Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Sebelum Meminta: Mengapa Doa Nabi Dibuka dengan Pujian

Seorang pria berdoa dalam salatnya dan langsung meminta apa yang ia butuhkan tanpa memanjatkan satu pun kalimat pujian sebelumnya — Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut tindakan ini sebagai sebuah ketergesa-gesaan. Apa yang diungkapkan dari teguran tersebut, dan apa yang secara diam-diam dihadirkan oleh Surah al-Fatihah dalam setiap rakaat, adalah sebuah disiplin yang Al-Qur'an kaitkan dengan sesuatu yang lebih mendalam daripada sekadar adab.

Baca 5 menit1 sumberMorning & Evening

Penulis:The Quran Gallery team

Seorang pria berdiri menunaikan salat, dan ketika tiba saatnya untuk meminta kepada Allah apa yang ia butuhkan, ia langsung saja memintanya — tanpa mengakui siapa yang sedang ia sapa, tanpa memanjatkan selawat kepada sosok yang pertama kali mengajarinya cara berdoa. Ia sekadar meminta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada cukup dekat hingga bisa mendengarnya, dan apa yang beliau sampaikan tentang pria itu setelahnya menyimpulkan kekeliruan tersebut dalam satu kata.

“Orang Ini Tergesa-gesa”

Fadhalah bin Ubaid, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menceritakan apa yang ia saksikan selanjutnya:

سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يُمَجِّدِ اللَّهَ، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: "عَجِلَ هَذَا" ثُمَّ دَعَاهُ، فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ: "إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ"

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang pria berdoa dalam salatnya tanpa mengagungkan Allah dan tanpa berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang ini tergesa-gesa.’ Kemudian beliau memanggilnya — atau orang lain yang melakukan hal serupa — dan bersabda, ‘Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia memulainya dengan mengagungkan Tuhannya dan memuji-Nya, lalu berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barulah setelah itu meminta apa saja yang ia kehendaki.‘”

— Sunan Abi Dawud, hadis 1481, edisi cetak halaman 2/605 dari . Para penyunting edisi ini menilai sanadnya sahih.

Ada dua detail dalam redaksi tersebut yang mudah terlewatkan. Pertama, Nabi tidak mengoreksi susunan kalimat pria itu, atau isi permintaannya saat akhirnya diucapkan — teguran tersebut ditujukan pada apa yang mendahului permintaan itu, atau lebih tepatnya, apa yang tidak ada sebelumnya. Kedua, ada sedikit ambiguitas yang dibiarkan oleh Fadhalah alih-alih diperhalus: “beliau memanggilnya — atau orang lain.” Riwayat ini tidak memastikan siapa tepatnya. Namun, yang tidak diragukan lagi adalah instruksi yang menyusul setelahnya, disampaikan sebagai aturan umum dan bukan sekadar teguran pribadi: pujian terlebih dahulu, selawat kepada Nabi setelahnya, dan barulah kemudian — ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ, “setelah itu meminta apa saja yang ia kehendaki” — sampaikan permintaannya. Tidak ada ketentuan baku mengenai kata-kata apa yang harus digunakan untuk memuji Allah di sini. Yang ditetapkan adalah kapan pujian itu diucapkan.

Urutan yang Tertanam dalam Setiap Rakaat

Setiap muslim yang mendirikan salat mempraktikkan urutan yang hampir sama ini setidaknya tujuh belas kali sehari, sering kali tanpa menyadarinya sebagai sebuah urutan, karena hal ini terangkai dalam tujuh ayat yang dibaca saat berdiri di awal setiap rakaat. Surah al-Fatihah tidak dibuka dengan sebuah permintaan. Surah ini dibuka dengan pujian, dan terus berlanjut selama tiga ayat berturut-turut sebelum akhirnya surah ini menyapa Allah secara langsung:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam — Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan.”

— Surah al-Fatihah, 1:2–4

Tiga ayat, tiga sifat yang disebutkan secara berurutan — kekuasaan atas segala sesuatu yang ada, rahmat yang tak bertepi, dan hari perhitungan yang akan datang — sebelum surah ini berbicara kepada Allah menggunakan kata ganti orang kedua untuk pertama kalinya. Bahkan di titik itu pun, hal pertama yang diucapkan belum berupa permintaan:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

— Surah al-Fatihah, 1:5

Itu adalah sebuah ikrar, bukan permohonan — sebuah pernyataan tentang siapa yang sedang disapa dan dalam kapasitas apa, diucapkan dalam sudut pandang orang pertama seolah-olah pujian dari tiga ayat sebelumnya harus diresapi secara pribadi sebelum bisa meminta apa pun. Barulah pada ayat keenam, permintaan itu akhirnya tiba:

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

— Surah al-Fatihah, 1:6

Lima kata, setelah lima ayat berisi pujian dan penempatan diri mendahuluinya. Tidak ada satu pun bagian dalam surah ini yang menjadikan urutan tersebut sekadar basa-basi untuk dibaca cepat demi menuju inti utamanya — urutan itulah intinya, yang diulang sebanyak jumlah rakaat salat itu sendiri. Ini berarti pola yang disaksikan Fadhalah saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya kepada pria yang melewatkannya, bukanlah aturan terpisah yang dibuat khusus untuk doa di luar salat. Itu adalah bentuk yang sama yang selama ini selalu dibaca oleh seorang mukmin, yang dipertegas untuk momen-momen tertentu — sebuah doa pribadi yang dipanjatkan dengan kata-kata sendiri, di mana tidak ada bacaan baku yang memaksa urutan tersebut untuk dipertahankan.

Harga dari Sebuah Ketergesa-gesaan bagi Orang yang Meminta

Kata yang digunakan Nabi untuk menyebut kesalahan pria tersebut — ‘ajila, “ia tergesa-gesa” — bukanlah pilihan kosakata yang kebetulan. Kata ini memiliki akar kata yang sama dengan yang digunakan Al-Qur’an ketika menyebutkan sifat dasar manusia pada umumnya, bukan sekadar kelemahan yang terbatas pada satu pria yang kurang fokus dalam satu salat tertentu:

خُلِقَ ٱلْإِنسَـٰنُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُو۟رِيكُمْ ءَايَـٰتِى فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

“Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka, janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya.”

— Surah al-Anbiya’, 21:37

Jika disandingkan dengan riwayat Fadhalah, kesamaan akar kata ini bukanlah sebuah kebetulan. Kesalahan yang disebutkan dalam doa seorang pria digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai sesuatu yang lebih menyerupai sifat bawaan daripada sekadar kekhilafan — sebuah insting untuk langsung meraih apa yang diinginkan dan melompati segala hal yang menghalangi antara keinginan dan jawabannya, termasuk, jika dibiarkan, tindakan untuk mengakui terlebih dahulu siapa yang sedang dimintai. Memulai dengan pujian tidaklah menghalangi permintaan itu sendiri, melainkan meredam refleks di baliknya. Pujian tidak bisa diucapkan dengan terburu-buru layaknya sebuah keinginan yang dilontarkan begitu saja; menyebutkan rahmat Allah, kekuasaan-Nya atas segala sesuatu yang ada, dan hari perhitungan-Nya yang akan datang, menuntut ketenangan yang lebih dari orang yang mengucapkannya dibandingkan dengan keinginan yang ia bawa. Pada saat ayat keenam dari Surah al-Fatihah — atau kalimat penutup dari doa yang tidak terpaku pada teks — akhirnya sampai pada permohonan, orang yang meminta tidak lagi menjadi sosok tergesa-gesa yang sama seperti saat ia memulai.

Barangkali, inilah yang lebih mendekati alasan sebenarnya mengapa pria dalam riwayat Fadhalah itu ditegur. Bukan karena permintaannya salah, atau karena Allah akan menolak untuk mendengarnya — Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya kembali untuk memberikan arahan, bukan penolakan. Yang hilang adalah kondisi batin yang dihasilkan oleh pembukaan yang lebih tenang: seseorang yang telah berhenti sejenak cukup lama untuk mengingat di hadapan Siapa ia berdiri, sebelum beralih pada apa yang ia butuhkan dari-Nya. Pujian, yang diucapkan di awal, tidak sekadar mendahului permintaan. Pujian itu mengubah siapa yang memintanya.

Doa yang dibangun dengan cara seperti ini bukanlah sebuah rumusan yang dilakukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban; ini adalah latihan untuk memusatkan perhatian yang harus dibangun sejak awal sebelum bisa diandalkan di saat sebuah kebutuhan terasa begitu mendesak hingga mengabaikan pujian terasa bisa dimaklumi. Koleksi Adzkar Quran Gallery menghimpun zikir pagi dan petang — yang banyak di antaranya murni berisi pujian, diucapkan sebelum permintaan apa pun dipanjatkan — tepat karena alasan tersebut: agar kalimat-kalimat pengagungan dan rasa syukur kepada Allah sudah terbiasa di lisan jauh sebelum tiba harinya ketika kalimat-kalimat itu dibutuhkan untuk membuka sebuah doa yang benar-benar penting.

Lanjutkan

Morning & Evening

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.