Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Mencintai Allah: Bagaimana Hati Mengetahui Cintanya Nyata

Mencintai Allah bukanlah sekadar perasaan pribadi yang diyakini begitu saja — Al-Qur'an menyebutkannya, menggambarkannya sebagai sesuatu yang berbalas, dan memberikan satu tolok ukur pasti untuk membedakan pengakuan cinta yang sejati dari yang palsu.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 7 menit

Tanyakan kepada kebanyakan orang apa arti mencintai Allah, dan Anda akan mendapati sebuah perasaan: kehangatan, rasa syukur, atau kedekatan saat mendirikan salat. Semua itu tidak salah, tetapi tidak ada satu pun yang bisa diukur — sebuah perasaan bisa digambarkan sesuka hati oleh orang yang merasakannya. Al-Qur’an tidak membiarkan maḥabbah (cinta) hanya sebatas perasaan. Al-Qur’an menyebutkannya, menggambarkannya sebagai sesuatu yang berjalan dua arah, dan memberikan satu tolok ukur pasti untuk membedakan pengakuan cinta yang sejati dari yang palsu. Tolok ukur tersebut, beserta apa saja yang termasuk dan tidak termasuk di dalamnya, adalah inti dari artikel ini.

ʿIbādah sering kali dibayangkan sebagai serangkaian kewajiban: salat, puasa, sedekah. Namun, Allah menggambarkan sesuatu yang lebih mendalam di balik itu semua. Orang-orang yang beriman, firman-Nya, dibedakan oleh kedalaman cinta mereka kepada-Nya:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ إِذْ يَرَوْنَ ٱلْعَذَابَ أَنَّ ٱلْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعَذَابِ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal).”

Surah Al-Baqarah, 2:165

Perhatikan perbandingan yang ditarik oleh ayat ini. Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang kafir tidak merasakan apa-apa sementara orang mukmin merasakan sesuatu. Keduanya sama-sama merasakan cinta — perbedaannya terletak pada ke mana cinta itu diarahkan, dan seberapa kuat cinta tersebut berlabuh. Inilah sebabnya mengapa ketaatan tanpa cinta dan ketaatan dengan cinta bukanlah tindakan yang sama dengan suasana hati yang berbeda. Seorang hamba yang taat hanya karena kewajiban akan melakukan apa yang diminta lalu berhenti sampai di situ, layaknya penyewa yang membayar uang sewa. Namun, hamba yang taat karena cinta akan melakukan apa yang diminta dan terus mencari cara untuk memberi lebih — karena sekadar patuh bukanlah tujuannya; kedekatanlah yang ia cari. Jumlah rakaatnya mungkin sama dalam kedua kasus tersebut, tetapi apa yang dipersembahkan di dalamnya sungguh berbeda.

Al-Qur’an tidak hanya menggambarkan cinta manusia yang membumbung ke atas menuju Allah. Al-Qur’an juga menggambarkan cinta Allah yang turun ke bawah, dan menyatakan dengan jelas bahwa keduanya tidaklah sebanding — cinta-Nya datang lebih dulu dan memungkinkan manusia untuk mencintai-Nya, bukan sebaliknya:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ يُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”

Surah Al-Ma’idah, 5:54

Perhatikan urutan kedua kata kerja tersebut: “Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” — yuḥibbuhum sebelum yuḥibbūnahu. Cinta-Nya kepada kaum tersebut disebutkan sebelum cinta mereka kepada-Nya. Hal ini penting bagi siapa saja yang khawatir bahwa cinta mereka terasa tipis, tidak konsisten, atau lambat berkembang: hubungan ini tidak dimulai dengan seorang hamba yang memupuk perasaan hingga cukup besar lalu mendapatkan cinta Allah sebagai imbalannya. Hubungan ini dimulai dengan cinta Allah, yang pada gilirannya memampukan hamba tersebut untuk membalas cinta-Nya — dan hal ini digambarkan di sini dengan ciri-ciri yang dapat dikenali oleh setiap pembaca: lemah lembut terhadap sesama mukmin, ketegasan terhadap penentang kebenaran, dan ketidakpedulian terhadap celaan para pencela. Ini bukanlah sebuah konsep abstrak, melainkan gambaran nyata dari sebuah karakter.

Jika cinta kepada Allah tidak bisa dibuktikan hanya dengan menanyakan perasaan seseorang, lalu bagaimana cara membuktikannya? Al-Qur’an memberikan satu jawaban pasti, dan itu bukanlah sebuah perasaan — melainkan sebuah tindakan dengan hasil yang nyata:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Surah Ali ‘Imran, 3:31

Ayat ini diturunkan untuk meluruskan anggapan beberapa orang pada zaman Nabi tentang diri mereka sendiri — bahwa kedekatan mereka dengan Allah tidak memerlukan pembuktian dengan mengikuti seorang Rasul. Jawabannya sangat jelas: cinta kepada Allah yang tidak dibuktikan dengan mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah sebuah pengakuan, bukan kenyataan. Mengikuti di sini tidak berarti satu tindakan dramatis sesaat. Ini berarti upaya terus-menerus dalam keseharian untuk menyelaraskan cara Anda salat, berbicara, menilai, dan memperlakukan orang lain dengan apa yang benar-benar beliau ajarkan — satu-satunya wadah di mana pengakuan cinta dapat terlihat dan dibuktikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merumuskan versi yang lebih tegas dari tolok ukur yang sama ke dalam kata-kata. Saat menjelaskan apa yang dibutuhkan untuk merasakan manisnya iman, bukan sekadar memilikinya, beliau bersabda:

“Ada tiga hal yang jika ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia akan merasakan manisnya iman: hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; hendaknya ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah; dan hendaknya ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran tersebut, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”

Hadis ini tercatat pada halaman cetak 1/13 dari kitab . Bacalah kembali kalimat pertamanya: bukan sekadar “mencintai Allah,” melainkan “Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya” — sebuah perbandingan, bukan sekadar kategori. Ujiannya bukanlah apakah cinta itu ada; sedikit cinta kepada Allah pasti ada di hampir setiap hati orang yang beriman. Ujian sebenarnya adalah apakah cinta tersebut mengungguli segala hal yang bersaing dengannya.

Sebuah riwayat yang dijaga dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memberikan versi kedua yang lebih pribadi dari tolok ukur yang sama — sebuah ujian yang sama sekali tidak membutuhkan saksi:

“Barangsiapa yang ingin mengetahui apakah ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah: jika ia mencintai Al-Qur’an, berarti ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Riwayat ini tercatat di dalam kitab , halaman 304. Ini adalah ujian yang sengaja dibuat sangat pribadi. Tidak ada orang lain yang perlu melihat Anda melakukannya — Anda bisa mengujinya pada diri sendiri, saat sendirian, dengan bersikap jujur apakah membaca Al-Qur’an adalah sesuatu yang Anda rindukan atau sekadar rutinitas yang ingin cepat-cepat Anda selesaikan.

Semua ini tidak meminta siapa pun untuk berhenti mencintai keluarga, pekerjaan, atau harta benda mereka. Hal ini hanya mempertanyakan di mana posisi cinta-cinta tersebut. Allah menyebutkan secara rinci daftar hal-hal yang biasanya bersaing dengan cinta kepada-Nya, dan menyatakan konsekuensi jika kita salah menempatkan urutannya:

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَـٰسِقِينَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Surah At-Tawbah, 9:24

Daftar tersebut bukanlah daftar hal-hal yang harus ditinggalkan. Setiap hal di dalamnya — orang tua, anak, pernikahan, penghasilan, tempat tinggal — adalah sesuatu yang di bagian lain dalam Al-Qur’an justru diperintahkan untuk dihormati dan dijaga oleh orang-orang yang beriman. Apa yang dilarang oleh ayat ini adalah urutan yang keliru: membiarkan salah satu dari hal-hal tersebut mengungguli Allah ketika sebuah pilihan nyata di antara keduanya muncul. Momen seperti itu mungkin jarang terjadi, tetapi bukanlah sesuatu yang mustahil. Itu adalah momen ketika mata pencaharian bergantung pada sebuah kompromi yang bertentangan dengan hati nurani, atau ketika sebuah hubungan menekan seseorang untuk menjauh dari apa yang ia ketahui sebagai perintah Allah. Cinta kepada Allah adalah apa yang telah memutuskan, jauh sebelum momen itu tiba, ke arah mana pilihan tersebut akan berlabuh.

Sebelum bertanya bagaimana cara meningkatkan cinta kepada Allah, atau apa buah dari cinta tersebut setelah ia mengakar — pertanyaan-pertanyaan yang layak dibahas tersendiri — ada baiknya kita merenungkan apa yang telah dipaparkan di sini: cinta bukanlah sekadar kebetulan dalam ibadah, melainkan penggeraknya; cinta Allah datang lebih dulu dan memampukan hamba untuk mencintai-Nya; dan pengakuan cinta kepada-Nya hanya bisa dibuktikan di satu tempat yang nyata — apakah cinta itu mengungguli setiap cinta yang bersaing dengannya, dan apakah cinta itu terwujud dalam upaya mengikuti ajaran Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala hal lainnya akan mengikuti jika kita sudah membenahi titik awal ini.

Bagi kebanyakan orang, ajang pembuktian sehari-hari untuk urutan cinta tersebut bukanlah sebuah ujian yang dramatis, melainkan ujian yang biasa-biasa saja: kata-kata yang diucapkan dalam doa dan zikir, pagi dan petang, di saat lapang maupun sempit. Koleksi Adhkar di Quran Gallery menyajikan zikir-zikir sahih yang memberikan kata-kata nyata untuk digunakan dalam ajang pembuktian sehari-hari tersebut — sahih sanadnya, bukan sekadar akrab di telinga.