Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Dzikir Pagi dan Petang: Makna dan Asal-Usulnya

"Adzkar" secara harfiah berarti zikir-zikir (bentuk jamak) — rangkaian zikir pagi dan petang bukanlah satu doa yang baku, melainkan sebuah kategori yang dihimpun dari banyak riwayat terpisah. Artikel ini membahas dari mana pola dua waktu ini berasal di dalam Al-Qur'an, dan bagaimana hadis-hadis yang tersebar di baliknya disusun, dari generasi ke generasi, menjadi kumpulan zikir yang kita baca saat ini.

Baca 7 menit2 sumberMorning & Evening

Penulis:The Quran Gallery team

Dalam transliterasi, kata “Adzkar” terdengar seperti nama satu hal yang spesifik — seolah-olah ada satu teks baku yang diwariskan secara utuh dengan nama “adzkar”. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Adzkar hanyalah bentuk jamak dari kata zikir (mengingat Allah), dan “zikir pagi dan petang” adalah nama sebuah kategori: ucapan-ucapan pendek yang dihafal dan dibaca dua kali sehari, pada dua waktu peralihan hari. Zikir-zikir ini tidak diambil dari satu sumber tunggal, melainkan dari puluhan riwayat terpisah yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai kesempatan, kepada orang yang berbeda-beda, dan dijaga oleh perawi yang berbeda pula. Untuk memahami apa sebenarnya adzkar ini, kita perlu memahami dua hal: mengapa Al-Qur’an menambatkan zikir tepat pada dua waktu ini, dan bagaimana riwayat-riwayat yang tersebar tentang apa yang harus dibaca pada masing-masing waktu tersebut akhirnya menjadi kumpulan zikir yang kita baca hari ini.

Dua Kata untuk Sepasang Waktu yang Sama

Al-Qur’an tidak hanya menyebutkan zikir pagi dan petang sekali lalu beralih ke topik lain. Al-Qur’an mengulang pasangan waktu ini di lebih dari belasan tempat, dan menggunakan lebih dari satu kosakata — seolah-olah konsep ini jauh lebih penting bagi teks Al-Qur’an daripada sekadar satu frasa yang baku. Menyapa orang-orang beriman secara langsung, Al-Qur’an berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

— Surah al-Ahzab, 33:41–42.

Bukratan wa aṣīlan — pagi dan petang hari — adalah salah satu pasangannya. Di tempat lain, Al-Qur’an menggunakan pasangan kata yang berbeda untuk menyampaikan hal yang sama, saat menggambarkan rumah-rumah di mana nama Allah disebut:

فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْـَٔاصَالِ

“Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang,”

— Surah al-Nur, 24:36.

Al-ghuduww adalah waktu terang di awal hari tepat setelah fajar menyingsing; al-āṣāl adalah bentuk jamak dari kata aṣīl yang sama seperti yang digunakan dua surah sebelumnya, yaitu rentang waktu dari pertengahan sore hingga menjelang malam. Dua pasangan kata yang berbeda, untuk dua rentang waktu yang sama, dan Al-Qur’an tidak sendirian dalam memvariasikan ungkapannya — literatur hadis yang datang setelahnya juga melakukan hal yang sama. Hadis-hadis tersebut menggambarkan dua momen identik ini sebagai “saat engkau bangun” dan “saat petang tiba”, atau “di dua waktu yang sejuk”, atau sekadar “pagi dan petang”. Variasi ini patut diperhatikan sebelum kita melangkah lebih jauh, karena inilah alasan mengapa “adzkar” tidak akan pernah menjadi satu teks tunggal yang kaku. Al-Qur’an sendiri terus membuka kembali topik ini dengan bahasa yang segar alih-alih menetapkan satu rumusan pasti, dan hadis-hadis yang mengikutinya memperlakukan dua waktu tersebut dengan cara yang sama: bukan sebagai naskah yang harus dibaca layaknya skrip, melainkan sebagai dua waktu terbuka di mana berbagai ucapan berbeda, yang diajarkan pada berbagai kesempatan berbeda, semuanya dipahami sebagai bagian dari waktu-waktu tersebut.

Satu Bab Penuh untuk Dua Waktu dalam Sehari

Pemahaman ini terlihat jelas dari bagaimana para pengumpul hadis menyusun kitab-kitab mereka. Al-Tirmidzi, yang menyusun kitab Sunan-nya dua setengah abad setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memberikan judul untuk satu bab penuh: “Apa yang Diriwayatkan Mengenai Doa Saat Seseorang Bangun Pagi dan Saat Petang Tiba” — lalu mengisinya dengan berbagai riwayat, yang masing-masing disandarkan kepada sahabat yang berbeda, dan masing-masing memelihara rangkaian kata yang berbeda pula. Al-Nasa’i melangkah lebih jauh dengan mendedikasikan satu kitab tersendiri untuk topik ini, yang berjudul ‘Amal al-Yawm wa-l-Layla (Amalan Sehari Semalam) — sebuah karya yang hadir semata-mata untuk menghimpun, di satu tempat, segala hal yang diriwayatkan tentang apa yang diucapkan dan dilakukan oleh seorang Muslim pada waktu-waktu yang berulang di hari-hari biasa.

Salah satu riwayat di dalam bab susunan al-Tirmidzi, yang bersumber dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, menjelaskan rumusan doa petang yang biasa diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ: "أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ! أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ اللَّيْلَةِ، وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا. اللَّهُمَّ! إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ. اللَّهُمَّ! إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ"

“Apabila petang tiba, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan: ‘Kami telah memasuki waktu petang, dan kerajaan pun memasuki waktu petang milik Allah; segala puji bagi Allah; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya; milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan di malam ini, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan di malam ini dan keburukan sesudahnya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di masa tua. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa di dalam Neraka dan siksa di dalam kubur.‘”

— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 2723, halaman cetak 4/2088 dari .

Manuskrip Muslim sendiri menyimpan sebuah catatan kecil tentang bagaimana paruh kedua dari rumusan doa tersebut sampai kepadanya: salah satu perawi, al-Hasan, mengatakan bahwa ia diberitahu secara terpisah oleh perawi lain, al-Zubayd, bahwa ia telah menghafalnya dari perawi ketiga, Ibrahim, sebagai kelanjutan dari redaksi yang sama. Ini adalah sebuah catatan sampingan kecil, yang terselip di dalam riwayat itu sendiri, namun justru detail semacam inilah yang menunjukkan hakikat sebenarnya dari kitab-kitab kumpulan hadis ini — bukan sekadar satu kalimat yang disalin sekali lalu diulang-ulang, melainkan sebuah mata rantai individu, yang masing-masing diperiksa silang dengan yang lain, dan masing-masing menyumbangkan bagian yang harus ditimbang dan ditempatkan dengan tepat oleh penyusun di generasi berikutnya.

Menilai Sebuah Rumusan: Bagaimana Kumpulan Hadis Ini Mendapatkan Kepercayaannya

Tidak semua riwayat yang berhasil masuk ke dalam kitab hadis memiliki kedudukan yang sama. Di bab yang sama, al-Tirmidzi mencatat rumusan kedua, kali ini bersumber dari sahabat Tsauban:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي: رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ"

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barang siapa yang mengucapkan saat petang tiba: Aku rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi — maka sudah menjadi hak bagi Allah untuk membuatnya rida.‘”

— Sunan al-Tirmidhī, hadis 3686, halaman cetak 6/18 dari . Al-Tirmidzi sendiri menyebut jalur periwayatan ini sebagai “hasan gharib”. Para editor edisi cetak ini, saat meneliti sanad yang sama berdasarkan kualitasnya sendiri, menilainya daif (lemah) — perawi Abu Sa’d Sa’id bin al-Marzuban dinilai tidak dapat diandalkan — dan mereka menilai hadis ini sahih hanya karena ada dua sahabat lain yang diriwayatkan, melalui jalur yang sepenuhnya terpisah, mengucapkan hal yang sama: sebuah riwayat pendukung yang lemah dan, di sampingnya, sebuah riwayat sahih yang bersambung hingga Abu Sa’id al-Khudri.

Itulah pekerjaan biasa yang jauh dari kesan glamor di balik setiap riwayat dalam kumpulan-kumpulan kitab ini: bukan sekadar “Nabi mengucapkannya, jadi riwayat itu ada di dalam kitab”, melainkan sebuah rantai perawi bernama yang diperiksa satu per satu, sebuah vonis untuk setiap nama, dan — ketika satu sanad saja tidak cukup — sebuah pencarian melintasi literatur yang lebih luas untuk menemukan jalur lain yang mengatakan hal yang sama sebelum riwayat tersebut diizinkan untuk berdiri sebagai riwayat yang dapat diandalkan. Dua sahabat yang secara independen menyandarkan kalimat pendek yang sama pada waktu petang yang sama diperlakukan sebagai bukti nyata, berbeda dengan satu sanad lemah yang tidak memiliki penguat. Rumusan kata demi kata yang pada akhirnya dianjurkan kepada orang-orang yang beribadah saat ini telah berhasil melewati proses ketat tersebut.

Dari Riwayat yang Tersebar Menjadi Satu Buku Saku

Semua ini tidak terjadi di satu tempat atau dalam satu waktu secara bersamaan. Riwayat-riwayat di balik zikir pagi dan petang tersebar di dalam kitab al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, kitab khusus al-Nasa’i tentang amalan sehari semalam, dan masih banyak lagi kumpulan kitab lainnya — masing-masing memelihara sebagian, namun tidak seluruhnya, dari apa yang diriwayatkan telah diucapkan atau diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua waktu ini. Masing-masing riwayat membutuhkan penelitian sanad demi sanad seperti yang dilalui oleh riwayat Tsauban di atas. Seorang Muslim yang hanya membaca satu dari kitab-kitab tersebut hanya akan menemui sebagian kecil dari amalan ini.

Apa yang dilakukan oleh generasi ulama berikutnya, selama beberapa abad, adalah merangkai kepingan-kepingan tersebut. Para penyusun seperti al-Nawawi menghimpun ratusan zikir harian di bawah judul-judul tematik, termasuk zikir pagi dan petang, dalam karya-karya yang dimaksudkan untuk dibaca sebagai satu kesatuan alih-alih dicari jilid demi jilid. Ibnu Qayyim membahas dan membela rumusan-rumusan individu dalam tradisi yang sama, menimbang sanad dan maknanya secara bersamaan. Di masa yang lebih modern, kumpulan buku saku kecil yang disusun khusus seputar materi ini — menata rangkaian zikir pagi, zikir petang, beserta sumber-sumbernya secara berdampingan untuk penggunaan sehari-hari — meneruskan proyek yang sama dalam bentuk yang pas di saku. Buku saku yang beredar luas saat ini adalah ujung dari rantai tersebut, bukan asalnya: berabad-abad riwayat individu, yang diperiksa secara individual, secara bertahap ditarik bersama menjadi satu susunan yang mudah diakses.

Hal ini patut diingat saat Anda membuka dan membaca untaian kata-kata zikir tersebut di lain waktu. Tidak ada satu pun dari “zikir pagi dan petang” yang diwariskan sebagai satu teks yang sudah jadi — ia dibangun, riwayat demi riwayat, dari hal-hal yang dilihat dan didengar diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di penghujung hari-hari biasa, dijaga oleh orang-orang yang sangat peduli untuk menyebutkan secara pasti siapa yang memberitahu mereka dan mengingat secara persis apa yang diucapkan. Koleksi Adzkar dari Quran Gallery meneruskan praktik yang sama, dengan menyertakan sumber-sumbernya berdampingan dengan kata-katanya, alih-alih meninggalkannya di belakang.

Lanjutkan

Morning & Evening

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.