Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Nama Teragung Bukanlah Sebuah Kata Sandi

Dua orang pria berdoa dengan kata-kata yang hampir sama sekali berbeda, dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan penilaian yang sama kepada keduanya: masing-masing telah memohon kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung. Kesamaan dari kedua doa tersebut sebenarnya bukanlah pada kalimat yang harus dihafal, melainkan pada cara mereka berbicara kepada-Nya.

Baca 6 menit3 sumberTaste the Sweetness of DuaBagian 2 dari 3

Penulis:The Quran Gallery team

Buraidah sedang salat di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika suara seorang asing menarik perhatian mereka berdua di tengah-tengah doa. Apa yang diucapkan pria itu belum berupa permintaan — melainkan sebuah pengakuan tentang siapa yang sedang ia ajak bicara:

اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ بأنِّي أشهدُ أنَّكَ أنْتَ اللهُ لا إله إلَّا أنْتَ، الأحدُ الصَّمدُ، الَّذِي لم يَلِدْ ولم يُولدْ، ولم يكُنْ لهُ كُفوًا أحد

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, bersaksi bahwa Engkau adalah Allah — tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Yang Maha Esa, Tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”

Pria itu belum menyebutkan hajatnya. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikannya saat itu juga:

والَّذِي نَفسي بِيدهِ لقد سَألَ الله باسْمهِ الأعْظمِ الَّذِي إذا دُعِي بهِ، أجَابَ، وإذا سُئِلَ بهِ، أعْطى

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung — yang apabila Dia diseru dengannya, Dia akan mengabulkan, dan apabila Dia diminta dengannya, Dia akan memberi.”

— Sunan al-Tirmidhī, hadis 3781, edisi cetak halaman 6/87 dari . Editor edisi ini menilai redaksi tersebut sahih.

Penilaian tersebut adalah wujud nyata dari perintah Al-Qur’an yang dipraktikkan dalam kehidupan. Allah telah menyampaikan hal ini secara gamblang kepada orang-orang beriman:

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَـٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

— Surah al-Aʿrāf, 7:180

Jika kita sandingkan keduanya, sebuah pertanyaan akan langsung muncul: Nama mana yang sebenarnya digunakan oleh pria tersebut? Coba perhatikan kalimatnya, yang ada hanyalah al-Aḥad dan al-Ṣamad — Yang Maha Esa, Tempat bergantung segala sesuatu — diiringi dengan penegasan mutlak bahwa Allah tidak memiliki anak, orang tua, maupun sekutu. Ia sama sekali tidak mengucapkan frasa “Nama yang paling agung.” Ia juga tidak menyeru Allah dengan salah satu dari sembilan puluh sembilan Nama-Nya sebagai kata sapaan, seperti orang yang memanggil “Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki” atau “Wahai Yang Maha Pemberi Petunjuk.” Ia sekadar menyatakan kepada Allah, sebagai sebuah kebenaran mutlak, tentang siapa Allah itu. Menurut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah Nama yang paling agung.

Pria Kedua, dengan Rangkaian Kata yang Sama Sekali Berbeda

Seandainya ini adalah kejadian satu-satunya, susunan kata tersebut mungkin dianggap memiliki keistimewaan khusus karena alasan yang hanya diketahui oleh Allah. Namun, nyatanya tidak demikian. Anas bin Malik meriwayatkan adanya pria kedua, pada kesempatan yang berbeda, yang terdengar sedang berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, karena segala puji hanyalah milik-Mu — tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, semata, tanpa sekutu bagi-Mu, Yang Maha Pemberi Karunia, Pencipta langit dan bumi, Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

Tak satu pun kata dari doa tersebut yang sama dengan doa pria dalam riwayat Buraidah, selain dari ikrar tauhid yang diucapkan setiap muslim setiap harinya. Tidak ada kata al-Aḥad, tidak pula al-Ṣamad. Sebagai gantinya: al-Mannān, Badīʿ al-samāwāti wal-arḍ, Dhū al-Jalāli wal-Ikrām — tiga Nama yang berbeda, yang menggambarkan tiga sifat Allah yang berbeda, dan tak satu pun di antaranya disebutkan oleh pria pertama. Namun demikian:

لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ، الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ

“Sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung, yang apabila Dia diminta dengannya, Dia akan memberi, dan apabila Dia diseru dengannya, Dia akan mengabulkan.”

— Sunan Ibnu Mājah, hadis 3858, edisi cetak halaman 2/1268 dari . Editor edisi ini menilainya hasan sahih.

Kata demi kata, itu adalah penilaian yang sama persis dengan yang diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pria dalam riwayat Buraidah. Ibnu Majah menempatkan kedua riwayat ini dalam bab yang sama di kitab Sunan-nya, sebuah bab yang secara lugas ia beri judul, “Nama Allah yang Paling Agung” — yang satu persis setelah yang lainnya, seolah mengajak pembaca untuk menyadari bahwa kedua doa tersebut hampir tidak memiliki kesamaan kosakata namun tetap mendapatkan penilaian yang identik.

Kesamaan Sejati dari Kedua Doa Tersebut

Jika Nama yang paling agung itu ibarat sebuah kata sandi — rangkaian kata bahasa Arab baku yang berfungsi layaknya kunci, tak peduli siapa pun yang mengucapkannya — maka kedua riwayat ini akan saling bertentangan, karena kalimat yang digunakan tidaklah sama. Kesamaan dari keduanya bukanlah pada kata-katanya, melainkan pada polanya: masing-masing pria membuka permohonannya dengan mengagungkan Allah dan menyatakan kebenaran tentang diri-Nya, sebelum menyampaikan hajat mereka. Tak satu pun dari mereka yang mengawali doa dengan apa yang mereka inginkan. Keduanya memulai dengan pengakuan tentang siapa yang sedang mereka mintai.

Pola ini jugalah yang digambarkan oleh Al-Qur’an ketika menyikapi pilihan antara dua Nama Allah sebagai sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan:

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

“Katakanlah: ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.‘”

— Surah al-Isrāʾ, 17:110

“Allah” dan “ar-Raḥmān” bukanlah sekadar label yang bisa ditukar-tukar begitu saja; keduanya membawa makna yang berbeda dan merupakan panggilan utama untuk Tuhan di kalangan masyarakat terdahulu yang berbeda-beda. Ayat ini tidak menyelesaikan perbedaan tersebut dengan mengunggulkan satu nama di atas yang lain. Ayat ini menyelesaikannya dengan mengarahkan pandangan melampaui kedua nama itu, menuju Zat Tunggal yang memiliki keduanya. Nilai sejatinya tidak pernah terletak pada kosakatanya.

Menjaga Sebuah Nama Tidak Sama dengan Menghafalnya

Sebuah hadis ketiga akan terasa berbeda maknanya setelah kita menyimak kisah kedua pria tadi. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِلهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan Nama — seratus kurang satu — barang siapa yang menjaganya niscaya ia akan masuk surga.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 2736, edisi cetak halaman 3/198 dari .

Kata aḥṣāhā biasanya diterjemahkan sebagai “menghitung” atau “menghafal,” dan selama berabad-abad, upaya nyata telah dikerahkan untuk menyusun daftar, jembatan keledai, serta lantunan dari tepat sembilan puluh sembilan kata dalam urutan yang baku. Semua itu tentu tidak sia-sia. Namun, tak satu pun dari kedua pria dalam riwayat di atas yang sedang melantunkan sebuah daftar. Masing-masing hanya menyebutkan dua atau tiga Nama — bukan kesembilan puluh sembilannya, bahkan tidak mendekati — dan menggunakannya sesuai dengan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh keadaan mereka saat itu: pria pertama menyandarkan seluruh permohonannya pada keesaan mutlak Allah, sementara pria kedua pada karunia dan keagungan-Nya. Nama-nama yang dipilih oleh masing-masing pria adalah Nama-nama yang tepat untuk momen tersebut, diucapkan dengan penuh penghayatan, bukan sekadar menuntaskan sebuah daftar inventaris.

Hal ini lebih mendekati makna yang dikehendaki oleh kata aḥṣāhā dibandingkan sekadar daftar periksa yang telah selesai dihafal. Sebuah Nama yang dijaga adalah Nama yang telah menjadi bagian dari cara seseorang benar-benar berbicara kepada Allah — diucapkan ketika situasinya tepat, dipahami dengan cukup baik sehingga terasa nyata saat dilisankan — bukan sekadar disimpan sebagai salah satu dari sembilan puluh sembilan entri yang tak pernah sekalipun digunakan dalam doa. Nama yang paling agung tidak pernah tersembunyi dalam satu kombinasi huruf tertentu yang menunggu untuk ditemukan. Nama itu muncul dua kali, pada dua orang pria yang tidak sedang mencarinya, karena keduanya, melalui satu kalimat yang tulus, menyatakan kebenaran tentang Allah sebelum mereka mengatakan apa pun tentang diri mereka sendiri.

Lanjutkan

Taste the Sweetness of Dua · Bagian 2 dari 3

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.