Quran Gallery Blog · Artikel
Pergi dengan Perut Kosong, Pulang dalam Keadaan Kenyang: Apa yang Al-Wakil Minta dari Hamba yang Bertawakal Kepada-Nya
Seekor burung tidak menunggu makanannya datang di dalam sarang; ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang — perumpamaan dari Nabi untuk sebuah tawakal yang diiringi ikhtiar. Al-Wakil, nama bagi Zat tempat segala urusan pada akhirnya diserahkan, tidak meminta hamba-Nya untuk berhenti melangkah, berencana, atau bekerja. Nama ini justru mempertanyakan di mana keyakinan itu diletakkan setelah semua rencana dan usaha telah ditunaikan.
Baca 7 menit2 sumberNames of Allah
Penulis:The Quran Gallery team
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah perumpamaan kepada ʿUmar bin Khaṭṭāb yang merangkum sebuah ajaran utuh. Beliau tidak mendefinisikan tawakal sekadar sebagai perasaan atau kondisi hati yang abstrak. Beliau menunjuk pada seekor burung.
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: ia pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong, dan pulang pada petang hari dalam keadaan kenyang.”
— Sunan al-Tirmidhī, hadis 2344, cetakan halaman 4/166 dari . Al-Tirmidhī sendiri menilai sanad ini sebagai ḥasan ṣaḥīḥ.
Resapi perumpamaan ini perlahan-lahan, dan ia tidak lagi sekadar menenangkan seperti kesan pertamanya. Burung itu tidak diberi makan di dalam sarangnya. Ia tidak dijamin akan kenyang hanya dengan bertawakal sambil berdiam diri. Ia harus pergi — dalam keadaan lapar, rentan, tanpa cadangan makanan — dan barulah ia bisa pulang dalam keadaan kenyang. Tawakal, dalam pemahaman ini, bukanlah kebalikan dari ikhtiar. Tawakal adalah bagaimana seharusnya sebuah ikhtiar terasa ketika hasil akhirnya telah diserahkan kepada pihak lain. Sayap-sayap itu tetap harus dikepakkan.
Makna Menjadikan Seseorang sebagai Wakil
Wakil adalah kata yang lumrah sebelum ia menjadi Nama Ilahi. Dalam bahasa Arab sehari-hari, seorang wakil adalah orang yang Anda tunjuk untuk bertindak mewakili Anda dalam suatu urusan yang tidak bisa, atau tidak seharusnya, Anda tangani sendiri — seorang agen yang menggantikan posisi Anda, dipercaya untuk mengurus kepentingan Anda, dan diberi wewenang untuk mengambil keputusan atas nama Anda. Menjadikan seseorang sebagai wakil bukanlah sekadar perasaan percaya yang pasif terhadap mereka. Ini adalah sebuah penyerahan yang disengaja dan spesifik: urusan ini sekarang menjadi tanggung jawabmu.
Dalam pengertian itulah Allah adalah Al-Wakil, dan Al-Qur’an membingkainya sebagai sebuah perintah, bukan sekadar deskripsi:
رَّبُّ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذْهُ وَكِيلًا “(Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung (Wakil).”
— Surah al-Muzzammil, 73:9
Kata kerjanya adalah fattakhidz-hu — jadikanlah Dia — dan ini ditujukan kepada seorang hamba yang baru saja diingatkan bahwa Tuhan yang sama ini menguasai setiap titik di ufuk tempat matahari terbit maupun terbenam. Skala kepemilikan sebesar itu sebenarnya tidak membutuhkan perintah tambahan. Kendali Allah atas timur dan barat sudah mutlak, terlepas dari apakah ada yang menjadikan-Nya wakil atau tidak. Perintah untuk “menjadikan-Nya sebagai Wakil” bukanlah untuk memberi tahu hamba tentang sebuah fakta; perintah ini meminta hamba untuk melakukan sesuatu dengan fakta tersebut — untuk benar-benar menyerahkan urusannya, alih-alih diam-diam terus mengelolanya sendirian sambil secara prinsip setuju bahwa Allah-lah yang berkuasa.
Pesan Seorang Ayah di Depan Gerbang
Tidak ada bagian dalam Al-Qur’an yang menunjukkan praktik penyerahan urusan ini dengan lebih gamblang selain kisah Yaʿqūb saat mengutus putra-putranya kembali ke Mesir. Ia telah kehilangan satu putra karena sesuatu yang, dari luar, tampak seperti musibah biasa. Kini ia mengirim putra-putranya yang lain ke negeri yang menahan saudara mereka yang belum hilang. Ia memberi mereka instruksi taktis yang spesifik sebelum mereka berangkat, dan mengakhiri kalimat yang sama dengan makna yang sama sekali berbeda.
وَقَالَ يَـٰبَنِىَّ لَا تَدْخُلُوا۟ مِنۢ بَابٍ وَٰحِدٍ وَٱدْخُلُوا۟ مِنْ أَبْوَٰبٍ مُّتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَآ أُغْنِى عَنكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍ ۖ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُتَوَكِّلُونَ “Dan dia berkata, ‘Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang; masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda. Namun, aku tidak dapat menghindarkan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah — keputusan itu hanyalah milik Allah. Kepada-Nya aku bertawakal, dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.‘”
— Surah Yūsuf, 12:67
Perhatikan apa yang tidak dilakukan oleh Yaʿqūb. Ia tidak menyuruh putra-putranya untuk mengabaikan kehati-hatian dengan dalih bahwa Allah pasti akan melindungi mereka. Ia memberikan tindakan pencegahan terlebih dahulu — masuklah secara terpisah, jangan tampil sebagai satu kelompok yang mencolok — dan baru setelah itu ia menyatakan, dalam tarikan napas yang sama, bahwa instruksi itu sendiri tidak ada artinya di hadapan ketetapan Allah. Ini bukanlah sebuah kontradiksi yang luput dari perhatiannya. Ini adalah wujud utuh dari tawakal yang ditunjukkan oleh seorang ayah yang tidak bisa berhenti menjadi ayah, bahkan ketika ia menyerahkan hasil akhir yang paling ia takuti. Memilih gerbang adalah bagian dari ikhtiarnya. Namun, apa yang menanti di balik gerbang itu bukanlah kuasanya untuk mengatur, dan ia menyatakannya secara terang-terangan alih-alih berpura-pura bahwa rencananya telah menyelesaikan segalanya.
Satu Kalimat, Dua Situasi yang Jauh Berbeda
Al-Qur’an merekam apa yang dilakukan kaum Ibrāhīm kepadanya setelah argumennya mematahkan argumen mereka dan kesabaran mereka atas kekalahan itu habis.
قَالُوا۟ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓا۟ ءَالِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَـٰعِلِينَ قُلْنَا يَـٰنَارُ كُونِى بَرْدًا وَسَلَـٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ وَأَرَادُوا۟ بِهِۦ كَيْدًا فَجَعَلْنَـٰهُمُ ٱلْأَخْسَرِينَ “Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.’ Kami berfirman, ‘Wahai api, jadilah dingin dan penyelamat bagi Ibrāhīm.’ Mereka bermaksud berbuat makar kepadanya, lalu Kami jadikan mereka orang-orang yang paling rugi.”
— Surah al-Anbiyāʾ, 21:68–70
Dalam ayat ini, Al-Qur’an tidak merekam sepatah kata pun dari lisan Ibrāhīm sendiri. Detail tersebut datang dari Ibnu ʿAbbās, dalam sebuah riwayat yang melakukan sesuatu yang luar biasa: riwayat ini melintasi rentang waktu sekitar dua ribu tahun dan sebuah ketapel raksasa untuk menghubungkan keheningan Ibrāhīm dengan kalimat yang diucapkan lantang oleh orang-orang beriman setelah salah satu hari terburuk dalam hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
﴿حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾ قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا: ﴿إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾ “‘Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung’ — Ibrāhīm ‘alaihis salam mengucapkannya ketika ia dilemparkan ke dalam api, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya ketika mereka diberi tahu, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ maka perkataan itu malah menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.‘”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 4563, cetakan halaman 6/38 dari .
Bandingkan kedua momen tersebut secara berdampingan, dan perbedaannya akan terasa lebih menonjol daripada persamaannya. Ibrāhīm tidak memiliki pasukan, tidak ada lagi ruang negosiasi yang tersisa baginya, dan tidak ada gerbang yang bisa dipilih — ia telah dirantai dan dilontarkan ke arah api sebelum kata-kata apa pun bisa mengubah keadaan. Bertawakal kepada Al-Wakil, baginya, adalah satu-satunya hal yang tersisa setelah semua ikhtiar direnggut darinya. Sebaliknya, orang-orang beriman pasca-Perang Uḥud berada dalam posisi yang hampir bertolak belakang. Terluka, baru saja menguburkan tujuh puluh saudara mereka, dan diperingatkan bahwa serangan kedua sedang diorganisir untuk melawan mereka, mereka masih memiliki berbagai pilihan di depan mata — termasuk pilihan yang sangat masuk akal untuk tetap tinggal di rumah dan memulihkan diri. Mengucapkan “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung” tidak mengosongkan tangan mereka dari pilihan sebagaimana yang dialami Ibrāhīm. Dan Al-Qur’an memberi tahu kita apa dampak dari kalimat tersebut: kalimat itu “menambah keimanan mereka,” dan dengan kekuatan dari keimanan yang bertambah itu, mereka berangkat dan menghadapi musuh keesokan harinya.
Dengan kata lain, kalimat yang sama ini tidak menggambarkan satu sikap yang tunggal. Diucapkan oleh seorang pria yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi, kalimat itu adalah satu-satunya hal yang tersisa untuk diucapkan. Diucapkan oleh pasukan yang masih memiliki banyak hal untuk dilakukan, kalimat itu menjadi alasan mengapa perjuangan terus berlanjut. Al-Wakil bukanlah nama yang hanya dikhususkan untuk momen ketika semua pilihan telah habis; nama ini hadir dengan cara yang sama persis, baik ketika pilihan sudah tidak ada maupun ketika pilihan masih terbentang di depan Anda. Sebab, apa yang diatur oleh nama ini bukanlah tentang seberapa banyak pilihan yang ada. Nama ini selalu berkaitan dengan hasil akhir — bagian dari takdir yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh rencana apa pun, seberapa pun matangnya rencana itu disusun.
Bagian yang Memang Bukan Tugas Anda untuk Menyelesaikannya
Jajarkan burung, sang ayah, dan dua sosok yang mengucapkan kalimat yang sama dalam keadaan yang sama sekali berbeda, maka sebuah benang merah akan terlihat. Tak satu pun dari mereka disuruh untuk berhenti berikhtiar. Burung itu tetap meninggalkan sarangnya. Yaʿqūb tetap memberikan instruksi taktis tentang gerbang mana yang harus dilalui. Orang-orang beriman di Uḥud tetap berbaris maju untuk menghadapi musuh yang, menurut perhitungan logis mana pun, telah mengalahkan mereka sebelumnya. Tawakal dalam setiap kasus ini berada di hilir dari sebuah tindakan, bukan sebagai penggantinya — tawakal adalah tempat di mana keyakinan seseorang dijaga setelah ikhtiar dilakukan semaksimal mungkin.
Itulah kedisiplinan yang sebenarnya diminta oleh Al-Wakil, dan ini lebih sulit daripada dua sikap keliru yang sering disalahartikan sebagai tawakal. Tawakal bukanlah kepasifan yang dibungkus dengan dalih kesalehan, menolak untuk melangkah menuju gerbang sama sekali karena merasa “Allah pasti akan memberi rezeki bagaimanapun juga.” Tidak ada satu pun dari contoh Yaʿqūb, atau burung tersebut, yang mendukung pemahaman itu; keduanya tetap bergerak. Tawakal juga bukan kesalahan yang sebaliknya — menggenggam erat hasil akhir seolah-olah rencana itu sendiri cukup kuat untuk menjaminnya, melupakan bahwa keputusan mutlak hanyalah milik Allah bahkan setelah setiap gerbang dipilih dengan benar. Al-Wakil berada tepat di antara keduanya, meminta bagian yang terbatas dan seukuran kemampuan manusia — melangkah, terbang, berbaris maju — dan meminta agar sisanya, bagian yang memang sejak awal bukan tugas hamba untuk menyelesaikannya, diserahkan sepenuhnya alih-alih dipendam sendiri.
Burung yang menolak meninggalkan sarang, menunggu Al-Wakil mengantarkan makanannya tanpa ia harus berusaha, belum memahami nama yang ia pikir sedang ia percayai. Ia sekadar memilih untuk kelaparan dengan kosakata yang lebih indah. Burung yang pergi — dengan perut kosong, tidak pasti apa yang akan dibawa oleh petang hari, namun tetap berserah diri — itulah burung yang sebenarnya digambarkan oleh Nabi.
Lanjutkan
Names of Allah
Terkait
Names of Allah Al-Ḥalīm: Kekuatan yang Memilih untuk Tidak Menghukum Al-Ḥalīm, Yang Maha Penyantun, menggambarkan kekuatan yang menahan hukuman meski memiliki hak penuh untuk menjatuhkannya. Al-Qur'an menyebutkan nama ini hanya bersanding dengan pengetahuan atau ampunan, tidak pernah dengan ketidaktahuan — sebuah pasangan nama yang menuntut sesuatu yang spesifik dari siapa pun yang mengaku mengimaninya. Names of Allah Mengapa al-Kabir dan al-Azim Tidak Pernah Disebutkan Berdampingan Al-Kabir (Yang Maha Besar) dan al-Azim (Yang Maha Agung) hampir selalu disebut sebagai pasangan yang serasi — namun Al-Qur'an sendiri tidak pernah sekalipun menyandingkan kedua nama tersebut. Keduanya justru dipasangkan dengan nama ketiga, al-Aliyy (Yang Maha Tinggi), dalam ayat-ayat yang memiliki pola serupa. Tulisan ini menelusuri makna di balik penyandingan tersebut, serta apa yang dituntutnya dari seorang hamba yang bersujud di hadapan-Nya. Names of Allah Serulah Dia dengan Nama-Nama Itu: Makna di Balik Nama-Nama yang Allah Sematkan untuk Diri-Nya Nama yang diberikan orang tua kepada bayi yang baru lahir menggambarkan sosok yang belum benar-benar mereka kenal. Nama-nama Allah adalah kebalikannya—sebuah penyingkapan diri dari Dzat yang Maha Mengetahui tentang diri-Nya—dan Al-Qur'an memerintahkan orang beriman untuk menyeru-Nya dengan nama-nama tersebut. Inilah makna di balik perintah itu, jauh melampaui sekadar menghafal daftar sembilan puluh sembilan kata.
