Quran Gallery Blog · Artikel
Manisnya Sebuah Permintaan: Doa dan Cita Rasa Iman
Seorang anak laki-laki yang dibonceng di belakang Nabi diberi tahu untuk mengarahkan setiap kebutuhannya pada satu tempat mengadu; sebuah hadis menyebutkan bahwa permohonan itu sendiri adalah inti dari ibadah; Ibnul Qayyim mengatakan bahwa apa yang dihasilkannya adalah sesuatu yang dapat dikecap, bukan sekadar dilogikakan. Mengapa meminta, secara spesifik, adalah hal yang mengubah keyakinan akan ketergantungan menjadi ketergantungan yang benar-benar dirasakan.
Baca 6 menit3 sumberStrengthening Iman Through DuaBagian 1 dari 5
Penulis:The Quran Gallery team
Setiap mukmin, jika ditanya, akan mengatakan bahwa mereka bergantung kepada Allah dalam segala hal—untuk embusan napas berikutnya, hasil dari urusan sehari-hari esok hari, hingga apakah tubuh ini akan terus berfungsi seperti kemarin tanpa perlu diperintah. Katakan hal itu kembali kepada mereka dan mereka akan mengangguk; ini bukanlah pernyataan yang kontroversial. Namun, ada jurang pemisah yang lebar antara sekadar meyakini sebuah fakta dan benar-benar merasakannya, dan ketergantungan kepada Allah biasanya hanya sebatas diyakini, bukan dipraktikkan. Hal ini bersemayam dalam teologi yang akan disetujui seseorang tanpa ragu, tetapi tidak menempati ruang khusus dalam keseharian mereka. Sesuatu harus memaksanya keluar dari laci tempat disimpannya fakta-fakta yang ‘benar-tapi-tak-terasa’ agar bisa terwujud nyata. Tradisi Islam menyebutkan, dengan ketepatan yang luar biasa, satu-satunya amal yang mampu melakukan hal itu. Bukan sekadar keyakinan akan ketergantungan. Bukan rasa syukur atasnya, atau kepasrahan terhadapnya. Melainkan, meminta.
Seorang anak laki-laki di punggung unta
ʿAbdullāh bin ʿAbbās (semoga Allah rida kepadanya dan ayahnya) masih kanak-kanak saat pertama kali ia mendengar hal ini diucapkan, dan ia mengingatnya dengan sangat rinci hingga mampu meriwayatkannya seolah-olah itu adalah sesuatu yang ia saksikan, bukan sekadar ia dengar—suatu sore, saat dibonceng di belakang Nabi (semoga selawat dan salam tercurah kepadanya), ia dipanggil langsung dengan namanya untuk diberikan sebuah wejangan:
كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا، فَقَالَ: يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ، لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ “Suatu hari, aku pernah dibonceng di belakang Rasulullah (semoga selawat dan salam tercurah kepadanya), lalu beliau bersabda: ‘Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu; jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah; jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat sedikit pun kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, mereka tidak akan dapat membahayakanmu sedikit pun kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.‘”
— Sunan al-Tirmidhī, hadis 2516, edisi cetak halaman 4/284 dari , yang dinilai oleh al-Tirmidhī sendiri sebagai ḥasan ṣaḥīḥ.
Perhatikan apa yang tidak diucapkan oleh Nabi. Beliau tidak menyuruh anak itu untuk sekadar meyakini sesuatu—“ketahuilah bahwa Allah mengendalikan segalanya” memang benar, tetapi hal itu tidak akan mengubah apa pun dari keseharian anak tersebut di hari-hari berikutnya. Sebaliknya, apa yang beliau berikan adalah dua kalimat perintah yang selaras, dan keduanya lebih bersifat praktikal alih-alih doktrinal: idhā saʾalta fasʾal Allāh—jika engkau meminta, mintalah kepada Allah—dan idhā istaʿanta fastaʿin billāh—jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Masing-masing ditujukan pada satu momen spesifik yang terus berulang: momen ketika sebuah kebutuhan benar-benar muncul. Teologi yang melingkupinya—bahwa manfaat dan bahaya tidak akan datang melalui perantara mana pun kecuali yang telah Allah tetapkan—adalah nyata, dan hal itu membingkai kedua instruksi tersebut dari kedua sisi. Namun, bingkai tersebut bukanlah apa yang diminta untuk dilakukan oleh seseorang. Memintalah yang harus dilakukan.
Permohonan yang juga merupakan inti dari ibadah
Riwayat kedua, yang disampaikan secara terpisah melalui al-Nuʿmān bin Bashīr (semoga Allah rida kepadanya dan ayahnya), tidak berhenti pada sekadar memberi tahu seseorang ke mana harus mengarahkan kebutuhannya. Riwayat ini mengklasifikasikan ulang perbuatan itu sendiri:
الدُّعَاءُ هِيَ الْعِبَادَةُ، ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾ “Doa—itu adalah ibadah. ﴿Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’﴾”
— Sunan Abī Dāwūd, hadis 1479, edisi cetak halaman 1/551 dari .
Hal ini tidak berarti bahwa doa sekadar mendapat tempat dalam daftar amal saleh di samping salat dan sedekah, sebagai satu dari sekian banyak poin yang jika digabungkan akan menjadi ibadah. Hadis ini menegaskan bahwa meminta, jika diarahkan dengan benar, sama sekali bukan sekadar poin dalam daftar tersebut—melainkan makna sesungguhnya dari keseluruhan kategori ibadah itu sendiri ketika seseorang benar-benar melakukannya, bukan sekadar menjalankan bentuk lahiriahnya. Ayat yang dibacakan oleh Nabi dalam kesempatan yang sama juga tidak berakhir di tempat riwayat ini berhenti mengutipnya; bacalah lebih lanjut dan klausa berikutnya menyandingkan keengganan untuk meminta dengan jenis kesombongan tertentu yang cukup serius hingga disetarakan dengan penolakan terhadap ibadah secara terang-terangan (Ghāfir, 40:60). Seseorang yang diam-diam berhenti meminta tidaklah sekadar melewatkan sebuah amalan tambahan yang dianjurkan. Ia telah berhenti melakukan hal yang menjadi fondasi utama dari ibadah itu sendiri.
Cita rasa dari permohonan tersebut
Jika meminta adalah esensi dari ibadah, pertanyaan selanjutnya adalah apa yang terjadi di dalam diri seseorang pada saat mereka benar-benar melakukannya—bukan apa yang dicapainya secara eksternal, seperti apakah kebutuhannya terpenuhi, melainkan apa dampaknya terhadap orang yang meminta tersebut. Ibnul Qayyim (semoga Allah merahmatinya), saat menggambarkan sebuah kedudukan yang ia sebut sebagai kemurnian keadaan spiritual, menyebutkan hasilnya dengan kosakata indrawi yang sama yang digunakan oleh tradisi Islam untuk keimanan itu sendiri:
وَيُذَاقُ بِهِ حَلَاوَةُ الْمُنَاجَاةِ “…dan melaluinya, manisnya munajat (permohonan yang intim) dapat dikecap.”
— Ibnul Qayyim, Madārij al-Sālikīn, edisi cetak halaman 3/141 dari . Ia melanjutkan, pada bagian yang sama, untuk menjelaskan kata yang telah ia pilih: seandainya keadaan spiritual itu bercampur dan keruh, tulisnya, seorang hamba tidak akan menemukan kemanisan ini sama sekali—kemanisan itu dikecap secara spesifik ḥāla munājātihi, dalam keadaan munajatnya, bukan sebelumnya dan bukan pula di luar keadaan tersebut.
Munājāh adalah istilah umum dalam kosakata klasik untuk seseorang yang berbicara kepada Allah secara langsung dan intim, alih-alih sekadar meyakini-Nya dari kejauhan. Doa bukanlah salah satu dari sekian banyak kesempatan untuk bermunajat—doa adalah bentuk yang paling gamblang dan paling sering dapat diulang oleh orang biasa di hari-hari biasa, momen ketika hati berhenti sekadar berasumsi tentang ketergantungannya dan mulai menyuarakannya, dengan kata-kata yang spesifik, kepada Pendengar yang spesifik, tentang kebutuhan yang spesifik pula. Ibnul Qayyim tidak sedang menggambarkan pencapaian mistis langka yang hanya dikhususkan bagi segelintir orang. Ia sedang menggambarkan apa yang pada prinsipnya tersedia setiap kali seseorang benar-benar meminta, alih-alih hanya meyakini bahwa meminta itu dianjurkan.
Nilai seorang hamba
Al-Qur’an menyatakan hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda—bukan tentang apa yang dihasilkan dari perbuatan meminta bagi pelakunya, melainkan tentang nilai seseorang, dalam pandangan Allah sendiri, jika ia tidak melakukannya:
قُلْ مَا يَعْبَؤُا۟ بِكُمْ رَبِّى لَوْلَا دُعَآؤُكُمْ ۖ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًۢا “Katakanlah, ‘Tuhanku tidak akan memedulikanmu kalau bukan karena doamu. Sungguh, kamu telah mendustakan (kebenaran), maka kelak (azab) itu akan menjadi keniscayaan.‘”
Ayat tersebut tidak mengatakan bahwa Allah tidak akan memedulikan seseorang kalau bukan karena ibadahnya secara umum, atau keyakinannya, atau rasa syukurnya—yang mana pun dari hal-hal tersebut bisa saja diklaim secara sepihak oleh seorang kafir, dalam bentuk yang telah tereduksi. Ayat ini mengkhususkan doa secara spesifik: amal yang sama yang telah ditekankan, dua kali, dalam kedua hadis di atas. Kedudukan seseorang tidak bergantung pada apakah ia secara diam-diam meyakini bahwa ia membutuhkan Allah—setiap hamba memang demikian, entah ia mengakuinya atau tidak—tetapi pada apakah ia telah menyuarakannya. Keyakinan akan ketergantungan adalah hal yang terlalu universal untuk dianggap istimewa. Menyuarakannya, meminta dengannya, itulah yang dianggap oleh ayat ini sebagai hal yang benar-benar diperhitungkan.
Gabungkan ketiganya dan sebuah kesimpulan yang mengerucut pun muncul, lebih tajam dari sekadar kebenaran umum bahwa seorang mukmin bergantung kepada Allah dalam segala hal. Ketergantungan yang diyakini dan ketergantungan yang disuarakan bukanlah peristiwa yang sama di dalam hati, bahkan ketika isi dari keduanya sama persis kata demi kata. Yang satu sekadar disimpan dan dibiarkan. Sementara yang lainnya adalah apa yang oleh dua orang sahabat dan seorang ulama ilmu batin, masing-masing secara terpisah, anggap layak untuk disebut sebagai amalnya tersendiri, ibadahnya tersendiri, dan cita rasanya tersendiri. Lain kali saat sebuah kebutuhan biasa muncul—entah itu kecil, atau memalukan untuk diakui, atau sudah didoakan belasan kali sebelumnya—pilihan yang ada bukanlah antara memercayai Allah dalam diam dan meminta kepada-Nya secara terang-terangan. Hanya satu dari keduanya yang pernah diriwayatkan sebagai sesuatu yang dapat dikecap oleh hati.
Lanjutkan
Strengthening Iman Through Dua · Bagian 1 dari 5
Terkait
Strengthening Iman Through Dua· Bagian 5 dari 5 Ketika Jawaban Tak Kunjung Datang: Hikmah di Balik Penundaan Seorang sahabat pernah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan momen pasti kapan sebuah doa yang tulus berada dalam bahaya — dan itu bukanlah tentang seberapa lama kita menunggu. Inilah yang sebenarnya dikatakan oleh dua hadis tentang penundaan, apa yang tidak mereka janjikan, dan mengapa jawaban jujur untuk "mengapa doa ini belum dikabulkan" bukanlah sebuah rumus pasti. Strengthening Iman Through Dua· Bagian 4 dari 5 Cara Para Nabi Meminta: Apa yang Diajarkan Doa Mereka Tentang Memohon Ayyub, Yunus, Zakariyya, Musa, dan Ibrahim masing-masing meninggalkan doa yang diabadikan kata demi kata di dalam Al-Qur'an, dan tak satu pun dari kelima nabi ini mendikte Allah tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jika dibaca bersamaan, doa-doa mereka memiliki pola yang sama alih-alih sekadar susunan kata—menyebutkan kondisi mereka, menyebut nama Allah, dan berhenti sampai di situ. Strengthening Iman Through Dua· Bagian 3 dari 5 Al-Mujīb: Nama yang Menjanjikan Sebuah Jawaban Al-Mujīb — Yang Maha Mengabulkan — adalah janji yang jauh lebih besar daripada sekadar didengar. Sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Musnad Aḥmad menyebutkan secara pasti seperti apa bentuk jawaban yang dijanjikan tersebut, dan tak satu pun dari ketiga pilihan yang ada menjamin bahwa permintaan spesifik kita akan terwujud tanpa perubahan. Apa yang dijamin oleh nama ini, dan apa yang dibiarkannya tetap terbuka, adalah sesuatu yang patut kita pahami dengan jujur.
