Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Cara Para Nabi Meminta: Apa yang Diajarkan Doa Mereka Tentang Memohon

Ayyub, Yunus, Zakariyya, Musa, dan Ibrahim masing-masing meninggalkan doa yang diabadikan kata demi kata di dalam Al-Qur'an, dan tak satu pun dari kelima nabi ini mendikte Allah tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jika dibaca bersamaan, doa-doa mereka memiliki pola yang sama alih-alih sekadar susunan kata—menyebutkan kondisi mereka, menyebut nama Allah, dan berhenti sampai di situ.

Baca 7 menit1 sumberStrengthening Iman Through DuaBagian 4 dari 5

Penulis:The Quran Gallery team

Lima doa yang diucapkan dalam sudut pandang orang pertama diabadikan kata demi kata di dalam Al-Qur’an. Doa-doa ini dipanjatkan oleh lima nabi yang berada di bawah lima tekanan berbeda: penyakit kronis, pengasingan total, usia senja tanpa keturunan, pelarian tanpa harta, dan penantian seorang ayah akan ahli waris. Tak satu pun dari kelima manusia pilihan ini menggunakan kata-kata mereka untuk mendikte Allah tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ayyub ‘alaihissalam tidak meminta kesembuhan. Yunus ‘alaihissalam, yang berseru dari dalam perut paus, tidak meminta untuk dikeluarkan. Apa yang justru mereka ucapkan patut kita cermati, karena ini bukan sekadar sikap menahan diri—ini adalah sebuah pola yang diulang oleh lima lisan yang sangat berbeda, dan pola ini menyingkap hakikat sebenarnya dari sebuah permohonan.

Ayyub: Menyebutkan Penderitaan, Bukan Solusinya

Ayyub ‘alaihissalam adalah nabi yang paling sering dikaitkan oleh Al-Qur’an dengan penderitaan fisik yang berkepanjangan—penyakit bertahun-tahun yang, menurut riwayat tradisional, merenggut kesehatan, harta, dan semua orang di sekitarnya kecuali sang istri. Ketika beliau akhirnya bersuara, dalam Surah Al-Anbiya’, hanya ini yang beliau ucapkan:

۞ وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.‘”

— Surah Al-Anbiya’, 21:83

Bacalah ayat tersebut dan perhatikan apa yang tidak beliau ucapkan. Ayyub menyatakan satu fakta tentang dirinya—ḍurr, penyakit atau bahaya, telah menimpanya—dan satu fakta tentang Allah: bahwa Dia adalah Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Beliau tidak menyebutkan nama penyakitnya. Beliau tidak meminta agar penyakit itu diangkat, dipersingkat, atau diganti dengan sesuatu yang lebih bisa ditanggung. Beliau mengadukan kondisinya kepada satu-satunya Zat yang mampu mengubahnya, sekaligus mengagungkan siapa Zat tersebut dalam satu tarikan napas. Jawaban Allah, dalam ayat 21:84, mengangkat penyakit itu, mengembalikan keluarganya, dan bahkan melipatgandakan jumlah mereka—tak satu pun dari hal ini disebutkan secara spesifik dalam doa tersebut. Doa itu hanya menyebutkan kebenaran.

Yunus: Doa Tanpa Permintaan

Yunus ‘alaihissalam bahkan melangkah lebih jauh. Surah Al-Anbiya’ menggambarkan beliau berseru dari dalam tiga lapis kegelapan—laut, malam, dan perut paus—serta mengabadikan kata-kata persisnya:

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَـٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.‘”

— Surah Al-Anbiya’, 21:87

Sama sekali tidak ada permintaan dalam kalimat tersebut. Yunus tidak meminta untuk dibebaskan. Beliau menegaskan bahwa hanya Allah semata Tuhan yang berhak disembah, menyucikan-Nya dari segala kekurangan, dan mengakui—tanpa pembelaan apa pun—bahwa beliau telah menzalimi dirinya sendiri. Dua kebenaran tentang Allah, satu kebenaran tentang dirinya, dan tidak ada satu pun yang diminta. Namun, ayat 21:88 mencatat bahwa Allah tetap mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Sebuah hadis yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash memperjelas pola ini agar tidak sekadar menjadi tebakan:

دَعْوةُ ذِي النُّونِ إذْ دَعَا وهو في بَطْنِ الحُوتِ: لا إله إلَّا أنْتَ، سُبْحانكَ إنِّي كُنْتُ من الظَّالِمينَ، فإنَّهُ لم يَدْعُ بها رَجُلٌ مُسْلمٌ في شَيْءٍ قَطُّ إلَّا اسْتَجابَ اللهُ لهُ

“Doa Zun Nun (Yunus) ketika ia berdoa di dalam perut paus—‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau; sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim’—tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengannya untuk urusan apa pun, melainkan Allah akan mengabulkannya.”

— Sunan At-Tirmidzi, hadis 3813, edisi cetak halaman 6/112 dari . Editor edisi ini menilai sanadnya hasan.

Jika dibaca secara saksama, jaminan di sini bukanlah tentang susunan kata yang berfungsi layaknya mantra. Ini tentang apa yang diikrarkan oleh kata-kata tersebut: kepasrahan total seorang hamba yang bersandar pada keesaan Allah dan pengakuan atas kesalahannya sendiri, tanpa embel-embel lain. Dan penyelamatan itu, menurut penuturan Al-Qur’an, bukanlah sekadar respons terhadap satu seruan tersebut. Ayat 37:143–144 menyebutkan bahwa seandainya Yunus tidak termasuk orang yang terbiasa bertasbih kepada Allah, niscaya ia akan tetap berada di dalam perut paus itu hingga Hari Kebangkitan. Doa yang menembus kegelapan itu adalah kelanjutan dari kebiasaan yang sudah tertanam, bukan upaya pertama kalinya dalam memohon kepada Allah.

Zakariyya: Meminta Tanpa Mendikte Jawaban

Zakariyya ‘alaihissalam adalah satu-satunya dari kelima nabi ini yang doanya benar-benar memuat sebuah permintaan. Beliau telah mencapai usia senja; istrinya belum juga mengandung; menurut akal sehat, peluang untuk memiliki anak sudah lama tertutup. Beliau berdoa:

وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zakariyya, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.‘”

— Surah Al-Anbiya’, 21:89

Bahkan di sini pun, perhatikan apa yang tidak beliau lakukan. Beliau tidak meminta anak laki-laki dengan nama tertentu, anak yang sehat, atau rincian apa pun yang wajar diharapkan oleh seorang ayah sejak awal. Beliau meminta agar tidak dibiarkan fardan—seorang diri, tanpa ahli waris—dan menyandarkan permintaan tersebut pada sifat Allah alih-alih pada keinginannya sendiri: Engkaulah ahli waris yang terbaik, Zat tempat segala sesuatu pada akhirnya kembali, terlepas dari apa yang terjadi pada garis keturunan keluarga mana pun. Ayat 21:90 mencatat jawabannya: seorang putra, Yahya, yang diberikan secara langsung, bersamaan dengan disembuhkannya kondisi sang istri yang bahkan tidak pernah disebutkan dalam permintaan itu sendiri. Zakariyya meminta agar tidak dibiarkan tanpa ahli waris. Allah-lah yang menentukan wujud dari jawaban tersebut.

Musa: Meminta dengan Kepasrahan Total

Doa Musa ‘alaihissalam datang dari titik yang sama sekali berbeda dalam hidupnya—bukan di usia senja, melainkan sebaliknya: seorang pemuda sebatang kara, yang melarikan diri dari Mesir tanpa membawa apa-apa, tiba sebagai orang asing di sebuah sumur di Madyan. Setelah memberi minum ternak milik dua perempuan yang belum pernah ia temui, beliau menepi ke tempat teduh mana pun yang bisa ia temukan, dan inilah yang beliau ucapkan:

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.‘”

— Surah Al-Qashash, 28:24

Ini adalah permintaan yang paling tidak spesifik dari kelima doa tersebut. Musa tidak meminta makanan, tempat tinggal, keselamatan dari orang-orang yang menginginkan kematiannya di Mesir, atau jalan pulang ke keluarganya. Beliau menyebutkan kondisinya—faqīr, sangat membutuhkan—dan membiarkan objek kalimatnya terbuka: min khayrin, dari kebaikan apa pun yang Engkau turunkan. Beliau tidak memilih kebaikan yang mana. Beliau hanya menyatakan bahwa ia tidak memiliki apa-apa, dan bahwa apa pun yang datang pastilah berasal dari Allah, lalu membiarkan hal itu menjadi keseluruhan permintaannya. Apa yang terjadi selanjutnya dalam surah yang sama adalah tawaran pernikahan dan pekerjaan tetap selama bertahun-tahun yang sama sekali tidak pernah ia sebutkan: pria yang telah ia bantu menawarkan salah satu dari dua putrinya untuk dinikahi dengan imbalan delapan tahun bekerja, atau sepuluh tahun jika ia mau (28:27)—sebuah kehidupan yang tertata utuh dalam ayat-ayat yang mengikuti sebuah doa yang tidak menyebutkan apa pun selain rasa butuh.

Ibrahim: Permintaan yang Terbuka

Permintaan Ibrahim ‘alaihissalam datang pada titik tertentu dalam kisahnya: setelah meninggalkan kaumnya dan berdoa agar ditunjukkan jalan yang benar, pada usia ketika menjadi seorang ayah tampaknya sudah tidak mungkin, beliau mengucapkan beberapa patah kata:

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”

— Surah Ash-Shaffat, 37:100

Ṣāliḥīn—orang-orang yang saleh—bukanlah berarti putra, putri, ahli waris, atau bahkan anak. Itu adalah gambaran sebuah karakter, yang diutarakan tanpa merinci karakter siapa itu nantinya atau bagaimana ia akan datang. Ayat berikutnya langsung menyebutkan bahwa Allah memberinya kabar gembira dengan seorang anak laki-laki yang penyabar (37:101), tetapi permintaan itu sendiri memohon sebuah kualitas, bukan sosok manusia. Ibrahim tidak merancang keluarga seperti apa yang ia inginkan. Beliau meminta agar dikaruniai sesuatu dari golongan orang-orang yang saleh, dan menyerahkan wujud karunia tersebut kepada Zat yang beliau mintai.

Makna di Balik Pola Tersebut

Tiga dari doa-doa ini—doa Ayyub, Yunus, dan Zakariyya—berada berurutan di dalam Surah Al-Anbiya’, dan masing-masing diikuti oleh dua kata bahasa Arab yang sama: fa-istajabnā lahu, “maka Kami kabulkan doanya.” Setelah doa yang ketiga, surah ini berhenti menjabarkan nabi-nabi secara individu dan menyatakan, secara umum, kesamaan yang mereka miliki:

فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ

“Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”

— Surah Al-Anbiya’, 21:90

Bersegera dalam kebaikan, berdoa kepada Allah dengan penuh harap dan cemas, serta kekhusyukan yang tak pernah pudar di bawah tekanan yang sangat berbeda dari kelima manusia ini—itulah yang disajikan sebagai alasan sebenarnya di balik terkabulnya doa mereka, bukan sekadar susunan kata dari doa itu sendiri. Pola yang mereka gunakan, yakni menyebutkan kondisi mereka, menyebut nama Allah, lalu berhenti, bukanlah sebuah teknik yang dengan sendirinya membuahkan hasil. Sebaliknya, pola ini justru memperlihatkan bagaimana wujud permohonan dari seseorang yang sudah berhenti mencoba mengatur hasil akhirnya. Ayyub tidak perlu merinci kesembuhannya karena beliau memercayakan penderitaannya kepada Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Musa tidak perlu merinci kebaikan apa yang ia butuhkan karena ia sudah yakin bahwa apa pun yang Allah turunkan pastilah baik. Itu bukanlah permintaan yang lebih kerdil dibandingkan permintaan yang terperinci. Itulah wujud sejati dari sebuah permohonan ketika seseorang benar-benar mengimani siapa Zat yang sedang ia mintai.

Lanjutkan

Strengthening Iman Through Dua · Bagian 4 dari 5

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.