Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Ruqyah Sang Nabi: Bagaimana Beliau Menggunakan Tiga Surah Terakhir Al-Qur'an untuk Perlindungan

Ketika Nabi jatuh sakit, ketika beliau berbaring untuk tidur, serta setiap pagi dan petang, beliau selalu membaca tiga surah yang sama. Inilah praktik ruqyah beliau, yang ditelusuri langsung hingga ke halaman cetak dari setiap hadis yang meriwayatkannya.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 5 menit

Setiap kali Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) jatuh sakit, beliau memiliki kebiasaan yang tetap: membacakan tiga surah pendek untuk dirinya sendiri, lalu meniup perlahan ke kedua telapak tangannya dan mengusapkannya ke seluruh tubuh. Ketika penyakit terakhir beliau membuatnya terlalu lemah untuk melakukannya sendiri, istrinya, ‘Aisyah (radhiyallahu ‘anha), mengambil alih peran tersebut—membacakan tiga surah yang sama dan mengusapkan tangan beliau sendiri ke tubuhnya, seraya berkata, “mengharap keberkahannya.”

Itulah ruqyah: mengobati bahaya, baik yang sedang terjadi maupun yang dikhawatirkan, dengan firman-firman Allah. Ini bukanlah mantra dan tidak bekerja dengan sendirinya—melainkan sebuah permohonan kepada Allah, menggunakan firman-Nya sendiri, untuk memohon perlindungan dari hal-hal yang berada di luar kendali manusia. Dan dari semua ayat Al-Qur’an yang bisa dibaca, Nabi selalu kembali pada dua belas ayat yang sama—Sūrat al-Ikhlāṣ, Sūrat al-Falaq, dan Sūrat al-Nās—saat sakit, sebelum tidur, serta dalam rutinitas zikir pagi dan petang. Inilah praktik tersebut, yang ditelusuri hadis demi hadis hingga ke halaman cetak tempat riwayat itu berada, sehingga pembaca yang ingin memeriksanya dapat langsung merujuk ke halaman tersebut tanpa harus menelan mentah-mentah perkataan kami.

‘Aisyah menceritakan apa yang dilakukan suaminya setiap kali beliau jatuh sakit: “Beliau biasanya membacakan surah-surah perlindungan (al-Mu’awwidzat) untuk dirinya sendiri lalu meniupkannya, dan ketika sakitnya bertambah parah, akulah yang membacakannya untuk beliau dan mengusapkannya dengan tangan beliau sendiri, mengharap keberkahannya.” Hal ini tercatat pada halaman cetak 6/190 dari

, sebagai hadis 5016, dalam Kitab Keutamaan Al-Qur'an, bab tentang keutamaan surah-surah perlindungan.

Hadis berikutnya di halaman cetak yang sama memberikan gambaran yang lebih luas: praktik ini tidak hanya untuk beliau sendiri. ‘Aisyah mengatakan bahwa setiap kali ada anggota keluarganya yang sakit, “beliau akan meniupkan surah-surah perlindungan kepada mereka,” dan selama penyakit terakhir beliau, ‘Aisyah meneruskan praktik tersebut untuk menggantikannya, karena meyakini bahwa tangan beliau membawa lebih banyak keberkahan daripada tangannya sendiri. Imam Muslim mencatat hal ini secara terpisah, dengan redaksi inti yang sama, pada halaman cetak 4/1723 dari

, sebagai hadis 2192, dalam Kitab Salam, bab tentang mengobati orang sakit dengan surah-surah perlindungan dan tiupan. Dua kitab hadis, dua sanad, namun kebiasaan keluarga yang sama: penyakit selalu dihadapi dengan tiga surah ini sebelum diobati dengan hal lain, dan ini tetap menjadi respons keluarga tersebut hingga penyakit terakhir Nabi sendiri, ketika beliau tidak lagi sanggup membacanya sendiri.

Abu Sa’id al-Khudri (radhiyallahu ‘anhu) mengatakan bahwa Rasulullah dahulu sering memohon perlindungan Allah dari jin dan penyakit ‘ain (pandangan buruk) manusia—hingga Sūrat al-Falaq dan Sūrat al-Nās diturunkan. “Setelah keduanya diturunkan, beliau berpegang pada keduanya dan meninggalkan yang lainnya.” Al-Tirmidzi mencatat hal ini pada halaman cetak 3/576 dari

, sebagai hadis 2058, dan beliau sendiri menilainya sebagai hasan gharib di halaman yang sama, serta mencatat bahwa riwayat dengan topik serupa juga sampai kepadanya melalui Anas.

Riwayat kedua menegaskan hal yang sama dari sudut pandang berbeda. Ibnu ‘Abis al-Juhani (radhiyallahu ‘anhu) mengatakan bahwa Nabi bertanya langsung kepadanya, “Maukah engkau kuberitahu tentang sesuatu yang paling utama untuk memohon perlindungan?” Ketika ia menjawab ya, Nabi menyebutkan kedua surah tersebut. Hal ini tercatat dalam Musnad Ahmad, di dalam bab yang mengumpulkan riwayat-riwayat ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani, pada halaman cetak 28/612 dari

, sebagai hadis 17389—dinilai shahih oleh para penyunting edisi tersebut di halaman yang sama. Jika kedua riwayat ini digabungkan, pernyataannya sangatlah tegas: dari semua hal yang bisa dibaca seseorang untuk perlindungan, tidak ada yang dianggap sebanding dengan dua surah pendek ini.

Tiga surah yang sama juga dirajut ke dalam keseharian beliau, bukan hanya disimpan untuk saat-saat genting. ‘Abdullah bin Khubaib (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Nabi menyuruhnya untuk membaca Sūrat al-Ikhlāṣ dan dua surah perlindungan masing-masing tiga kali, pada pagi dan petang hari, seraya menambahkan bahwa melakukan hal itu akan “mencukupimu dari segala sesuatu.” Abu Dawud mencatatnya pada halaman cetak 4/482 dari

, sebagai hadis 5082, dan al-Tirmidzi juga mengumpulkan riwayat yang sama secara terpisah.

Sebelum tidur, rutinitasnya sedikit berbeda namun tetap menjadikan tiga surah yang sama sebagai intinya. ‘Aisyah menceritakan apa yang dilakukan Nabi setiap malam sebelum berbaring: beliau menadahkan kedua tangannya, meniup ke dalamnya, membaca Sūrat al-Ikhlāṣ, Sūrat al-Falaq, dan Sūrat al-Nās ke telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh yang bisa dijangkau—dimulai dari kepala dan wajah, lalu bagian depan tubuhnya—dan mengulangi seluruh rangkaian tersebut sebanyak tiga kali. Riwayat ini berada di halaman cetak 6/190 yang sama dari

, seperti hadis 5016 di atas, yaitu sebagai hadis 5017 tepat setelahnya. Tiga momen dalam satu hari—saat bangun, saat beristirahat, dan saat penyakit apa pun mungkin datang di antara keduanya—semuanya berlabuh pada dua belas ayat yang sama.

﴿قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ﴾

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.’” (Sūrat al-Ikhlāṣ, 112:1–4)

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّـٰثَـٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ﴾

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” (Sūrat al-Falaq, 113:1–5)

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ مَلِكِ ٱلنَّاسِ إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ﴾

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.’” (Sūrat al-Nās, 114:1–6)

Dua belas ayat. Satu surah menegaskan siapa Allah itu; dua surah lainnya menyebutkan secara lugas apa saja yang ditakuti manusia—kegelapan, sihir, kedengkian, hingga bisikan dalam hati—dan memohon perlindungan langsung kepada Allah dari setiap hal tersebut. Itulah keseluruhan isi dari apa yang dibaca Nabi untuk dirinya sendiri saat sakit, ke telapak tangannya sebelum tidur, dan dilantunkan setiap pagi dan petang di sepanjang sisa hidup beliau.

Tidak ada satu pun dari penjelasan di atas yang membutuhkan seorang ahli atau ritual khusus. Tadahkan kedua tangan Anda, bacakan ketiga surah tersebut ke dalamnya, lalu usapkan ke seluruh tubuh Anda seperti yang digambarkan oleh ‘Aisyah—sebelum tidur, saat bangun, atau kapan pun rasa takut, dengki, maupun bahaya terasa mengancam. Dua belas ayat yang sama, dibaca masing-masing tiga kali, adalah apa yang Nabi sebut sudah mencukupi untuk pagi dan petang; saat sakit, beliau hanya menambahkan tiupan dan usapan pada kebiasaan yang memang sudah dilakukan setiap hari. qurangallery.com/adhkar memuat zikir harian yang disusun tepat berdasarkan ritme ini, untuk pagi dan petang, di satu tempat, jika Anda mencari panduan untuk memulainya.

Jika ada kutipan dalam tulisan ini yang tidak sesuai dengan halaman yang disebutkan, beri tahu kami—itulah alasan utama kami menyebutkan halamannya secara spesifik, bukan sekadar nama kitabnya saja.

Semoga Allah ﷻ menjadikan ketiga surah ini sebagai perisai bagi kita di kehidupan ini, sebagaimana surah-surah tersebut menjadi perisai bagi Rasul-Nya (shallallahu ‘alaihi wa sallam) di masa hidup beliau.