Quran Gallery Koleksi
Reflecting on the Ayat of Hajj
4 esai tentang satu tema, sesuai urutan yang ditetapkan seri.
4 esai
Reflecting on the Ayat of Hajj Panggilan Ibrahim yang Terus Anda Jawab Ribuan tahun sebelum ada satu pun jemaah haji yang tiba di Makkah, seorang pria diperintahkan untuk menyeru seluruh penduduk bumi ke sebuah rumah yang berdiri sendirian di lembah yang sunyi. Sebuah renungan tentang apa yang diminta oleh ayat-ayat Haji dalam Al-Qur'an dari seorang pembaca yang belum pernah pergi ke sana sama sekali — tentang panggilan itu, Baitullah, dan tawakal seorang ibu yang terasing, yang semuanya masih tegak berdiri persis seperti saat pertama kali ditinggalkan. Reflecting on the Ayat of Hajj Sebaik-baik Bekal: Ayat-ayat Haji dalam Surah al-Baqarah, 2:196–203 Delapan ayat dalam Surah al-Baqarah tentang haji diawali dengan perintah untuk menyempurnakan ibadah tersebut karena Allah dan diakhiri dengan pengingat bahwa setiap orang yang menunaikannya akan dikumpulkan di hadapan-Nya. Menelusuri bagian ini secara berurutan—mulai dari larangan-larangan, perniagaan yang dulunya keliru dihindari, pergerakan dari 'Arafah, hingga dua jenis pemohon—menunjukkan bahwa takwa, dan bukan sekadar urusan teknis ibadah, adalah satu-satunya hal yang benar-benar dibawa pulang. Reflecting on the Ayat of Hajj Rumah Tua yang Disebut Dua Kali: Makna di Balik Bingkai Sembilan Ayat Surah al-Hajj Dua kata yang identik — "Rumah Tua" (Baitul 'Atiq) — membuka dan menutup sebuah bingkai yang rapat di dalam Surah al-Hajj, ayat 29 hingga 33. Di dalam bingkai tersebut terdapat perbandingan yang mengejutkan pada pembacaan pertama: perkataan dusta disandingkan dengan penyembahan berhala, dan pengagungan itu sendiri didefinisikan sebagai amalan hati, bukan sekadar ganjaran yang datang belakangan. Reflecting on the Ayat of Hajj Bukan Daging, Bukan Pula Darah: Makna Kurban Menurut Surah al-Hajj Empat ayat dalam Surah al-Hajj beranjak dari syariat yang dilakukan oleh setiap umat menuju salah satu pernyataan Al-Qur'an yang paling lugas tentang niat: daging dan darah hewan kurban tidak akan pernah sampai kepada Allah, melainkan takwa di balik amal tersebut. Jika disandingkan dengan tiga hadis tentang bagaimana kurban sebenarnya dilaksanakan, bagian ini tidak sekadar terasa seperti panduan ritual, melainkan sebuah penegasan makna di baliknya.
