Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Tanah yang Diberkahi: Kesucian al-Aqsha dalam Al-Qur'an dan Perjalanan Isra

Al-Qur'an menyebut tanah di sekitar Masjidil Aqsha sebagai tempat yang diberkahi dalam empat kisah berbeda yang terpaut jarak berabad-abad, jauh sebelum Nabi menginjakkan kaki di sana pada malam Isra. Membaca keempat ayat tersebut secara bersamaan, ditambah dengan hadis tentang keraguan kaum Quraisy dan enam belas bulan umat Islam salat menghadap tanah tersebut, membuktikan bahwa kesuciannya telah ditetapkan dalam wahyu dan diamalkan dalam ibadah jauh sebelum ada yang perlu memperdebatkannya.

Baca 6 menit2 sumberVirtues of Al-Aqsa

Penulis:The Quran Gallery team

Ketika kaum kafir Quraisy mendengar bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaku telah melakukan perjalanan ke Baitulmaqdis dan kembali dalam satu malam, mereka tidak memintanya untuk membuktikan sebuah mukjizat. Mereka justru memintanya untuk menggambarkan sebuah bangunan yang sebagian besar dari mereka belum pernah melihatnya, dengan keyakinan bahwa beliau pasti tidak bisa menjawabnya. Namun, beliau berhasil menjawabnya, dan cara beliau menceritakan momen tersebut di kemudian hari menyiratkan sesuatu yang patut kita renungkan — bukan tentang perdebatan yang berhasil beliau menangkan, melainkan tentang tanah yang menjadi pusat perdebatan tersebut.

لَمَّا كَذَّبَنِي قُرَيْشٌ، قُمْتُ فِي الْحِجْرِ، فَجَلَا اللَّهُ لِي بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَطَفِقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَيْهِ

“Ketika kaum Quraisy mendustakanku, aku berdiri di Hijr (Ismail), lalu Allah menampakkan Bayt al-Maqdis di hadapanku, sehingga aku mulai menceritakan ciri-cirinya kepada mereka sambil menatap langsung ke arahnya.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 3673, halaman cetak 3/1409 dari .

Hijr adalah tembok rendah melengkung di sisi utara Ka’bah — saat itu Nabi berdiri di dalam kawasan suci di Makkah, ratusan mil jauhnya dari Baitulmaqdis, dan Allah menampakkan kota itu kepadanya agar beliau bisa menjawab pertanyaan mereka secara rinci. Ini adalah peristiwa yang menakjubkan, tetapi sebenarnya ini hanyalah bagian akhir dari sebuah kisah panjang. Pada saat Quraisy menuntut bukti, kesucian tanah tersebut telah lama dideklarasikan — tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, dan jauh sebelum malam bersejarah ini terjadi.

Ketetapan yang Ada Sebelum Perjalanan Isra

Ayat pembuka Sūrat al-Isrāʾ adalah ayat yang paling banyak diketahui orang, karena ayat inilah yang menyebutkan peristiwa perjalanan malam (Isra) itu sendiri:

سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari al-Masjid al-Ḥarām ke al-Masjid al-Aqṣā yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

— Sūrat al-Isrāʾ, 17:1

Bacalah ayat ini perlahan, dan kita akan mendapati bahwa ayat ini menyampaikan dua hal sekaligus. Ayat ini menyebutkan sebuah tujuan, dan pada saat yang sama menggambarkan bahwa tujuan tersebut telah diberkahi — “yang telah Kami berkahi sekelilingnya” adalah bentuk lampau, bukan sebuah janji yang baru muncul karena perjalanan tersebut. Perjalanan Isra tidak lantas membuat al-Aqsha menjadi suci. Perjalanan itu justru menuju ke sebuah tempat yang memang sudah dianggap suci oleh ayat tersebut, ibarat seorang musafir yang diutus ke sebuah kota yang dalam kalimat yang sama disebut sebagai kota bersejarah, tanpa menyiratkan bahwa kota itu menjadi bersejarah hanya karena dikunjungi oleh seseorang.

Perbedaan ini sangat penting, karena ini berarti kesucian tanah tersebut bukanlah sebuah klaim yang hanya bersandar pada satu malam yang dramatis. Ini adalah ketetapan yang disampaikan Al-Qur’an di beberapa tempat yang berbeda, tentang beberapa orang yang berbeda, dan terpaut jarak berabad-abad.

Kata yang Sama, Diulang Tiga Kali

Dalam kisah Ibrāhīm dan keponakannya Lūṭ ‘alaihimas salam, Al-Qur’an menggambarkan penyelamatan mereka dari negeri yang memusuhi mereka dengan bahasa yang hampir identik dengan ungkapan yang digunakan untuk al-Aqsha:

وَنَجَّيْنَـٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَـٰرَكْنَا فِيهَا لِلْعَـٰلَمِينَ

“Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.”

— Sūrat al-Anbiyāʾ, 21:71

Kata yang digunakan kembali adalah bāraknā — “Kami berkahi” — yang disematkan pada hamparan tanah yang sama, kali ini sebagai tempat berlindung bagi dua orang Nabi, bukan sebagai tempat tujuan bagi Nabi yang lain. Beberapa surah kemudian, kata yang sama digunakan untuk menggambarkan kota-kota di suatu wilayah, dalam kisah kaum Sabaʾ. Perjalanan mereka yang nyaman di antara permukiman-permukiman yang tertata rapi itu sendiri dianggap sebagai sebuah rahmat yang kemudian mereka sia-siakan:

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ ٱلْقُرَى ٱلَّتِى بَـٰرَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَـٰهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا ٱلسَّيْرَ ۖ سِيرُوا۟ فِيهَا لَيَالِىَ وَأَيَّامًا ءَامِنِينَ

“Dan Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan jarak perjalanan di antaranya: ‘Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman.‘”

— Sūrat Sabaʾ, 34:18

Dan ketika Mūsā ‘alaihissalam berbicara langsung kepada Bani Israil, perintah yang disampaikannya menyebut tanah yang sama dengan sebutan yang berbeda — kali ini bukan diberkahi, melainkan suci:

يَـٰقَوْمِ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْأَرْضَ ٱلْمُقَدَّسَةَ ٱلَّتِى كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا۟ عَلَىٰٓ أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا۟ خَـٰسِرِينَ

“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang-orang yang rugi.”

— Sūrat al-Māʾidah, 5:21

Empat ayat, empat Nabi yang berbeda, empat momen yang berbeda dalam narasi Al-Qur’an — Muhammad diperjalankan ke sana pada malam hari, Ibrāhīm dan Lūṭ diselamatkan ke sana dari penindasan, seluruh umat diperintahkan untuk memasukinya, dan seluruh wilayah dijadikan contoh keberkahan yang bisa hilang akibat kelalaian. Keempatnya tidak saling mengutip atau bergantung satu sama lain. Kesamaan yang mereka miliki adalah sebuah deskripsi yang terus berulang dengan sendirinya, dalam kisah-kisah yang tidak memiliki kesamaan lain, tentang hamparan bumi yang sama. Satu ayat mungkin saja sekadar gaya bahasa. Namun, empat ayat di empat narasi yang berbeda adalah sebuah pola yang sengaja terus diulang oleh Al-Qur’an.

Klaim yang Diragukan, Lalu Diamalkan

Pola itulah yang menjadi latar belakang dari hadis Bukhārī di atas. Ketika kaum Quraisy menuntut agar Nabi menggambarkan sebuah kota yang mustahil beliau lihat hanya dalam satu malam, mereka sebenarnya tidak sedang memperdebatkan sebuah lokasi — mereka meragukan apakah perjalanan itu benar-benar terjadi. Jawaban Allah, yang menampakkan Bayt al-Maqdis dengan sangat jelas sehingga beliau bisa menjawab setiap pertanyaan tentang ciri-cirinya, menyelesaikan perdebatan tersebut dengan syarat yang diajukan oleh Quraisy sendiri: penglihatan, bukan dalil kitab suci. Namun, perhatikan apa yang tidak perlu dilakukan oleh peristiwa ini. Peristiwa ini tidak perlu membuktikan bahwa tanah tersebut adalah tempat yang penting — Al-Qur’an telah menyatakannya, lebih dari sekali, di tempat-tempat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perdebatan ini. Hadis tersebut menjawab tantangan tentang perjalanannya. Sementara ayat-ayat Al-Qur’an telah menjawab pertanyaan yang lebih mendalam tentang tujuannya.

Tanda paling nyata bahwa generasi awal umat Islam memahaminya dengan cara seperti ini bukanlah dari pernyataan seseorang tentang tanah tersebut — melainkan dari apa yang mereka lakukan dengan tubuh mereka, lima kali sehari, selama lebih dari setahun. Al-Barāʾ bin ʿĀzib, salah seorang sahabat Nabi, menggambarkannya dalam satu kalimat sederhana:

صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا، أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا. شَكَّ سُفْيَانُ وَصُرِفَ إِلَى الْقِبْلَةِ

“Kami salat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah Bayt al-Maqdis selama enam belas bulan, atau tujuh belas bulan — Sufyān ragu — dan kemudian kami dialihkan menghadap ke arah Kiblat.”

— Sunan al-Nasāʾī, hadis 488, halaman cetak 1/242 dari .

Enam belas atau tujuh belas bulan bukanlah sekadar isyarat simbolis. Itu adalah waktu yang lebih dari setahun untuk setiap salat wajib, bagi setiap mukmin di Madinah, yang secara fisik menghadap ke sebuah kota yang sebagian besar dari mereka juga belum pernah melihatnya, sebelum akhirnya turun perintah untuk menghadap ke Ka’bah. Sebuah umat tidak mungkin mengarahkan ibadahnya ke sebidang tanah secara kebetulan, dan mereka tidak akan mempertahankan arah tersebut selama satu setengah tahun hanya bermodalkan pengalaman pribadi satu orang. Mereka mempertahankannya karena tanah tersebut telah disebutkan — di dalam Kitab yang mereka baca, yang menggambarkan kota-kota, tempat berlindung, dan “Tanah Suci” jauh sebelum mereka dilahirkan — sebagai tempat yang layak untuk dijadikan arah menghadap.

Urutan inilah yang patut kita pegang teguh: bukan perjalanan lalu kesucian, melainkan kesucian, lalu perjalanan, kemudian lebih dari setahun ibadah salat yang memperlakukan kesucian itu sebagai sesuatu yang sudah mutlak. Sebuah tanah yang disebut diberkahi empat kali dalam empat kisah yang tidak saling berkaitan, lalu dibuktikan kepada orang-orang yang ragu melalui penglihatan langsung, kemudian dijadikan arah salat oleh seluruh umat selama lebih dari satu musim haji berlalu — itu bukanlah sebuah status yang bergantung pada siapa yang pernah mengunjunginya sekali, atau pada siapa yang memenangkan perdebatan tentangnya. Kesucian itu telah ditetapkan dalam firman Al-Qur’an itu sendiri sebelum perdebatan dimulai, dan terus melekat dalam raga orang-orang yang salat menghadap ke arahnya jauh setelah perdebatan itu usai.

Lanjutkan

Virtues of Al-Aqsa

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.