Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Terlalu Tergesa-gesa Meminta: Mengapa Doa Dimulai dengan Pujian

Seorang pria berdoa dalam salatnya dan langsung meminta sebelum memuji Allah. Penilaian singkat Nabi—"tergesa-gesa"—bukanlah soal tata krama. Ini adalah penegasan tentang fungsi sebenarnya dari sebuah pujian sebelum permintaan diucapkan, dan mengapa ia harus ditempatkan di awal.

Baca 6 menit3 sumberTaste the Sweetness of DuaBagian 1 dari 3

Penulis:The Quran Gallery team

Suatu ketika, seorang pria duduk di tasyahud akhir salatnya dan langsung memanjatkan permintaan. Tanpa memuji Allah terlebih dahulu, tanpa berselawat kepada sosok yang telah mengajarinya cara salat—hanya sebuah permohonan, yang langsung diucapkan begitu ia memiliki kesempatan untuk merangkai kata. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarnya dan memberikan satu komentar: “Orang ini tergesa-gesa.” Beliau kemudian memanggil pria tersebut, dan alih-alih menyalahkan kata-kata doanya, beliau memperbaiki urutannya:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia memulainya dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya, lalu berselawat kepada Nabi, kemudian barulah ia meminta apa saja yang ia kehendaki setelahnya.”

— Sunan al-Tirmidhī, hadis 3784, halaman cetak 6/89 dari . Editor edisi ini menilai sanadnya sahih.

Tidak ada satu pun dari permintaan pria itu yang ditolak. Koreksi tersebut sepenuhnya tentang urutan—apa yang harus didahulukan—dan hal ini patut ditanggapi dengan serius, bukan sekadar dianggap sebagai adab belaka. Mengoreksi urutan hanya masuk akal jika sesuatu yang dipindah ke depan memiliki fungsi krusial yang tidak bisa dilakukan oleh hal yang mengikutinya. Pujian, dalam hadis ini, bukanlah sekadar basa-basi sebelum masuk ke inti doa. Ia diperlakukan sebagai fondasi utama yang menopang doa tersebut.

Bukan Sekadar Tata Krama — Melainkan Sebuah Kesukaan

Sangat mudah untuk menafsirkan kata “tergesa-gesa” sebagai teguran tentang tata krama: Anda tidak pantas nyelonong begitu saja saat memohon kepada seseorang. Namun, ada hadis lain yang menepis penafsiran tersebut dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih mendalam dan spesifik. Ini bukan sekadar soal Allah mengharapkan kesopanan sebelum sebuah permintaan diajukan. Melainkan, Allah digambarkan, melalui lisan Nabi-Nya sendiri, sebagai Zat yang paling mencintai pujian melebihi siapa pun:

مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ وَمَا أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ اللهِ

“Tidak ada yang lebih pencemburu daripada Allah—karena itulah Dia mengharamkan perbuatan-perbuatan keji—dan tidak ada yang lebih menyukai pujian daripada Allah.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 7403, halaman cetak 9/120 dari .

Sandingkan kedua hadis ini, maka teguran kepada pria tadi tidak lagi terlihat seperti sekadar rumusan baku, melainkan bentuk penghormatan terhadap apa yang Allah sukai. Jika pujian benar-benar merupakan hal yang paling Allah sukai, maka membuka doa dengan pujian bukanlah sebuah trik untuk memperbesar peluang terkabulnya permintaan—itu murni tentang mempersembahkan kepada Allah, di awal waktu, sesuatu yang Dia nyatakan sebagai hal yang Dia cintai. Apa pun yang terjadi pada permintaan tersebut nantinya, pujian itu tidak pernah bergantung padanya. Pujian itu telah berdiri sendiri sejak detik ia diucapkan.

Itulah sebabnya hadis tersebut tidak mengatakan “pujilah Dia agar permintaanmu dikabulkan.” Hadis itu mengatakan pujilah Dia, lalu berselawatlah, kemudian barulah meminta. Hasil dari permintaan tersebut dibiarkan untuk urusan belakangan—sengaja tidak disebutkan dalam instruksi itu sendiri. Apa yang pasti, dan terjadi seketika itu juga, adalah bahwa pujian tersebut telah sampai pada tujuan yang semestinya.

Apa yang Sebenarnya Terlewatkan Saat Tergesa-gesa

Ada alasan mengapa terburu-buru dalam meminta secara spesifik disebut sebagai sebuah kekeliruan di sini, alih-alih terburu-buru dalam seluruh gerakan salat, atau menggumamkan pujian dengan cepat lalu beralih ke hal lain. Meminta adalah sebuah insting. Ia tidak membutuhkan perenungan tentang siapa yang sedang dimintai—seorang anak sudah bisa meminta jauh sebelum ia memahami arti kata “orang tua”. Pujian itu berbeda. Untuk memuji sesuatu dengan tulus dan bukan sekadar refleks, Anda harus benar-benar memperhatikannya, menimbang apa yang Anda lihat, dan menemukan kata-kata yang sepadan dengannya. Langsung melompat ke permintaan berarti melewatkan langkah tersebut: bagian di mana Anda menyadari keagungan Zat yang sedang Anda ajak bicara sebelum Anda memberi tahu-Nya apa yang Anda inginkan dari-Nya.

Al-Qur’an menyebutkan kekurangan yang sama ini, dalam skala yang lebih besar dari sekadar satu doa, sebagai gambaran tetap tentang orang-orang yang tidak pernah melampaui prasangka mereka:

وَمَا قَدَرُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِۦ وَٱلْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ وَٱلسَّمَـٰوَٰتُ مَطْوِيَّـٰتٌۢ بِيَمِينِهِۦ ۚ سُبْحَـٰنَهُۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

— Sūrat al-Zumar, 39:67

Tudingan di sini bukanlah kekafiran dalam arti biasa—melainkan kegagalan dalam mengukur keagungan. Sesuatu yang nyata sedang diajak bicara, tetapi ditanggapi dengan skala yang salah, ibarat seseorang yang mencoba bernegosiasi dengan gunung seolah-olah itu hanyalah batu sandungan, bukan sebuah bentang alam yang megah. Doa yang langsung dibuka dengan permintaan memiliki risiko yang sama dalam bentuk miniatur: ia memperlakukan perjumpaan tersebut sebagai transaksi yang harus segera diselesaikan, alih-alih sebuah momen menghadap Zat yang keagungan-Nya harus diresapi terlebih dahulu, melalui kata-kata, sebelum meminta apa pun dari-Nya. Pujian adalah momen di mana peresapan itu terjadi. Abaikan hal itu, maka permintaan yang menyusul secara teknis memang ditujukan kepada penerima yang tepat—tetapi bukan kepada penerima yang keagungan-Nya telah benar-benar diresapi oleh sang peminta.

Pujian Ketika Tidak Ada Lagi yang Perlu Diminta

Ada sebuah gambaran dalam riwayat tentang Surga yang menegaskan poin ini dari sudut pandang sebaliknya: apa yang tersisa dari ibadah ketika setiap kebutuhan yang mungkin ada telah terpenuhi dan, secara harfiah, tidak ada lagi yang perlu diminta.

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ فِيهَا وَيَشْرَبُونَ وَلَا يَتْفُلُونَ وَلَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَتَمَخَّطُونَ قَالُوا فَمَا بَالُ الطَّعَامِ قَالَ جُشَاءٌ وَرَشْحٌ كَرَشْحِ الْمِسْكِ يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ

“Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Penduduk Surga makan dan minum di dalamnya, dan mereka tidak meludah, tidak buang air kecil, tidak buang air besar, dan tidak beringus.’ Para sahabat bertanya, ‘Lalu bagaimana dengan makanannya?’ Beliau menjawab, ‘Menjadi sendawa dan keringat seperti keringat kesturi—mereka diilhami untuk bertasbih dan memuji [Allah] sebagaimana mereka diilhami untuk bernapas.‘”

— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 2835, halaman cetak 4/2180 dari .

Setiap keinginan yang mungkin dimiliki oleh tubuh telah dipenuhi bahkan sebelum penjelasan tersebut sampai pada apa yang menggantikan kotoran. Dan apa yang mengisi ruang kosong tersebut bukanlah keheningan, bukan pula rasa syukur yang diucapkan sebagai ucapan terima kasih sesekali—melainkan tasbih dan tahmid, yang mengalir terus-menerus dan tanpa disadari layaknya embusan napas. Al-Qur’an memberikan redaksi aslinya:

دَعْوَىٰهُمْ فِيهَا سُبْحَـٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَـٰمٌ ۚ وَءَاخِرُ دَعْوَىٰهُمْ أَنِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

“Doa mereka di dalamnya adalah, ‘Mahasuci Engkau, ya Allah,’ dan salam penghormatan mereka di dalamnya adalah, ‘Salam.’ Dan penutup doa mereka adalah, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.‘”

— Sūrat Yūnus, 10:10

Perhatikan bagaimana ayat ini menyebutnya: doa mereka. Bukan pujian mereka, yang dipersembahkan sebagai pengganti doa ketika permintaan tidak lagi diperlukan—melainkan doa mereka, titik, yang dibuka dengan tasbih dan ditutup dengan tahmid, tanpa ada satu pun kalimat yang bernada permohonan di antaranya. Ketika kebutuhan menghilang sepenuhnya, apa yang tersisa dari berseru kepada Allah tidaklah berkurang dari sebelumnya. Itulah bagian yang selalu paling abadi darinya. Meminta adalah bagian yang terikat pada kondisi sementara—tubuh yang masih lapar, kehidupan yang masih kekurangan sesuatu. Pujian sejak awal tidak pernah terikat pada kondisi tersebut, dan itulah tepatnya mengapa ia menjadi bagian yang tetap bertahan ketika kondisi itu telah tiada.

Urutan Ini Tidak Pernah Sekadar Tentang Tata Krama

Jika ditarik mundur dari gambaran Surga, teguran yang diberikan kepada pria dalam salat tadi terlihat lebih dari sekadar rumus agar permintaan dikabulkan. Ia tidak diajari untuk menambahkan kata pengantar. Ia diajari untuk melatih, dalam keadaan butuh, bentuk komunikasi yang sama kepada Allah ketika kebutuhan tidak lagi ada—pujian di awal, karena pujian adalah bagian yang tidak memiliki masa kedaluwarsa; permintaan setelahnya, karena permintaan adalah bagian yang terikat pada kehidupan dunia dan segala keinginannya, yang juga merupakan bagian yang suatu hari nanti tidak lagi memiliki tempat untuk berpaut.

Hal ini membingkai ulang apa yang sebenarnya dimaksud dengan “tergesa-gesa”. Itu bukanlah ketidaksabaran terhadap protokol. Itu adalah sikap meraih bagian sementara dari sebuah interaksi sebelum memberikan bobot sedikit pun pada bagian yang permanen. Solusinya tidak pernah sekadar memperlambat diri demi kesopanan. Solusinya adalah menyadari separuh percakapan mana yang sebenarnya akan abadi, dan membiarkan separuh itu melangkah lebih dulu.

Kelak, ketika sebuah kebutuhan terasa begitu mendesak hingga membuat pujian terasa seperti penundaan yang menghalangi Anda dari hal yang Anda inginkan, justru itulah momen yang tepat untuk mengujinya. Ucapkan pujian terlebih dahulu, resapi maknanya, lalu lihatlah apa yang tersisa dari rasa mendesak itu ketika permintaan Anda akhirnya mendapat gilirannya.

Lanjutkan

Taste the Sweetness of Dua · Bagian 1 dari 3

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.