Articles
Keutamaan Khusyuk: Apa yang Allah Janjikan untuk Salat yang Penuh Ketundukan
Khusyuk dalam salat tidak bisa diukur dari luar, namun Al-Qur'an dan hadis menyebutkan dengan jelas apa yang Allah janjikan untuknya—kedudukan di antara orang-orang yang beruntung, kembali suci seperti bayi yang baru lahir, ampunan atas dosa masa lalu, dan jaminan rumah di Surga.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Khusyuk tidak memiliki batas minimal secara fikih. Tidak ada sudut kemiringan kepala, durasi jeda, atau pandangan yang menunduk yang dicatat dalam fikih sebagai batas antara salat yang khusyuk dan yang tidak. Ini sepenuhnya urusan hati—tidak terlihat oleh orang yang salat di sebelah Anda, tidak terhitung oleh siapa pun yang menghitung jumlah rakaat Anda. Dan justru karena tidak bisa diukur dari luar, nas-nas yang membahasnya melakukan sesuatu yang jarang dilakukan oleh bab fikih lainnya: nas-nas tersebut menyebutkan, secara gamblang dan spesifik, apa yang Allah janjikan untuknya. Bukan sekadar perasaan. Melainkan kedudukan di antara orang-orang yang beruntung. Kembali kepada kesucian yang belum pernah Anda rasakan lagi sejak bayi. Ampunan atas segala dosa yang telah lalu. Jaminan sebuah rumah di Surga. Empat janji, yang semuanya bergantung pada kondisi batin yang sama, dan masing-masing patut kita renungkan seutuhnya.
Surah al-Mu’minun dibuka dengan merinci apa saja yang menandai seorang mukmin sebagai muflih—orang yang telah mencapai falah, sebuah kata yang bermakna kesuksesan sekaligus keberuntungan, yang diraih di dunia dan berlanjut hingga ke akhirat. Sifat pertama dalam daftar tersebut bukanlah sedekah, puasa, atau kejujuran dalam berniaga. Melainkan khusyuk dalam salat.
قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَـٰشِعُونَ Sungguh beruntung orang-orang mukmin—(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.
Perhatikan kembali urutannya. Sebelum ayat-ayat tersebut menyebutkan tentang zakat, menjaga kemaluan, atau memelihara amanah dan janji—yang semuanya disebutkan beberapa ayat setelahnya—sifat pertama yang dicantumkan adalah apa yang dilakukan seseorang dengan hatinya saat berdiri dalam salat. Kesuksesan, sebagaimana surah ini membukanya, didefinisikan mulai dari titik tersebut. Apa pun yang ditambahkan setelahnya dibangun di atas fondasi yang diletakkan pertama kali: salat yang didirikan dengan kehadiran hati, bukan sekadar gerakan anggota badan yang tepat.
Riwayat terpanjang mengenai hal ini datang dari seorang pria yang mencari Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bahkan sebelum kebanyakan orang mendengar tentang beliau. Amr bin Abasah, yang saat itu masih musyrik, berkuda ke Makkah hanya berbekal desas-desus bahwa ada seseorang di sana yang membawa ajaran baru. Ia menemukan Nabi yang sedang bersembunyi dari kaumnya sendiri, lalu meminta untuk diajari. Bertahun-tahun kemudian, setelah Nabi hijrah ke Madinah dan Amr akhirnya berhasil menemui beliau kembali, ia bertanya langsung: beritahukan kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui—beritahukan kepadaku tentang salat, beritahukan kepadaku tentang wudu. Jawaban yang ia terima menggambarkan bagaimana wudu menggugurkan dosa dari setiap anggota tubuh secara berurutan, lalu ditutup dengan penjelasan tentang salat itu sendiri:
فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ، إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ Kemudian jika ia berdiri dan salat—memuji Allah, menyanjung-Nya, mengagungkan-Nya dengan keagungan yang layak bagi-Nya, dan mengosongkan hatinya sepenuhnya untuk Allah—niscaya ia terbebas dari dosa-dosanya seperti pada hari ibunya melahirkannya.
— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 1/569 dari
, dari riwayat Amr bin Abasah, yang diriwayatkan melalui Abu Umamah.Redaksi hadis ini sangat spesifik mengenai apa yang bisa meraih ganjaran tersebut: bukan sekadar basuhan wudu, dan bukan sekadar berdiri salat, melainkan hati yang dikosongkan untuk Allah—tidak ada sisa urusan duniawi hari itu yang masih menempatinya. Abu Umamah, sahabat yang mendengar hal ini dari Amr, sempat mempertanyakan besarnya ganjaran tersebut—bahwa karunia sebesar itu diberikan untuk amalan yang tampak sederhana. Jawaban Amr, yang disampaikan di masa tuanya, adalah bahwa ia tidak akan meriwayatkan sesuatu yang seberat ini jika hanya mendengarnya sekali; ia menghitung Nabi mengucapkannya lebih dari tujuh kali sebelum ia sendiri berani menyampaikannya.
Utsman bin Affan (radhiyallahu ‘anhu) pernah berwudu di hadapan sekelompok orang, menyamakan setiap gerakannya dengan apa yang ia lihat dari cara Nabi berwudu, lalu memberi tahu mereka apa keutamaan yang menyertainya.
مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ، غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ Barang siapa berwudu seperti wuduku ini, kemudian ia salat dua rakaat tanpa membiarkan pikirannya mengembara di dalamnya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 1/44 dari
, diriwayatkan dari Utsman melalui Humran, mantan budaknya, yang berdiri cukup dekat untuk memperhatikan setiap langkah wudu yang kemudian ia gambarkan.Perhatikan apa yang disebutkan hadis ini sebagai syaratnya, dan apa yang tidak. Hadis ini tidak mengatakan barang siapa salat dua rakaat dengan benar. Gerakan yang benar sudah diasumsikan—keseluruhan peristiwa tersebut adalah Utsman yang sedang mendemonstrasikan hal itu. Syarat utama yang disebutkan di atasnya adalah lā yuḥaddithu fīhimā nafsahu—tidak membiarkan pikiran berbicara sendiri tentang hal lain selama dua rakaat itu didirikan. Itulah nilai tambah yang diberikan khusyuk pada salat yang secara teknis sudah sah, dan pada hal itulah ampunan tersebut disandarkan.
Uqbah bin Amir (radhiyallahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa ia mendengar Nabi mengucapkan hal yang sama dalam bentuk yang lebih lugas, saat beliau berdiri dan berbicara di hadapan orang banyak:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ، إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ Tidaklah seorang muslim berwudu lalu menyempurnakan wudunya, kemudian ia berdiri dan salat dua rakaat, menghadapkan hati dan wajahnya sepenuhnya pada salat tersebut, melainkan Surga wajib baginya.
— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 1/209 dari
, dari riwayat Uqbah bin Amir.Riwayat ini memiliki satu kalimat lagi yang patut dibaca. Uqbah mengatakan bahwa ia baru saja selesai mengulangi hadis ini ketika sebuah suara dari belakangnya—Umar bin Khattab—mengatakan bahwa riwayat yang disampaikan sebelumnya bahkan lebih baik lagi. Dua orang sahabat yang membandingkan satu janji tentang khusyuk dengan janji lainnya dan menyebutnya sebagai yang terbaik di antara dua hal yang luar biasa, bukanlah detail yang wajib dipertahankan oleh hadis. Namun, detail itu tetap dipertahankan, karena hal ini menunjukkan bagaimana dampak kata-kata tersebut terhadap orang-orang yang mendengarnya secara langsung.
Gambaran paling jelas tentang apa yang dihasilkan oleh keempat janji ini dalam diri seseorang tidak datang dari riwayat ucapan, melainkan dari kesaksian mata tentang fisik seseorang. Selama pengepungan Makkah, saat Kakbah sendiri sedang dibombardir, Abdullah bin Zubair (radhiyallahu ‘anhu) sedang bersujud ketika sebuah batu manjanik menghantam cukup dekat hingga merobek sebagian pakaiannya.
— Dari penuturan Amr bin Dinar, yang tercatat dalam al-Tawḍīḥ li-Sharḥ al-Jāmiʿ al-Ṣaḥīḥ, halaman cetak 4/186 dari
: ia sedang dalam keadaan sujud, batu itu merobek sebagian pakaiannya, dan ia sama sekali tidak mengangkat kepalanya.Tidak ada satu pun dari pemandangan itu yang terlihat seperti ketenangan fisik yang sekadar dilatih. Hal itu justru menunjukkan sebuah hati yang, pada detik itu juga, tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk menyadari adanya serangan manjanik—pengosongan hati yang sama dengan yang dijanjikan ampunan dosa kepada Amr bin Abasah, yang dipertahankan dalam kondisi yang jauh lebih mencekam daripada sekadar rakaat biasa di rumah.
Jika disimpulkan, inilah yang dijanjikan Allah dalam nas-nas tersebut untuk sebuah keadaan yang tidak bisa diverifikasi oleh siapa pun: tanda pertama orang-orang yang beruntung, hati yang dikembalikan pada kesucian bayi yang baru lahir, ampunan atas segala dosa yang telah lalu, dan rumah di Surga yang diwajibkan baginya. Tak satu pun dari janji ini ditawarkan untuk postur rukuk atau durasi sujud. Keempatnya bersandar pada satu syarat yang sama—hati yang hadir, yang dikosongkan dari segala sesuatu kecuali dari Zat yang ia berdiri di hadapan-Nya.
Hal ini patut dibawa ke dalam salat Anda berikutnya, salat apa pun itu. Jika menjaga jadwal salat lima waktu sepanjang hari justru menjadi bagian dari hal yang membebani pikiran sebelum Anda memulainya, fitur Waktu Salat dari Quran Gallery menyediakan jadwal dan pengingat yang akurat sehingga salat Anda tidak perlu bersaing dengan upaya untuk mengingat waktunya. Yang tersisa untuk dihadirkan hanyalah hati itu sendiri. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan salat kita termasuk di antara salat yang Dia sebut sebagai khusyuk, dan menerimanya dari kami dan dari Anda.