Quran Gallery Blog · Artikel
Jahanam: Apa yang Disampaikan Wahyu dan Mengapa Demikian
Al-Qur'an tidak menggambarkan Jahanam sekadar sebagai tontonan — setiap adegan neraka yang dilukiskannya selalu disertai dengan alasan yang jelas. Sebuah tinjauan lugas tentang apa yang sebenarnya dikatakan oleh teks-teks tersebut mengenai kadar apinya, makanannya, dan dua akhir yang sangat berbeda, termasuk di mana sumber-sumber itu sendiri berbeda pendapat.
Baca 8 menit4 sumberThe Hereafter
Penulis:The Quran Gallery team
Jika ditanya apa tujuan Al-Qur’an saat menggambarkan Jahanam, jawaban termudahnya adalah: untuk menakut-nakuti Anda. Jawaban itu tidak salah, tetapi belum lengkap, dan bagian yang luput ini mengubah cara kita memahami gambaran tersebut. Al-Qur’an jarang sekali menyajikan pemandangan neraka lalu membiarkannya begitu saja tanpa konteks. Sering kali, pada ayat yang sama atau ayat berikutnya, Al-Qur’an menjelaskan untuk apa pemandangan itu dihadirkan. Proporsi ini—gambaran yang diikat dengan tujuan yang jelas, bukan sekadar deskripsi kosong—merupakan bagian dari inti pesan, bukan sekadar hiasan, dan patut dicermati sama saksamanya dengan perumpamaan itu sendiri.
Peringatan di Balik Peringatan
Surah Maryam menutup rangkaian panjang kisah para nabi dengan satu perintah:
وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ ٱلْحَسْرَةِ إِذْ قُضِىَ ٱلْأَمْرُ وَهُمْ فِى غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ “Dan berilah mereka peringatan tentang Hari Penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman.”
— Surah Maryam, 19:39
Al-Bukhari menempatkan sebuah riwayat spesifik tepat di bawah tafsirnya untuk ayat ini, seolah-olah hadis tersebut hadir untuk menjelaskan apa sebenarnya yang disesali:
يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ، فَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، فَيَشْرَئِبُّونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُونَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا الْمَوْتُ. ثُمَّ يُنَادِي: يَا أَهْلَ النَّارِ، فَيَشْرَئِبُّونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُونَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا الْمَوْتُ. فَيُذْبَحُ. ثُمَّ يَقُولُ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُودٌ فَلَا مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُودٌ فَلَا مَوْتَ “Kematian akan didatangkan dalam wujud seekor domba jantan belang (hitam putih). Seorang penyeru akan berseru, ‘Wahai penghuni Surga!’ Mereka pun menjulurkan leher dan melihat. Penyeru itu bertanya, ‘Apakah kalian mengenali ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya—ini adalah kematian.’ Kemudian ia berseru, ‘Wahai penghuni Neraka!’ Mereka pun menjulurkan leher dan melihat. Penyeru itu bertanya, ‘Apakah kalian mengenali ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya—ini adalah kematian.’ Lalu domba itu disembelih, dan penyeru tersebut berkata: ‘Wahai penghuni Surga, kekekalan—tidak ada lagi kematian. Wahai penghuni Neraka, kekekalan—tidak ada lagi kematian.‘”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 4730, edisi cetak halaman 6/93 dari . Al-Bukhari mencatat bahwa perawinya, Abu Sa’id al-Khudri, menutup riwayat tersebut dengan membacakan sendiri ayat 19:39—sebagai pemahamannya sendiri tentang makna di balik peristiwa tersebut.
Jika kita cermati penempatan ini: para penyusun kitab tidak menganggap pengumuman tentang kekekalan sebagai inti utamanya. Mereka menempatkannya sebagai tafsir atas kelalaian—tentang orang-orang yang, saat kesempatan masih terbuka, tidak bertindak sebagaimana mestinya. “Hari Penyesalan” bukanlah penyesalan atas api neraka itu sendiri. Melainkan penyesalan karena telah diberi peringatan namun tidak memercayainya.
Deskripsi yang Terukur, Bukan Tanpa Ukuran
Kedisiplinan yang sama terlihat pada bagaimana api Al-Qur’an diukur perbandingannya dengan api yang sudah kita kenal:
نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ. قَالُوا: وَاللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً، يَا رَسُولَ اللَّهِ! قَالَ: فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا، كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا “Api kalian ini, yang dinyalakan oleh anak cucu Adam, adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya Jahanam.” Para sahabat berkata, “Demi Allah, satu ini saja sudah cukup, wahai Utusan Allah!” Beliau bersabda, “Api neraka dilebihkan atasnya dengan enam puluh sembilan bagian lagi, yang masing-masing sama panasnya.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 2843, edisi cetak halaman 4/2184 dari .
Perhatikan apa yang dipertahankan oleh hadis ini yang sering kali hilang dalam penceritaan ulang yang kurang teliti: reaksi para pendengarnya, yang terekam di dalam riwayat tersebut. Seseorang yang hadir menyatakan, secara lantang, bahwa perbandingan itu sudah cukup jelas bahkan sebelum angkanya disebutkan. Dan angka itu sendiri adalah sebuah rasio, bukan sekadar kata sifat superlatif—api kita adalah pecahan terkecil, sedangkan api Neraka adalah pecahan tersebut dikalikan tujuh puluh kali lipat. Ini adalah deskripsi yang dibangun untuk dipahami, bukan sekadar dirasakan. Terdengar aneh mengatakan hal ini tentang api, sampai Anda menyadari betapa banyaknya materi tentang neraka yang bekerja dengan cara yang sama.
Teksturnya, Dibaca Secara Utuh
Ketika Al-Qur’an beralih ke deskripsi fisik, ia cenderung membukanya dengan menyebutkan apa yang sedang diperdebatkan, bukan sekadar apa yang sedang diderita:
۞ هَـٰذَانِ خَصْمَانِ ٱخْتَصَمُوا۟ فِى رَبِّهِمْ ۖ فَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّن نَّارٍ يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُءُوسِهِمُ ٱلْحَمِيمُ يُصْهَرُ بِهِۦ مَا فِى بُطُونِهِمْ وَٱلْجُلُودُ وَلَهُم مَّقَـٰمِعُ مِنْ حَدِيدٍ كُلَّمَآ أَرَادُوٓا۟ أَن يَخْرُجُوا۟ مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا۟ فِيهَا وَذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلْحَرِيقِ “Inilah dua golongan yang bermusuhan, yang saling berbantah mengenai Tuhan mereka. Maka bagi orang-orang yang kafir akan dipotongkan pakaian dari api; air yang sangat panas akan disiramkan ke atas kepala mereka, yang meluluhlantakkan apa yang ada di dalam perut mereka dan juga kulit mereka. Dan untuk mereka disediakan cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar darinya karena penderitaan, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya: ‘Rasakanlah azab yang membakar!‘”
— Surah al-Hajj, 22:19–22
Tidak ada satu pun di sini yang disajikan sekadar sebagai detail belaka. Api tersebut menjawab perselisihan yang disebutkan pada kata pembuka—perselisihan tentang Tuhan—dan ayat keempat tidak menggambarkan siksaan yang statis, melainkan sebuah siklus: keinginan untuk keluar, dan pengembalian secara paksa. Beberapa surah kemudian, saat menggambarkan kategori orang yang sama dengan sebutan yang berbeda, Al-Qur’an membalikkan satu hal yang paling diinginkan oleh pembaca di padang pasir saat menghadapi panas yang menyiksa:
فِى سَمُومٍ وَحَمِيمٍ وَظِلٍّ مِّن يَحْمُومٍ لَّا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ ”[Mereka akan berada] dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, serta naungan asap hitam—yang tidak sejuk dan tidak pula menyenangkan.”
— Surah al-Waqi’ah, 56:42–44
Naungan, satu-satunya kelegaan yang akan langsung dicari tanpa pikir panjang oleh para pendengar pertama ayat ini, diberikan namun seketika itu juga ditarik kembali. Ini bukanlah sekadar peningkatan kata sifat; ini adalah pembalikan yang spesifik dan disengaja atas sesuatu yang sudah dipahami oleh audiens sebagai bentuk kenyamanan.
Makanan yang Ditumbuhkan karena Suatu Alasan
Al-Qur’an juga sama lugasnya dalam menyebutkan tujuannya ketika beralih membahas apa yang akan dimakan oleh penghuni Neraka:
أَذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ ٱلزَّقُّومِ إِنَّا جَعَلْنَـٰهَا فِتْنَةً لِّلظَّـٰلِمِينَ إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِىٓ أَصْلِ ٱلْجَحِيمِ طَلْعُهَا كَأَنَّهُۥ رُءُوسُ ٱلشَّيَـٰطِينِ فَإِنَّهُمْ لَـَٔاكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِـُٔونَ مِنْهَا ٱلْبُطُونَ “Apakah (hidangan surga) itu yang lebih baik sebagai jamuan, ataukah pohon Zaqqum? Sesungguhnya Kami menjadikannya sebagai ujian bagi orang-orang zalim. Ia adalah pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim; mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar akan memakan darinya, lalu memenuhi perut-perut mereka dengannya.”
— Surah as-Saffat, 37:62–66
Teks tersebut menyebut pohon ini sebagai ﴿فِتْنَةً﴾—sebuah ujian—pada ayat keduanya. Para pendengar awal dilaporkan mencemooh gagasan bahwa api bisa menumbuhkan makanan; Al-Qur’an menjawab cemoohan itu dengan menggambarkan pohon tersebut tepat menggunakan istilah-istilah yang mereka ragukan. Sebuah riwayat terpisah kemudian menerjemahkan kengerian itu ke dalam ukuran yang benar-benar bisa dirasakan oleh orang yang masih hidup:
لَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنَ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا لَأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَعَايِشَهُمْ، فَكَيْفَ بِمَنْ يَكُونُ طَعَامَهُ؟ “Seandainya setetes Zaqqum diteteskan ke dunia ini, niscaya ia akan menghancurkan penghidupan penduduk dunia—lalu bagaimana halnya dengan orang yang tidak memiliki makanan lain selain itu?”
— Sunan al-Tirmidhī, hadis 2767, edisi cetak halaman 4/541 dari . Salah satu perawi dalam sanad ini, Rishdin bin Sa’d, dikenal memiliki hafalan yang lemah; namun para editor edisi tersebut tetap menilai riwayat ini sahih, berdasarkan kuatnya jalur penguat melalui Ibnu Abbas yang dicatat oleh Ahmad, Ibnu Majah, dan an-Nasa’i.
Peralihan dari pohon ke setetes getah adalah langkah yang sama dengan yang dilakukan oleh hadis tujuh puluh bagian terkait panasnya api: sebuah abstraksi yang tidak dapat dirasakan secara langsung diubah menjadi kuantitas yang bisa dibayangkan. Tidak ada satu pun dari riwayat tersebut yang berusaha saling mengungguli dalam mendeskripsikan kengerian. Keduanya berusaha membuat skala yang tak terjangkau menjadi bisa dijangkau, yang mana ini adalah ambisi yang aneh jika tujuannya sekadar untuk menebar ketakutan.
Apa yang Tidak Dibiarkan Terlewat oleh Sumber-Sumber Tersebut
Tidak setiap pertanyaan yang muncul dari materi ini memiliki jawaban tunggal, dan hal yang paling jujur adalah mengakuinya. Al-Qur’an sendiri menarik garis batas antara dua akhir bagi penghuni Neraka, dan tidak menutup setiap celah tentang bagaimana garis tersebut ditafsirkan:
فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُوا۟ فَفِى ٱلنَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ خَـٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ “Adapun orang-orang yang celaka, maka mereka akan berada di dalam Neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas dengan merintih, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi—kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”
— Surah Hud, 11:106–107
Klausul pengecualian tersebut—“kecuali jika Tuhanmu menghendaki”—telah ditafsirkan secara berbeda dalam tradisi tafsir selama berabad-abad: ada yang menganggapnya ditujukan kepada kelompok tertentu di antara orang-orang yang celaka, ada yang memandangnya sebagai pernyataan umum tentang kekuasaan ilahi yang tidak serta-merta menggambarkan pembebasan nyata di masa depan, atau dengan berbagai cara lain yang masih diperdebatkan di kalangan mufasir. Al-Qur’an tidak menyelesaikan perdebatan ini untuk pembacanya; ia membiarkan pengecualian itu berdiri sendiri, tanpa penjelasan tambahan, di dalam ayat itu sendiri. Apa yang ditambahkan oleh literatur hadis bukanlah penyelesaian atas perdebatan tersebut, melainkan sebuah kasus tunggal yang konkret bahwa pengecualian itu bukan sekadar retorika:
إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا، وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا الْجَنَّةَ. رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا. فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ... فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا “Aku sungguh mengetahui orang terakhir dari penghuni Neraka yang keluar darinya, dan orang terakhir dari penghuni Surga yang masuk ke dalamnya: seorang pria yang merangkak keluar dari Neraka. Allah berfirman kepadanya, ‘Pergilah, masuklah ke dalam Surga’ … ‘Bagimu (kenikmatan) semisal dunia ini, dan sepuluh kali lipatnya.‘” Ibnu Mas’ud, yang meriwayatkan hadis ini, mengatakan bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa mendengar jawaban pria yang tak percaya itu hingga gigi geraham beliau terlihat.
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 186, edisi cetak halaman 1/173 dari , dari bab yang berjudul “Orang Terakhir dari Penghuni Neraka yang Keluar Darinya.”
Hadis ini mendeskripsikan satu kategori spesifik—seorang pria yang merangkak keluar—bukan aturan umum bagi semua orang yang ditahan di dalam Neraka, dan diskusi klasik mengenainya sangat berhati-hati tentang siapa yang dimaksud: mereka yang meninggal dalam keadaan mengesakan Tuhan tetapi membawa dosa, bukan mereka yang meninggal dalam penolakan terang-terangan terhadap-Nya. Sumber-sumber tersebut tidak samar mengenai perbedaan ini; mereka hanya kurang terperinci dari yang diharapkan oleh sebuah ringkasan, dan akan keliru jika kita menyederhanakan pengecualian ini menjadi sebuah janji pasti, atau menghapusnya sama sekali.
Satu Detail yang Tidak Bisa Menunggu
Jika disandingkan satu sama lain, kesamaan dari riwayat-riwayat ini bukanlah pada perumpamaannya—yang bervariasi mulai dari api yang diukur dengan rasio, pohon yang disebut sebagai ujian, hingga seorang pria yang merangkak menuju gerbang. Kesamaan mereka terletak pada waktu. Semuanya ditetapkan sebelum perkaranya diputuskan: domba jantan itu hanya disembelih sekali, peringatan dalam surah Maryam ditujukan kepada mereka yang masih lalai, dan bahkan pria yang pada akhirnya keluar dari Neraka digambarkan dari sudut pandang kehidupan yang, pada saat kata-kata ini dibaca, belum juga berakhir bagi sang pembaca. Itulah bagian yang tidak bisa diberikan oleh deskripsi Jahanam mana pun, seakurat apa pun ukurannya. Wahyu memberikan skala dan alasan dalam kalimat yang sama. Namun, apa yang tidak bisa dilakukannya adalah menggantikan pilihan yang justru ingin diubah oleh alasan tersebut.
Lanjutkan
The Hereafter
Terkait
The Hereafter Surga: Digambarkan Secara Rinci Agar Engkau Menginginkannya Sebuah hadis menyebutkan bahwa surga menyimpan apa yang belum pernah dilihat mata dan didengar telinga — namun Al-Qur'an justru menghabiskan banyak ayat untuk merincikannya: nama-nama sungai, kebun, dan emas. Jarak antara kedua pernyataan ini bukanlah sebuah kontradiksi. Hal ini justru menjadi argumen yang mengarah langsung pada satu-satunya balasan yang Al-Qur'an enggan gambarkan dengan cara yang sama. The Hereafter Perjalanan Tanpa Persiapan: Fase-Fase Antara Kematian dan Surga Setiap riwayat tentang kehidupan akhirat menggambarkan urutan fase yang sama — alam kubur, Sangkakala, Mizan, dan Shirath. Jika ditelaah lebih dalam melalui Al-Qur'an dan hadis, tak satu pun dari fase tersebut menguji hal baru tentang diri Anda; masing-masing sekadar membacakan kembali apa yang telah diputuskan oleh hidup Anda sebelumnya. The Hereafter Bersiap Menjumpai Allah: Apa yang Kematian Tuntut dari Anda Hari Ini Akhir yang baik (husnul khatimah) tidak datang dengan sendirinya saat penyakit bertambah parah. Ia harus diminta, dipersiapkan, dan dibiasakan—melalui utang yang Anda lunasi, wasiat yang Anda tulis, dan kalimat yang senantiasa basah di lisan Anda—jauh sebelum hari itu tiba.
