Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Umrah Dimulai Sebelum Keberangkatan: Mempersiapkan Hati untuk Perjalanan

Haji memaksa hati seorang jemaah untuk bersiap melalui keterbatasan: satu musim dalam setahun, menabung bertahun-tahun, dan wasiat yang ditulis sebelum berangkat. Umrah bisa dipesan untuk hari Kamis dan diulangi bulan depan, sehingga tidak ada gesekan semacam itu — yang berarti kesiapan yang sama harus dihadirkan secara sengaja, bahkan sebelum tiket dipesan.

Baca 6 menit2 sumberUmrahBagian 1 dari 5

Penulis:The Quran Gallery team

Seorang jemaah yang hendak berangkat haji dihadapkan pada serangkaian penantian panjang bahkan sebelum perjalanannya dimulai. Hanya ada satu musim dalam setahun di mana ibadah ini bisa ditunaikan, sehingga kalender itu sendiri memaksa kita untuk bersabar. Bagi kebanyakan orang, ada rencana tabungan yang diukur dalam hitungan tahun, bukan minggu. Dan karena tidak ada yang bisa memastikan apakah umur akan sampai, seorang jemaah yang bijak akan menulis wasiat sebelum berangkat — sebuah tindakan yang secara diam-diam memaksa hati untuk merenungkan kematiannya sendiri berbulan-bulan sebelum pesawat lepas landas.

Umrah tidak menuntut hal-hal semacam itu. Tidak ada bulan yang ditetapkan secara khusus. Umrah bisa diputuskan pada hari Selasa dan dilaksanakan pada hari Kamis, di minggu mana pun dan tahun berapa pun yang sesuai bagi jemaahnya. Seseorang yang tinggal satu jam dari Makkah bisa berjalan masuk ke Masjidil Haram malam ini juga; seseorang yang terbang untuk urusan bisnis bisa menambah tiga hari di akhir perjalanannya dan langsung pergi dari bandara. Ibadah ini bisa diulang — bulan ini, bulan depan, atau belasan kali dalam setahun bagi mereka yang pintunya senantiasa terbuka. Kemudahan itu adalah sebuah rahmat: Allah tidak mengunci ibadah ini di balik keterbatasan. Namun, bentuk rahmat yang satu ini menghilangkan sesuatu yang didapatkan oleh haji secara tidak sengaja. Sebuah kewajiban seumur hidup sekali, yang tiba setelah bertahun-tahun dinantikan, dengan sendirinya menata sebagian dari hati kita semata-mata karena kelangkaannya. Umrah, justru karena tidak membutuhkan banyak waktu penantian, tidak melakukan penataan hati itu untuk Anda. Jika hati ini memang ingin melakukan perjalanan, seseorang harus memutuskannya — secara sengaja, bahkan sebelum tiket dipesan — karena tidak ada satu pun dari perjalanan itu sendiri yang akan memaksanya.

Penggugur Dosa yang Diciptakan untuk Diulang

Renungkanlah apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pengulangan ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Satu umrah ke umrah berikutnya adalah penebus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain Surga.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 1683, halaman cetak 2/629 dari .

Ini bukanlah pernyataan umum tentang ibadah yang menghapus dosa; ini adalah hadis yang secara khusus ditujukan untuk sesuatu yang bisa diulang. Haji mendapatkan satu kalimat tentang balasan puncaknya, karena bagi kebanyakan orang, ibadah ini hanya dilakukan sekali seumur hidup. Sebaliknya, umrah mendapatkan sebuah mekanisme — satu perjalanan ke perjalanan berikutnya, yang masing-masing diharapkan membersihkan apa yang menumpuk sejak perjalanan terakhir. Namun, mekanisme semacam itu mengasumsikan bahwa sebuah perjalanan yang sesungguhnya telah terjadi: ada sebelum dan sesudah, ada hati yang membawa sesuatu ke dalam dan meletakkannya. Jika gangguan yang sama, kelalaian yang sama, dan minggu-minggu tanpa muhasabah yang sama sekadar keluar lagi persis seperti saat ia masuk, maka jadwal perjalanan itu hanya berulang tanpa ada sesuatu pun yang benar-benar ditebus dalam makna yang digambarkan oleh hadis ini. Sifat berulang yang menjadikan umrah sebagai penggugur dosa adalah sifat berulang yang sama yang menjadikannya mudah dilakukan tanpa menuntut pengorbanan hati sedikit pun.

Pengagungan yang Harus Sudah Ada Sejak Awal

Allah menyebutkan, dalam satu baris ayat tentang syiar-syiar yang ada pada haji dan umrah, dari mana sebenarnya pengagungan yang sejati itu berasal:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَـٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”

Sūrat al-Ḥajj, 22:32

Sya’a’ir — simbol-simbol, syiar-syiar — adalah tawaf, sai, dan berdiri di hadapan Zamzam: arsitektur lahiriah yang ada pada kedua perjalanan tersebut. Ayat ini bisa saja menggambarkan gerakan lahiriah sebagai sesuatu yang menghasilkan pengagungan di dalam hati. Namun, ayat ini justru mengatakan sebaliknya. Pengagungan terhadap syiar digambarkan berasal dari takwa yang sudah bersemayam di dalam hati — tindakan lahiriah adalah bukti dari kondisi batiniah, bukan metode untuk menciptakannya. Bandingkan hal ini dengan seorang jemaah yang berencana untuk “merasakannya” nanti setelah mereka tiba di Kakbah, dan ayat ini telah menjawabnya: pengagungan apa pun yang tampak pada tubuh saat berada di Baitullah, entah itu sudah bersemayam di dalam hati sebelum keberangkatan, atau itu sebenarnya bukanlah pengagungan sama sekali — melainkan sekadar pertunjukan.

Hatilah yang Sebenarnya Harus Melakukan Perjalanan

An-Nu’man bin Basyir meriwayatkan bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup sebuah penjelasan panjang tentang batasan antara yang halal dan yang haram dengan sebuah penegasan tentang apa yang mendasari setiap tindakan yang dilakukan seseorang:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ. ألا وهي القلب

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging: jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”

— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 1599, halaman cetak 3/1219 dari .

Jika diterapkan pada sebuah perjalanan, hal ini lebih mendekati makna harfiah daripada kiasan. Sebuah tubuh bisa dipindahkan oleh maskapai penerbangan tanpa memedulikan bagaimana kondisi hatinya — petugas check-in tidak akan menanyakannya. Namun, hadis ini menggambarkan sebuah hierarki, bukan sekadar majas: hatilah yang mengatur apakah segala sesuatu yang dilakukan tubuh setelahnya itu baik atau tidak. Seorang jemaah yang hatinya tidak pernah benar-benar meninggalkan rumah — masih terbelit pertengkaran minggu lalu, masih memikirkan masalah pekerjaan, atau sekadar hampa — telah membeli tiket pesawat dan berpindah lokasi tanpa benar-benar pergi ke mana pun yang diakui oleh hadis ini sebagai sebuah perjalanan. Visa, ihram, jadwal perjalanan: semuanya adalah transportasi yang diatur untuk sesuatu yang seharusnya sudah bergerak bahkan sebelum semuanya dipesan. Jika hati belum berangkat, pesawat itu hanya memindahkan sebuah tubuh, bukan seorang musafir.

Melakukan Secara Sengaja Apa yang Biasanya Dilakukan Haji untuk Anda

Semua ini bukanlah alasan untuk membuat umrah menjadi lebih sulit dijangkau daripada yang telah Allah tetapkan. Ini adalah argumen untuk menghadirkan, secara sengaja, apa yang biasanya dihadirkan secara tidak sengaja oleh perjalanan yang lebih berat. Pada hari-hari sebelum keberangkatan — bukan di bandara, bukan di dalam taksi menuju Masjidil Haram — duduklah sejenak dan renungkan mengapa perjalanan ini terjadi sekarang. Bukan alasan praktisnya (minggu yang kosong, persinggahan, atau undangan), melainkan alasan yang sebenarnya: siapa yang akan Anda temui, dan perubahan apa yang Anda harapkan terjadi pada diri Anda karenanya. Mintalah secara khusus kepada Allah agar diberikan hati yang tidak akan mengembara saat berdiri di depan Baitullah, alih-alih hanya meminta perjalanan yang aman dan kemudahan visa — kedua permintaan ini tidaklah sama, dan hanya satu di antaranya yang menjawab apa yang dibahas dalam artikel ini. Dan biarkan keberangkatan itu sendiri menjadi sebuah jeda kecil sebagaimana mestinya, bahkan ketika tidak ada satu pun dari logistiknya yang membuatnya terasa demikian: sebuah jeda yang disengaja antara urusan-urusan yang Anda tinggalkan dan Baitullah yang Anda tuju, alih-alih sekadar gerbang keberangkatan yang diselipkan di antara dua hari yang sama persis.

Pengagungan yang Tidak Dipaksakan oleh Siapa Pun

Bobot dari ibadah haji, dalam arti tertentu, diberikan kepada jemaah secara cuma-cuma — dihadirkan oleh kelangkaannya, oleh kalender, oleh wasiat yang harus ditulis karena perjalanan itu mungkin tidak akan berakhir dengan kepulangan. Bobot dari ibadah umrah, ketika ia benar-benar nyata, tidaklah diberikan begitu saja. Ia harus dihadirkan, secara sengaja, oleh seseorang yang bisa saja berjalan masuk ke Masjidil Haram dengan hati yang sama persis seperti saat ia keluar dari sana sebelumnya, namun memilih untuk tidak melakukannya. Pada akhirnya, itulah alasan mengapa kita harus melakukan upaya ini: sebuah ibadah yang tidak mendesak tidak berarti berhak mendapatkan keseriusan yang lebih rendah daripada ibadah yang mendesak, dan seorang jemaah yang mempersiapkan hatinya untuk umrah — di mana tidak ada keadaan yang memaksanya untuk melakukan itu — telah menghasilkan sesuatu yang tidak bisa diklaim oleh keadaan mana pun. Pengagungan yang memancar dari hati yang telah dipersiapkan, alih-alih dari tubuh yang masih berharap bisa mengejar ketertinggalan dari perjalanan yang telah dilakukannya.

Lanjutkan

Umrah · Bagian 1 dari 5

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.