Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Obat dan Dokter: Apa yang Sebenarnya Diminta oleh Pengobatan Nabawi dari Kita

"Pengobatan sunah" sering kali dijual layaknya suplemen di pasaran atau malah diabaikan sebagai pengobatan tradisional belaka. Padahal, hadis-hadis yang ada menyampaikan sesuatu yang lebih spesifik dan bermanfaat: berobatlah, makan secukupnya, dan obati hati bersamaan dengan fisik — dengan setiap kutipan di sini telah diverifikasi langsung dari halaman kitab cetaknya.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 6 menit

Coba cari “pengobatan nabawi” (thibbun nabawi), dan Anda akan menemukan salah satu dari dua hal ini: toko yang menjual kapsul minyak habbatussauda dengan tempelan hadis di labelnya, atau perdebatan yang membenturkan antara iman dan medis seolah-olah seorang mukmin harus memilih salah satu. Padahal, bukan itu yang sebenarnya disampaikan oleh sumber-sumber aslinya. Jika kita membaca hadis-hadis tersebut secara utuh, sesuai urutan yang disusun oleh para perawinya, akan muncul pemahaman yang lebih spesifik dan bermanfaat — yaitu tentang bagaimana cara mengobati penyakit, bukan sebagai pengganti dari pengobatan itu sendiri.

Mari kita mulai dari pertanyaan yang diajukan langsung oleh sekelompok orang Arab badui kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam): apakah kita perlu berobat, ataukah itu berarti kita tidak cukup bertawakal kepada Allah?

Jawaban beliau langsung menuntaskan keraguan tersebut saat itu juga:

“Orang-orang Arab badui bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kami harus berobat?’ Beliau menjawab: ‘Ya, wahai hamba-hamba Allah, berobatlah — karena Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Dia juga menurunkan penyembuhnya, atau beliau bersabda, obatnya — kecuali satu penyakit.’ Mereka bertanya penyakit apakah itu. Beliau menjawab: ‘Usia tua.‘” Redaksi tersebut terdapat pada halaman cetak 3/561 dari , di mana al-Tirmidzi sendiri mencatat hadis tersebut dan kemudian memberikan derajat: ḥasan ṣaḥīḥ.

Kata kerja perintah dalam kalimat tersebut adalah “berobatlah” — tadāwaw, yang ditujukan kepada orang-orang yang jelas-jelas sedang meminta izin. Tidak ada satu pun dari hadis tersebut yang menganggap kunjungan ke dokter, konsumsi obat, atau diagnosis medis sebagai bentuk lemahnya iman. Keduanya berjalan beriringan: meyakini bahwa obatnya ada, dan berusaha untuk mencarinya.

Ada dua hal di dalam Al-Qur’an yang secara langsung disebut sebagai shifāʾ — penyembuh. Yang pertama adalah makanan. Yang kedua adalah Al-Qur’an itu sendiri.

ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.

— Surah al-Naḥl, 16:69

Ayat ini menjelaskan tentang madu, yang dihasilkan oleh lebah seperti yang disebutkan dua ayat sebelumnya pada surah yang sama. Ayat ini tidak menyebutkan penyakit spesifik yang bisa diobati oleh madu, tidak pula menyebutkan dosisnya. Ayat ini menyebut minuman itu sendiri, secara umum, sebagai sumber penyembuh di antara tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau berpikir.

Hal kedua yang menyandang kata yang sama adalah Al-Qur’an:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.

— Surah al-Isrāʾ, 17:82

Inilah ayat yang dirujuk oleh para ulama ketika membahas ruqyah — membacakan Al-Qur’an untuk orang yang sakit, atau untuk diri sendiri, sebagai bentuk ikhtiar mencari kesembuhan yang mendampingi, bukan menggantikan, pengobatan fisik. ‘Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam), ketika sedang sakit, biasa membacakan surah-surah perlindungan untuk dirinya sendiri lalu meniupkannya; ketika sakit beliau semakin parah menjelang wafatnya, ‘Aisyah yang membacakannya untuk beliau. Riwayat tersebut terdapat pada halaman cetak 7/16 dari , dalam bab yang diberi judul oleh Muslim “ruqyah untuk orang sakit dengan al-Mu’awwidzat.” Ayat itu sendiri tidak menjelaskan bacaan tersebut sebagai obat untuk penyakit tertentu; ayat itu menyebut Al-Qur’an sebagai shifāʾ, beriringan dengan raḥmah — kasih sayang — bagi mereka yang mengimaninya.

Contoh yang paling terkenal dalam pembahasan ini adalah sebuah hadis tentang habbatussauda (jintan hitam), yang diriwayatkan oleh lebih dari satu sahabat:

“Sesungguhnya pada habbatussauda terdapat obat bagi segala macam penyakit, kecuali kematian.” Redaksi tersebut tercatat pada halaman cetak 7/124 dari , dari ‘Aisyah, dan juga — melalui Abu Hurairah, dengan catatan bahwa habbatussauda berarti al-syuniz — pada halaman cetak 7/25 dari . Kedua kitab hadis yang paling banyak dijadikan rujukan ini memuatnya, masing-masing dari sahabat yang berbeda.

Hadis ini membutuhkan pembacaan yang saksama. “Obat bagi segala macam penyakit” pada awalnya terdengar seperti sebuah jaminan yang membuat pengobatan lain menjadi tidak diperlukan — namun bukan begitu cara para ulama klasik memahami redaksi ini. Abu Bakar Ibnu al-‘Arabi, saat menulis tentang hadis ini, mencatat bahwa “para ulama kami mengatakan bahwa hadis ini disampaikan dalam bentuk pernyataan umum, padahal yang dimaksud adalah sesuatu yang spesifik,” karena sebagian besar penyakit bermuara pada penyebab-penyebab tertentu yang bisa diatasi oleh habbatussauda — bukan berarti secara harfiah menyembuhkan setiap penyakit yang mungkin diderita seseorang. Penjelasan tersebut terdapat pada halaman cetak 1131 dari .

Kami hanya menyampaikan pemahaman tersebut, bukan menawarkan penafsiran kami sendiri — dan menyampaikannya adalah batas dari tulisan ini. Tidak ada dosis, tidak ada klaim bahwa habbatussauda mengobati penyakit tertentu, dan tidak ada alasan dari semua ini untuk mengabaikan diagnosis atau resep dokter. Hadis yang sama yang menyebutnya sebagai rahmat berada hanya beberapa halaman dari hadis yang membuka artikel ini dengan perintah yang jelas untuk berobat.

Sebelum membahas obat tertentu, tradisi kenabian sering kali kembali pada instruksi yang jauh lebih sederhana: makanlah lebih sedikit dari yang Anda rasa perlu.

“Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi seseorang beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika ia memang harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” Al-Tirmidzi mencatat hadis ini pada halaman cetak 4/188 dari dan memberikan derajat yang sama dengan hadis tentang anjuran berobat di atas: ḥasan ṣaḥīḥ.

Al-Qur’an membingkai pengendalian diri yang sama ini sebagai persoalan tentang apa yang halal dan baik (thayyib), bukan sekadar apa yang diperbolehkan:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَـٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.

— Surah al-Baqarah, 2:168

Jika dibaca berdampingan, kedua teks tersebut menyampaikan poin yang sama dari sudut pandang yang berbeda: apa dan seberapa banyak seseorang makan dianggap sebagai hal yang patut diatur sebelum datangnya penyakit, bukan hanya setelahnya.

Rangkailah semua bagian ini, dan “pengobatan sunah” ternyata merujuk pada dua hal yang berbeda, bukan satu. Ada pengobatan fisik — makanan, kesederhanaan, dan instruksi yang jelas untuk memeriksakannya ke dokter jika diperlukan. Dan ada pengobatan hati — membacakan apa yang Al-Qur’an sendiri sebut sebagai shifāʾ, dalam ibadah maupun dalam ruqyah untuk orang yang sakit. Tidak ada satu pun dari teks-teks ini yang menawarkannya sebagai pengganti satu sama lain, dan tidak ada pula yang menawarkannya sebagai pengganti dokter.

Jika Anda mencari bagian yang kedua — bacaan dan doa yang telah digunakan oleh umat Islam sebagai ruqyah untuk orang sakit, untuk mengatasi kecemasan, dan untuk perlindungan sehari-hari — Adhkar mengumpulkannya beserta sumber-sumbernya, dalam bahasa Arab, transliterasi, dan terjemahannya, sama seperti kutipan dalam artikel ini yang disusun agar dapat diperiksa kebenarannya, bukan sekadar diterima begitu saja.

Semoga Allah memberikan kesehatan kepada mereka yang sakit di antara kita, dan menyembuhkan apa yang tidak dapat dijangkau oleh obat-obatan medis.