Articles
Apa yang Menghalangi Kemenangan: Lima Rintangan yang Disebutkan Al-Qur'an
Allah menjanjikan pertolongan bagi orang-orang beriman, namun pertolongan tersebut tidak selalu datang sesuai harapan kita. Al-Qur'an secara lugas menjelaskan alasannya: ada lima rintangan yang dibuat oleh umat ini di jalannya sendiri, dan setiap rintangan tersebut adalah sesuatu yang bisa mulai kita singkirkan hari ini.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Allah ﷻ menjanjikan pertolongan bagi orang-orang yang beriman. Dia juga memberitahu mereka, secara berulang dan spesifik, apa yang menghalangi datangnya pertolongan tersebut. Menyaksikan penderitaan kaum muslimin di zaman kita saat ini, wajar jika kita bertanya-tanya mengapa pertolongan itu terasa begitu lambat—dan kita perlu jujur melihat apa yang sebenarnya dikatakan Al-Qur’an sebagai jawabannya, serta apa yang tidak dikatakannya.
Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa mereka yang paling menderita adalah mereka yang paling bersalah. Di Perang Uhud, para sahabat yang gugur bukanlah mereka yang kesalahannya membalikkan keadaan perang—Hamzah bin Abdul Muthalib (semoga Allah meridainya), paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, termasuk di antara lebih dari tujuh puluh syuhada pada hari itu, dan tak satu pun dari mereka disebut dalam Al-Qur’an sebagai penyebab kekalahan. Diagnosis berikut ini ditujukan kepada seluruh umat, melintasi zaman, sebagai panggilan untuk bermuhasabah—bukan sebagai vonis yang dijatuhkan kepada mereka yang sedang tertimpa musibah.
Perang Uhud bermula dengan kemenangan kaum muslimin dan berakhir dengan kekalahan, dan Al-Qur’an memberitahu kita secara persis apa yang terjadi di antara keduanya:
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ ٱللَّهُ وَعْدَهُۥٓ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَـٰزَعْتُمْ فِى ٱلْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلْـَٔاخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ
“Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membinasakan mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu; dan sungguh, Dia telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.”
Bacalah perlahan-lahan: kemenangan sebenarnya telah diberikan. Kemudian sekelompok pasukan meninggalkan pos mereka—khawatir mereka tidak kebagian harta rampasan yang ditinggalkan musuh yang mundur—dan satu tindakan ketidaktaatan, yang lahir dari perselisihan dan godaan duniawi, membalikkan seluruh jalannya pertempuran. Apa yang akan dibahas dalam artikel ini bukanlah sekadar tafsir yang ditambahkan pada ayat tersebut; melainkan ayat itu sendiri, yang diuraikan ke dalam empat benang merah yang disebutkannya: perselisihan, cinta dunia, dan—yang mendasari keduanya—dosa meninggalkan amanah yang diperintahkan untuk dijaga. Perhatikan pula bagaimana ayat ini diakhiri: dengan ampunan. Allah menyebutkan kesalahan tersebut dan memaafkannya dalam satu tarikan napas. Itulah nada dari seluruh diagnosis berikut ini—sebuah koreksi, bukan kecaman.
Di bagian lain dalam Al-Qur’an, Allah menetapkan sebuah prinsip yang jangkauannya jauh melampaui satu pertempuran:
…إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ…
“…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”
Ini adalah ayat yang berat untuk direnungkan, karena sangat mudah disalahartikan sebagai bentuk menyalahkan mereka yang sedang menderita. Padahal tidak demikian. Ayat ini ditujukan kepada kita—mereka yang membacanya, mereka yang memiliki pilihan untuk berubah—bukan kepada mereka yang sudah hancur di bawah penindasan orang lain. Dosa suatu kaum bukanlah bukti ketidakbersalahan pihak yang menzalimi mereka; kezaliman tetaplah kezaliman, tidak peduli siapa pelakunya. Apa yang diminta oleh ayat ini sebenarnya lebih sempit dan lebih bermanfaat daripada sekadar mencari kambing hitam: sebelum kita bertanya mengapa pertolongan belum datang, sudahkah kita menyingkirkan hal-hal yang ada dalam kendali kita sendiri? Salat kita, kejujuran kita, kepedulian kita terhadap mereka yang lemah di antara kita, serta catatan amal kita sendiri di hadapan Allah. Umar bin Khattab (semoga Allah meridainya) berpesan kepada pasukan sebelum Perang Qadisiyyah agar lebih menakuti dosa-dosa mereka sendiri daripada musuh di hadapan mereka—bukan karena musuh tersebut tidak bersalah, melainkan karena dosa adalah satu-satunya variabel di medan perang yang sepenuhnya berada dalam kendali pasukan itu sendiri.
Kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan apa yang menghancurkan barisan di Uhud—tanaza’tum, “kamu berselisih”—bukanlah sekadar kekhilafan sesaat. Hal ini disebut sebagai bahaya yang terus mengintai:
وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَـٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
﴿وَلَا تَنَازَعُوا﴾ — “dan janganlah kamu berbantah-bantahan” — berada di antara dua perintah lainnya: taat, dan bersabar. Ayat ini tidak meminta umat untuk sepakat dalam segala hal; ayat ini menyebutkan harga yang harus dibayar dari sebuah perselisihan ketika ia menggeser ketaatan dan kesabaran: keberanian akan luntur, dan bersamanya hilang pula rihukum — secara harfiah berarti “anginmu,” yakni momentum yang dimiliki sebuah kesatuan saat bergerak bersama. Sebuah komunitas yang menghabiskan energinya untuk berdebat tentang siapa yang benar, menurut logika ayat itu sendiri, telah menghabiskan kekuatan yang justru mereka butuhkan untuk menghadapi ujian nyata di hadapan mereka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya secara langsung tentang penyakit spiritual yang beliau sebut wahn, penyakit yang beliau katakan akan menjangkiti hati orang-orang beriman meskipun jumlah mereka banyak:
Seseorang bertanya kepada beliau, “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati” — tercatat pada halaman cetak 6/355 dari kitab , dinilai hasan oleh para penyunting edisi ini.
Ini bukanlah seruan untuk mencari-cari bahaya. Ini adalah diagnosis tentang apa yang terjadi ketika kenyamanan menjadi hal yang paling kita lindungi di atas segalanya: kita tidak lagi bersedia mengorbankan harta, reputasi, waktu, atau kemudahan demi kebenaran, karena diam-diam kita telah memutuskan bahwa dunia inilah yang harus kita pertahankan. Obat yang ditunjukkan oleh hadis ini bukanlah sikap nekat—melainkan keyakinan bahwa rezeki dan batas usia telah ditetapkan, dan keyakinan inilah yang membebaskan seorang mukmin untuk bertindak berdasarkan prinsip, bukan karena takut kehilangan.
Al-Qur’an merekam sebuah aduan yang akan disampaikan sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan Allah:
وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَـٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى ٱتَّخَذُوا۟ هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.‘”
Ibnu Qayyim (semoga Allah merahmatinya) menafsirkan satu kata tersebut—mahjuran, “diabaikan”—dengan cakupan makna yang jauh lebih luas daripada sekadar tidak memiliki mushafnya. Beliau menyebutkan lima cara berbeda bagaimana suatu kaum dapat mengabaikan kitab suci mereka sendiri: mengabaikan untuk mendengarkannya, mengimaninya, dan memperhatikannya; mengabaikan untuk mengamalkan perintah dan larangannya, meskipun mereka masih membacanya; mengabaikannya sebagai standar hukum dalam menyelesaikan perselisihan; mengabaikan tadabur dan upaya untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh Sang Pembicara; serta mengabaikannya sebagai obat penyembuh bagi penyakit-penyakit hati. Beliau menulis dengan jelas bahwa setiap hal ini termasuk dalam aduan Rasulullah, “meskipun sebagian bentuk pengabaian lebih ringan daripada pengabaian lainnya” — tercatat pada halaman cetak 118 dari kitab . Sebuah umat bisa saja melantunkan Al-Qur’an di setiap masjid, namun menurut perhitungan ini, mereka tetap dianggap telah mengesampingkannya—jika bacaan tersebut tidak pernah menjadi perenungan, dan perenungan tidak pernah berbuah ketaatan.
Tak satu pun dari kelima hal ini—dosa, perselisihan, cinta dunia, dan jauhnya dari Al-Qur’an—dijadikan sebagai pembenaran atas apa yang dilakukan oleh para penindas. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa kezaliman sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelakunya; menyebutkan apa yang bisa diperbaiki oleh umat pada diri mereka sendiri bukanlah cara Al-Qur’an untuk memaklumi kejahatan yang menimpa mereka. Sebaliknya, apa yang diberikan ayat-ayat ini kepada kita adalah satu-satunya bagian dari persamaan yang benar-benar bisa kita ubah: perselisihan kita sendiri, keterikatan kita sendiri, dan hubungan kita sendiri dengan Kitab yang sejak awal menjanjikan pertolongan kepada kita. Para Sahabat di Uhud diampuni pada hari yang sama ketika ayat tersebut menyebutkan kesalahan mereka, dan Al-Qur’an yang menyebutkannya adalah Al-Qur’an yang sama yang ada di hadapan kita sekarang—untuk dibaca, dipahami, dan dipegang teguh. Itulah titik awal yang paling tepat: bukan sebagai audit atas masa lalu, melainkan sebagai alasan untuk membuka Al-Qur’an itu sendiri dan memulainya dari sana.
Semoga Allah Al-‘Aziz, Yang Maha Perkasa, menyingkirkan apa yang menghalangi umat ini dari pertolongan-Nya, dan semoga Dia menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang memperlakukan Kitab-Nya sebagaimana mestinya—dibaca, dipahami, dan diamalkan.