Quran Gallery Blog · Artikel
Ikhlas: Satu-satunya Hal yang Membuat Amal Bernilai
Sahih Muslim meriwayatkan peringatan tentang nasib seorang syahid, seorang ulama, dan seorang dermawan, yang masing-masing diseret ke dalam Neraka karena amal yang tak seorang pun menyangkal benar-benar terjadi. Yang hilang bukanlah amalannya, melainkan alasannya, dan kitab hadis yang sama juga memelihara penjelasan Allah sendiri tentang betapa Dia sama sekali tidak menoleransi niat yang mendua.
Baca 7 menit3 sumber
Penulis:The Quran Gallery team
Ketika ʿUmar bin al-Khaṭṭāb berdiri di mimbar Nabi bertahun-tahun setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau tidak memilih untuk mengingatkan jemaah tentang aturan salat atau puasa. Beliau menyampaikan apa yang pernah didengarnya dari Nabi tentang hal yang menentukan apakah semua ibadah itu bernilai atau tidak:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia tuju.”
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis 1, halaman cetak 1/6 dari .
Al-Bukhārī tidak menyembunyikan riwayat ini di tengah-tengah kitabnya. Beliau membuka keseluruhan kitab Ṣaḥīḥ-nya dengan hadis ini, sebelum satu pun hukum tentang wudu atau salat dibahas, bahkan sebelum bab tentang wahyu selesai menyampaikan poinnya. Setiap ulama yang menulis tentang metode beliau menyadari hal yang sama: sebuah kompilasi yang dibangun untuk menjaga hukum dan ibadah selama empat belas abad, secara sengaja, diawali dengan kalimat tentang keadaan hati seseorang. Hukum fikih datang belakangan. Alasan di balik amal tersebut ditempatkan di awal, karena tanpa alasan yang benar, apa pun yang dilakukan setelahnya tidak akan ada harganya.
Makna Kata Itu Sendiri
Kata bahasa Arab untuk ketulusan, ikhlas (ikhlāṣ), berasal dari akar kata — kh-l-ṣ — yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perasaan, melainkan tentang proses pembersihan atau pemisahan. Ini adalah kata yang digunakan untuk memurnikan logam sampai tidak ada yang tersisa di dalamnya selain logam itu sendiri: tidak ada bijih, tidak ada terak, tidak ada jejak campuran apa pun saat logam itu baru digali dari tanah. Seorang mukhliṣ bukanlah seseorang yang memiliki perasaan menggebu-gebu terhadap ibadahnya. Ia adalah seseorang yang telah membersihkan suatu amal dari segala campuran hingga hanya hak Allah yang tersisa di dalamnya.
Itulah kata yang secara persis digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan bagaimana seharusnya bentuk ibadah itu sejak awal:
قُلِ ٱللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُۥ دِينِى “Katakanlah, ﴿Hanya Allah yang aku sembah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dalam agamaku.﴾”
— Surah az-Zumar, 39:14.
Perhatikan apa yang tidak disebutkan dalam ayat tersebut. Ayat itu tidak mengatakan “sembahlah Allah lebih dari apa pun,” yang mana hal itu masih menyisakan ruang bagi hal-hal lain untuk ikut campur dalam porsi yang lebih kecil. Ayat itu menggunakan kata mukhliṣan — dimurnikan untuk-Nya — sebuah kata yang menggambarkan keadaan mutlak tanpa kompromi, bukan sekadar porsi mayoritas. Sebuah amal itu bisa jadi sepenuhnya bersih dari kotoran, atau tidak dimurnikan sama sekali.
Transaksi yang Enggan Dibagi oleh Allah
Itu bukanlah sekadar penafsiran puitis dari kata tersebut. Hal ini dinyatakan sebagai aturan langsung, melalui lisan Nabi sendiri, yang mengutip firman Allah:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal yang di dalamnya ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan ia bersama sekutunya itu.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 2985, halaman cetak 4/2289 dari . Riwayat ini ditemukan di bawah bab yang diberi judul oleh Muslim “Orang yang menyekutukan selain Allah dalam amalnya” — yang juga dicatat, dalam beberapa manuskrip, sebagai bab “Tentang larangan riya (riyāʾ).”
Bacalah dengan saksama, karena perhitungannya tidak seperti kelihatannya. Hadis itu tidak mengatakan bahwa Allah menerima bagian amal yang dilakukan untuk-Nya dan membuang bagian yang dilakukan demi pujian orang lain — seolah-olah amal sedekah yang dilakukan sembilan persepuluh untuk Allah dan sepersepuluh untuk tepuk tangan masih mendapatkan sembilan persepuluh pahala. Hadis itu justru mengatakan sebaliknya: seluruh amal tersebut diserahkan kepada sekutu yang ikut disandingkan. Allah tidak mengambil bagian dari niat yang bercampur. Dia meninggalkan seluruh transaksi tersebut dan menyerahkannya kepada siapa pun yang ingin dibuat terkesan oleh pelakunya. Sebuah amal yang sembilan puluh sembilan persen ikhlas dan satu persen pamer, dalam perhitungan ini, sama sekali tidak sampai kepada-Nya.
Itu adalah standar yang jauh lebih berat daripada yang diasumsikan kebanyakan orang tentang ikhlas. Ikhlas tidak menuntut amal baik yang dilakukan dengan sikap yang sedikit lebih baik. Ikhlas mempertanyakan apakah, seandainya penonton dari suatu amal diam-diam dihilangkan — tidak ada yang melihat sedekahnya, tidak ada yang mendengar bacaannya, tidak ada yang menyadari puasanya — orang tersebut akan tetap melakukannya dengan cara yang sama persis.
Tiga Orang yang Pertama Kali Masuk Neraka
Peringatan Al-Qur’an dan hadis qudsi tersebut sama-sama menjelaskan sebuah prinsip. Ṣaḥīḥ Muslim juga memelihara gambaran praktisnya, dalam sebuah riwayat yang disampaikan Abū Hurayrah kepada seorang pria yang memintanya, secara langsung, untuk mengulangi sesuatu yang pernah ia dengar dari Nabi sendiri:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ “Orang pertama yang akan diadili pada Hari Kiamat adalah seorang pria yang mati syahid. Ia dihadapkan, Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya dan pria itu mengakuinya. ‘Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ ‘Aku berperang demi Engkau hingga aku mati syahid.’ ‘Kamu berdusta — kamu berperang agar dikatakan, dia adalah seorang pemberani. Dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam Neraka. Kemudian seorang pria yang menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Ia dihadapkan, diingatkan akan nikmat-nikmat tersebut, dan ia mengakuinya. ‘Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ ‘Aku menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an demi Engkau.’ ‘Kamu berdusta — kamu belajar agar dikatakan, dia adalah seorang ulama, dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan, dia adalah seorang qari. Dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian ia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam Neraka. Kemudian seorang pria yang telah Allah berikan kelapangan dan harta yang melimpah dari segala jenisnya. Ia dihadapkan, diingatkan akan nikmat-nikmat tersebut, dan ia mengakuinya. ‘Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ ‘Tidak ada satu jalan pun yang Engkau sukai untuk diinfakkan melainkan aku berinfak di jalan itu demi Engkau.’ ‘Kamu berdusta — kamu melakukannya agar dikatakan, dia adalah seorang dermawan. Dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian ia diseret di atas wajahnya lalu dilemparkan ke dalam Neraka.”
— Ṣaḥīḥ Muslim, hadis 1905, halaman cetak 3/1513 dari . Komentar yang terlampir pada halaman ini mencatat bahwa hukuman yang digambarkan bagi sang pejuang, ulama, dan dermawan tersebut adalah bukti betapa kerasnya larangan riya, dan bahwa pujian umum yang diberikan Al-Qur’an terhadap perjuangan, ilmu, dan sedekah hanyalah bagi siapa saja yang meniatkannya karena Allah.
Setiap amal dalam riwayat tersebut adalah amal yang memang diperintahkan oleh Islam: berperang membela umat, menyebarkan ilmu agama, dan menyedekahkan harta. Tak satu pun dari ketiga pria itu berbohong tentang apa yang mereka lakukan — catatan amal tersebut akurat dalam setiap kasusnya, dan Allah membenarkannya sebelum berfirman “kamu berdusta.” Yang palsu adalah alasannya. Amalnya nyata; namun pengabdian kepada Allah di dalamnya tidak ada. Dan mereka bukanlah tokoh-tokoh kecil yang dipilih sekadar untuk memudahkan penjelasan — seorang syahid, ulama, dan dermawan adalah tiga sosok yang paling mungkin dipuji oleh masyarakat tanpa mempertanyakan alasannya. Hadis ini tidak sedang memperingatkan tentang dosa yang nyata. Hadis ini memperingatkan tentang amal-amal paling agung yang bisa dilakukan seseorang, yang keropos dari dalam justru karena untuk siapa amal itu dilakukan.
Apa yang Tersisa Ketika Niat Dihilangkan
Sandingkan ketiga riwayat tersebut dan sebuah argumen tunggal akan muncul, di mana setiap bagiannya membuat bagian berikutnya semakin tajam. Niat menentukan nilai sebuah amal bahkan sebelum amal itu dimulai, itulah sebabnya Bukhārī menempatkannya di awal. Allah tidak memotong nilai dari niat yang mendua secara proporsional; Dia menyerahkan seluruhnya kepada sekutu yang disandingkan dengan-Nya, itulah sebabnya riwayat kedua menyebut-Nya sebagai “Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu” alih-alih sekadar murka. Dan penolakan ini bukanlah sekadar teori: tiga dari amal yang secara lahiriah paling mengesankan yang bisa dilakukan seseorang diperlihatkan, secara spesifik, berujung di Neraka, diseret ke sana dengan wajah tertelungkup — kebalikan dari kehormatan yang diharapkan oleh seorang syahid, ulama, atau dermawan.
Apa yang tidak ditawarkan oleh satu pun dari riwayat-riwayat tersebut adalah solusi instan, karena ikhlas bukanlah sebuah langkah yang selesai dilakukan sekali lalu bertahan selamanya. Pria yang berperang itu tidak berbohong saat pertempuran dimulai; kebohongan itu terletak pada apa yang diam-diam menjadi tujuan pertempurannya. Dorongan untuk dilihat biasanya tidak muncul sebagai sebuah keputusan sadar — ia datang sebagai kesenangan kecil dan biasa saat diperhatikan, mudah dirasakan dan lebih mudah lagi untuk diabaikan perasaannya. Memurnikan sebuah amal sebagaimana yang digambarkan oleh kata ikhlas bukanlah pilihan tunggal yang dibuat di awal. Ia adalah pemeriksaan yang dilakukan berulang kali pada saat melakukannya, dan dengan kejujuran yang cukup untuk menyadari jika niatnya sudah mulai bergeser.
Pada akhirnya, itulah keseluruhan dari apa yang dituntut oleh kata tersebut. Bukan ibadah yang lebih banyak. Bukan ibadah yang lebih mencolok. Melainkan ibadah yang dilucuti hingga Allah menjadi satu-satunya alasan yang tersisa di dalamnya:
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا “Katakanlah, ﴿‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.’﴾”
— Surah al-Kahf, 18:110.
Terkait
Artikel Tumbuh dalam Cinta kepada Allah: Apa yang Mendekatkan Hati, dan Apa Buahnya Mencintai Allah bukanlah sekadar perasaan yang ada atau tidak ada pada diri Anda — ia ditumbuhkan melalui amalan-amalan khusus dan dikenali dari buahnya. Enam hal yang membangun cinta tersebut, dan tiga hal yang dihasilkannya di dalam hati. Artikel Tazkiyatun Nafs: Upaya Membersihkan Hati Al-Qur'an menyandarkan kesucian jiwa pada orang yang menyucikannya — namun doa pribadi Nabi memohon agar Allah yang melakukan hal tersebut. Jika dibaca bersamaan dengan hadis tentang sekecil apa pun benih kesombongan dan hadis tentang permusuhan antara dua mukmin, kedua teks ini menggambarkan penyucian jiwa sebagai upaya yang diusahakan oleh manusia namun pada akhirnya hanya bisa diselesaikan oleh Allah. Artikel Mencintai Allah: Bagaimana Hati Mengetahui Cintanya Nyata Mencintai Allah bukanlah sekadar perasaan pribadi yang diyakini begitu saja — Al-Qur'an menyebutkannya, menggambarkannya sebagai sesuatu yang berbalas, dan memberikan satu tolok ukur pasti untuk membedakan pengakuan cinta yang sejati dari yang palsu.
