Quran Gallery Blog · Artikel
Permohonan dalam Tiga Babak: Apa yang Sebenarnya Diminta dalam Sayyidul Istighfar
Kalimat yang disebut oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai bentuk permohonan ampunan tertinggi ini hanya terdiri dari beberapa klausa, tetapi tidak berfungsi sekadar sebagai satu permintaan tunggal. Jika dibaca perlahan, kalimat ini ternyata melakukan tiga langkah terpisah sebelum meminta apa pun kepada Allah — tiga langkah yang sama yang disebut dalam sebuah hadis qudsi sebagai penyebab utama datangnya ampunan.
Baca 7 menit5 sumber
Penulis:The Quran Gallery team
Tanyakan kepada kebanyakan orang apa artinya memohon ampunan, dan mereka akan menggambarkan satu tindakan sederhana: Anda mengucapkan sepatah kata, meresapinya, dan urusan selesai. Namun, bukan begitu struktur kalimat yang disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “penghulu istighfar” (Sayyidul Istighfar). Kalimat ini memiliki lima klausa, dan hanya yang terakhir yang berupa permintaan. Semua bagian sebelumnya melakukan tugas lain, dan permintaan itu sendiri tidak akan memiliki pijakan tanpa adanya fondasi yang dibangun oleh bagian-bagian sebelumnya.
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، اغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku senantiasa memegang teguh perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 6306, edisi cetak halaman 8/67 dari . Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan bahwa barang siapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum petang, atau mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni Surga.
Syaddad bin Aus, yang meriwayatkan hadis ini, tidak menyebutnya sekadar sebagai salah satu doa di antara doa-doa lainnya. Ia menyebutnya sayyid al-istighfār — penghulu, atau induk, dari permohonan ampun — sebuah gelar yang tidak diberikan kepada redaksi mana pun dalam bab yang sama di kitab tersebut. Pasti ada sesuatu pada struktur kalimatnya yang membuatnya layak mendapatkan kedudukan itu, dan hal ini patut ditelaah sebagai sebuah konstruksi makna, bukan sekadar hafalan semata.
Sebelum memohon, sebuah pengakuan tentang siapa yang berhak dituju
Kalimat ini tidak dibuka dengan penyebutan dosa. Ia dibuka dengan sebuah pengakuan: “Engkau adalah Tuhanku; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” Hanya setelah pengakuan itu diikrarkan, sang pendoa berbicara tentang dirinya yang diciptakan, dimiliki, atau terikat oleh sebuah perjanjian. Ini bukanlah sekadar basa-basi sebelum masuk ke inti pembicaraan — ini adalah alasan mengapa sisa kalimat tersebut ditujukan kepada Dzat yang spesifik. Seseorang yang belum menetapkan kepada siapa ia berbicara tidak akan memiliki tempat untuk meletakkan pengakuannya. Tauhid di sini bukanlah catatan kaki teologis yang disematkan pada sebuah permintaan; ia adalah syarat yang menjadikan permintaan tersebut benar-benar sebuah permohonan, bukan sekadar kata-kata yang menguap di udara.
Utang yang diakui sebelum diampuni
Hanya setelah sapaan itulah sang pendoa mengatakan sesuatu tentang dirinya sendiri, dan itupun belum menyinggung soal dosa. “Engkau yang telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku senantiasa memegang teguh perjanjian dan janji-Mu semampuku.” Ini adalah sebuah laporan status, bukan permintaan maaf — dan ini adalah laporan yang jujur. Kalimat ini tidak mengklaim telah menjaga perjanjian secara sempurna; ia hanya menyatakan apa yang sebenarnya terjadi, “semampuku.” Setelah itu, barulah kalimat ini beralih pada kesalahan yang sebenarnya dilakukan: perlindungan diminta dari “keburukan perbuatanku” bahkan sebelum perbuatan itu sendiri disebutkan, dan dua pengakuan yang menyusul — nikmat yang diterima, dan dosa yang dilakukan — diucapkan dalam satu tarikan napas, berdampingan, tanpa saling meniadakan satu sama lain. Orang yang memohon ampunan tidak dibiarkan hanya mengingat utangnya atau hanya mengingat karunianya. Keduanya berdiri tegak bersamaan hingga klausa yang paling akhir.
Barulah sekarang, permintaannya — dan satu-satunya alasannya
“Maka ampunilah aku” adalah klausa kelima dari lima klausa yang ada. Segala hal yang mendahuluinya adalah prasyarat agar kalimat ini dapat diucapkan dengan jujur. Dan bahkan permintaan itu sendiri tidak berdiri sendiri — ia ditutup dengan sebuah alasan, dan alasannya bukanlah seberapa besar dosa tersebut atau seberapa tulus penyesalannya. Alasannya adalah “karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau.” Permohonan ini dilandasi oleh pengakuan yang sama dengan pembuka kalimatnya. Pengakuan dosa berada di tengah; sementara tauhid mengapit kedua ujungnya.
Tiga langkah yang sama, disebutkan secara langsung dalam sebuah hadis qudsi
Ini bukanlah kebetulan dari susunan kata dalam satu kalimat. Ini adalah bentuk janji yang Allah berikan tentang ampunan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, yang ditujukan tiga kali kepada “anak Adam”:
يا ابن آدَمَ إنَّكَ ما دَعَوْتَني وَرَجَوْتَني، غَفرْتُ لكَ على ما كَانَ فِيكَ وَلا أُبَالي، يا ابن آدَمَ لَو بَلغَتْ ذُنُوبُكَ عَنانَ السَّماءِ، ثُمَّ اسْتَغْفرْتَني، غَفرتُ لكَ وَلا أُبالي، يا ابن آدَمَ إنَّكَ لو أتَيْتَني بِقُرابِ الأرْضِ خَطايا، ثُمَّ لَقِيتَني لا تُشْرِك بي شَيْئًا، لأتَيْتُك بِقُرابِها مَغْفرةً “Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampuni dosa-dosa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan menemuimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”
— Sunan al-Tirmidhī, hadis 3852, edisi cetak halaman 6/142 dari . Tirmidzi sendiri menyebutnya sebagai “hadis hasan gharib”; para editor edisi ini menambahkan bahwa sanad spesifik ini lemah jika berdiri sendiri, karena bergantung pada seorang perawi yang statusnya kurang jelas, tetapi derajatnya naik menjadi hasan melalui riwayat pendukung dalam Musnad Ahmad dari Abu Dzar.
Al-Qur’an melakukan langkah pembuka yang sama dengan hadis tersebut, dalam urutan yang sama — harapan dinyatakan sebelum hal lain, ditujukan kepada orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, bukan kepada orang-orang yang berhasil menghindarinya:
۞ قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.‘”
— Sūrat al-Zumar, 39:53
Apa yang ditemukan Ibnu Rajab di dalam hadis yang sama
Ibnu Rajab al-Hanbali, saat mengkaji hadis ini sebagai hadis keempat puluh dua dari lima puluh hadis yang ia himpun dalam kitab Jāmiʿ al-ʿUlūm wa-l-Ḥikam, menafsirkan tiga kalimat “Wahai anak Adam” di dalamnya sebagai penyebutan tiga sebab ampunan yang terpisah, bukan sekadar tiga versi dari janji yang sama. Sebab pertama adalah berdoa kepada Allah dengan penuh harap dan bukan keputusasaan — harapan yang sama yang diserukan Al-Qur’an kepada orang-orang yang telah “melampaui batas terhadap diri mereka sendiri” — edisi cetak halaman 3/1157 dari . Sebab kedua adalah tindakan memohon ampunan itu sendiri, tidak peduli seberapa besar dosa tersebut telah menumpuk — edisi cetak halaman 3/1163 dari . Sebab ketiga adalah apa yang ia sebut sebagai yang paling agung di antara ketiganya:
السبب الثالث من أسباب المغفرة: التوحيد. وهو السبب الأعظم. فمن فقده؛ فقد المغفرة، ومن جاء به؛ فقد أتى بأعظم أسباب المغفرة “Sebab ketiga dari sebab-sebab ampunan adalah tauhid, dan ini adalah sebab yang paling agung. Barang siapa yang kehilangannya, maka ia telah kehilangan ampunan itu sendiri; barang siapa yang membawanya, maka ia telah membawa sebab ampunan yang paling agung.”
— Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Jāmiʿ al-ʿUlūm wa-l-Ḥikam, edisi cetak halaman 3/1175 dari .
Sandingkan kedua teks tersebut, dan kalimat yang diajarkan untuk dibaca sehari-hari ini tidak lagi terlihat sebagai sesuatu yang terpisah dan lebih sederhana dari hadis yang digaungkannya. Kalimat ini adalah arsitektur dari hadis itu sendiri, yang dipadatkan menjadi sesuatu yang dapat diucapkan seseorang di antara satu tarikan napas dan tarikan napas berikutnya: sebuah pengakuan pembuka tentang siapa satu-satunya Dzat yang berhak dituju, sebuah pengakuan yang tidak menyembunyikan dosa maupun melupakan nikmat, dan sebuah permintaan yang hanya masuk akal karena adanya pengakuan yang mengawalinya. Ibnu Rajab menemukan tiga sebab yang tersebar di tiga kalimat yang ditujukan kepada “anak Adam.” Syaddad bin Aus diajarkan satu kalimat yang memuat ketiganya tanpa menyebutkan nama-namanya secara langsung.
Apa yang terlewatkan ketika permohonan dilakukan terburu-buru
Di sinilah letak kegagalan sebuah istighfar yang diucapkan secara terburu-buru, tanpa disadari oleh orang yang mengucapkannya. Sangat mungkin seseorang mengucapkan “ampunilah aku” seratus kali tanpa sekalipun melakukan apa yang sebenarnya dituntut oleh kalimat yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam — yaitu menujukan sapaan kepada Allah sebagai satu-satunya yang berhak dituju, menempatkan nikmat dan dosa dalam pandangan yang sama secara bersamaan, dan barulah kemudian meminta. Lewati pengakuan pembukanya, maka permintaan tersebut hanya menjadi kebiasaan lisan belaka, bukan sebuah wujud tauhid. Lewati pengakuan dosanya, maka ikrar tersebut hanya menjadi teologi yang dirapalkan tanpa tujuan yang jelas. Kalimat ini cukup pendek untuk diucapkan dengan cepat justru karena ia tidak dirancang untuk diucapkan dengan cepat — ia dirancang sedemikian rupa sehingga mengucapkannya dengan benar, meski hanya sekali, memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar mengucapkan “ampunilah aku” berulang kali.
Kelak saat kalimat ini berada di lisan Anda, pertanyaan yang bermanfaat bukanlah apakah Anda telah menyelesaikannya. Pertanyaannya adalah, dari ketiga langkah tersebut, manakah yang berusaha dilewati oleh lisan Anda demi bergegas menuju langkah terakhir. Biasanya, langkah yang terlewat itulah yang paling dibutuhkan oleh hati Anda.
Terkait
Ruqyah Bersalawat kepada Rasulullah: Bacaan, Makna, dan Mengapa Selalu Menjadi Pembuka Doa Allah dan para malaikat-Nya senantiasa bersalawat kepada Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) — dan Al-Qur'an memerintahkan orang-orang beriman untuk turut bersalawat. Berikut adalah bacaan persis yang beliau ajarkan, makna dari kedua bagiannya, dan mengapa salawat harus ada di awal serta akhir setiap doa. The Virtues & Etiquettes of Dua· Bagian 7 dari 7 Ketika Doa Terasa Tak Terjawab: Apa yang Sebenarnya Menjadi Penghalang Doa yang tak terjawab bukanlah sebuah vonis akhir — Nabi sendiri meminta perlindungan darinya. Apa yang sebenarnya disebutkan oleh Al-Qur'an dan hadis sebagai penghalang doa, mulai dari harta yang haram hingga hati yang lalai. The Virtues & Etiquettes of Dua· Bagian 6 dari 7 Mereka yang Doanya Dikabulkan: Kesamaan yang Dimiliki Hati Mereka Nas agama menyebutkan beberapa golongan yang doanya dikabulkan — orang yang dizalimi, musafir, orang tua, orang yang berpuasa, dan lainnya. Jika ditelaah bersama, semuanya bermuara pada satu kondisi hati, bukan sekadar peringkat kedudukan manusia.
