Quran Gallery Blog · Artikel
Dua Belas Bulan, Satu yang Menyandang Nama Allah
Al-Qur'an mengistimewakan empat bulan dari delapan bulan lainnya dan menyebut pembagian ini sebagai "agama yang lurus." Satu dari keempat bulan tersebut memiliki kedudukan yang lebih tinggi — sebuah hadis memberinya nama yang tidak dimiliki bulan lain dalam kalender: bulan Allah. Esai ini membahas dasar dari keistimewaan tersebut, dan mengapa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab pertanyaan langsung tentangnya dengan menyebutkan ibadah puasa.
MuharamBaca 7 menit3 sumberMuharram
Penulis:The Quran Gallery team
Setiap tahun hijriah, kalender Islam berganti pada bulan yang sama seperti biasanya, tanpa hiruk-pikuk yang lazim menyertai pergantian tahun—tidak ada hitung mundur, tidak ada yang menatap jam menanti tengah malam, bahkan tidak ada kesepakatan universal tentang malam apa tahun yang lama benar-benar berakhir, karena rukyatul hilal sering kali berselisih satu hari tanpa disadari banyak orang. Alih-alih perayaan, pergantian ini ditandai oleh ketetapan dalam Al-Qur’an tentang bagaimana dua belas bulan itu dibagi sejak awal, dan ketetapan kedua dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa nama sebenarnya dari salah satu bulan tersebut. Kedua ketetapan ini sejatinya bukan sekadar urusan kalender. Keduanya berbicara tentang hak dan adab terhadap rentang waktu yang telah Allah tetapkan untuk diperlakukan berbeda dari yang lain.
Kalender yang Lebih Tua dari Tanah Suci
Pembagian bulan ini tidak menunggu kedatangan Islam untuk menjadi sesuatu yang penting. Surah at-Taubah menyatakannya sebagai fakta yang sudah mapan, ditujukan kepada orang-orang yang secara umum sudah memahami apa yang sedang disampaikan kepada mereka:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَـٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَـٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
— Surah at-Taubah, 9:36
Kalimat yang menyusul setelah penyebutan jumlah bulan tersebut beralih ke persoalan lain—perintah perang untuk melawan kaum musyrikin Makkah yang telah melanggar perjanjian, yang terikat pada momen spesifik dalam sejarah Madinah alih-alih aturan baku tentang bulan-bulan tersebut. Bagian pertamanyalah yang menjadi inti pembahasan di sini: dua belas bulan, empat di antaranya diistimewakan, dan pengistimewaan itu sendiri disebut sebagai “agama yang lurus”—bukan sekadar tradisi yang menempel pada agama, melainkan deskripsi tentang hakikat agama itu sendiri.
Bangsa Arab tidak perlu diberi tahu bahwa satu tahun terdiri dari dua belas bulan. Apa yang ditegaskan oleh ayat ini adalah hitungan yang kedua: empat bulan yang mana saja, dan atas otoritas siapa. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama-nama bulan tersebut dalam ayat ini. Penamaan itu, beserta sebuah perselisihan kecil yang tersembunyi di baliknya, datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.
Empat Bulan yang Diberi Nama
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحَجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ “Zaman telah berputar kembali seperti keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan haram (suci): tiga bulan berturut-turut—Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam—serta bulan Rajab milik kabilah Mudar, yang terletak antara Jumadilakhir dan Syakban.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 4662, edisi cetak halaman 6/66 dari .
Imam Bukhari tidak memasukkan riwayat ini ke dalam bab sejarah atau bab haji. Beliau menempatkannya tepat di bawah judul bab yang membahas ayat ini, memperlakukan sabda Nabi tersebut sebagai tafsir langsung atas ayat itu, bukan sekadar riwayat terpisah yang kebetulan sejalan dengannya.
Penamaan ini menyimpan sebuah perselisihan kecil yang mudah terlewatkan pada pembacaan pertama. Dua konfederasi kabilah, Mudar dan Rabiah, berselisih paham tentang bulan mana di antara Jumadilakhir dan Syakban yang sebenarnya dihitung sebagai bulan suci Rajab—ada selisih satu bulan penuh di antara perhitungan mereka, pada hal yang justru sangat dibanggakan oleh bangsa Arab pra-Islam ketepatannya. Saat menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan mengapa hadis tersebut perlu merincinya: Nabi menyebutkan “Rajab milik kabilah Mudar” justru untuk meluruskan kalender mana yang benar dan mana yang telah bergeser.
— Tafsīr Ibn Kathīr, edisi cetak halaman 4/288 dari .
Sebuah tradisi yang telah dijaga oleh bangsa Arab selama berabad-abad sebelum Islam datang, namun tetap saja meleset satu bulan dari yang seharusnya pada saat wahyu turun meluruskannya. Kesucian keempat bulan tersebut tetap bertahan utuh; namun perhitungan matematis di baliknya tidak.
Di Mana Timbangan Amal Menjadi Lebih Berat
Pada halaman yang sama dalam tafsir Ibnu Katsir, beberapa baris ke bawah, pembahasannya beralih dari empat bulan mana saja yang dimaksud, menuju apa yang sebenarnya membedakan waktu yang dihabiskan di dalamnya. Dua mufasir generasi awal, saat menelaah penggalan ayat berikutnya—“maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu”—memahaminya lebih dari sekadar pengulangan peringatan umum agar menjauhi dosa.
فلا تظلموا فيهن أنفسكم في كلُهنَّ، ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهنَّ حرامًا وعظم حرماتهنَّ، وجعل الذنب فيهنَّ أعظم والعمل الصالح والأجر أعظم “‘Janganlah kamu menganiaya dirimu di dalamnya’—ini berlaku untuk kedua belas bulan secara merata. Kemudian empat di antaranya dikhususkan dan dijadikan bulan haram (suci), kesuciannya diagungkan: dosa di dalamnya dijadikan lebih besar, dan amal saleh serta pahalanya pun dijadikan lebih besar.” — Ibnu Abbas
Qatadah, saat menafsirkan penggalan ayat yang sama, membawa pemahaman ini selangkah lebih jauh dan menghubungkannya dengan pola yang lebih luas yang ia lihat bertebaran di dalam wahyu:
إن الظلم في الأشهر الحرم أعظم خطيئة ووزرًا من الظلم فيما سواها، وإن كان الظلم على كل حال عظيمًا، ولكن الله يعظم من أمره ما يشاء، وقال: إن الله اصطفى صفايا من خلقه؛ اصطفى من الملائكة رسلًا، ومن الناس رسلًا، واصطفى من الكلام ذكره، واصطفى من الأرض المساجد. واصطفى من الشهور رمضان والأشهر الحرم، واصطفى من الأيام يوم الجمعة، واصطفى من الليالي ليلة القدر فعظِّموا ما عظَّم الله. فإنما تعظيم الأمور بما عظمها الله به عند أهل الفهم وأهل العقل “Kezaliman di bulan-bulan haram adalah kesalahan yang lebih fatal dan dosa yang lebih berat dibandingkan kezaliman di bulan-bulan lainnya—meskipun kezaliman itu sendiri adalah perkara besar dalam setiap keadaan, namun Allah mengagungkan urusan-Nya sesuai kehendak-Nya. Allah telah memilih yang terbaik dari makhluk-Nya: dari kalangan malaikat Dia memilih para utusan, dan dari kalangan manusia Dia memilih para utusan; dari segala ucapan Dia memilih zikir kepada-Nya; dari seluruh hamparan bumi Dia memilih masjid-masjid. Dan dari semua bulan Dia memilih Ramadan dan bulan-bulan haram, dari semua hari Dia memilih hari Jumat, dan dari semua malam Dia memilih Lailatulkadar. Maka agungkanlah apa yang telah diagungkan oleh Allah—karena sesungguhnya pengagungan suatu perkara, bagi orang-orang yang memiliki pemahaman dan akal, hanyalah mengikuti apa yang telah Allah sendiri jadikan agung.”
Jika kedua tafsir ini dibaca bersamaan, bulan-bulan haram tidak lagi sekadar catatan kaki dalam kalender, melainkan menjadi semacam kaca pembesar: apa pun yang dilakukan seseorang di dalamnya, baik atau buruk, akan dinilai dengan skala yang berbeda dibandingkan perbuatan yang sama di bulan biasa. Ini bukanlah klaim bahwa bulan-bulan itu sendiri merupakan pijakan yang lebih suci daripada bagian bumi lainnya. Ini adalah penegasan tentang bobot yang diberikan pada apa pun yang terjadi di dalamnya.
Bulan yang Namanya Sendiri Mengistimewakannya
Dari keempat bulan haram tersebut, hanya satu yang menyandang predikat lebih dari sekadar “suci.” Seorang sahabat pernah bertanya langsung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang puasa dan salat apa yang paling utama di luar ibadah wajib, dan jawaban beliau menyebutkan satu bulan dengan gelar yang tidak dimiliki oleh bulan mana pun dalam kalender:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharam. Dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 1163, edisi cetak halaman 2/821 dari . Imam Muslim menempatkan riwayat ini di bawah bab yang beliau beri judul singkat, “Keutamaan puasa Muharam.”
Setiap bulan lain dalam kalender Islam menyandang nama yang dipinjam dari hal lain—musim, kebiasaan lama kabilah, atau kondisi yang diasosiasikan oleh bangsa Arab dengan rentang waktu tersebut. Hanya Muharam yang disandarkan langsung kepada Allah, bukan pada hal-hal semacam itu. Dan ketika seorang sahabat bertanya tentang ibadah apa yang paling utama, jawaban beliau tidak mendeskripsikan bulannya terlebih dahulu baru kemudian puasanya. Beliau menyebutkan nama bulan dan ibadah puasa dalam satu tarikan napas, seolah-olah kedua fakta ini tidak pernah bisa dipisahkan: ini adalah bulan yang disandarkan pada nama Allah, dan inilah yang semestinya dilakukan seseorang di dalamnya.
Semua itu bukanlah alasan untuk menunggu tanggal tertentu di dalam bulan tersebut sebelum memperlakukannya sebagai waktu yang telah dikhususkan. Al-Qur’an telah menetapkan jumlah bulan sebanyak dua belas dan mengistimewakan empat di antaranya bahkan sebelum Islam memiliki satu pun pengikut untuk mencatat perhitungannya. Tafsir dari ayat yang sama menyatakan bahwa catatan amal itu sendiri menjadi lebih berat di dalamnya, baik untuk keburukan maupun kebaikan. Dan hadis tersebut menyematkan nama pada satu dari keempat bulan itu yang tidak diberikan kepada bulan lain dalam kalender, lalu menjawab pertanyaan tentang keutamaan dengan menunjuk langsung pada ibadah puasanya. Tahun yang diawali di dalam bulan yang menyandang nama Allah sendiri, dengan catatan amal terberat sepanjang tahun yang sudah mulai berjalan, bukanlah lembaran kosong yang menunggu untuk diisi nanti—ia adalah lembaran yang telah dikhususkan, dan berpuasa adalah apa yang diperintahkan oleh jawaban Nabi sendiri untuk mengisinya.
Lanjutkan
Muharram
Terkait
Muharram Puasa yang Tak Sempat Beliau Selesaikan: Pesan yang Masih Disimpan Asyura Asyura sudah dianggap suci sebelum datangnya Islam, sempat diwajibkan di Madinah, lalu kewajiban itu gugur seketika saat puasa Ramadan disyariatkan — namun Nabi tetap mengistimewakannya seolah hampir tidak ada yang menandinginya. Inilah yang sebenarnya direkam oleh hadis tentang hari itu, dan rencana puasa hari kesembilan yang terputus oleh ajal. Journey Through Salah Salam: Kalimat yang Melepaskan Anda dari Salat Salam bukanlah sekadar penutup salat yang berlalu begitu saja — ia adalah tindakan yang mengakhirinya, pasangan dari takbir yang memulainya. Apa saja kalimatnya, seberapa jauh kepala menoleh, siapa yang sebenarnya disapa, apakah satu salam atau dua, dan zikir yang ditempatkan oleh sumber-sumber rujukan tepat setelahnya. Artikel Mencintai Sang Rasul, Mencintai Kekasih Allah Al-Qur'an tidak serta-merta menerima pengakuan cinta kepada Allah begitu saja — ada ujian yang menyertainya, dan ujian tersebut bermuara pada cinta kepada Rasul-Nya. Apa yang sebenarnya dituntut dari seorang mukmin melalui ujian ini, dan apa yang dijanjikan sebagai balasannya, bukanlah sekadar perasaan haru saat mendengar nama beliau.
