Articles
Ruqyah Milik Setiap Muslim: Menjawab Pertanyaan yang Sering Diajukan
Ruqyah sering kali memunculkan keraguan: siapa yang boleh melakukannya, mengapa terkadang seolah tidak membuahkan hasil, dan apa bedanya dengan sihir yang sedang diobatinya. Kami menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara langsung, dengan setiap penjelasan merujuk pada Al-Qur'an atau hadis yang dapat ditelusuri.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Tanyakan kepada tiga orang tentang apa itu ruqyah, dan Anda akan mendapat tiga jawaban berbeda. Ada yang mengira ini adalah keahlian khusus, hanya untuk syekh yang memiliki karunia tertentu. Yang lain pernah mencobanya sekali, tidak merasakan apa-apa, lalu diam-diam menyimpulkannya sebagai “tidak mempan”. Orang ketiga mungkin pernah melihat seseorang meniup ke air atau ikatan tali, lalu bertanya-tanya apakah itu benar-benar berbeda dari apa yang dilakukan oleh dukun atau penyihir. Setiap keraguan ini ada jawabannya, dan Anda tidak perlu sekadar percaya pada perkataan siapa pun. Di bawah ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering kami dengar, dijawab langsung dari Al-Qur’an dan hadis yang bisa Anda rujuk sendiri, bukan sekadar klaim “ini sahih” tanpa bisa dicek kebenarannya.
Kesalahpahaman yang paling umum ini juga yang paling mudah diluruskan: ruqyah bukanlah profesi berlisensi. Ruqyah tidak membutuhkan sanad guru, sertifikat, atau garis keturunan keluarga tertentu. Setiap muslim yang membaca Al-Qur’an dengan ikhlas dan memahami apa yang dibacanya dapat meruqyah dirinya sendiri atau orang lain. Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu sendiri—bukan golongan orang yang membacanya—yang menjadi sumber penyembuh:
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” Sūrat al-Isrā’, 17:82
Perhatikan syarat dalam ayat tersebut: penyembuhan dikaitkan dengan keimanan, bukan dengan gelar. Seorang ayah atau ibu yang membacakan ayat suci untuk anaknya yang ketakutan, suami atau istri yang membacakannya untuk pasangannya, atau seseorang yang membacanya untuk dirinya sendiri sebelum tidur—semua itu adalah ruqyah, dan tidak satu pun yang membutuhkan izin dari siapa pun. Anggapan bahwa ruqyah hanya milik kalangan ahli sering kali justru lebih banyak mendatangkan mudarat daripada manfaat: hal ini membuat orang menunggu orang lain untuk bertindak, alih-alih segera memulai dengan ayat-ayat yang sudah mereka hafal.
Ini adalah pertanyaan yang membuat banyak orang berhenti di tengah jalan. Mereka meruqyah selama beberapa hari, tidak merasakan perubahan, lalu menyimpulkan bahwa ruqyah memang tidak cocok untuk mereka. Sebelum mengambil kesimpulan tersebut, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri dengan jujur: apakah kita sudah memberikan waktu yang cukup sebagaimana yang biasanya dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit semacam ini, dan apakah ada sesuatu yang menghalangi antara orang yang meruqyah dan jawaban dari Allah?
Kasus sihir atau ain yang parah tidak selalu selesai hanya dengan satu sesi. Bacaan yang terus-menerus dan tidak terburu-buru—terkadang berjam-jam sehari, selama beberapa hari—lebih mendekati pola penyembuhan yang wajar daripada sekadar perbaikan instan. Dan karena ruqyah pada intinya adalah permohonan kepada Allah, keadaan orang yang memohon sangatlah menentukan. Dosa yang dibiarkan, kebiasaan buruk yang harus dihentikan, atau sekadar kurangnya keyakinan bahwa ayat yang dibaca benar-benar memiliki kekuatan, semuanya bisa menjadi penghalang antara bacaan dan kesembuhan. Memohon ampunan Allah (istigfar) bukanlah sekadar catatan pinggir di sini; ia justru menjadi pembuka jalan itu sendiri:
“Barang siapa yang senantiasa beristigfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitannya, kelapangan dari setiap kesedihannya, dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” — Ibnu ‘Abbas, halaman cetak 1/560 dari
Memperbanyak bacaan adalah salah satu respons ketika ruqyah dirasa “tidak mempan”. Namun, memperbaiki apa yang selama ini diabaikan sering kali menjadi solusi yang lebih langsung.
Keluarga terkadang menghadapi kendala yang nyata: orang yang sakit tidak mau diruqyah. Hal ini patut ditanggapi dengan serius, bukan sekadar dianggap sebagai sikap keras kepala. Ketika ada sihir atau ain, penolakan terhadap satu-satunya hal yang bisa melawannya adalah ciri khas dari penyakit itu sendiri, bukan masalah baru yang terpisah.
Bukan berarti penderita harus diikat atau dipaksa secara fisik. Ini berarti orang-orang di sekitarnya tidak boleh menyerah pada penolakan pertama, dan ada alternatif praktis ketika ruqyah secara langsung ditolak: bacakan pada air dan minyak, lalu minta penderita untuk meminum dan mengoleskan apa yang telah dibacakan tersebut. Bacaan itu tetap sampai kepadanya meskipun ia tidak mau duduk diam untuk mendengarkannya secara langsung. Kegigihan di sini adalah bentuk kepedulian, bukan paksaan—sama halnya seperti keluarga yang tidak akan begitu saja menerima penolakan kerabat yang sakit untuk meminum obat yang dibutuhkannya.
Pertanyaan lain muncul dari sudut pandang yang berlawanan: jika ruqyah mengobati penyakit spiritual, apakah itu berarti obat medis tidak diperlukan? Tidak—dan keduanya tidak saling bersaing. Sihir dan ain sering kali menimbulkan gejala fisik yang nyata, dan gejala-gejala tersebut diobati secara medis bersamaan dengan ruqyah yang mengatasi akar penyebabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas menyatakan bahwa penyakit dan pengobatannya berasal dari sumber yang sama:
“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan Dia juga menurunkan penawarnya.” Halaman cetak 7/122 dari
Mencari pengobatan medis, dengan pemahaman ini, bukanlah bentuk kurangnya tawakal kepada Allah—melainkan mengambil tindakan atas apa yang telah Dia sediakan. Di samping perawatan medis, hal-hal sederhana juga penting: makan secukupnya namun bergizi, menjaga agar sumber pendapatan dan makanan tetap halal, serta memulihkan tenaga setelahnya dengan makanan yang bernutrisi dan padat energi, karena sesi ruqyah bisa sangat menguras tenaga. Semua ini tidak menggantikan bacaan ruqyah; semuanya justru mendukung orang yang melakukannya.
Ini adalah keberatan yang sering membuat orang benar-benar merasa tidak nyaman: seorang peruqyah (raqi) meniup ke air, ke minyak, terkadang langsung ke orang yang sakit, dan seorang penyihir juga meniup—ke ikatan tali, ke benda-benda yang digunakan untuk mengikat mantra. Dilihat dari luar, tindakan fisiknya tampak identik, dan wajar jika ada yang bertanya apa sebenarnya yang membedakan keduanya. Al-Qur’an sendiri menyebutkan meniup pada buhul-buhul (ikatan) sebagai salah satu bentuk kejahatan yang nyata yang kita harus berlindung darinya:
وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّـٰثَـٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ “Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).” Sūrat al-Falaq, 113:4
Tindakan meniup itu sendiri bukanlah yang membuat sesuatu menjadi ruqyah atau sihir. Apa yang ditiupkanlah yang menjadi penentu. Ikatan tali penyihir membawa mantra-mantra karangan, ditujukan kepada selain Allah, dan diikatkan pada benda-benda fisik yang dimaksudkan untuk membelenggu atau menyakiti. Sebaliknya, ruqyah membawa firman-firman Allah dan doa-doa Nabi, ditujukan hanya kepada Allah semata, tanpa memerlukan perantara benda apa pun selain air, minyak, atau orang itu sendiri. Dua orang bisa melakukan gerakan yang secara lahiriah tampak serupa namun sebenarnya melakukan hal yang sama sekali berbeda, karena isi dan tujuan dari permohonan itulah yang menentukan hakikat dari tindakan tersebut.
Satu pertanyaan praktis yang sering muncul: apa itu “mandi ruqyah,” dan apakah berbeda dengan bacaan biasa? Mandi ruqyah adalah bacaan yang dibacakan pada air yang digunakan untuk mandi, bukan untuk diminum. Orang yang meruqyah mendekatkan mulutnya ke air saat membaca, bernapas dan meniup dengan lembut ke dalamnya, lalu air tersebut digunakan untuk mandi. Untuk gangguan yang lebih membandel, hal ini diulangi setiap hari, bukan hanya dicoba sekali lalu ditinggalkan. Ini bukanlah ritual terpisah dengan aturannya sendiri—ini adalah prinsip yang sama dalam mengarahkan bacaan ke air, hanya saja diaplikasikan untuk mandi, bukan diminum.
Jika kita menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan spesifik tersebut, ada satu benang merah yang menghubungkan semuanya: ruqyah berhasil karena Allah-lah yang dimintai pertolongan, bukan karena siapa yang membaca, berapa lama waktu yang dibutuhkan, atau dalam bentuk apa air atau minyak itu digunakan. Itulah inti dari nasihat yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang sahabat muda, dalam sebuah perjalanan tertentu, yang maknanya jauh melampaui sekadar urusan penyakit:
“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah; jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah… Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” Ibnu ‘Abbas meriwayatkan ini sebagai hasan sahih, halaman cetak 4/284 dari
Petunjuk itulah yang juga menjadi alasan mengapa zikir pagi dan petang bukanlah amalan yang terpisah atau lebih rendah kedudukannya dibandingkan ruqyah—keduanya dibangun di atas rasa tawakal yang sama, dijaga setiap hari dan bukan hanya dicari saat krisis melanda. Koleksi Adhkar dari Quran Gallery memuat doa-doa pagi, petang, dan harian yang sahih dalam bahasa Arab beserta terjemahannya, sehingga perlindungan yang dijelaskan dalam artikel ini bisa menjadi bagian dari keseharian kita, bukan sekadar sesuatu yang baru dicari ketika keadaan sudah telanjur memburuk.