Lewati ke konten

Quran Gallery Blog · Artikel

Tujuan Telah Ditetapkan Sebelum Perjalanan Dimulai

Sebelum satu mil pun perjalanan menuju Madinah ditempuh, sebuah kalimat yang diucapkan dari atas mimbar telah menentukan apa tujuan perjalanan tersebut. Di antara ucapan perpisahan kepada Makkah dan janji yang dibisikkan di dalam gua, hijrah ternyata bukan sekadar tentang jalan yang dilalui, melainkan tentang apa yang rela ditinggalkan oleh seorang musafir, dan demi siapa.

ZulhijahBaca 6 menit3 sumberMadinahBagian 1 dari 2

Penulis:The Quran Gallery team

Sebelum ada jalan menuju Madinah, ada seorang pria yang berdiri terdiam di al-Hazwarah, pasar di jantung kota Makkah, di atas untanya, berbicara kepada kota yang akan ditinggalkannya seolah-olah kota itu bisa mendengarnya. Abdullah bin Adi bin al-Hamra, yang menyaksikannya, hanya melaporkan apa yang ia lihat dan dengar:

وَاللهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللهِ إِلَى اللهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

“Demi Allah, engkau adalah bumi Allah yang paling baik, dan bumi Allah yang paling dicintai oleh Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan pergi.”

— Sunan al-Tirmidhī, hadis 4267, edisi cetak halaman 6/420 dari . Al-Tirmidhī sendiri menilai riwayat ini sebagai ḥasan ṣaḥīḥ.

Itu bukanlah perkataan seseorang yang pergi dengan senang hati. Ia tidak pergi karena Makkah sudah tidak lagi berarti baginya; ia menyebutnya sebagai tempat yang paling dicintai di muka bumi pada saat yang sama ketika ia harus memunggunginya. Kepergian itu dipaksakan oleh orang-orang, bukan dipilih karena tempatnya. Namun, apa yang lahir dari kepergian yang dipaksakan itu akan terus dikenang, diceritakan kembali, dan pada akhirnya diberi nama dengan kategorinya sendiri: hijrah. Pasti ada sesuatu yang menjelaskan mengapa pengusiran dari kota yang dicintai ini menjadi salah satu tonggak penentu bagi keseluruhan agama ini, dan bukan sekadar penderitaan yang harus ditanggung. Penjelasannya telah diberikan bahkan sebelum perjalanan itu sendiri dimulai, melalui kata-kata yang sama sekali tidak menyebut Makkah maupun Madinah.

Sebuah Perjalanan Diukur dari Apa yang Menjadi Tujuannya

Bertahun-tahun sebelumnya—dan, seperti yang terjadi, bergenerasi-generasi kemudian, setiap kali riwayat ini diceritakan kembali—Umar bin Khattab berdiri di atas mimbar dan menyampaikan kepada jamaah persis seperti apa yang ia dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melalui tradisi yang panjang, kalimat ini menjadi hal pertama yang dipelajari oleh setiap penuntut ilmu hadis:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih, atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia tuju.”

— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 1, edisi cetak halaman 1/6 dari .

Perhatikan apa yang tidak perlu disebutkan oleh hadis tersebut. Hadis ini memberikan dua contoh hijrah yang kosong—pergi demi harta, pergi demi pernikahan—dan membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri kebalikannya yang sudah jelas: hijrah yang dilakukan karena Allah dan Rasul-Nya adalah hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Prinsipnya dinyatakan sekali, di awal, dan tidak pernah diulang: amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Segala sesuatu setelahnya hanyalah ilustrasi tentang apa yang terjadi ketika niat seseorang lebih kerdil daripada perbuatan yang tampak. Dua orang bisa berjalan di jalan yang sama persis, tidur di tempat yang sama persis, tiba di kota yang sama persis, namun yang satu telah melakukan hijrah sementara yang lain sekadar berpindah tempat.

Inilah sebabnya mengapa pria yang berdiri di al-Hazwarah itu bisa menyebut Makkah sebagai bumi yang paling dicintai dan tetap meninggalkannya tanpa membuat hijrahnya, dalam arti apa pun, menjadi tentang Makkah. Kota itu bukanlah penghalangnya dan Madinah belum menjadi tujuannya. Apa yang membuat kepergian itu menjadi sebuah hijrah sama sekali bukan soal geografi. Melainkan karena ia sedang menempuh perjalanan menuju Allah dan Rasul-Nya, dan segala sesuatu yang menimpanya di sepanjang jalan—kesedihan, bahaya, kelelahan—dialami oleh seseorang yang sedang melangkah menuju sesuatu, bukan seseorang yang sekadar melarikan diri dari sesuatu.

Berdua, dan Allah sebagai yang Ketiga

Perbedaan itu langsung diuji, di dalam sebuah gua di luar Makkah, sebelum perjalanan menuju Madinah benar-benar dimulai. Abu Bakar, satu-satunya orang yang dipilih untuk menemaninya dalam perjalanan, kelak menceritakan kepada putranya tentang apa yang terjadi ketika para pengejar mereka tiba di mulut gua:

نَظَرْتُ إِلَى أَقْدَامِ المشركين على رؤوسنا وَنَحْنُ فِي الْغَارِ. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ إِلَى قَدَمَيْهِ أَبْصَرَنَا تَحْتَ قَدَمَيْهِ. فَقَالَ "يَا أَبَا بَكْرٍ! مَا ظنك باثنين الله ثالثهما"

“Aku melihat ke arah kaki orang-orang musyrik tepat di atas kepala kami saat kami berada di dalam gua, dan aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya ia akan melihat kita di bawah kakinya.’ Beliau bersabda, ‘Wahai Abu Bakar, apa dugaanmu tentang dua orang, sementara Allah adalah yang ketiga dari mereka?‘”

— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 2381, edisi cetak halaman 4/1854 dari .

Tidak ada penenang dalam jawaban tersebut yang mengatakan bahwa para pengejar akan menyerah, atau bahwa gua itu tersembunyi dengan baik, atau bahwa bahaya akan segera berlalu. Jawaban itu sama sekali tidak membahas tentang peluang selamat. Jawaban itu membahas tentang jumlah: bukan dua orang melawan banyak orang, melainkan dua orang yang menjadi tiga karena kehadiran Dzat yang tidak bisa dilihat atau dicari oleh para pelacak yang berdiri di mulut gua. Al-Qur’an kemudian menggambarkan momen yang sama dari sudut pandang luar, menyebutkan rasa takut itu secara langsung alih-alih mengabaikannya:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jika kamu tidak menolongnya—sungguh Allah telah menolongnya ketika orang-orang yang kafir mengusirnya, sebagai salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada di dalam gua dan ia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih; sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan membantunya dengan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan menjadikan kalimat orang-orang yang kafir itu paling rendah, sementara kalimat Allah—itulah yang paling tinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

— Sūrat al-Tawbah, 9:40

Jika dibaca berdampingan, hadis dan ayat tersebut menjawab dua sisi berbeda dari ketakutan yang sama. Ketakutan Abu Bakar adalah demi keselamatan mereka berdua, dan jawaban yang ia terima adalah tentang mereka berdua yang menjadi tiga. Fokus ayat tersebut lebih luas—ayat ini menegaskan apa yang terjadi pada “kalimat orang-orang yang kafir” melawan “kalimat Allah,” sebuah pertarungan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan geometri gua. Kedua teks tersebut sepakat pada satu hal yang paling penting di saat itu: kesedihan dan bahaya dibiarkan hadir sepenuhnya, dirasakan tanpa harus ditepis dengan kata-kata, namun tetap tidak menjadi penentu atas apa yang akan terjadi selanjutnya.

Jalan Itu Selalu Mengarah pada Satu Tujuan

Semua ini tidak lantas membuat hijrah menjadi lebih mudah dibayangkan—ketakutan di dalam gua adalah ketakutan yang nyata, perpisahan dari Makkah adalah perpisahan yang nyata, diucapkan dengan kerinduan yang mendalam terhadap tempat yang ditinggalkan. Apa yang diberikan oleh hadis tentang niat adalah alasan mengapa semua kesulitan itu tidak pernah mengubah hakikat perjalanan tersebut. Seseorang bisa saja diusir dari rumahnya, menangisi rumah yang terpaksa ia tinggalkan, dan mengkhawatirkan nyawanya saat melarikan diri, namun di saat yang sama ia tetap menempuh perjalanan menuju Allah dan Rasul-Nya, karena hal itu telah ditetapkan sebelum langkah pertama diayunkan, bukan dibuktikan oleh seberapa mudah setiap mil yang dilalui.

Hal ini patut kita bawa ke dalam setiap perjalanan yang kita tempuh hari ini, dengan alasan yang sama seperti saat perjalanan pertama itu dilakukan. Jarak yang ditempuh, ketidaknyamanan yang ditanggung, bahkan tempat tujuan yang dicapai, bukanlah hal yang membuat sebuah perjalanan disebut sebagai hijrah. Apa yang menjadikannya hijrah telah ditetapkan pada titik niat, sebelum jalan itu sempat mengujinya—dan jalan menuju Madinah, dulu maupun sekarang, hanyalah sebuah sarana untuk tiba pada apa yang telah ditetapkan sebelumnya.

Lanjutkan

Madinah · Bagian 1 dari 2

Tanya

Tanyakan kepada perpustakaan tentang apa yang baru Anda baca

Setiap jawaban mengutip halaman cetak — edisi, jilid, dan halaman bernama — dan mengatakannya bila teks tidak menjawab pertanyaan itu.

Membuka obrolan Quran Gallery dengan pertanyaan Anda.