Quran Gallery Blog · Artikel
Tazkiyatun Nafs: Upaya Membersihkan Hati
Al-Qur'an menyandarkan kesucian jiwa pada orang yang menyucikannya — namun doa pribadi Nabi memohon agar Allah yang melakukan hal tersebut. Jika dibaca bersamaan dengan hadis tentang sekecil apa pun benih kesombongan dan hadis tentang permusuhan antara dua mukmin, kedua teks ini menggambarkan penyucian jiwa sebagai upaya yang diusahakan oleh manusia namun pada akhirnya hanya bisa diselesaikan oleh Allah.
Baca 6 menit3 sumber
Penulis:The Quran Gallery team
Surah Asy-Syams menyampaikan pesannya melalui sumpah, bukan argumen. Sebelas kali surah ini bersumpah — demi matahari, bulan, siang yang menampakkannya, malam yang menutupinya, langit, dan bumi — sebelum akhirnya menyebutkan tujuan dari semua sumpah tersebut:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا “Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)nya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya — sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang memendamnya.”
— Surah Asy-Syams, 91:7–10.
Dua kata kerja penutup ini patut kita renungkan. Zakkāhā — “menyucikannya” — dan dassāhā, yang tidak sekadar berarti “merusaknya”. Akar katanya adalah kata yang digunakan untuk mengubur sesuatu di dalam tanah, menyembunyikannya dari pandangan. Jiwa yang merugi tidak digambarkan sebagai jiwa yang hancur. Ia digambarkan sebagai jiwa yang dikubur hidup-hidup, masih ada, masih mampu, hanya saja tidak pernah dibiarkan keluar. Kedua kata kerja ini memiliki bentuk tata bahasa yang sama: seseorang, melakukan sesuatu, terhadap jiwanya. Al-Qur’an tidak menggambarkan penyucian jiwa sebagai sekadar suasana hati yang hinggap pada diri seseorang. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai sebuah proyek yang bisa dipilih untuk dikerjakan atau justru ditinggalkan oleh seseorang.
Doa yang Memohon Apa yang Baru Saja Disandarkan Ayat Kepada Manusia
Jika ayat tersebut benar — jika orang yang menyucikan jiwalah yang beruntung — maka catatan tentang apa yang sebenarnya didoakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam patut dibaca dengan saksama, karena beliau tidak berdoa seolah-olah pekerjaan itu bisa diselesaikannya sendiri. Zaid bin Arqam, salah satu sahabat beliau, melaporkan serangkaian doa pribadi yang cukup sering diulang oleh Nabi sehingga Zaid merasa mampu untuk mengajarkannya, bukan sekadar meriwayatkannya:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا “Ya Allah, karuniakanlah ketakwaan pada jiwaku, dan sucikanlah ia — Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya, Engkaulah pelindung dan pemiliknya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 2722, halaman cetak 4/2088 dari . Sebuah catatan yang dicetak bersama edisi ini menunjukkan bahwa kata “khayr” di sini bukanlah bentuk komparatif (perbandingan) — Nabi tidak sedang mengatakan bahwa Allah adalah penyuci yang paling baik di antara beberapa pihak yang bisa melakukannya. Maknanya lebih dekat kepada: tidak ada yang bisa menyucikan jiwa selain Engkau.
Sandingkan kedua teks tersebut dan ketegangan yang tampak di antara keduanya akan terurai, bukan malah meruncing. Surah Asy-Syams menyandarkan keberuntungan pada “orang yang menyucikannya”; sementara doa Nabi sendiri menegaskan bahwa hanya Allah yang benar-benar menyucikan. Keduanya benar karena menyebutkan dua sisi berbeda dari satu tindakan yang sama. Ayat tersebut menyebutkan pihak yang berbalik, meraih, dan meminta. Sedangkan doa tersebut menyebutkan pihak yang melakukan pembersihan sesungguhnya setelah hamba tersebut berbalik kepada-Nya. Tazkiyah bukanlah pencapaian pribadi yang diraih seseorang sendirian, dan bukan pula sesuatu yang terjadi pada orang yang pasif. Ia adalah sebuah permohonan yang harus diajukan seseorang, berulang kali, dengan diiringi usahanya sendiri.
Perhatikan juga betapa spesifiknya permohonan tersebut. Nabi tidak meminta, secara umum, untuk menjadi manusia yang lebih baik. Beliau secara spesifik menyebutkan hati yang tidak khusyuk dan jiwa yang tidak pernah puas — catatan pada edisi tersebut menafsirkan frasa kedua sebagai permohonan perlindungan dari keserakahan, ambisi tanpa batas, dan diri yang terus meraih apa yang jauh di sana alih-alih mensyukuri apa yang sudah ada. Berdasarkan bukti ini, penyucian jiwa bukanlah sekadar suasana hati. Ia memiliki kondisi-kondisi kegagalan yang jelas. Dua di antaranya muncul dalam hadis-hadis berikutnya yang patut kita baca.
Beban yang Langsung Mendiskualifikasi Hati
Kondisi kegagalan pertama yang disebutkan Nabi — hati yang tidak khusyuk — memiliki sebuah hadis yang hampir seluruhnya membahas hal tersebut, dan perhitungan matematis dalam hadis itu sengaja dibuat tidak seimbang. Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan hal ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 91, halaman cetak 1/93 dari .
Seorang pria di majelis tersebut menyanggah, dan hadis ini mempertahankan keberatannya alih-alih menghapusnya: ia suka pakaiannya terlihat bagus dan sandalnya tampak indah — apakah itu kesombongan? Jawaban Nabi tidak melunakkan hukum tersebut. Beliau memindahkan letaknya. Allah itu indah, kata beliau, dan menyukai keindahan; bukan itu yang dimaksud dengan kibr (kesombongan). Kibr adalah baṭar al-ḥaqq wa ghamṭ al-nās — menolak kebenaran, dan meremehkan manusia.
Definisi tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam dari kelihatannya. Definisi ini menjauhkan kesombongan dari apa pun yang dipakai atau dimiliki seseorang dan meletakkannya tepat di tempat doa sebelumnya menaruh perhatiannya — pada hati, dan secara spesifik pada apa yang dilakukan hati ketika ia ditegur. Baṭar al-ḥaqq bukanlah sekadar tidak setuju dengan sebuah fakta. Ia adalah refleks menolak kebenaran karena menerimanya akan menuntut sebuah pengorbanan. Hati yang memiliki refleks semacam itu, dalam arti yang paling gamblang, adalah “hati yang tidak khusyuk” — hal yang secara khusus dimintakan perlindungannya oleh Nabi dalam doa pribadi beliau. Ketidakseimbangan dalam hadis tersebut — satu titik kecil dari sesuatu, ditimbang dengan keseluruhan Surga — bukanlah teks yang melebih-lebihkan keburukan kecil. Teks ini justru menegaskan bahwa jejak terkecil dari hati yang tidak mau diperbaiki sudah menjadi akar dari seluruh masalah, karena hati yang tidak mau diperbaiki adalah hati yang telah menutup rapat pintu yang harus dilalui oleh tazkiyah.
Permusuhan yang Sama, Diperiksa Dua Kali Seminggu
Kondisi kegagalan kedua — jiwa yang tidak pernah puas — memiliki kaitan yang jelas dengan rasa iri dan keinginan. Namun ada hadis kedua, tentang kondisi hati yang berkaitan namun berbeda, yang menunjukkan betapa seriusnya tradisi Islam memandang urusan seseorang dengan orang lain, bukan hanya hasrat mereka terhadap apa yang dimiliki orang lain. Abu Hurairah meriwayatkannya:
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: انْظُرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun akan diampuni — kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Dikatakan: tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 2565, halaman cetak 4/1987 dari . Perintah untuk menangguhkan kedua orang tersebut diulang tiga kali dalam redaksi hadis itu sendiri.
Apa yang digambarkan hadis ini bukanlah sebuah hukuman; melainkan sebuah penangguhan. Catatan amal semua orang diproses pada hari itu. Dua orang yang menyimpan syaḥnāʾ (permusuhan) satu sama lain tidaklah divonis — mereka ditahan, tidak diperiksa, sampai perdamaian terjadi. Ini adalah gambaran kecil, berulang, dan hampir bersifat administratif dari sesuatu yang Al-Qur’an sampaikan tentang pemeriksaan yang jauh lebih besar yang akan datang, ketika Surah Asy-Syu’ara’ memperingatkan bahwa pada Hari itu “harta dan anak-anak tidak akan berguna — kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ “(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
— Surah Asy-Syu’ara’, 26:88–89.
Qalbun salīm, hati yang bersih, tidak didefinisikan dalam ayat tersebut berdasarkan apa yang dimilikinya. Ia didefinisikan berdasarkan apa yang tidak dibawanya. Hadis mingguan tentang hari Senin dan Kamis pada dasarnya adalah gladi resik kecil dari standar yang sama — diadakan dua kali seminggu, selama permusuhan itu masih ada, sampai ia dilepaskan.
Bacalah keempat teks tersebut sebagai satu kesatuan argumen, bukan empat riwayat terpisah, maka sebuah gambaran utuh akan muncul. Al-Qur’an menyandarkan penyucian jiwa pada orang yang melakukannya, dan menyebut penguburan sebagai kegagalannya — sesuatu yang dibiarkan terpendam di dalam tanah alih-alih dikeluarkan. Doa Nabi sendiri memohon kepada Allah untuk melakukan penyucian yang baru saja disandarkan kepadanya, karena upaya untuk berbalik dan kuasa untuk benar-benar membersihkan bukanlah hal yang sama. Dan dua kondisi yang secara spesifik disebutkan dalam doanya — hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas — ternyata memiliki hadisnya masing-masing: satu hadis yang tidak akan membiarkan jejak terkecil dari hati yang keras kepala masuk ke Surga, dan satu hadis yang menahan permusuhan yang belum selesai di luar ampunan mingguan sampai ia diselesaikan. Tak satu pun dari keempat teks tersebut menggambarkan tazkiyah sebagai perasaan yang harus ditumbuhkan. Masing-masing menggambarkannya sebagai sesuatu yang cukup spesifik untuk disebutkan, dan — dua kali seminggu, jika hadis tentang Senin dan Kamis bermakna sebagaimana yang tertulis — cukup spesifik untuk diperiksa.
Terkait
Artikel Tumbuh dalam Cinta kepada Allah: Apa yang Mendekatkan Hati, dan Apa Buahnya Mencintai Allah bukanlah sekadar perasaan yang ada atau tidak ada pada diri Anda — ia ditumbuhkan melalui amalan-amalan khusus dan dikenali dari buahnya. Enam hal yang membangun cinta tersebut, dan tiga hal yang dihasilkannya di dalam hati. Artikel Mencintai Allah: Bagaimana Hati Mengetahui Cintanya Nyata Mencintai Allah bukanlah sekadar perasaan pribadi yang diyakini begitu saja — Al-Qur'an menyebutkannya, menggambarkannya sebagai sesuatu yang berbalas, dan memberikan satu tolok ukur pasti untuk membedakan pengakuan cinta yang sejati dari yang palsu. Artikel Kehidupan yang Baik: Apa yang Allah Janjikan bagi Mereka yang Hidup Bersama-Nya Satu ayat dalam Surah al-Nahl menyebutkan kehidupan yang baik sebagai balasan atas keimanan dan amal saleh — dan ayat pasangannya dalam Surah Taha menyebutkan nasib sebaliknya bagi mereka yang berpaling. Kedua ayat tersebut sama sekali tidak menyinggung soal uang, kesehatan, atau kemudahan hidup. Inilah makna sebenarnya dari janji tersebut, dan apa yang berubah pada keseharian orang yang meraihnya.
