Articles
Satu Tubuh, Satu Rasa Sakit: Ikatan yang Menjadikan Derita Mukmin Lain sebagai Deritamu Sendiri
"Mengapa saya harus peduli?" adalah pertanyaan yang wajar, dan Al-Qur'an serta sabda Nabi menjawabnya dengan gamblang — bukan dengan slogan, melainkan dengan ikatan yang membuat penderitaan orang asing bukanlah sesuatu yang hanya boleh Anda saksikan dari luar.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
“Mengapa saya harus peduli?” bukanlah pertanyaan yang pantas dijawab dengan ceramah panjang lebar. Seseorang yang belum pernah Anda temui, di tempat yang mungkin tak akan pernah Anda kunjungi, sedang menderita — dan Anda diminta untuk turut merasakannya, memberikan sesuatu untuknya, hingga kehilangan waktu tidur karenanya. Itu adalah permintaan yang berat, dan sangat wajar jika Anda mempertanyakannya sebelum menerimanya. Al-Qur’an dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan membuat Anda merasa bersalah karena telah bertanya. Mereka menjawabnya dengan menjabarkan jati diri Anda yang sebenarnya, entah Anda menyadarinya atau tidak.
Islam tidak membiarkan ikatan antar sesama mukmin bergantung pada perasaan semata — sesuatu yang mungkin Anda rasakan saat sedang senggang namun terlupakan saat sibuk. Islam menegaskannya secara langsung, sebagai sebuah fakta tentang apa arti menjadi seorang mukmin:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.
Perhatikan apa yang tidak disebutkan dalam ayat tersebut. Ayat itu tidak mengatakan bahwa orang-orang mukmin harus berusaha bersikap seperti saudara, layaknya sebuah perusahaan yang meminta karyawannya untuk bersikap profesional. Ayat tersebut menyatakan hubungan ini sebagai sebuah fakta — innamā, “sesungguhnya,” “hanyalah” — dan kemudian membangun sebuah perintah di atas fakta tersebut: damaikanlah mereka, karena itulah yang Anda lakukan untuk keluarga. Pertikaian seorang saudara menjadi urusan Anda saat Anda mendengarnya, bukan karena seseorang menugaskannya kepada Anda, melainkan karena status Anda baginya. Ayat ini tidak berhenti untuk bertanya apakah kedua saudara tersebut memiliki paspor, bahasa, atau lingkungan tempat tinggal yang sama. Geografi tidak pernah menjadi syarat; persaudaraanlah syaratnya.
Jika Al-Qur’an menegaskan ikatan tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bagaimana rasanya dari dalam:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah ibarat satu tubuh: apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.
— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 4/1999 dari , diriwayatkan dari al-Nuʿmān ibn Bashīr.
Sebuah tubuh tidak perlu menimbang-nimbang apakah ia harus merespons sebuah luka. Duri di kaki tidak menunggu mata untuk melakukan pemungutan suara apakah rasa sakit itu sepadan dengan hilangnya waktu tidur. Seluruh sistem bereaksi sebelum bagian mana pun secara sadar memutuskannya. Itulah gambaran yang dipilih oleh Nabi, dan hal ini patut kita renungkan sejenak alih-alih sekadar dibaca lalu dilupakan: beliau tidak membandingkan umat dengan sebuah tim, yang bekerja sama hanya saat menguntungkan, atau sebuah klub, di mana Anda bisa diam-diam berhenti membayar iuran. Beliau membandingkannya dengan sebuah tubuh, di mana koneksi tersebut bukanlah sebuah pilihan yang Anda miliki, melainkan sistem saraf yang tidak bisa Anda matikan. Jika penderitaan seorang mukmin tidak membuat Anda tergerak, hadis tersebut tidak menyebutnya sebagai kepribadian yang tangguh. Hadis itu menggambarkannya sebagai anggota tubuh yang telah mati rasa.
Hadis kedua, yang diriwayatkan dari Abū Mūsā, memberikan gagasan yang sama dalam bentuk yang berbeda — bukan lagi sebuah tubuh, melainkan sebuah bangunan:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan: satu bagian menguatkan bagian yang lain.
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 1/182 dari , diriwayatkan dari Abū Mūsā al-Ashʿarī.
Riwayat ini menambahkan detail fisik kecil yang bisa hilang dalam terjemahan biasa: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hal ini sambil menyilangkan jari-jemari beliau, merapatkan satu tangan dengan tangan lainnya. Sebuah batu bata tunggal yang diletakkan sendirian hanyalah sebuah batu bata — ia tidak menahan beban apa pun dan tidak melindungi siapa pun. Ia baru menjadi sebuah dinding saat bersentuhan dengan batu bata di sebelahnya, masing-masing menanggung sebagian beban yang tidak bisa dipikul sendirian. Gambaran ini menjawab pertanyaan “mengapa saya harus peduli” dari sudut pandang yang berbeda dengan perumpamaan tubuh. Hadis tentang tubuh mengatakan: Anda akan merasakannya, entah Anda memilihnya atau tidak. Hadis tentang bangunan berbicara tentang fungsi, bukan sekadar perasaan — seorang mukmin yang dibiarkan berdiri sendiri adalah mukmin yang secara struktural menjadi lebih lemah, begitu pula semua orang yang bersandar pada batu bata yang hilang di sebelah mereka.
Sebuah ungkapan yang sering diulang-ulang mengatakan bahwa “barang siapa yang bangun pagi tanpa memedulikan urusan kaum muslimin, maka ia bukan golongan mereka.” Kita perlu jujur mengenai dari mana asal kalimat spesifik tersebut, karena fondasi yang layak untuk ikatan ini justru akan melemah, bukan menguat, jika disandarkan pada riwayat yang tidak kuat menahan bebannya.
Pakar kritik hadis al-Sakhāwī menelusurinya dalam kamus ungkapan populernya pada sebuah riwayat dalam kitab Shuʿab al-Īmān karya al-Bayhaqī, yang dibawa melalui seorang perawi bernama Wahb ibn Rāshid dari Farqad al-Sabakhī, bersambung hingga Anas ibn Mālik. Al-Bayhaqī sendiri menyebut sanadnya lemah. Al-Sakhāwī melangkah lebih jauh: ia menyebutnya bukan sekadar lemah tetapi wāhin — sangat rapuh, runtuh karena bebannya sendiri — dan menyebutkan kecacatannya ada pada Wahb, seorang perawi yang dinilai matrūk (ditinggalkan) oleh al-Dāraquṭnī, dan yang menurut Ibn Ḥibbān tidak dapat dijadikan dalil dalam keadaan apa pun.
— al-Maqāṣid al-Ḥasanah, halaman cetak 5/193 dari .
Ini bukanlah masalah teknis yang sepele. Hal ini berarti ungkapan populer tersebut — dengan nada tajam “bukan golongan mereka” — bukanlah sesuatu yang secara sahih diriwayatkan pernah diucapkan oleh Nabi. Kabar baiknya, kita sama sekali tidak membutuhkannya. Ikatan persaudaraan dalam Surah Al-Hujurat dan dua riwayat yang telah diverifikasi secara ketat di atas sudah cukup untuk menanggung seluruh beban argumen ini, secara jujur dan tanpa perlu meminjam otoritas dari sanad yang tidak mampu memikulnya. Sebuah riwayat yang lemah tidak perlu dikerahkan untuk menyampaikan poin yang benar; ia hanya perlu diletakkan dan ditinggalkan.
Jika argumen sejauh ini bersandar pada persaudaraan seiman, ada satu ayat lagi yang patut disandingkan, karena ayat ini bahkan menghapus syarat tersebut:
لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Ayat ini sama sekali bukan tentang sesama mukmin — ini tentang orang-orang yang sepenuhnya berada di luar naungan Islam, namun ayat ini tetap memerintahkan kebaikan dan keadilan terhadap mereka sebagai suatu keharusan. Jika itu adalah batas bawah yang ditetapkan Islam untuk seseorang yang tidak memiliki kesamaan apa pun dengan Anda selain kemanusiaan, maka batas atas untuk saudara atau saudari yang terikat dengan Anda oleh syahadat yang sama, salat yang sama, dan Kitab yang sama, tidak masuk akal jika hanya berupa sikap acuh tak acuh. Al-Qur’an tidak meminta Anda untuk mengarang alasan agar peduli terhadap penderitaan umat Islam di belahan dunia lain. Al-Qur’an meminta Anda untuk menyadari bahwa sejak awal, secara struktural, Anda tidak pernah diizinkan untuk bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan siapa pun — dan bahwa ikatan iman hanya mempererat kewajiban yang memang sudah ada.
Jadi, jika rasa sakit dari anggota tubuh yang belum pernah Anda lihat masih bisa Anda rasakan, itu bukanlah karena Anda terlalu terbawa perasaan. Itu adalah tanda bahwa tubuh tersebut bekerja persis seperti yang digambarkan. Membaca ayat-ayat dalam bahasa Arab aslinya, menelusuri sebuah hadis kembali ke halaman tempat ia benar-benar dicatat, dan belajar membedakan riwayat yang sahih dari yang rapuh adalah kebiasaan yang sama yang akan membuka pemahaman Anda terhadap keseluruhan Al-Qur’an — mulailah dengan Al-Qur’an itu sendiri dan lihatlah betapa banyak dari apa yang telah Anda rasakan ternyata sudah tertulis di dalamnya.