Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Tangan Kosong di Hadapan Allah: Mengapa ʿUbudiyyah Adalah Rahasia di Balik Doa

Doa sering kali dianggap sekadar teknik yang harus dilakukan dengan benar, bukan sebagai sikap batin yang harus dihayati. Tulisan ini menelusuri makna ʿubudiyyah—pengakuan tulus seorang hamba bahwa ia tidak memiliki apa-apa—mulai dari perintah Al-Qur'an untuk berdoa dengan rendah hati, hadis qudsi di mana Allah mengundang hamba-Nya untuk meminta segalanya, hingga momen ketika seorang nabi yang tengah dalam pelarian menyebut dirinya sangat fakir.

Baca 6 menit1 sumberTaste the Sweetness of DuaBagian 3 dari 3

Penulis:The Quran Gallery team

Tanyakan kepada kebanyakan orang tentang apa yang membuat sebuah doa mustajab, dan mereka mungkin akan menjelaskan tekniknya: waktu yang tepat, susunan kata yang pas, atau jumlah pengulangan yang sesuai. Namun, Al-Qur’an memandang hal ini dengan cara yang berbeda. Sebelum mengajarkan satu kalimat pun untuk diucapkan, Al-Qur’an menetapkan sikap batin yang harus dihayati—dan sikap inilah, bukan sekadar deretan kosakata yang diucapkan, yang dalam tradisi Islam disebut sebagai ʿubudiyyah: keadaan seorang hamba yang tidak memiliki apa pun untuk dipersembahkan selain pengakuan bahwa ia memang tidak memiliki apa-apa.

Perintah Sebelum Rumusan Kata

Petunjuk ini datang sejak awal, dan hadir sebagai gambaran tentang adab, bukan isi dari doa itu sendiri:

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

— Surah Al-A’raf, 7:55

Para mufasir yang menelaah ayat ini menafsirkan tadharru’ sebagai bentuk merendahkan diri—kesadaran penuh untuk menanggalkan segala bentuk kesombongan di hadapan Zat yang dituju—yang disandingkan dengan khufyah, yaitu melembutkan suara hingga satu-satunya saksi atas doa tersebut hanyalah hati itu sendiri. Kedua kata ini tidak membahas isi doa. Keduanya tidak mendikte apa yang harus diucapkan. Keduanya justru menggambarkan kondisi batin yang harus benar-benar hadir dalam diri pendoa sebelum kata-kata yang diucapkannya memiliki makna. Ayat berikutnya terus membangun fondasi yang sama, menyandingkan seruan ini dengan rasa takut dan harap yang menyatu, sehingga perasaan aman maupun cemas tidak berdiri sendiri-sendiri.

Apa yang Sebenarnya Dibawa oleh Seorang “Hamba”

ʿUbudiyyah sering diterjemahkan sebagai “penghambaan” atau “ibadah,” namun kedua terjemahan ini kehilangan nuansa makna yang dijaga utuh dalam bahasa Arab. Seorang hamba, dalam pengertian ini, bukanlah seorang pegawai yang mengambil peran yang sewaktu-waktu bisa dikembalikan. Maknanya lebih dekat pada hakikat sejati seorang makhluk: entitas yang sama sekali tidak memiliki apa-apa, baik itu kesehatannya, detak jantung berikutnya, maupun tanah tempat ia berpijak—dan doa adalah wujud nyata dari fakta tersebut ketika disuarakan, bukan sekadar diyakini dalam diam.

Inilah sebabnya mengapa naluri untuk memohon kepada Allah tetap hidup dalam diri orang-orang yang bahkan belum pernah mempelajari satu pun hukum tentang doa. Al-Qur’an merekam refleks yang sama muncul tepat di saat segala klaim kemandirian manusia runtuh—seperti di atas kapal di tengah lautan lepas, ketika tidak ada lagi tempat untuk bergantung (lihat 17:67). Kebutuhan tidak menunggu pemahaman teologi matang terlebih dahulu. ʿUbudiyyah adalah apa yang terjadi ketika seseorang berhenti menunggu datangnya krisis untuk mengakui kebenaran yang sejak awal sudah ada.

Masalahnya, sebagian besar hari-hari kita tidak terlihat seperti kapal di tengah lautan lepas. Kehidupan sehari-hari sering kali tersusun sedemikian rupa hingga menutupi rasa ketergantungan kita, alih-alih menunjukkannya—gaji cair tepat waktu, air mengalir saat keran dibuka, dan tubuh terus bernapas tanpa diminta. Semua tabir itu tidak mengubah hakikat manusia yang sebenarnya; ia hanya membuat fakta tersebut lebih mudah dilupakan. Sebuah doa yang dipanjatkan di hari yang tenang dan serba berkecukupan bukanlah bentuk ʿubudiyyah yang lebih kecil dibandingkan doa yang diteriakkan dari atas perahu yang tenggelam. Doa di saat tenang justru lebih berat, karena ia harus dipilih secara sadar, bukan dipaksa keluar oleh keadaan.

Mintalah Hal-Hal Kecil Sekalipun Kepada-Ku

Jika doa adalah suara dari rasa ketergantungan, maka petunjuk paling jelas tentang apa yang harus dilakukan dengan ketergantungan itu sama sekali tidak dirumuskan sebagai sebuah nasihat. Petunjuk itu hadir dalam bentuk firman Allah yang berbicara langsung kepada hamba-hamba-Nya, disampaikan melalui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam sebuah riwayat yang diturunkan melalui Abu Dzar:

يا عبادي! إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما. فلا تظالموا. يا عبادي! كلكم ضال إلا من هديته. فاستهدوني أهدكم. يا عبادي! كلكم جائع إلا من أطعمته. فاستطعموني أطعمكم. يا عبادي! كلكم عار إلا من كسوته. فاستكسوني أكسكم. يا عبادي! إنكم تخطئون بالليل والنهار، وأنا أغفر الذنوب جميعا. فاستغفروني أغفر لكم. …

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk—maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang yang Aku beri makan—maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian—maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian berbuat dosa di malam dan siang hari, dan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya—maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian. …”

— Shahih Muslim, hadis 2577, halaman cetak 4/1994 dari .

Hadis ini tidak berhenti sampai di situ. Kelanjutannya menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang bisa mendatangkan bahaya atau manfaat bagi Allah, bahwa gabungan ketakwaan dari setiap jiwa yang pernah hidup tidak akan menambah sedikit pun kekuasaan-Nya, dan gabungan dosa mereka tidak akan menguranginya sedikit pun—dan seandainya mereka semua berdiri di satu tempat lalu meminta segala yang mereka inginkan, dan masing-masing menerimanya secara penuh, apa yang Allah miliki tidak akan berkurang melainkan hanya seperti berkurangnya air laut ketika sebatang jarum dicelupkan ke dalamnya lalu ditarik kembali. Alasan untuk membawa kebutuhan sekecil apa pun kepada Allah bukanlah karena permintaan tersebut mungkin terabaikan di antara permintaan-permintaan yang lebih besar. Alasannya adalah karena ukuran dan skala tidak berlaku bagi-Nya, berbeda dengan siapa pun yang dimintai sesuatu.

Ada satu detail dalam sanad hadis ini yang patut kita renungkan. Riwayat tersebut mencatat, seolah sebagai catatan pinggir, apa yang terjadi pada salah satu perawi yang menyampaikan hadis ini, Abu Idris al-Khaulani, setiap kali ia sampai pada bagian ini dalam penceritaannya: ia tidak sekadar menyelesaikan kalimatnya. Ia tersungkur berlutut.

Sosok yang Meneladankannya

Al-Qur’an juga menyajikan sebuah adegan tentang seseorang yang menghayati sikap batin ini, bukan sekadar diperintahkan untuk melakukannya. Musa, setelah melarikan diri dari seorang tiran tanpa membawa apa-apa, tiba di Madyan sebagai orang asing. Setelah membantu dua orang wanita memberi minum ternak mereka, ia menepi ke tempat teduh dan berucap:

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.‘”

— Surah Al-Qashash, 28:24

Perhatikan apa yang tidak disebutkan dalam doa tersebut. Doa itu tidak menyebutkan jumlah tertentu, jalan pulang, atau sebuah rencana. Doa itu menyebutkan sebuah kondisi—faqir, seseorang yang miskin, secara mendasar dan permanen, di hadapan apa pun yang Allah putuskan untuk diturunkan. Musa baru saja menghabiskan tenaganya untuk membantu orang asing yang tidak berutang budi apa pun kepadanya, dan saat ia sendirian, ia tidak menggambarkan dirinya sebagai orang yang dermawan, melainkan sebagai orang yang sangat papa. Itu bukanlah kerendahan hati palsu yang dipertontonkan di hadapan satu-satunya Saksi. Itu adalah pengakuan yang sama dengan yang diperintahkan oleh ayat sebelumnya dan yang dijanjikan pahala dalam hadis: seorang makhluk yang menyatakan kebenaran tentang hakikat dirinya, kepada satu-satunya Zat yang sejak awal tidak pernah bisa dikelabui tentang hal itu.

Susunan kata bisa berubah dari satu doa ke doa lainnya. Namun, sikap batin di balik semua itu tidak pernah berubah. Apa pun yang sebenarnya diminta pada hari itu—petunjuk, makanan, ampunan, atau sekadar kebaikan apa pun yang diturunkan—permintaan itu baru benar-benar menjadi sebuah doa, dan bukan sekadar harapan kosong yang terucap, pada saat orang yang meminta berhenti berpura-pura dan menyadari bahwa ia berdiri dengan tangan kosong.

Hal ini jauh lebih sulit untuk dipertahankan daripada sekadar menghafal susunan kata tertentu, karena ia harus terus diperbarui setiap kali kenyamanan membuat kebenaran itu mudah dilupakan kembali. Berdasarkan bukti-bukti di atas, inilah rahasia seutuhnya. Bukan kalimat yang lebih indah. Bukan daftar permintaan yang lebih panjang. Hanya seorang hamba, yang datang setiap saat dalam keadaan sefakir Musa di bawah pohon yang teduh, tanpa membawa apa pun selain kejujuran.

Lanjutkan

Taste the Sweetness of Dua · Bagian 3 dari 3

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.