sudah sibuk. Waktu tersebut adalah jeda terpendek yang bisa dikomitmenkan seseorang untuk kembali mengingat-Nya, dua kali, sebelum salah satu paruh hari berkesempatan berakhir tanpa amalan tersebut. Koleksi Adhkār Quran Gallery mengumpulkan bacaan untuk kedua waktu tersebut di satu tempat, lengkap dengan sumbernya, untuk paruh hari mana pun yang sedang menghampiri Anda saat ini.

Lanjutkan

Morning & Evening

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.