Quran Gallery Blog · Artikel
Serulah Dia dengan Nama-Nama Itu: Makna di Balik Nama-Nama yang Allah Sematkan untuk Diri-Nya
Nama yang diberikan orang tua kepada bayi yang baru lahir menggambarkan sosok yang belum benar-benar mereka kenal. Nama-nama Allah adalah kebalikannya—sebuah penyingkapan diri dari Dzat yang Maha Mengetahui tentang diri-Nya—dan Al-Qur'an memerintahkan orang beriman untuk menyeru-Nya dengan nama-nama tersebut. Inilah makna di balik perintah itu, jauh melampaui sekadar menghafal daftar sembilan puluh sembilan kata.
Baca 6 menit2 sumberNames of Allah
Penulis:The Quran Gallery team
Nama yang diberikan kepada bayi yang baru lahir menggambarkan sosok yang belum pernah ditemui oleh si pemberi nama. Orang tua memilihnya berdasarkan keindahan bunyi, kenangan, atau harapan—apa saja selain pengetahuan langsung tentang sosok yang akan menyandang nama tersebut, karena sosok itu belum memiliki rekam jejak kehidupan yang bisa digambarkan. Setiap nama yang disandang manusia bermula seperti ini: disematkan dari luar, sebelum ada wujud nyata yang bisa dinamai dengan akurat.
Al-Qur’an menjelaskan jenis nama yang sama sekali berbeda.
وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَـٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
— Surah Al-A’raf, 7:180
Ada dua hal yang patut diperhatikan dalam ayat tersebut sebelum sampai pada kalimat utamanya. Nama-nama itu dinyatakan sebagai milik Allah—lahu, “milik-Nya”—bukan diberikan kepada-Nya oleh pihak lain. Dan nama-nama itu disebut al-husna, sebuah bentuk superlatif yang tidak sekadar berarti indah didengar; melainkan bermakna bahwa setiap nama tersebut adalah gambaran yang paling tepat dan paling sempurna untuk Dzat yang dinamainya. Nama yang diberikan orang asing kepada bayi yang baru lahir adalah sebuah tebakan yang dibalut sebagai deskripsi. Sebaliknya, nama yang Allah sematkan untuk diri-Nya adalah kebalikannya: sebuah kabar dari satu-satunya sumber yang memiliki akses mutlak terhadap apa yang digambarkan-Nya.
Itulah sebabnya perintah dalam ayat tersebut berbunyi fad’uhu biha—“maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut (nama-nama) itu”—bukan sekadar “ketahuilah” atau “bacalah”. Nama-nama itu ada untuk digunakan dalam menyeru, bukan sekadar disimpan sebagai informasi.
Sebuah Bantahan yang Dijawab Langsung oleh Al-Qur’an
Orang-orang pertama yang mendengar Al-Qur’an telah memiliki pola pikir yang membuat perintah ini lebih sulit diterima daripada kedengarannya saat ini. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru Allah menggunakan nama Ar-Rahman dalam doanya, beberapa orang Makkah yang mendengarnya melayangkan protes karena beliau seolah-olah sedang menyeru dua entitas yang berbeda—menyebut “Allah” pada satu tarikan napas, lalu menyebut “Ar-Rahman” pada tarikan napas berikutnya. Jawaban Al-Qur’an atas kebingungan tersebut sangat lugas, bahkan bisa menjadi definisi tentang apa sebenarnya nama ilahi itu:
قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ … “Katakanlah: ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik).’ …”
— Surah Al-Isra’, 17:110
Nama-nama yang berbeda, untuk Dzat yang satu. Inilah fondasi dari segalanya: setiap nama dalam tradisi ini, berapapun jumlah yang akhirnya dihitung, adalah sudut pandang yang berbeda terhadap satu hakikat yang sama, bukan hakikat yang berbeda—sebuah cara untuk menyeru Dzat yang sama, yang pada ayat pertama tadi disebut dengan jelas: Allah.
Sembilan Puluh Sembilan, dan Makna Sebenarnya dari Menghitungnya
Hadis yang paling sering dikutip mengenai topik ini menyebutkan jumlah nama yang spesifik, beserta ganjaran khusus bagi mereka yang mengamalkannya:
إِنَّ لِلهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama—seratus kurang satu. Barang siapa yang memeliharanya (menghafal dan memahaminya), niscaya ia masuk surga.”
— Shahih Bukhari, hadis 2736, edisi cetak halaman 3/198 dari kitab .
Sangat mudah untuk menafsirkan angka tersebut sebagai batas maksimal, seolah-olah Allah hanya memiliki tepat sembilan puluh sembilan nama dan tidak lebih. Imam An-Nawawi mencatat bahwa para ulama sama sekali tidak memahaminya seperti itu:
فَلَيْسَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ أَسْمَاءٌ غَيْرَ هَذِهِ التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ، وَإِنَّمَا مَقْصُودُ الْحَدِيثِ أَنَّ هَذِهِ التِّسْعَةَ وَالتِّسْعِينَ مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، فَالْمُرَادُ الْإِخْبَارُ عَنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ بِإِحْصَائِهَا لَا الْإِخْبَارِ بِحَصْرِ الْأَسْمَاءِ. “Bukanlah maknanya bahwa Dia tidak memiliki nama-nama lain selain yang sembilan puluh sembilan ini. Maksud dari hadis ini hanyalah: barang siapa yang memelihara sembilan puluh sembilan nama ini, ia akan masuk surga. Yang dimaksud adalah kabar tentang masuk surga dengan memeliharanya—bukan kabar yang membatasi jumlah nama-nama tersebut.”
— An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, edisi cetak halaman 17/5 dari kitab .
Angka tersebut adalah sebuah ambang batas, bukan jumlah keseluruhan. Beberapa baris sebelumnya pada bagian yang sama, An-Nawawi mencatat bahwa para ulama bahkan berbeda pendapat mengenai apa yang disyaratkan dari kata “memelihara” (ahshaha): beliau mencatat bahwa Al-Bukhari dan ulama muhaqqiq lainnya memaknainya sebagai hafizhaha—menjaga atau menghafalnya—merujuk pada redaksi riwayat lain dari hadis yang sama yang secara gamblang menyebutkan “barang siapa yang menghafalnya”. Ulama lain memaknai ahshaha secara lebih harfiah, yakni “menghitungnya”. Perbedaan pendapat ini penting karena menunjukkan bahwa kata tersebut tidak pernah dianggap bisa dipahami begitu saja. Melafalkan sembilan puluh sembilan kata secara berurutan, dan melakukan apa yang sebenarnya diminta oleh hadis tersebut dari seseorang, tidak dianggap sebagai tugas yang sama—dan para mufasir terdahulu telah menyadari celah di antara keduanya berabad-abad sebelum pembaca modern menyadarinya.
Nama yang Menuntut Sesuatu dari Anda
Jika memelihara sebuah nama berarti lebih dari sekadar melafalkannya, lalu apa yang mengisi celah tersebut? Al-Qur’an memberikan jawabannya sendiri dengan menyematkan salah satu nama tersebut di dalam sebuah perintah hukum biasa, alih-alih dalam daftar bacaan zikir, yang mana hal ini sendiri sudah memberikan pelajaran:
… وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا “…dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
— Surah An-Nisa’, 4:1
Ar-Raqib, Yang Maha Mengawasi, tidak muncul di sini sebagai bagian dari daftar untuk sekadar dikagumi. Nama ini muncul sebagai alasan mengapa perilaku tertentu—menghormati hak-hak yang saling diminta oleh sesama manusia, menjaga tali silaturahmi—bukanlah sebuah pilihan, bahkan ketika tidak ada saksi manusia yang hadir. Nama tersebut bekerja sebagai sebuah argumen: karena Dia Maha Mengawasi, alasan untuk memutuskan hubungan kerabat atau mengingkari janji yang dibuat secara diam-diam menjadi gugur, karena pada hakikatnya tidak pernah ada momen yang benar-benar tersembunyi.
Itulah perbedaan antara melafalkan sebuah nama dan memeliharanya. Seseorang bisa saja mengucapkan “Ar-Raqib” seratus kali tanpa sekalipun mengevaluasi perilakunya sendiri berdasarkan nama tersebut. Ahshaha, dalam pengertian yang sebenarnya digunakan oleh para mufasir terdahulu, menuntut lebih dari sekadar pelafalan yang benar—ia menuntut agar hakikat yang digambarkan oleh nama tersebut tecermin dalam cara seseorang berperilaku saat tidak ada yang melihat. Sebuah nama benar-benar dipelihara pada saat nama itu mulai menjadi alasan di balik sebuah pilihan, bukan sekadar menjadi penghias doa.
Mengapa Perintahnya Adalah Menyeru, Bukan Sekadar Mempelajari
Itulah sebabnya ayat pertama yang dikutip di sini tidak berhenti pada sekadar menyebutkan nama-nama itu—ayat tersebut secara spesifik memerintahkan orang-orang beriman untuk menyeru Allah dengannya. Sebuah katalog sifat, jika dibiarkan tak terpakai, hanya akan menjadi teologi yang sebatas pengetahuan umum. Jika digunakan sebagaimana mestinya, nama-nama tersebut menjadi kosakata nyata dalam permohonan seseorang: orang yang mencari ampunan memiliki nama yang tepat untuk diseru yang mewakili sifat tersebut; orang yang sedang kesulitan memiliki nama yang lain; orang yang ketakutan memiliki nama yang lain lagi. Perintah pada ayat pembuka bukanlah “hafalkan daftar ini”—melainkan “gunakan daftar ini untuk berbicara,” karena seorang hamba yang telah mempelajari nama mana yang menjawab kebutuhan yang mana, telah mempelajari sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh hafalan semata: bagaimana meminta hal yang tepat, dari sifat yang tepat dari Dzat yang dimintai.
Itulah gambaran utuh dari makna menjadikan nama-nama ilahi sebagai subjek yang layak dipelajari seumur hidup, bukan sekadar daftar yang bisa dihafal dalam satu sore. Sembilan puluh sembilan bukanlah batas maksimal dari siapa Allah itu. Angka tersebut adalah jumlah pintu yang dikabarkan terbuka bagi generasi terdahulu, dengan undangan yang jelas untuk menggunakan setiap pintu tersebut—bukan sekadar berdiri di luar dan menghitungnya.
Lanjutkan
Names of Allah
Terkait
Names of Allah Pergi dengan Perut Kosong, Pulang dalam Keadaan Kenyang: Apa yang Al-Wakil Minta dari Hamba yang Bertawakal Kepada-Nya Seekor burung tidak menunggu makanannya datang di dalam sarang; ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang — perumpamaan dari Nabi untuk sebuah tawakal yang diiringi ikhtiar. Al-Wakil, nama bagi Zat tempat segala urusan pada akhirnya diserahkan, tidak meminta hamba-Nya untuk berhenti melangkah, berencana, atau bekerja. Nama ini justru mempertanyakan di mana keyakinan itu diletakkan setelah semua rencana dan usaha telah ditunaikan. Names of Allah Al-Ḥalīm: Kekuatan yang Memilih untuk Tidak Menghukum Al-Ḥalīm, Yang Maha Penyantun, menggambarkan kekuatan yang menahan hukuman meski memiliki hak penuh untuk menjatuhkannya. Al-Qur'an menyebutkan nama ini hanya bersanding dengan pengetahuan atau ampunan, tidak pernah dengan ketidaktahuan — sebuah pasangan nama yang menuntut sesuatu yang spesifik dari siapa pun yang mengaku mengimaninya. Names of Allah Mengapa al-Kabir dan al-Azim Tidak Pernah Disebutkan Berdampingan Al-Kabir (Yang Maha Besar) dan al-Azim (Yang Maha Agung) hampir selalu disebut sebagai pasangan yang serasi — namun Al-Qur'an sendiri tidak pernah sekalipun menyandingkan kedua nama tersebut. Keduanya justru dipasangkan dengan nama ketiga, al-Aliyy (Yang Maha Tinggi), dalam ayat-ayat yang memiliki pola serupa. Tulisan ini menelusuri makna di balik penyandingan tersebut, serta apa yang dituntutnya dari seorang hamba yang bersujud di hadapan-Nya.
