Quran Gallery Blog · Artikel
Bentuk Sebuah Hari: Apa yang Diletakkan Sunnah di Kedua Ujungnya
Sunnah tidak membiarkan sebuah hari berlalu begitu saja. Ia memberikan kata pertama saat bangun tidur dengan kosakata kebangkitan, memperlakukan kata-kata sebelum tidur sebagai sesuatu yang patut diulang dengan presisi, dan membiarkan pertengahan hari yang panjang terbentuk dari apa yang ada di kedua ujungnya.
Baca 7 menit3 sumberMorning & Evening
Penulis:The Quran Gallery team
Jika kita terus-menerus membicarakan “hari”, kata tersebut mulai terdengar seperti satu kesatuan utuh—satu rentang waktu yang tak terputus dari bangun hingga tidur, yang hanya dibedakan oleh apa pun yang kebetulan mengisinya. Padahal, bukan begitu cara Sunnah memperlakukan sebuah hari. Sunnah membangun dua tindakan yang disengaja ke dalam bingkainya—satu pada saat bangun, satu lagi pada saat sebelum tidur—dan membiarkan segala sesuatu di antaranya terbentuk dari apa yang ada di kedua ujung tersebut, alih-alih dari instruksi yang ditujukan untuk pertengahan hari itu sendiri. Jam-jam yang dihabiskan seseorang untuk bekerja, makan, berbicara, dan menunggu hampir tidak pernah diatur secara langsung. Namun, dua ambang batas yang mengapitnya diatur dengan presisi yang luar biasa. Memahami alasannya akan memberi tahu kita tentang apa sebenarnya sebuah hari dalam kerangka ini: bukan sekadar blok waktu yang harus diisi, melainkan sebuah struktur dengan awalan yang cukup berbobot untuk menentukan arah, dan akhiran yang cukup berbobot untuk menutup catatan amal.
Pagi yang Meminjam Bahasa Kebangkitan
Hudzaifah bin al-Yaman meriwayatkan sebuah kebiasaan, bukan sekadar satu ucapan—sepasang kalimat yang digunakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengapit tidur di malam hari, satu saat hendak tidur dan satu lagi saat bangun:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ: بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا. وَإِذَا قَامَ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ. “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beranjak ke tempat tidurnya, beliau mengucapkan: ‘Dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup.’ Dan apabila beliau bangun, beliau mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali (kebangkitan).‘”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 6312, halaman cetak 8/69 dari .
Baik kata amūtu (“aku mati”) maupun al-nushūr (“kebangkitan”) bukanlah kata-kata halus yang sekadar dipinjam untuk memberikan efek dramatis. Kata al-nushūr secara khusus bukanlah kosakata biasa untuk pagi hari; ini adalah istilah Al-Qur’an untuk kebangkitan massal, berdirinya setiap jiwa pada Hari Kiamat. Menyematkannya pada pagi yang biasa bukanlah sebuah majas yang berlebihan, melainkan penyusutan skala yang disengaja: tidur di satu malam digambarkan dengan kata kerja yang sama dengan kematian, dan bangun di satu pagi digambarkan dengan kata benda yang sama yang dikhususkan Al-Qur’an untuk kebangkitan kembali. Efeknya bukan untuk membuat tidur menjadi sesuatu yang menakutkan. Tujuannya adalah menjadikan momen bangun tidur bermakna spesifik sebelum satu pun tugas hari itu disentuh—kalimat pertama yang diajarkan untuk diucapkan seseorang bukanlah sebuah rencana atau sapaan, melainkan pengakuan bahwa hidup di pagi hari ini bukanlah sesuatu yang mutlak menjadi hak mereka.
Itulah fondasi pertama yang diletakkan Sunnah dalam arsitektur sebuah hari: sebelum isi, ada sikap. Hari tidak dibuka dengan halaman kosong yang bebas diisi seseorang sesuka hati sesuai suasana hati di pagi hari. Hari dibuka dengan sebuah penegasan yang sudah ditetapkan—bahwa hari ini adalah pemberian kedua dari sesuatu yang, beberapa saat sebelumnya, telah ditarik kembali—dan segala sesuatu yang terjadi setelahnya pada hari itu, secara teknis, terjadi pada waktu pinjaman yang baru saja diperpanjang.
Jam-jam yang Tidak Memiliki Bentuk Baku
Bangun dan tidur tidak perlu dijadwalkan. Tubuh yang belum tidur pada akhirnya akan tertidur terlepas dari apa pun niat seseorang; tubuh yang telah tidur pada akhirnya akan terbangun. Kedua ujung hari ini akan tiba terlepas dari apakah seseorang menyiapkan satu kata pun untuknya atau tidak. Itulah tepatnya mengapa perhatian Sunnah pada kedua momen tersebut bukanlah untuk mengisi celah yang tadinya kosong—melainkan menempatkan sesuatu yang disengaja pada titik yang memang sudah pasti akan terjadi. Pertengahan hari tidak memiliki jaminan yang sama. Tidak ada yang memaksa seseorang untuk menyadari satu jam yang berlalu tanpa guna. Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah ucapan yang menyebutkan hal ini secara langsung, menggunakan kata yang biasanya dikhususkan untuk perdagangan yang merugi alih-alih janji yang terlewatkan:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 6412, halaman cetak 8/88 dari .
Maghbūn adalah kata untuk seseorang yang dirugikan dalam sebuah kesepakatan—bukan dirampok secara terang-terangan, melainkan kehilangan nilai tanpa benar-benar menyadarinya saat itu terjadi. Kesehatan dan waktu luang dikelompokkan bersama karena alasan yang patut direnungkan: keduanya adalah jenis aset yang mengumumkan kehilangannya dengan lantang, tetapi tidak dengan kehadirannya. Tidak ada yang butuh diingatkan bahwa mereka sedang sakit. Banyak orang melewati sepanjang hari tanpa sekalipun menyadari bahwa mereka, pada kenyataannya, sedang sehat dan memiliki waktu luang, karena kesehatan dan waktu luang tidak menimbulkan suara apa pun. Keduanya adalah dua nikmat yang bisa dihabiskan seseorang hingga tak tersisa, sementara secara subjektif mereka masih merasa seolah-olah tidak ada hal khusus yang terjadi.
Al-Qur’an memberikan pola yang sama dengan penekanan yang lebih tajam. Dalam menggambarkan apa yang terjadi ketika perhatian seseorang beralih dari mengingat Allah, Al-Qur’an tidak menggunakan kata kerja yang berarti penolakan secara terang-terangan. Al-Qur’an menggunakan kata yang berarti berpaling, semacam ketidakpedulian yang dibiasakan:
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ ٱلرَّحْمَـٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطَـٰنًا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌ “Dan barangsiapa yang menutup mata dari mengingat Tuhan Yang Maha Pengasih, Kami tetapkan baginya setan, yang kemudian menjadi teman karibnya.”
— Sūrat al-Zukhruf, 43:36
Yaʿshū bukanlah bahasa untuk keluarnya seseorang dari keimanan secara dramatis. Kata ini lebih dekat pada kelalaian perlahan yang, pada prinsipnya, bisa dipertahankan seseorang selama bertahun-tahun tanpa pernah secara sadar memutuskannya. Itulah profil risiko dari pertengahan hari: bukan bahaya dari satu pilihan salah yang dibuat pada momen tertentu, melainkan bahaya yang lebih sunyi dari jam-jam yang berlalu tanpa disadari karena sejak awal tidak ada hal yang menuntut perhatian. Letakkan kedua bukti ini berdampingan dan sebuah bentuk pun akan muncul. Kedua ujung hari tidak rentan hilang dengan cara seperti ini—keduanya memaksa seseorang untuk menyadarinya secara alamiah. Bagian pertengahanlah yang rentan, dan ia rentan justru karena porsinya yang biasanya sangat banyak. Apa yang menyatukan rentang waktu tanpa tanda seperti itu bukanlah aturan yang ditujukan untuk rentang itu sendiri—Sunnah tidak memberikan naskah jam demi jam untuk pertengahan hari—melainkan tarikan dari dua titik tetap di kedua ujungnya, layaknya dua tiang yang ditancapkan ke tanah dapat menjaga tali panjang tetap tegang tanpa ada satu pun yang menyentuh panjang tali di antaranya.
Akhiran yang Diulang Seolah-olah Menjadi yang Terakhir
Jika pagi hari meminjam kosakata kebangkitan, instruksi penutup yang diberikan Nabi saat hendak tidur meminjam kosakata wasiat. Al-Bara’ bin ‘Azib meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kepada seorang sahabat sebuah bacaan spesifik untuk momen yang tepat sebelum tidur, beserta alasan yang menyertainya:
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ وَقُلِ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ. “Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat, kemudian berbaringlah di sisi kananmu dan ucapkanlah: ‘Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menyerahkan urusanku kepada-Mu, aku menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena harap dan cemas kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.’ Jika engkau meninggal pada malam itu, engkau meninggal di atas fitrah—maka jadikanlah kalimat-kalimat ini sebagai hal terakhir yang engkau ucapkan.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 6311, halaman cetak 8/68 dari .
Fa in mitta, mitta ʿalā al-fiṭrah—instruksi ini tidak memperhalus kemungkinan bahwa ini bisa jadi benar-benar kalimat terakhir seseorang. Ia menyatakannya, dalam satu tarikan napas dengan bacaan itu sendiri, sebagai sebuah kemungkinan nyata yang memang ingin dijawab oleh bacaan tersebut. Dan setelah menyatakannya, Nabi tidak membiarkan frasa yang tepat itu hanya bergantung pada ingatan atau perkiraan. Al-Bara’ sendiri menguji ingatannya kembali kepada Nabi setelah itu dan mengganti satu kata dengan sinonim yang dekat—“Rasul-Mu” sebagai ganti “Nabi-Mu”—dan langsung dikoreksi saat itu juga. Satu kata, yang secara fungsi dapat dipertukarkan dalam percakapan biasa, tidak diperlakukan demikian dalam kalimat yang dimaksudkan untuk menutup hari. Tingkat kehati-hatian yang melekat pada bacaan pribadi sebelum tidur ini patut diperhatikan: betapapun longgarnya pertengahan hari dibiarkan berjalan dengan sendirinya, kata-kata penutupnya sama sekali tidak dibiarkan longgar.
Disandingkan dengan hadis bangun tidur, bentuknya menjadi simetris, bukan kebetulan. Pagi hari dibuka dengan rasa syukur atas kehidupan yang baru saja dikembalikan; malam hari ditutup dengan deklarasi kepasrahan yang diperbarui, dirangkai dengan bobot sebuah pernyataan terakhir, terlepas dari apakah itu benar-benar menjadi yang terakhir atau tidak. Keduanya tidak disajikan sebagai formalitas untuk sekadar dilewati. Keduanya disajikan sebagai tindakan yang cukup spesifik, dan cukup penting, sehingga patut dilakukan dengan sangat tepat—yang mana ini adalah jenis perhatian yang tidak pernah dituntut untuk dipertahankan sendiri oleh pertengahan hari yang jauh lebih besar dan kurang terdefinisi, dan memang tidak akan pernah perlu, karena kedua ujungnya sudah melakukan tugas tersebut.
Semua ini tidak lantas membuat pertengahan hari menjadi tidak penting—mencari nafkah, menunaikan kewajiban, dan percakapan biasa tidak menjadi kurang bernilai hanya karena tidak memiliki naskah baku. Apa yang dilakukan oleh kedua ujung tersebut adalah menjaga agar bagian pertengahan tidak perlu menciptakan alasannya sendiri untuk ada. Sebuah hari yang dibuka dengan pengakuan atas apa yang baru saja dikembalikan, dan ditutup dengan kata-kata yang diulang seolah-olah itu mungkin menjadi ucapan terakhir, tidak membutuhkan setiap jam di antaranya untuk dibenarkan satu per satu; ia mewarisi keseriusannya dari kedua arah sekaligus. Koleksi Adhkār The Quran Gallery menghimpun riwayat-riwayat di balik kedua ujung hari ini, pagi dan malam, beserta sumber-sumbernya, tepat untuk jenis perhatian yang memang dibangun oleh arsitektur ini.
Lanjutkan
Morning & Evening
Terkait
Morning & Evening Sebelum Meminta: Mengapa Doa Nabi Dibuka dengan Pujian Seorang pria berdoa dalam salatnya dan langsung meminta apa yang ia butuhkan tanpa memanjatkan satu pun kalimat pujian sebelumnya — Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut tindakan ini sebagai sebuah ketergesa-gesaan. Apa yang diungkapkan dari teguran tersebut, dan apa yang secara diam-diam dihadirkan oleh Surah al-Fatihah dalam setiap rakaat, adalah sebuah disiplin yang Al-Qur'an kaitkan dengan sesuatu yang lebih mendalam daripada sekadar adab. Morning & Evening Duduk Hingga Terbit Matahari: Waktu Setelah Subuh dan Salat yang Menutupnya Waktu antara Subuh dan terbitnya matahari menjanjikan salah satu pahala yang paling sering dikutip: pahala seperti haji dan umrah yang sempurna. Tirmidzi sendiri tidak menyebut riwayat tersebut sahih — ia menjelaskan dengan tepat apa yang menjadi sandarannya, dan apa yang bukan. Apa yang bisa ditanggung oleh sanad tersebut, apa yang tidak, serta dua rakaat Duha yang disebut-sebut sebagai penutupnya. Morning & Evening Dua Titik Tetap dalam Keseharian Anda: Mengapa Dzikir Pagi dan Petang Layak Mendapat Waktu Anda Al-Qur'an menyandingkan perintah tanpa batas untuk mengingat Allah dengan dua waktu yang spesifik — pagi dan petang — dan mengaitkan keduanya, lebih dari sekali, dengan kesabaran serta janji akan kondisi batin tertentu. Telaah mendalam terhadap apa yang ditambahkan oleh Sunnah pada penyandingan ini menjelaskan mengapa amalan tersebut bertumpu pada dua titik waktu yang tetap, bukan sekadar kebiasaan yang mengalir begitu saja.
