Quran Gallery Blog · Artikel
Mencintai Sang Rasul, Mencintai Kekasih Allah
Al-Qur'an tidak serta-merta menerima pengakuan cinta kepada Allah begitu saja — ada ujian yang menyertainya, dan ujian tersebut bermuara pada cinta kepada Rasul-Nya. Apa yang sebenarnya dituntut dari seorang mukmin melalui ujian ini, dan apa yang dijanjikan sebagai balasannya, bukanlah sekadar perasaan haru saat mendengar nama beliau.
Baca 6 menit3 sumber
Penulis:The Quran Gallery team
Orang-orang dengan mudah mengatakan bahwa mereka mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengucapkannya memang tidak butuh biaya. Namun, Al-Qur’an tidak membiarkan pengakuan cinta kepada Allah berdiri sendiri — ada syarat yang menyertainya, dan syarat tersebut bukanlah sekadar perasaan:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
— Surah Āl ʿImrān, 3:31
Perhatikan apa yang tidak disebutkan dalam ayat ini. Ayat ini tidak meminta pembuktian atas sebuah perasaan, karena perasaan tidak bisa dibuktikan — ia hanya bisa diklaim. Sebaliknya, ayat ini menyebutkan sebuah kata kerja, ittibāʿ, “mengikuti,” dan menjadikannya sebagai satu-satunya bukti yang akan Allah terima atas pengakuan cinta tersebut. Ada hal lain yang juga mudah terlewatkan: jalan untuk mencintai Allah, menurut ayat ini, harus melalui seseorang. Bukan melalui ketaatan yang abstrak, bukan pula sekadar niat yang lebih baik — melainkan secara spesifik melalui jalan mengikuti Sang Rasul. Cinta kepada beliau bukanlah bentuk ketaatan kedua yang bersifat opsional dan bersanding dengan cinta kepada Allah. Cinta kepada beliau adalah mekanisme yang membuat cinta kepada Allah menjadi nyata, bukan sekadar ucapan di lisan.
Hal ini mengubah sudut pandang dari pertanyaan yang sering diajukan terkait topik ini. “Apakah Anda mencintai Nabi?” terdengar seperti pertanyaan tentang hati. Namun, jika disandingkan dengan ayat ini, pertanyaan tersebut sebenarnya adalah tentang langkah kaki — tentang ke arah mana sebuah kehidupan berjalan. Hati yang tersentuh oleh nama beliau, tetapi pemiliknya tidak mengubah satu pun kebiasaan agar selaras dengan sunnah beliau, belumlah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Al-Qur’an. Ia hanya menjawab pertanyaan lain yang jauh lebih mudah.
Dua Redaksi, Satu Kedudukan
Jika “mengikuti” adalah buktinya, hadis juga menjelaskan apa yang harus diungguli oleh sikap mengikuti tersebut. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 15, halaman cetak 1/12 dari .
Hal ini tidak diungkapkan sebagai sebuah keutamaan yang sekadar untuk dicita-citakan. Ia diungkapkan sebagai fondasi dasar dari keimanan itu sendiri — “tidaklah beriman salah seorang dari kalian,” bukan “tidaklah sempurna” atau “tidaklah luar biasa.” Dan kedudukan yang disebutkan di sini bersifat menyeluruh dengan cara yang spesifik: ia merentang ke belakang kepada orang tua yang telah memberi kehidupan, ke depan kepada anak yang demi melindunginya orang tua rela mengorbankan apa saja, dan meluas ke luar kepada setiap manusia lain yang ada di dunia. Tidak ada satu pun pengecualian yang tersisa di luar ketiga kategori tersebut.
Anas menyampaikan riwayat yang sama melalui jalur lain, dan Imam Muslim mencatatnya dengan pasangan kata yang berbeda:
لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih dicintainya daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 44, halaman cetak 1/49 dari .
Redaksi Imam Bukhari menyebutkan orang-orang yang terikat dengan seorang mukmin melalui pertalian darah: mereka yang membesarkannya, dan mereka yang ia besarkan. Redaksi Imam Muslim menyebutkan apa yang mengikat seseorang melalui keterikatan hati dan jerih payah: rumah tangga yang ia bangun, dan harta yang ia kumpulkan. Di antara keduanya, hampir setiap hal biasa yang menjadi pusat kehidupan manusia telah disebutkan dan ditempatkan di bawah satu standar. Kedua jalur periwayatan ini tidak sedang berselisih tentang isi hadis — keduanya menyebutkan dua sisi berbeda dari satu tuntutan yang utuh, masing-masing menutup celah alasan yang mungkin dicari-cari oleh seseorang.
Apa yang Tidak Dituntut dari Kedudukan Ini
Jika dibaca berdiri sendiri, standar semacam itu bisa terdengar seperti tolok ukur yang mustahil dicapai oleh orang biasa. Mencintai beliau lebih dari anak sendiri bukanlah klaim kecil yang bisa diucapkan dengan jujur begitu saja. Namun, kitab yang sama yang menetapkan standar tersebut juga mencatat apa yang sebenarnya bisa membuat seseorang dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya — dan syaratnya bukanlah harus menyamai amal perbuatan mereka. Anas bin Malik meriwayatkan:
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ قَالَ: لَا شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ. قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ. قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ “Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari Kiamat: ‘Kapan Kiamat itu tiba?’ Beliau menjawab, ‘Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?’ Laki-laki itu berkata, ‘Tidak ada — kecuali bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Beliau bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’ Anas berkata: Kami tidak pernah merasa begitu gembira terhadap sesuatu melebihi kegembiraan kami mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’ Anas berkata: Maka aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap bisa bersama mereka karena kecintaanku kepada mereka, meskipun aku belum beramal seperti amalan mereka.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 3688, halaman cetak 5/12 dari .
Perhatikan betapa hati-hatinya Anas menyatakan posisinya sendiri. Ia tidak mengklaim memiliki amalan seperti Abu Bakar dan Umar. Ia menyatakan dengan terus terang bahwa catatan amalnya tidak sebanding dengan mereka. Apa yang ia klaim adalah cinta, dan hadis yang ia kutip sangat jelas mengenai apa yang akan didapatkan dari cinta tersebut: bukan pahala atas amal yang tidak ia kerjakan, melainkan kebersamaan dengan orang-orang yang benar-benar ia cintai. Ini bukanlah sebuah celah dari standar yang ditetapkan oleh sabda “tidaklah beriman salah seorang dari kalian.” Justru inilah yang membuat standar tersebut bisa dijalani dan tidak menghancurkan harapan. Cinta yang dituntut oleh hadis sebelumnya bukanlah sebuah pencapaian yang hanya bisa diselesaikan atau digagalkan secara mutlak — melainkan sebuah arah tujuan yang bisa dipegang teguh oleh seseorang dengan jujur hari ini, meski tidak sempurna, dan tetap diperhitungkan nilainya.
Namun, kedua hadis ini hanya bisa sejalan jika cinta pada hadis kedua adalah jenis cinta yang sama dengan yang digambarkan pada hadis pertama — dan jenis cinta yang sama dengan yang telah didefinisikan dalam 3:31. Cinta yang tidak mengubah apa pun dari cara seseorang menjalani hidup bukanlah cinta yang sedang dibicarakan oleh ketiga teks ini; itu adalah versi cinta yang lebih mudah dan tanpa pengorbanan, yang sejak awal ditolak oleh Al-Qur’an. Laki-laki dalam hadis tersebut tidak mengatakan bahwa ia mencintai Nabi di dalam hatinya sambil tetap hidup persis seperti sebelumnya. Ia menyebut Allah dan Rasul-Nya sebagai bekal yang ia miliki, sebagai ganti dari amal perbuatan yang tidak ia punyai, dan jawaban yang ia terima memberikan ganjaran atas sebuah cinta yang, pada saat itu, merupakan seluruh isi dari arah hidupnya.
Pertanyaan yang Sebenarnya Dijawab oleh Pengakuan Tersebut
Gabungkan ketiganya, maka bentuk dari apa yang dituntut akan menjadi jelas. Mencintai Sang Rasul bukanlah sekadar perasaan religius yang berjalan beriringan dengan ketaatan — cinta itu sendiri adalah alasan keberadaan ketaatan tersebut, karena mengikuti beliau sejak awal telah ditetapkan sebagai syarat untuk meraih cinta Allah. Cinta itu, ketika ia nyata, harus mengungguli orang-orang yang terikat pertalian darah dengan kita dan hal-hal yang kita usahakan dengan jerih payah — bukan sebagai bentuk penghinaan terhadap keluarga atau rezeki, melainkan karena tidak ada hal lain yang boleh menempati posisi lebih tinggi dalam urutan hal-hal yang paling disayangi oleh hati. Dan ganjaran karena memegang teguh cinta tersebut, bahkan tanpa menyamai amal perbuatan mereka yang memegangnya dengan lebih baik, bukanlah sekadar mendapatkan bagian pahala yang lebih kecil dari apa yang mereka raih — melainkan kebersamaan dengan mereka.
Jadi, pertanyaan yang sebenarnya dijawab oleh pengakuan cinta kepada beliau bukanlah tentang bagaimana perasaan hati ketika nama beliau disebut. Melainkan tentang apa saja yang telah direlakan oleh hati untuk ditempatkan di bawah kedudukan beliau.
Terkait
Artikel Beliau Mencintai Kita Lebih Dulu: Arah Kasih Sayang Sang Nabi Selawat biasanya dianggap sebagai utang budi kita kepada beliau. Namun, catatan hadis menunjukkan sebaliknya — beliau menangis untuk umat yang belum ada, memanggil mereka saudara sebelum mereka lahir, dan menghabiskan satu-satunya doa yang pasti terkabul sepenuhnya untuk kita. Journey Through Salah Salam: Kalimat yang Melepaskan Anda dari Salat Salam bukanlah sekadar penutup salat yang berlalu begitu saja — ia adalah tindakan yang mengakhirinya, pasangan dari takbir yang memulainya. Apa saja kalimatnya, seberapa jauh kepala menoleh, siapa yang sebenarnya disapa, apakah satu salam atau dua, dan zikir yang ditempatkan oleh sumber-sumber rujukan tepat setelahnya. Journey Through Salah Sebelum Salam: Selawat untuk Nabi, dan Doa Anda Sendiri Bagian terakhir dari salat, setelah tahiyat dan sebelum salam, berjalan sesuai urutan yang diajarkan: pujian, lalu selawat kepada Nabi, kemudian apa pun yang ingin Anda minta. Setiap langkahnya disebutkan dalam hadis yang bisa Anda buka, termasuk satu bagian di mana bacaan yang baku memberikan kebebasan kata-kata kembali kepada Anda.
