Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Tujuh Puluh Ribu Malaikat di Sisi Tempat Tidur: Apa yang Diharapkan dari Menjenguk Orang Sakit

Menjenguk orang sakit di rumah sakit tidak butuh banyak biaya dan sering kali mudah dilewatkan. Namun, tradisi kenabian memandangnya sebagai sesuatu yang jauh lebih berbobot—ada pahala yang menyertainya, doa yang perlu diucapkan, dan kalimat yang patut dibaca saat Anda beranjak pulang.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 6 menit

Bangsal rumah sakit adalah salah satu tempat paling sepi bagi seseorang. Orang-orang yang biasanya bisa menemani Anda mungkin sedang bekerja, kelelahan, atau sekadar bingung harus berkata apa kepada orang yang sedang sakit—sehingga niat menjenguk pun tertunda, dan terus tertunda, sampai akhirnya pasien pulang tanpa sempat melihat banyak wajah yang datang. Bahkan hal-hal kecil—mengisi ulang gelas air, memotong makanan, menemani seseorang melewati kebosanan masa pemulihan yang panjang—tidak ada yang melakukan ketika tak seorang pun datang. Ini adalah bentuk pengabaian yang sunyi dan biasa terjadi, dan celah inilah yang ditutup oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) melalui satu kebiasaan: pergilah dan duduklah bersama orang yang sakit, serta bawalah kata-kata yang bermakna saat Anda berada di sana.

Tradisi Islam tidak menganggap hal ini sekadar sikap baik yang kebetulan diridhai Allah. Ini dipandang sebagai sebuah amal dengan balasan yang sudah dijanjikan. Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang sakit di pagi hari melainkan tujuh puluh ribu malaikat akan bershalawat (memohonkan ampun) untuknya hingga sore hari, dan jika ia menjenguknya di sore hari, tujuh puluh ribu malaikat akan bershalawat untuknya hingga pagi hari—dan ia akan mendapatkan panen buah-buahan di Surga.”

Al-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini dari ‘Ali (radhiyallahu ‘anhu), yang melaporkan bahwa ia mendengarnya langsung dari Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) setelah menjenguk al-Hasan bersama Abu Musa—tercetak pada halaman 2/290 dari

, yang beliau sendiri nilai sebagai hasan gharib. Tujuh puluh ribu bukanlah angka yang disebutkan secara sembarangan dalam nas agama; ini adalah angka yang sama yang disematkan pada amal-amal ibadah yang paling berbobot. Sebuah kunjungan yang hanya memakan waktu dua puluh menit disejajarkan dengan hal tersebut.

Riwayat kedua dari Abu Hurairah memperluas cakupan siapa saja yang berhak mendapatkan pahala ini:

مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا

“Barang siapa menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka seorang penyeru akan berseru: engkau adalah orang yang baik, dan langkahmu adalah langkah yang baik, serta engkau telah menempati sebuah tempat tinggal di Surga.”

Riwayat ini dicatat oleh al-Tirmidzi sebagai gharib—tercetak pada halaman 3/538 dari

—dan patut direnungkan karena penekanannya, alih-alih sekadar menjadikannya dalil hukum yang kaku: kunjungan itu sendiri, langkah kaki menuju ke sana, itulah yang disebut sebagai kebaikan. Bukan sekadar saat duduk menemaninya.

Berdasarkan nas-nas seperti ini, beberapa ulama menggolongkan menjenguk orang sakit sebagai fardhu kifayah (kewajiban komunal)—sesuatu yang menjadi tanggung jawab umat Islam secara keseluruhan, yang gugur jika sudah ada cukup orang yang melakukannya, tetapi tidak bisa dianggap sebagai pilihan opsional bagi individu jika tidak ada orang lain yang pergi menjenguk. Sudut pandang ini jauh lebih penting daripada kelihatannya. Bantuan adalah sesuatu yang bisa Anda berikan atau tidak; sedangkan hak adalah sesuatu yang wajib ditunaikan kepada orang yang sakit. Literatur hadis juga berulang kali memperluas kepada siapa hak tersebut berlaku—tidak hanya kepada orang yang sudah Anda kenal baik, tetapi kepada setiap mukmin yang sedang sakit, baik yang Anda kenal secara pribadi maupun tidak. Praktiknya menjangkau lebih jauh dari sekadar insting kebanyakan orang: rekan kerja dari departemen lain yang sedang sakit, kerabat dari seorang kerabat, atau pasien yang berada dua ranjang dari orang yang sebenarnya ingin Anda jenguk. Kewajiban ini tidak menyempit hanya pada lingkaran pergaulan Anda sendiri semata-mata karena itu lebih mudah dilakukan.

Kunjungan yang hanya diisi dengan basa-basi kehilangan separuh dari apa yang diajarkan oleh tradisi Islam. Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) membawa doa-doa khusus bersamanya—dan fakta bahwa ada lebih dari satu redaksi doa yang terpelihara memberikan kita pelajaran penting: tidak pernah ada satu kalimat baku yang diwajibkan, melainkan ada beberapa pilihan doa yang jauh lebih bermakna untuk diucapkan daripada sekadar diam.

Doa yang paling sederhana beliau ucapkan kepada seorang Badui yang sedang demam:

لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Tidak mengapa—ini adalah pembersih (dosa), insyaallah.”

Percakapan tersebut terdapat pada halaman cetak 4/202 dari

, dan al-Bukhari melaporkannya sebagai sesuatu yang rutin diucapkan oleh Nabi, bukan hanya pada kejadian itu saja: setiap kali beliau menjenguk orang sakit, inilah yang beliau ucapkan. Tiga kata (dalam bahasa Arab), dan perubahan sudut pandang ini memberikan dampak yang nyata—sakit tidak lagi dipandang sebagai sebuah kerugian semata, melainkan sebagai sesuatu yang dapat membuat seseorang menjadi lebih bersih dari dosa dibandingkan sebelumnya.

‘Aisyah (radhiyallahu ‘anha) memelihara doa yang lebih panjang yang biasa beliau gunakan untuk anggota keluarganya sendiri, sambil mengusap dengan tangan kanannya seraya mengucapkan:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, dan sembuhkanlah—Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.”

Al-Bukhari menempatkan hadis ini di dalam bab yang ia beri judul “Ruqyah Nabi”—tercetak pada halaman 7/132 dari

. Judul bab ini sangat penting: ini bukanlah pengobatan tradisional yang dibalut dengan bahasa agama, melainkan disajikan sebagai praktik ruqyah Nabi sendiri, yaitu doa berbasis bacaan yang digunakan dalam tradisi Islam untuk orang yang sedang sakit.

Bab khusus dalam kitab Muslim tentang pengobatan, penyakit, dan ruqyah memelihara apa yang, dari redaksinya saja, merupakan pola dasar untuk jenis doa ini—ruqyah yang dilaporkan dibawa oleh malaikat Jibril ketika Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) sendiri jatuh sakit:

بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ، بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ

“Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang hasad—Allah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.”

Hadis tersebut tercetak pada halaman 4/1718 dari

. Salah satu dari ketiga doa ini sudah cukup untuk dibaca di sisi tempat tidur pasien; menghafal satu saja sudah mengubah kunjungan yang sekadar menemani dalam diam menjadi sesuatu yang lebih mendekati apa yang sebenarnya dicontohkan oleh Nabi.

Ada satu lagi adab yang diajarkan oleh tradisi Islam saat hendak pulang, yang mudah terlewatkan karena memang dimaksudkan untuk diucapkan secara lirih, bukan disuarakan keras-keras—sebuah pengakuan pribadi untuk diri Anda sendiri, yang sama sekali tidak ditujukan kepada pasien:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا

“Segala puji bagi Allah, yang telah menyelamatkanku dari musibah yang diujikan kepadamu, dan yang telah memberikan keutamaan yang besar kepadaku atas banyak makhluk yang telah diciptakan-Nya.”

Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) dilaporkan bersabda bahwa barang siapa melihat seseorang tertimpa musibah lalu mengucapkan doa ini, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang sama—tercetak pada halaman 5/431 dari

, dinilai sebagai hasan gharib dari jalur ini oleh al-Tirmidzi sendiri. Ini bukanlah sebuah kesombongan, dan mengucapkannya hingga terdengar oleh pasien justru akan merusak tujuannya—ini adalah bentuk rasa syukur, yang ditujukan kepada Allah, dan diucapkan untuk diri Anda sendiri.

Semua ini bukanlah alasan untuk membuat ruangan menjadi penuh sesak atau menjenguk berlama-lama. Orang yang sakit tetap butuh istirahat, tetap bisa merasa lelah karena harus meladeni kecanggungan orang lain di sisi tempat tidurnya, dan kunjungan yang terlalu lama atau datang di waktu yang tidak wajar bukanlah sunah yang dijelaskan di sini—malah lebih mendekati kebalikannya. Pastikan sebelum Anda datang bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk menjenguk. Jaga agar obrolan tetap ringan alih-alih memaksa pasien berpura-pura sehat demi kenyamanan Anda, dan peka terhadap situasi untuk menentukan berapa lama Anda harus tinggal—menjenguk di rumah sakit bukanlah kunjungan sosial biasa, dan orang yang terbaring di ranjang jarang sekali berada dalam posisi yang enak untuk memberi tahu Anda bahwa mereka sudah lelah. Ucapkanlah doa, persingkat kunjungan agar kehadiran Anda tidak membebani pasien, dan biarkan esensinya terletak pada kunjungan itu sendiri, bukan pada seberapa lama Anda berada di sana.

Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak doa-doa Nabi—untuk orang sakit, untuk bepergian, maupun untuk momen-momen di antaranya—koleksi Adzkar menyimpannya di satu tempat, lengkap dengan bahasa Arab dan terjemahannya, sehingga kunjungan ke rumah sakit berikutnya tidak perlu lagi mengandalkan ingatan semata.