Quran Gallery Blog · Artikel
Sesuatu yang Lebih Baik dari Dua Hari yang Telah Mereka Miliki
Pada malam sebelum Idulfitri, gema takbir telah berkumandang bahkan sebelum salat dimulai — sebuah syiar yang bentuknya dapat ditelusuri dari dua hadis dan dua ayat tentang apa yang digantikan oleh hari tersebut dan siapa saja yang dirangkul di dalamnya. Baik rasa syukur maupun kebersamaan pada hari itu, tak satu pun yang sekadar pilihan.
SyawalBaca 5 menit2 sumberPost-Ramadan
Penulis:The Quran Gallery team
Ketika matahari terbenam pada malam terakhir bulan Ramadan, terdengar sebuah seruan yang sebenarnya tidak pernah diwajibkan oleh bulan itu sendiri. Tidak ada puasa yang mengharuskan pengumuman saat ia berakhir. Namun, di setiap masjid dan rumah yang telah menghidupkan bulan tersebut, takbir mulai berkumandang bahkan sebelum waktu salat tiba — Allāhu akbar, Allāhu akbar, diucapkan semata-mata karena sebuah bulan telah usai dan hal itu perlu disyiarkan dengan lantang. Perintah di baliknya begitu singkat, dan terletak di bagian paling akhir dari ayat yang pertama kali mensyariatkan puasa:
﴿…وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾
“…dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
— Surah al-Baqarah, 2:185
Jika kita membaca urutannya, ada hal spesifik yang diminta, bukan sekadar dirasakan. Mencukupkan bilangan puasa adalah yang pertama. Mengagungkan Allah—yakni takbir—adalah yang kedua, yang dirangkaikan dengan penyempurnaan tersebut oleh kata hubung “dan”. Bersyukur adalah yang ketiga, dan secara tata bahasa, syukur merupakan hasil dari dua hal pertama, bukan poin terpisah yang berdiri sendiri. Idulfitri tidak dibuka dengan rasa syukur yang abstrak. Hari itu dibuka dengan sebuah syiar, yang diucapkan dengan lantang, tentang sebuah bulan tertentu yang baru saja usai.
Dua Hari yang Telah Mereka Miliki
Hal yang membuat syiar ini patut direnungkan adalah bahwa penduduk Madinah sebenarnya tidak butuh siapa pun untuk menciptakan hari perayaan bagi mereka. Mereka sudah memiliki dua hari raya.
Anas bin Malik, yang turut mengalami masa peralihan tersebut, menceritakan apa yang didapati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau tiba di Madinah — dan apa yang kemudian beliau gantikan:
قَدِمَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم المدينةَ ولهم يَوْمَانِ يلعبون فيهما، فقال: "ما هذان اليومَان؟" قالوا: كنا نلعبُ فيهما في الجاهلية، فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: "إنَّ الله قَدْ أبدَلَكُم بهما خَيرَاً مِنهما: يَومُ الأضحى، ويَومُ الفِطرِ" “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, dan penduduknya memiliki dua hari di mana mereka biasa bermain-main. Beliau bertanya, ‘Dua hari apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain-main pada dua hari ini di masa Jahiliah.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya untuk kalian dengan sesuatu yang lebih baik dari keduanya: hari Iduladha dan hari Idulfitri.‘”
— Sunan Abī Dāwūd, hadis 1134, edisi cetak halaman 2/345 dari . Editor edisi ini menilai sanadnya sahih.
Kata yang dipilih bukanlah “memberikan” atau “menganugerahkan”. Kata yang digunakan adalah abdala — menggantikan, menukar satu hal dengan hal lain. Tidak ada pernyataan bahwa dua hari raya yang lama itu pada dasarnya adalah sebuah dosa; penolakannya bukanlah karena orang-orang menginginkan hari untuk bersenang-senang. Penolakannya adalah karena alasan di balik perayaan tersebut telah usang, seiring dengan ditinggalkannya agama yang melahirkannya. Apa yang dimiliki Madinah sebelumnya adalah waktu luang yang tidak terikat pada tujuan apa pun. Apa yang menggantikannya adalah waktu luang yang terikat pada sesuatu yang spesifik — ibadah puasa yang telah disempurnakan, sebuah ketaatan yang telah ditunaikan. Keinginan yang sama untuk menikmati hari yang baik, namun dilandasi oleh alasan yang sama sekali berbeda.
Seperti itulah wujud rasa syukur di sini: bukan kegembiraan yang dibuat-buat, melainkan kebahagiaan yang memiliki tujuan. Al-Qur’an menjadikan perbedaan ini sebagai pokok bahasannya pada beberapa surah lebih awal dari yang mungkin diperkirakan banyak orang:
﴿قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ﴾
“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.‘”
— Surah Yūnus, 10:58
Perintah “hendaklah mereka bergembira” tidak pernah ditarik kembali. Yang dialihkan adalah alasannya. Bergembira atas apa yang sekadar dikumpulkan — dua hari raya yang lama, atau apa pun yang dikumpulkan demi hal itu sendiri — dihadapkan dengan kegembiraan atas karunia dan rahmat, dan jelas kalah telak dalam perbandingan tersebut. Idulfitri tidak menuntut kegembiraan yang lebih sedikit daripada yang pernah dihasilkan oleh hari-hari yang telah ditinggalkan itu. Idulfitri hanya meminta agar kegembiraan tersebut memiliki landasan yang bermakna.
Perkumpulan yang Tak Boleh Dilewatkan Siapa Pun
Jika takbir menjawab mengapa hari itu penuh kegembiraan, hadis yang dicantumkan Abū Dāwūd dua halaman setelahnya menjawab untuk siapa kegembiraan itu ditujukan.
Ummu ʿAṭiyyah, salah seorang shahabiyah yang memberikan baiatnya kepada Nabi, melaporkan apa yang secara khusus beliau minta dari para wanita Madinah:
أَنَّ أُمَّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نُخْرِجَ ذَوَاتِ الْخُدُورِ يَوْمَ الْعِيدِ، قِيلَ: فَالْحُيَّضُ؟ قَالَ: لِيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ “Ummu ʿAṭiyyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk membawa keluar para gadis pingitan pada hari Id. Ada yang bertanya, ‘Bagaimana dengan mereka yang sedang haid?’ Beliau menjawab, ‘Hendaklah mereka menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin.‘”
— Sunan Abī Dāwūd, hadis 1136, edisi cetak halaman 2/346 dari . Editor edisi ini menilai sanadnya sahih.
Perhatikan kata yang dipilih untuk menggambarkan para wanita yang tidak dapat ikut salat: yashhadna — hendaklah mereka menyaksikan. Beliau tidak menyuruh mereka tinggal di rumah hanya karena tidak bisa ikut salat berarti tidak bisa ikut merayakan hari itu. Beliau tetap menyuruh mereka datang dan menyaksikan kebaikan serta doa kaum muslimin, hadir di perkumpulan tersebut meskipun ritual ibadahnya sendiri tertutup bagi mereka. Jika Idulfitri pada dasarnya hanyalah urusan pribadi antara seorang hamba dengan rakaat yang ia kerjakan, perintah tersebut tidak akan masuk akal. Perintah itu baru masuk akal jika pusat gravitasi hari tersebut adalah perkumpulan itu sendiri, bukan sekadar salat individu di dalamnya: kerumunan orang yang bersama-sama menyerukan apa yang telah disyiarkan oleh takbir pada malam sebelumnya — bahwa sesuatu telah disempurnakan, dan Zat yang mengizinkan penyempurnaan tersebut berhak untuk diagungkan dengan lantang, di ruang publik, oleh setiap anggota keluarga yang bisa hadir.
Itulah sebabnya mengapa hari libur yang sekadar untuk bersantai tidak akan pernah bisa menggantikan dua hari raya yang ditanyakan di awal tadi. Hari untuk bersantai tidak memiliki bentuk yang membutuhkan kehadiran orang banyak. Namun, hari yang dibangun di atas syiar syukur komunal sangat membutuhkannya — hari itu membutuhkan wanita haid yang berdiri di barisan belakang perkumpulan, sama pastinya dengan kebutuhannya akan pria yang memimpin salat di barisan depan, karena apa yang sedang ditunaikan bukanlah sekadar perasaan pribadi, melainkan sebuah kesaksian publik.
Takbir Berakhir di Saat Salat Dimulai
Takbir yang berkumandang pada malam Idulfitri tidak berlangsung tanpa batas. Ia berhenti tepat pada saat salat dimulai, seolah-olah syiar tersebut telah menyelesaikan tugasnya dan kini saatnya tindakan nyata dimulai. Waktu tersebut bukanlah suatu kebetulan. Mengagungkan Allah dengan lantang adalah pengumumannya; berdiri bersama dalam salat, dengan setiap anggota keluarga yang bisa dibawa — termasuk mereka yang datang hanya untuk menyaksikan — adalah hal yang sedang diumumkan. Jika kita menggantinya dengan hari libur tanpa alasan yang jelas, hari itu akan melebur menjadi sekadar ajang kumpul-kumpul biasa yang bisa dilakukan orang tanpa perlu adanya agama. Namun, jika kita menggantinya dengan puasa yang telah disempurnakan, takbir yang diserukan dengan lantang, dan perkumpulan yang tak seorang pun dikecualikan darinya, maka hari itu akan berdiri kokoh sebagai sesuatu yang jauh lebih baik daripada apa yang digantikannya — persis seperti yang digambarkan saat pertama kali ada yang bertanya untuk apa kedua hari raya itu dirayakan.
Lanjutkan
Post-Ramadan
Terkait
Post-Ramadan Enam Hari yang Mengubah Satu Bulan Menjadi Satu Tahun Ramadan berakhir pada tanggal yang pasti, tetapi anjuran enam hari yang menyertai akhir bulan ini mengubah puasa satu bulan menjadi apa yang disebut oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam setara dengan puasa sepanjang masa. Apa yang sebenarnya diukur oleh pahala tersebut—yaitu konsistensi alih-alih intensitas—adalah disiplin yang lebih berat yang diuji di bulan Syawal. Fasting· Bagian 4 dari 4 Dua Waktu Makan yang Mengajarkan Rasa Syukur: Keberkahan dalam Sahur dan Berbuka Seteguk air saat matahari terbenam dan beberapa butir kurma sebelum fajar mungkin terasa biasa saja di hari-hari lain. Namun di bulan Ramadan, Sunah memberikan makna khusus pada keduanya—keberkahan pada yang satu, dan kebahagiaan yang terhitung pada yang lain—dan melalui penamaan ini, kita diajarkan wujud nyata dari rasa syukur atas hal-hal yang sederhana. Fasting· Bagian 3 dari 4 Sebulan Melatih Kendali Diri: Puasa sebagai Latihan Sabar Puasa hanya memiliki satu mekanisme utama: menolak sesuatu yang sepenuhnya halal, sesuai jadwal, hingga penolakan itu sendiri menjadi sebuah kebiasaan. Apa yang diungkapkan oleh petunjuk Nabi tentang cara menghadapi hinaan saat berpuasa, mengapa latihan khusus ini dipilih, dan apa buktinya bahwa latihan tersebut benar-benar membuahkan hasil.
