Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Empat Kalimat, Timbangan Tak Terhingga: Mengapa Kita Membutuhkan Zikir Nabawi

Sebuah hadis mencatat empat kalimat yang timbangannya melampaui zikir sepanjang pagi yang dirangkai sendiri — dan hadis kedua menunjukkan bagaimana Sunah secara sengaja memberi batas antara bacaan yang telah ditetapkan dan doa yang bebas kita pilih. Batas inilah yang menjadi alasan mengapa kita harus mengutamakan lafal dari Nabi.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 7 menit

Zikir tidak memiliki satu bentuk yang kaku. Seseorang bisa memuji Allah, meminta apa yang ia butuhkan, atau sekadar duduk mengingat-Nya dengan kata-kata apa pun yang mengalir secara alami, dan semuanya tetap bernilai pahala. Oleh karena itu, wajar jika kita bertanya-tanya mengapa ada begitu banyak kitab yang secara khusus menjaga ketepatan lafal yang diucapkan oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) — mengapa sebuah kalimat yang diriwayatkan dari beliau memiliki bobot yang berbeda dibandingkan dengan ungkapan perasaan yang sama namun dirangkai dengan kata-kata kita sendiri. Ada satu hadis yang menjawab pertanyaan ini dengan perbandingan matematis, dan hadis ini patut kita renungkan perlahan-lahan.

Juwairiyah binti al-Ḥārith (radhiyallahu ‘anha), salah satu istri Nabi, sedang duduk di tempat salatnya pada suatu pagi ketika beliau berangkat untuk menunaikan salat Subuh. Ketika beliau kembali pada waktu duha, Juwairiyah masih berada di sana. Beliau bertanya apakah ia terus berada dalam posisi yang sama sepanjang waktu untuk berzikir kepada Allah. Ketika Juwairiyah mengiyakan, beliau menyampaikan sesuatu yang sangat spesifik kepadanya:

لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Setelah meninggalkanmu tadi, aku mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali — seandainya kalimat-kalimat itu ditimbang dengan semua yang engkau ucapkan sejak pagi tadi, niscaya ia akan lebih berat: Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, sebanyak jumlah makhluk-Nya, sejauh rida-Nya, seberat arasy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya.

— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 8/83 dari , hadis 2726, diriwayatkan dari Juwairiyah.

Mari kita pahami perbandingan ini secara gamblang. Juwairiyah telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk berzikir, dengan penuh keikhlasan dan tanpa henti — tidak ada satu pun bagian dalam hadis tersebut yang menyiratkan sebaliknya. Namun, Nabi tidak menyuruhnya untuk memperbanyak bacaan, duduk lebih lama, atau mencari kata-kata yang lebih baik dari dirinya sendiri. Beliau mengajarkan empat kalimat spesifik, diucapkan tiga kali, dan menegaskan bahwa hal ini saja — ucapan yang hanya memakan waktu beberapa detik — akan melampaui bobot semua yang telah ia ucapkan sepanjang pagi. Apa pun yang membuat empat kalimat itu lebih berat dari zikir sepanjang pagi bukanlah soal usaha, bukan pula soal keikhlasan, karena keikhlasan Juwairiyah sama sekali tidak diragukan. Jawabannya ada pada lafal itu sendiri.

Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan yang wajar: jika lafal dari Nabi sendiri diberi ganjaran yang jauh lebih besar, apakah itu berarti doa pribadi yang tidak terpaku pada teks menjadi kurang bernilai? Hadis kedua, dari latar belakang yang sama sekali berbeda, menjawab pertanyaan tersebut dengan menunjukkan di mana Sunah menarik batasannya sendiri.

ʿAbdullāh bin Masʿūd (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa para Sahabat dahulu sering mengucapkan, saat masih salat di belakang Nabi, “Keselamatan atas Allah, keselamatan atas fulan” — memberi salam kepada Allah layaknya manusia saling memberi salam satu sama lain. Nabi langsung mengoreksi bentuk ucapan tersebut, lalu mengajarkan apa yang seharusnya mereka ucapkan:

إِنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ، فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَقُلِ: التَّحِيَّاتُ لِلهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ. السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، فَإِذَا قَالَهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

Sesungguhnya Allah adalah As-Salam (Maha Sejahtera), maka apabila salah seorang dari kalian duduk dalam salat, hendaklah ia mengucapkan: segala penghormatan, selawat, dan kebaikan hanyalah milik Allah. Keselamatan semoga tercurah kepadamu, wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Keselamatan semoga tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Jika ia mengucapkan ini, maka (salam itu) akan sampai kepada setiap hamba Allah yang saleh di langit dan di bumi. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muḥammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kemudian, hendaklah ia memilih permohonan apa saja yang ia kehendaki.

— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 2/13 dari , hadis 402, diriwayatkan dari Ibnu Masʿūd.

Perhatikan bentuk instruksi tersebut. Salam itu sendiri — taḥiyyāt — diajarkan kata demi kata, dan lafal yang sama diulang dalam setiap salat, oleh setiap orang, dalam setiap bahasa periwayatan, tanpa ada yang diubah. Namun, kalimat terakhir justru menyerahkan kendali kepada orang yang salat: kemudian, hendaklah ia memilih permohonan apa saja yang ia kehendaki. Nabi tidak mengisi bagian kosong terakhir itu untuk kita. Beliau sengaja membiarkannya terbuka, dalam tarikan napas yang sama saat beliau menetapkan semua bacaan sebelumnya.

Pola inilah yang diikuti oleh zikir-zikir sunah lainnya. Waktu, tempat, dan tindakan yang berulang bagi setiap orang — bangun, tidur, masuk dan keluar ruangan, selesai salat — diberikan lafal yang tetap, karena pengetahuan Nabi tentang apa yang dibutuhkan pada momen-momen tersebut jauh lebih sempurna daripada apa pun yang bisa dikarang sendiri oleh seorang hamba. Momen-momen yang benar-benar bersifat pribadi — kebutuhan khusus, kekhawatiran tertentu, permohonan yang hanya cocok untuk kehidupan satu orang — sengaja diserahkan kepada kita, oleh guru yang sama yang telah menetapkan bacaan lainnya. Keduanya tidak saling bertentangan. Satu hadis menetapkan bacaan taḥiyyāt sekaligus membebaskan permohonan yang mengikutinya dalam satu kalimat yang sama.

Hal ini masih menyisakan pertanyaan yang lebih mendalam: mengapa lafal spesifik dari seorang manusia — bahkan dari seorang Nabi sekalipun — bisa melampaui doa tulus yang diucapkan dengan kata-kata sendiri? Al-Qur’an menjawabnya dengan menjelaskan seperti apa hakikat ucapan beliau sejak awal:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ

Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.

Surah An-Najm, 53:3

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Surah An-Najm, 53:4

Kedua ayat tersebut dibaca bersamaan sebagai satu kesatuan pernyataan: apa yang beliau ucapkan tidak dirangkai seperti halnya kata-kata kita, yang dipengaruhi oleh kebiasaan, suasana hati, atau pemahaman yang terbatas. Sebuah kalimat yang diriwayatkan dari beliau bukanlah sekadar pilihan kata yang sangat bagus layaknya doa dari seseorang yang pandai berbicara. Ucapan beliau dijelaskan bersumber dari luar kehendak pribadinya sama sekali. Ini adalah kategori otoritas yang sama sekali berbeda dari lafal apa pun yang bisa kita susun sendiri, setulus apa pun niat kita — dan ini adalah penjelasan paling lugas dari sumber-sumber syariat tentang mengapa bobot pahala dalam hadis Juwairiyah bukanlah sebuah hal yang dilebih-lebihkan.

Al-Qur’an mengikat kedua hal ini — mengikuti teladan Nabi dan mengingat Allah — bersama-sama dalam satu ayat, dan hubungan ini bukanlah suatu kebetulan dalam struktur kalimatnya:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Surah Al-Aḥzāb, 33:21

Deskripsi tentang siapa yang menjadikan Nabi sebagai teladan tidak berhenti pada keimanan dan harapan — ayat ini menyebutkan banyak menyebut Allah sebagai bagian dari gambaran yang sama, di dalam ayat yang sama. Menjadikan beliau sebagai teladan tidak terbatas pada perilaku dan akhlak semata; berdasarkan ayat ini, keteladanan tersebut meluas hingga pada bagaimana seseorang mengingat Allah sejak awal. Mengutamakan lafal dari beliau sebelum menggunakan kata-kata kita sendiri bukanlah sekadar bentuk kehati-hatian ekstra dalam berzikir. Hal ini justru merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya mengikuti beliau, sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat tersebut.

Semua ini bukanlah argumen untuk menentang doa pribadi — Sunah itu sendiri, dalam hadis yang menetapkan bacaan taḥiyyāt, menyerahkan permohonan pribadi kepada hamba dalam kalimat yang sama. Poin yang ingin disampaikan di sini lebih spesifik dan, menurut kami, lebih bermanfaat: untuk zikir-zikir yang terikat pada waktu, tempat, atau tindakan tertentu — bangun, tidur, masuk kamar mandi, zikir pagi dan petang — utamakanlah lafal yang benar-benar digunakan oleh Nabi sebelum menggunakan kata-kata Anda sendiri. Ini bukanlah doa yang lebih panjang. Bukan pula doa yang lebih puitis. Zikir tulus Juwairiyah sepanjang pagi telah membuktikan hal itu dengan sendirinya. Ini hanyalah lafal yang telah dibimbing kebenarannya melalui orang lain, demi kebaikan kita, sehingga kita tidak perlu lagi mereka-reka.

Pustaka zikir Quran Gallery mengumpulkan zikir-zikir yang diriwayatkan ini berdasarkan waktu dan kesempatannya, lengkap dengan sumber-sumbernya, sehingga mengamalkan kata-kata Nabi tidak akan pernah terasa lebih sulit daripada merangkai kata-kata kita sendiri.


Jika ada kesalahan pada tulisan di atas — terjemahan yang meleset dari bahasa Arabnya, kutipan yang tidak kuat, atau klaim yang dinyatakan dengan keyakinan melebihi apa yang diizinkan oleh sumbernya — beri tahu kami. Koreksi tersebut jauh lebih berharga bagi kami daripada membiarkan tulisan ini tayang tanpa perbaikan.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk orang-orang yang banyak mengingat-Nya, dengan kata-kata yang Dia ajarkan kepada Rasul-Nya untuk diajarkan kepada kita.