Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Di Bawah Sayap Malaikat: Argumen Kenabian tentang Menjaga Tanah yang Diberkahi

Sebuah hadis yang berlatar di suatu sore biasa saat pengumpulan Al-Qur'an menyatakan adanya tanah tertentu yang dijaga oleh para malaikat — dan hadis penyertanya menilai tindakan menjaga tanah semacam itu secara fisik lebih tinggi daripada segala isi dunia. Jika dibaca bersamaan, keduanya menggambarkan keberkahan yang tidak pernah dimaksudkan untuk berjalan satu arah saja.

Baca 6 menit2 sumberVirtues of Al-Aqsa

Penulis:The Quran Gallery team

Zaid bin Tsabit mengingat momen itu dengan sangat jelas justru karena betapa biasanya suasana saat itu. Ia dan para sahabat lainnya sedang duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, melakukan tugas pencatatan—mengumpulkan Al-Qur’an dari serpihan-serpihan tempat ia ditulis: potongan kulit, batu pipih, pelepah kurma, apa saja yang bisa ditulisi tangan. Tidak ada hal yang dramatis dalam tugas itu, yang ada hanyalah kehati-hatian. Lalu, di tengah-tengah pekerjaan tersebut, tanpa ada yang bertanya dan tanpa ada ayat yang sedang dibahas, Nabi menyampaikan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan lembaran-lembaran di hadapan mereka.

Penting untuk memperjelas proyek mana yang sedang dikerjakan ini. Zaid kelak menjadi orang yang dipercaya oleh Abu Bakar dan kemudian Utsman untuk menyusun Al-Qur’an menjadi satu mushaf rujukan setelah wafatnya Nabi—sebuah kompilasi yang sering dimaksudkan orang ketika menggunakan kata tersebut. Apa yang ia gambarkan di sini terjadi lebih awal, saat Nabi masih hidup, dan cakupannya lebih kecil: menyusun apa yang telah diwahyukan ke atas bahan tulisan apa pun yang ada, sebuah catatan kerja alih-alih salinan akhir. Perbedaan ini menjadi penting hanya karena apa yang diungkapkannya tentang momen itu sendiri. Tak seorang pun di ruangan itu yang sedang memikirkan geografi. Mereka sedang mengurus dokumen. Komentar tentang sebuah provinsi yang jauh itu muncul begitu saja tanpa dipancing, tidak terkait dengan percakapan apa pun sebelumnya.

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُؤَلَّفُ الْقُرْآنَ مِنَ الرِّقَاعِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طُوبَى لِلشَّامِ، فَقُلْنَا: لِأَيِّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لِأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا

“Kami sedang bersama Rasulullah, menyusun Al-Qur’an dari tulisan-tulisan yang berserakan, ketika Rasulullah bersabda: ‘Ṭūbā bagi Syam.’ Kami bertanya, ‘Mengapa demikian, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Karena malaikat Yang Maha Pengasih telah membentangkan sayap-sayap mereka di atasnya.‘”

— Sunan al-Tirmidhī, hadis 4298, halaman cetak 6/436 dari . Para penyunting edisi ini menilai riwayat tersebut ṣaḥīḥ, diperkuat melalui dua jalur lain yang terpelihara dalam Musnad dan Ṣaḥīḥ karya Ibn Ḥibbān.

Ṭūbā bukanlah kata yang mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Para ahli bahasa menelusuri akarnya pada kebaikan yang mencapai bentuk paling sempurnanya—makna praktis yang paling mendekati berada di antara “keberkahan” dan “betapa indahnya kelak”. Kata ini bukanlah gambaran tentang kenyamanan saat ini, melainkan sebuah ketetapan. Dan alasan yang diberikan Nabi untuk ketetapan tersebut lebih tak terduga daripada ketetapan itu sendiri. Beliau tidak menunjuk pada tanahnya yang subur, iklimnya yang sejuk, atau kekuatan kota-kotanya. Beliau menunjuk pada sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun di ruangan itu: para malaikat, dengan sayap terbentang, menaungi tanah tersebut.

Mulla ‘Ali al-Qari menjelaskan gambaran sayap yang terbentang itu sebagai perlindungan aktif—sebuah naungan yang dibentangkan di atas tanah tersebut beserta penduduknya untuk menangkal kekufuran, bukan sekadar kiasan pemanis. Penjelasan al-Munawi melangkah lebih jauh, menafsirkan tindakan tersebut sebagai perlindungan yang terus-menerus: sayap itu mendekap tanah tersebut, menolak bala dan bahaya yang turun. Kedua penafsiran ini bermuara pada pemahaman yang sama: sayap-sayap itu sedang bekerja. Ada sesuatu yang sedang dihalau.

Sudut pandang ini penting, karena Al-Qur’an telah membuat pernyataan terkait tentang hamparan bumi yang sama berabad-abad sebelum Zaid bin Tsabit duduk dengan serpihan-serpihan perkamennya. Saat mengisahkan penyelamatan Ibrahim dan Luth, Al-Qur’an menyebutkan tujuan mereka dalam satu tarikan napas dengan penyelamatan mereka:

وَنَجَّيْنَـٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَـٰرَكْنَا فِيهَا لِلْعَـٰلَمِينَ

“Dan Kami selamatkan dia dan Luth ke tanah yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.”

— Sūrat al-Anbiyāʼ, 21:71

Kedua teks ini terpisah oleh seluruh masa hidup seorang Nabi dan menggambarkan dua hal yang berbeda—yang satu adalah penyelamatan bersejarah, yang lainnya adalah penjagaan malaikat yang terus berlangsung—tetapi keduanya bermuara pada wilayah yang sama dan menggunakan kosakata keberkahan yang hampir serupa. Jika dibaca berdampingan, keduanya menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan oleh satu ayat atau satu hadis saja: apa pun yang dimaksud dengan menyebut tanah ini diberkahi, hal itu tidak pernah dimaksudkan sebagai atribut tersembunyi yang tetap berlaku terlepas dari ada tidaknya orang yang menyadarinya. Tanah itu disebutkan namanya, dan tanah itu dijaga.

Namun, tradisi kenabian ini tidak membiarkan penjagaan itu hanya dilakukan oleh para malaikat. Dalam kitab-kitab yang sama yang meriwayatkan hadis ini, riwayat kedua membebankan tugas serupa kepada mukmin mana pun yang kebetulan berdiri di tapal batas tanah semacam ini—dan menilai tugas tersebut dengan bahasa yang terlalu lugas untuk diperhalus:

رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللهِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا، وَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا، وَالرَّوْحَةُ يَرُوحُهَا الْعَبْدُ فِي سَبِيلِ اللهِ أَوِ الْغَدْوَةُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

“Satu hari melakukan ribāṭ di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Tempat sebesar cambuk salah seorang dari kalian di Surga lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Dan perjalanan pagi atau petang yang dilakukan seorang hamba di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan segala isinya.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 2892, halaman cetak 4/35 dari .

Ribāṭ memiliki akar kata yang sama dengan kata untuk mengikat atau menambatkan—rābiṭah adalah tiang pengikat. Kata ini pada awalnya tidak bermakna kepahlawanan; melainkan berarti tetap terikat pada suatu tempat, khususnya daerah perbatasan, selama tempat itu perlu dijaga. Apa yang dilaporkan Sahl bin Sa’ad dari sabda Nabi bukanlah satu perbandingan melainkan tiga, yang masing-masing lebih kecil dari sebelumnya: waktu satu hari penuh, lalu sepetak ruang yang tak lebih lebar dari sebuah cambuk, kemudian perjalanan kaki yang biasanya Anda lakukan tanpa berpikir panjang. Masing-masing dari hal ini, jika disandingkan dengan dunia dan segala isinya, ternyata jauh lebih unggul. Hadis ini tidak sedang berargumen bahwa menjaga perbatasan adalah sesuatu yang dramatis. Ia justru berargumen sebaliknya—bahwa bahkan unit terkecilnya yang paling minim peristiwa sekalipun, bobotnya melampaui segala hal lain yang bisa dikumpulkan seseorang seumur hidupnya.

Al-Bukhari menempatkan riwayat ini di bawah Kitab Jihad dan Ekspedisi Militer, dalam sebuah bab yang ia beri judul sederhana “Keutamaan Satu Hari Ribāṭ di Jalan Allah.” Penempatan tersebut mudah disalahpahami. Hadis ini berada di antara riwayat-riwayat tentang pengerahan pasukan dan pertempuran, sehingga sangat menggoda untuk menganggap keseluruhan hadis ini sebagai retorika masa perang—sebuah insentif bagi prajurit, yang ditujukan kepada mereka yang sudah berada di medan laga. Namun, tidak ada satu pun di dalam riwayat tersebut yang mensyaratkan harus adanya pertempuran yang sedang berlangsung. Satu hari yang dihabiskan di perbatasan, berjaga-jaga, itulah yang mendapatkan perbandingan tersebut; tidak disebutkan apakah hari itu melibatkan sebilah pedang yang terhunus. Judul bab tersebut memberi tahu kita di mana para penyusun kitab menganggap hadis ini berada dalam peta agama. Judul itu tidak mengatakan bahwa pahala tersebut hanya menanti mereka yang bertempur.

Sandingkan kedua hadis tersebut dan sebuah pemahaman akan terbentuk, sesuatu yang tidak diungkapkan oleh masing-masing hadis secara terpisah. Yang satu menggambarkan sayap-sayap yang terbentang dari atas, menaungi tanah yang tidak ditempatkan oleh tangan manusia. Yang lainnya menggambarkan kewajiban dari bawah, dinilai dalam satuan yang tidak akan disalahartikan oleh siapa pun sebagai tindakan heroik yang besar—satu hari, sepanjang cambuk, sebuah perjalanan kaki. Tak satu pun dari hadis ini menganggap wilayah hadis yang lain sudah tertangani. Para malaikat tidak digambarkan sebagai pengganti bagi siapa pun yang berjaga, dan pahala untuk berjaga tidak berkurang hanya karena para malaikat telah disebutkan melakukan hal serupa dari atas.

Keseimbangan ini lebih sulit untuk diterima dibandingkan jika kita hanya mengambil salah satu bagiannya saja. Akan lebih sederhana jika tradisi ini mengatakan bahwa tanah itu aman karena dijaga oleh malaikat, titik—tidak ada lagi yang perlu dilakukan oleh siapa pun di bumi selain memercayai riwayat tersebut dan melanjutkan hidup. Akan lebih sederhana juga, dari sudut pandang yang berbeda, jika pahala untuk ribāṭ dibingkai sebagai kompensasi atas bahaya yang tidak ditangani oleh malaikat. Kedua hadis ini menolak kedua penyederhanaan tersebut. Keduanya menggambarkan tanah yang sama dari dua sudut pandang yang tidak saling membutuhkan izin untuk menjadi benar pada saat yang bersamaan, dan keduanya membuat seseorang yang berdiri di tanah tersebut tidak memiliki alasan yang sah untuk menghindari tugas yang kedua dengan berdalih pada tugas yang pertama.

Tanah yang diberkahi, dalam pembacaan ini, bukanlah tempat yang bisa menjaga dirinya sendiri setelah ia diberi nama demikian. Ia adalah tempat yang dijaga dari dua arah sekaligus, dan hanya satu dari arah tersebut yang disisakan untuk kita penuhi.

Lanjutkan

Virtues of Al-Aqsa

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.