Articles
Tumbuh dalam Cinta kepada Allah: Apa yang Mendekatkan Hati, dan Apa Buahnya
Mencintai Allah bukanlah sekadar perasaan yang ada atau tidak ada pada diri Anda — ia ditumbuhkan melalui amalan-amalan khusus dan dikenali dari buahnya. Enam hal yang membangun cinta tersebut, dan tiga hal yang dihasilkannya di dalam hati.
- Penulis
- Tim Quran Gallery
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Setiap amal yang diridhai Allah, pada tingkat tertentu, adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya — namun Al-Qur’an dan Sunnah menyebutkan amalan-amalan spesifik yang terus-menerus dirujuk oleh para ulama penyucian jiwa. Penjelasan berikut ini digali langsung dari sumber-sumber tersebut, bukan sekadar asumsi: amalan-amalan yang membangun cinta ini, dan apa yang mulai dirasakan oleh hati ketika cinta itu telah bersemi.
Membaca Al-Qur’an dengan cepat tidaklah sama dengan membacanya perlahan hingga kita benar-benar meresapi pesan di dalamnya. Allah menjelaskan tujuan-Nya menurunkan Al-Qur’an dengan firman-Nya:
كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ
”[Ini adalah] sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”
Tadabbur — merenungkan sebuah ayat hingga maknanya tersingkap — disebut di sini sebagai alasan utama mengapa Al-Qur’an diturunkan. Hati yang rutin meluangkan waktu bersamanya berarti sedang meluangkan waktu, setiap hari, untuk disapa langsung oleh Dzat yang sedang ia coba cintai. Jarang ada amalan lain yang menempatkan seorang hamba sedekat itu, dan sesering itu.
Ibadah wajib adalah fondasi, bukan batas akhir. Hal yang mengangkat derajat seorang hamba melampaui batas tersebut adalah apa yang disabdakan oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) tentang firman Allah sendiri, dalam salah satu hadis paling penting mengenai topik ini:
“Allah berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 5/2384 dari , dalam bab tentang kerendahan hati (tawadhu). Amalan wajib adalah pintu gerbang yang memasukkan seorang hamba ke dalam cinta Allah; sedangkan amalan sunnah — shalat tambahan, puasa tambahan, sedekah tambahan, yang dilakukan semata-mata karena amalan tersebut dicintai oleh-Nya — adalah hal yang membawa cinta itu jauh melampaui batas minimalnya. Nafl (amalan sunnah), dalam hadis ini, bukanlah sekadar bonus. Ia adalah mekanismenya.
Zikir bukanlah kategori ibadah terpisah yang berdiri sendiri — ia sejatinya mengalir di bawah setiap amalan lainnya, di lisan, di hati, dan dalam setiap tindakan yang dipilih oleh anggota badan. Allah menjadikannya sebagai sebuah hubungan timbal balik, bukan amalan sepihak:
فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
Seberapa banyak seorang hamba mengingat Allah di tengah kesehariannya adalah tolok ukur yang adil tentang seberapa besar hamba tersebut mencintai-Nya — tidak ada orang yang membiarkan sosok yang dicintainya hilang dari pikiran dalam waktu lama tanpa menyadari kekosongan tersebut.
Merenungkan nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah salah satu jalan untuk lebih mencintai-Nya; merenungkan apa yang telah Dia berikan secara nyata adalah jalan lainnya, dan ini adalah jalan yang bisa dijangkau oleh siapa saja kapan saja, terlepas dari seberapa dalam ilmu agama yang telah mereka pelajari.
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Hati yang benar-benar meresapi hal itu — bahwa setiap tarikan napas, setiap suap makanan, setiap fungsi tubuh yang masih bekerja adalah karunia yang tidak pernah ia usahakan dan tidak akan pernah selesai dihitung — akan sulit untuk tetap dingin terhadap Dzat yang telah memberikan semuanya.
Cinta akan tumbuh atau mati kelaparan tergantung pada apa yang menjadi asupannya, dan lingkungan pergaulan adalah salah satu asupan terkuat yang ada. Mu’adz bin Jabal (radhiyallahu ‘anhu) pernah berkata kepada seorang pria di masjid Damaskus tentang apa yang ia dengar dari Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengenai firman Allah:
“Cinta-Ku pasti diberikan kepada mereka yang saling mencintai karena-Ku, yang duduk bersama karena-Ku, yang saling mengunjungi karena-Ku, dan yang saling memberi karena-Ku.”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 2/953 dari kitab . Mu’adz saat itu baru saja berkata kepada seorang asing, tanpa diminta, “Aku mencintaimu karena Allah” — dan pernyataan tulus itulah, bukan karena proyek bersama atau latar belakang yang sama, yang ternyata membuahkan ganjaran dalam hadis yang kemudian ia kutip. Duduk secara rutin bersama orang-orang yang kehadirannya mengingatkan Anda kepada Allah, alih-alih menjauhkan Anda dari-Nya, secara eksplisit disebut sebagai sarana untuk meraih cinta-Nya — dan menjauhi lingkungan yang melakukan sebaliknya juga disebutkan dengan sama jelasnya.
Menyendiri bersama Allah memiliki waktu khususnya tersendiri. Saat menggambarkan orang-orang beriman yang ketaatannya dipuji oleh Allah, Al-Qur’an menyatakan:
كَانُوا۟ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.”
Tidak ada keramaian pada jam tersebut, tidak ada citra yang harus dijaga, tidak ada lagi siapa pun untuk dipameri. Apa yang diucapkan di sana diucapkan hanya kepada Allah semata, dan itulah tepatnya mengapa waktu ini disebut sebagai salah satu cara paling pasti untuk mendekat kepada-Nya — ini adalah ibadah yang dilucuti dari setiap penonton kecuali Dzat yang menjadi tujuan ibadah itu sendiri.
Cinta kepada Allah tidak hanya diukur dari apa yang dilakukan seorang hamba untuk-Nya — cinta itu mengubah apa yang dirasakan hamba tersebut saat melakukannya. Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menggambarkan perubahan ini secara langsung:
“Tiga hal — barangsiapa memilikinya, maka ia telah merasakan manisnya iman: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada apa pun selain keduanya; bahwa ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah; dan bahwa ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.”
Hadis ini tercatat pada halaman cetak 1/14 dari , dalam Kitab Iman. Ibadah yang dulunya terasa seperti kewajiban yang harus diselesaikan, kini mulai terasa sebagai sesuatu yang justru dinanti-nantikan oleh hati. Pergeseran tersebut — dari sekadar kepatuhan menjadi sebuah kerinduan — adalah salah satu tanda paling jelas bahwa cinta telah mengakar, karena kerinduan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan oleh seseorang kepada dirinya sendiri.
Hadis tentang amalan sunnah (nafl) yang dikutip sebelumnya tidak berhenti pada penjelasan tentang bagaimana seorang hamba mendekatkan diri — hadis tersebut berlanjut dengan menjelaskan apa yang terjadi ketika Allah membalas cinta hamba tersebut:
“Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya; dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya.”
Kelanjutan hadis ini ada pada halaman cetak yang sama, 5/2384 dari . Seorang hamba yang dicintai oleh Allah dengan cara seperti ini akan mendapati setiap anggota tubuhnya dibimbing menuju apa yang diridhai-Nya, alih-alih tertarik pada apa yang dimurkai-Nya — pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki, semuanya bekerja ke arah yang sama dengan yang diinginkan oleh hati. Hadis ini ditutup dengan gambaran seorang hamba yang begitu dicintai Allah, sehingga ketakutan manusiawi yang biasa terhadap kematian pun disambut dengan sesuatu yang lebih lembut daripada sekadar ketidakpedulian: keengganan dari pihak Allah untuk menimpakan rasa sakit sedikit pun kepadanya. Hati yang telah sampai sejauh ini tidak lagi butuh diyakinkan bahwa kedekatan dengan Allah adalah sesuatu yang patut didambakan. Ia sudah merindukan lebih banyak lagi kedekatan itu — di kehidupan ini, dan pada pertemuan yang menyusul setelahnya.
Semua ini bukanlah sebuah program yang diselesaikan sekali lalu ditinggalkan; ia dirawat sebagaimana segala sesuatu yang hidup dirawat; diberi asupan setiap hari atau dibiarkan meredup. Koleksi Adhkar di Quran Gallery memuat zikir-zikir sahih yang ditujukan tepat untuk hal ini — zikir untuk pagi, petang, dan setiap waktu biasa di antara amalan-amalan yang disebutkan di atas, terjaga dalam kalimat-kalimat yang telah diketahui kesahihannya.
Kita memohon kepada Allah apa yang dilaporkan pernah diminta oleh Nabi-Nya (shallallahu ‘alaihi wa sallam), berdasarkan riwayat dari Abu Darda’, dari doa Dawud (‘alaihis salam):
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu, serta amalan yang akan mengantarkanku pada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih berharga bagiku daripada diriku sendiri, keluargaku, dan air yang dingin.”
Tercatat pada halaman cetak 5/472 dari , dinilai hasan gharib oleh at-Tirmidzi sendiri. Amin.