Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Kehidupan yang Baik: Apa yang Allah Janjikan bagi Mereka yang Hidup Bersama-Nya

Satu ayat dalam Surah al-Nahl menyebutkan kehidupan yang baik sebagai balasan atas keimanan dan amal saleh — dan ayat pasangannya dalam Surah Taha menyebutkan nasib sebaliknya bagi mereka yang berpaling. Kedua ayat tersebut sama sekali tidak menyinggung soal uang, kesehatan, atau kemudahan hidup. Inilah makna sebenarnya dari janji tersebut, dan apa yang berubah pada keseharian orang yang meraihnya.

Baca 8 menit3 sumber

Penulis:The Quran Gallery team

Dua orang bisa saja memiliki pekerjaan yang sama, tinggal di jalan yang sama, dan berpenghasilan sama, namun Al-Qur’an tetap menggambarkan salah satu dari mereka menjalani kehidupan yang baik, sementara yang lain menjalani kehidupan yang sempit dan menyesakkan. Perbedaannya sama sekali tidak berkaitan dengan harta yang mereka miliki. Surah al-Nahl menyatakan janji ini dalam satu ayat, dan hanya menyertakan dua syarat untuk meraihnya — tidak lebih:

مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Surah al-Nahl, 16:97

Janji ini memiliki dua syarat, dan hanya dua

Ayat ini menyebutkan kedua jenis kelamin karena suatu alasan: untuk menutup celah pandangan di sebagian rumah tangga yang menganggap amal kebaikan perempuan bernilai lebih rendah daripada laki-laki. Di sini, nilai keduanya sama persis. Namun, jika penegasan tersebut disisihkan sejenak, yang tersisa adalah dua hal yang benar-benar menentukan hasilnya — īmān, keyakinan yang teguh kepada Allah, bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan tanpa pemahaman; dan ʿamal ṣāliḥ, perbuatan yang benar-benar saleh, bukan sekadar perbuatan yang dirasa baik. Tak satu pun dari kedua syarat ini menyinggung soal pendapatan, kesehatan, kebangsaan, kecerdasan, atau keadaan. Ketiadaan hal-hal tersebut justru menjadi inti dari argumen berikut: jika tak satu pun dari hal-hal itu disebutkan dalam ayat ini, maka tak satu pun dari hal-hal itu yang dijanjikan oleh ayat tersebut.

Kemudahan hidup bukanlah yang dijanjikan

Bacalah rangkaian ujian berikutnya yang Al-Qur’an tetapkan bagi orang-orang yang diserunya, dan akan menjadi jelas bahwa kehidupan yang mulus tanpa rintangan tidak pernah dijanjikan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Surah al-Baqarah, 2:155

Rasa takut, lapar, dan kehilangan disebutkan sebagai hal-hal yang harus diantisipasi oleh seorang mukmin, bukan sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan keimanannya. Jadi, tolok ukur yang sebenarnya digunakan oleh Al-Qur’an bukanlah kehidupan yang nyaman versus kehidupan yang sulit. Pasti ada hal lain, dan Surah Taha menyebutkannya secara langsung, dalam ayat yang berfungsi sebagai cerminan dari janji di Surah al-Nahl:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Surah Taha, 20:124

Kata “sempit” (ḍankā) menggambarkan sebuah lorong yang terlalu sesak untuk dilewati dengan leluasa — sebuah kehidupan yang terus menghimpit, tak peduli seberapa banyak ruang yang berusaha dibeli oleh pemiliknya. Orang yang dihukum dengan kehidupan seperti ini akan memprotes ketika ia dibangkitkan dalam keadaan buta:

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”

Surah Taha, 20:125

قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَـٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.”

Surah Taha, 20:126

Perhatikan apa yang memicu hukuman tersebut: berpaling dari peringatan (mengingat Allah), bukan kemiskinan, dan bukan pula kesulitan hidup. Allah memberikan kekayaan dan kenyamanan kepada orang-orang yang sama sekali tidak pernah mengingat-Nya — hal ini sangat jelas terlihat tanpa perlu dalil ayat untuk membuktikannya — sehingga kehidupan yang mudah secara materi tidak mungkin menjadi balasan yang digambarkan oleh Surah al-Nahl, dan kehidupan yang sulit secara materi tidak mungkin menjadi hukuman yang digambarkan oleh Surah Taha. Dua orang bisa saja memiliki saldo rekening yang sama persis. Kehidupan yang satu terasa baik karena hatinya senantiasa tertuju kepada Allah; sementara kehidupan yang lain menyempit seperti lorong sesak karena hatinya berhenti mengingat-Nya, tak peduli seberapa luas rumah tempat ia mengurung diri.

Dua hal yang sebenarnya membentuk kehidupan ini

Jika pendapatan maupun kenyamanan bukanlah penentunya, pasti ada hal lain. Para ulama klasik menafsirkan ḥayāh ṭayyibah (kehidupan yang baik) sebagai dua kondisi batin yang spesifik, bukan kondisi lahiriah.

Yang pertama adalah rasa cukup (qana’ah) — bukan berarti tidak memiliki keinginan, melainkan hilangnya kegelisahan yang terus-menerus mengejar lebih banyak hal tanpa memedulikan apa yang sudah dimiliki. Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menarik garis batas ini dengan sangat tepat, dalam sebuah hadis yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta benda. Akan tetapi, kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.

— Shahih al-Bukhari, halaman cetak 5/2368 dari

Kalimat tersebut bukanlah nasihat untuk menekan keinginan. Itu adalah sebuah definisi: kekayaan yang berada di luar diri seseorang — di dalam rekening, portofolio investasi, atau gudang — tidak pernah sekalipun membuat siapa pun merasa cukup, karena “cukup” bukanlah kuantitas yang bisa dicapai oleh uang. Cukup adalah kondisi yang dimiliki atau tidak dimiliki oleh jiwa, terlepas dari angka yang melekat padanya.

Kondisi yang kedua adalah hati yang tenang, dan Al-Qur’an secara gamblang menyatakan bahwa ketenangan ini hanya memiliki satu penyebab pasti:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Surah al-Ra’d, 13:28

“Tenteram” di sini bukanlah berarti diam tak bergerak — orang tersebut tetap bekerja, tetap bersedih, dan tetap merasa lelah. Tenteram adalah ketiadaan jenis pergerakan tertentu: hati tidak lagi berayun dari satu keterikatan ke keterikatan lainnya untuk mencari pijakan yang kokoh, karena ia telah menemukannya. Gabungkan kedua kondisi ini, maka kehidupan yang baik tidak lagi terdengar seperti sekadar suasana hati, melainkan lebih seperti hasil dari sebuah rancangan yang presisi: jiwa yang mengukur dirinya berdasarkan apa yang benar-benar dimilikinya, bukan pada apa yang belum ada, dan tertambat kuat pada sesuatu yang tidak akan pernah goyah.

Apa yang sebenarnya berubah pada hari-hari biasa

Semua ini tidak hanya sebatas teori, karena kedua kondisi yang sama menghasilkan perbedaan yang nyata dan dapat dirasakan dalam menjalani hari-hari biasa — dimulai dari menit-menit pertama di pagi hari. Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menggambarkan standar dasar yang sebenarnya sudah dipenuhi oleh kebanyakan orang tanpa mereka sadari:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، آمِنًا فِي سِرْبِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kalian bangun pagi dalam keadaan sehat badannya, aman di tempat tinggalnya, dan memiliki makanan untuk hari itu — maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya.

— Sunan Ibnu Majah, halaman cetak 5/253 dari , dinilai hasan berdasarkan kumpulan jalur periwayatannya

Kebanyakan orang bangun tidur dengan memenuhi ketiga kondisi tersebut, namun tetap memulai hari dengan menghitung apa yang tidak mereka miliki, alih-alih mensyukuri apa yang baru saja diberikan kepada mereka. Rasa cukup mengubah tolok ukur itu sendiri: tubuh yang sehat, rumah yang aman, dan makanan yang tersedia tidak lagi sekadar menjadi fakta pelengkap, melainkan mulai dihitung sebagai saldo awal hari itu, bahkan sebelum satu hal pun diraih atau dicapai. Perasaan kekurangan yang dirasakan oleh jiwa yang gelisah pada pagi yang sama persis ini tidaklah berasal dari fakta-fakta pagi itu. Perasaan itu muncul karena mengukur pagi tersebut dengan apa yang belum ada, bukan dengan apa yang sudah di depan mata.

Pergeseran sudut pandang yang sama kembali terlihat ketika hari itu benar-benar membawa dua jenis kabar — sesuatu yang diinginkan, dan sesuatu yang tidak. Syarat īmān dalam Surah al-Nahl memiliki efek yang spesifik dan nyata pada keduanya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Suhaib:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin — semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa keburukan, ia bersabar, dan itu baik baginya.

— Shahih Muslim, halaman cetak 4/2295 dari

Perhatikan bahwa hadis ini tidak mengklaim bahwa keburukan berhenti menjadi sesuatu yang menyakitkan. Tagihan yang tak terduga, vonis penyakit, rencana yang batal — tak satu pun dari hal-hal itu diubah maknanya menjadi kabar baik yang tersembunyi. Yang berubah adalah bahwa tak satu pun dari kedua hasil tersebut dibiarkan mendominasi seluruh cerita: kabar baik menjadi momen untuk bersyukur, bukan untuk merasa bahwa hidup akhirnya berjalan mulus; dan kabar buruk menjadi momen untuk bersabar, bukan sebagai bukti bahwa Allah telah mengabaikan rencana-Nya. Kedua respons tersebut mengarah pada arah yang sama — kembali kepada Allah — yang mana ini adalah wujud nyata dari “peringatan” yang menurut Surah Taha telah diabaikan oleh mereka yang hidupnya sempit. Hari yang dibangun dengan cara seperti ini tidaklah lebih mudah daripada hari orang lain. Hanya saja, hari itu tidak pernah dibiarkan dikendalikan oleh apa pun yang baru saja terjadi.

Cicipan pertama dari balasan yang lebih sempurna

Bacalah kembali ayat dalam Surah al-Nahl tersebut, dan ayat itu terbagi dengan jelas menjadi dua janji, bukan satu. Kehidupan yang baik adalah apa yang dihasilkan oleh keimanan dan amal saleh saat ini, di tengah hari-hari biasa yang masih diwarnai oleh rasa takut, lapar, dan kehilangan, persis seperti yang diperingatkan oleh Surah al-Baqarah. Balasan “dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” adalah apa yang akan dihasilkan oleh amal-amal tersebut kelak, dan ayat ini dengan cermat memisahkan keduanya — kehidupan di dunia ini bukanlah bayaran utamanya, melainkan sekadar cicipan pertama darinya. Seseorang yang bangun tidur dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan, lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang cukup; yang menyambut kabar baik dengan rasa syukur dan kabar buruk dengan kesabaran karena keduanya tetap mengarah kembali kepada Allah — orang tersebut tidak sedang menunggu kehidupan yang baik itu dimulai. Ia sudah menjalani versi kehidupan yang baik yang muat di dalam satu hari biasa, dengan versi yang jauh lebih sempurna masih menantinya di depan.

Surah al-Nahl membentang hingga hampir seratus tiga puluh ayat di sekitar ayat 16:97, dan membacanya secara utuh di pembaca Al-Qur’an Quran Gallery adalah cara tercepat untuk melihat apa yang mengelilingi janji ini — ayat-ayat tentang lebah, tentang madu, tentang sebuah rumah tangga yang dibangun dari ketiadaan, semuanya terhimpun dalam surah yang sama yang menyebutkan dari apa sebenarnya kehidupan yang baik itu terbentuk.

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.