Articles
Seluruh Makhluk Bertasbih kepada Allah: Anda Satu-satunya yang Bebas Menolak
Al-Qur'an menggambarkan alam semesta yang senantiasa bertasbih tanpa henti — langit, petir, burung, bahkan sesuap makanan. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa memilih untuk tidak ikut serta.
- Penulis
- Tim Quran Gallery
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Berdirilah di luar pada pagi yang sunyi, dan Anda akan dengan mudah merasa sendirian bersama pikiran Anda — langit tampak kosong, tanah terasa hening, tidak ada apa pun di sekitar Anda yang melakukan sesuatu secara khusus. Al-Qur’an menyatakan sebaliknya. Setiap bagian dari apa yang mengelilingi Anda saat ini sedang sibuk dalam suatu bentuk ibadah yang memang tidak dirancang untuk bisa Anda sadari.
Sangat mudah untuk menganggap kalimat “langit bertasbih kepada Allah” sebagai sebuah puisi — cara puitis untuk mengatakan bahwa ciptaan itu indah, sehingga ia menunjukkan kebesaran Penciptanya. Namun, Allah sendiri yang menutup penafsiran semacam itu:
تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَـٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَـٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”
Bacalah ayat tersebut perlahan-lahan, dan Anda akan mendapati sebuah pernyataan yang jarang kita renungkan: tidak ada sesuatu pun yang terkecuali, dan ketidakmampuan kita untuk mendengarnya disebut sebagai keterbatasan kita, bukan sebuah metafora dari Allah. Al-Qur’an tidak sedang meminta Anda untuk membayangkan langit bernyanyi. Al-Qur’an memberi tahu Anda bahwa langit memang sedang bernyanyi, pada frekuensi yang telinga Anda tidak diciptakan untuk mendengarnya.
Malaikat-malaikat yang paling dekat dengan Allah digambarkan dengan cara yang sama — bukan sebagai hamba yang beribadah sesekali, melainkan sebagai makhluk yang seluruh hakikat penciptaannya terikat pada ibadah tersebut:
Mereka “bertasbih malam dan siang tiada henti” (Surah Al-Anbiya’ 21:19–20) — tidak ada jeda karena lelah, tidak ada kekosongan di mana tasbih berhenti dan digantikan oleh hal lain. Bagi manusia, ibadah hanyalah salah satu dari sekian banyak aktivitas dalam sehari yang juga mencakup makan, bekerja, dan tidur. Namun bagi malaikat, sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur’an, tasbih bukanlah sesuatu yang dijadwalkan dalam kehidupan mereka — tasbih adalah kehidupan mereka itu sendiri.
Ayat berikutnya menyebutkan makhluk yang lebih dekat dengan apa yang mungkin Anda lihat pagi ini:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلطَّيْرُ صَـٰٓفَّـٰتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ “Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya? Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbihnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”
Seekor burung yang melayang di angkasa tidak bertasbih kepada Allah secara kebetulan, layaknya matahari terbenam yang kadang secara kiasan disebut “mengagumkan”. Ayat ini menegaskan bahwa burung tersebut mengetahui salat dan tasbihnya sendiri — ia telah diberikan, dalam bentuk yang sesuai dengan hakikatnya, sebuah bentuk ibadah sekaligus pengetahuan tentang cara melaksanakannya. Ia tidak perlu diajari, diyakinkan, atau diingatkan setelah lupa. Ia sekadar melakukan apa yang memang menjadi fitrahnya.
Bahkan suara yang mengejutkan Anda pun memiliki gambaran yang sama:
وَيُسَبِّحُ ٱلرَّعْدُ بِحَمْدِهِۦ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِۦ وَيُرْسِلُ ٱلصَّوَٰعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَن يَشَآءُ وَهُمْ يُجَـٰدِلُونَ فِى ٱللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ ٱلْمِحَالِ “Dan guruh bertasbih memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah. Dan Dia Mahakeras siksaan-Nya.”
Ayat ini menyandingkan petir dengan malaikat bukan tanpa alasan: keduanya merespons Allah dengan sikap yang sama, rasa takut yang berpadu dengan pujian, bahkan ketika — pada penggalan ayat berikutnya — manusia digambarkan sedang berbantah-bantahan tentang-Nya. Petir tidak berbantah-bantahan. Ia bertasbih. Kontras ini sengaja ditempatkan di dalam satu ayat yang sama.
Di bagian lain, Al-Qur’an memperluas gambaran ini mencakup segala sesuatu yang ada sekaligus — “apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah” (Surah Al-Jumu’ah 62:1) — lalu mengerucutkannya kembali pada sebuah gugusan pegunungan yang menemani seorang nabi: gunung-gunung “bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi” menemani Nabi Daud ‘alaihissalam (Surah Sad 38:18). Skalanya membentang dari seluruh ciptaan hingga jalan pagi seorang manusia, dan kata kerja yang digunakan tetap sama pada setiap tingkatan.
Hal ini tidak hanya terbatas di langit. Ia sampai ke meja makan Anda. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu sedang bepergian bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan di mana persediaan air menipis. Setelah air memancar dari sela-sela jari Nabi untuk mencukupi kebutuhan seluruh rombongan, Ibnu Mas’ud menambahkan satu detail lagi tentang perjalanan yang sama:
“Kami biasa mendengar makanan bertasbih kepada Allah saat sedang dimakan.”
Beliau menyampaikannya sebagai sebuah fakta yang gamblang, pada halaman cetak 4/194 dari , edisi Sahih Al-Bukhari yang mengabadikannya dalam Kitab Tanda-Tanda Kenabian. Seorang sahabat yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di sisi Nabi mengenang, tanpa melebih-lebihkan, bahwa makanan di hadapannya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan langit dan petir — dan bahwa ia bisa mendengarnya.
Jajarkan semua hal ini dan sebuah pola akan muncul, yang secara lugas dinyatakan oleh Al-Qur’an dalam ayat 17:44: bukan berarti sebagian besar makhluk bertasbih kepada Allah dan sebagian kecil lainnya tidak. Kenyataannya adalah tidak ada satu pun yang terkecuali — langit, bumi, malaikat, petir, burung, gunung, sepotong roti — hanya saja manusia tidak dapat menyadari sebagian besar dari proses tersebut. Daftar ini tidak disusun untuk menunjukkan adanya pengecualian; melainkan untuk menegaskan bahwa pengecualian itu adalah Anda.
Setiap hal lain dalam daftar ini bertasbih kepada Allah berdasarkan fitrah penciptaannya. Seekor burung tidak bisa memilih untuk berhenti menjadi burung di tengah penerbangannya, dan karenanya tidak bisa memilih untuk berhenti bertasbih. Petir tidak menimbang-nimbang keputusannya. Makanan tidak memutuskan apakah malam ini ia sedang ingin bertasbih atau tidak. Hanya makhluk yang memiliki pilihan yang mampu melakukan penolakan, dan di antara segala sesuatu yang digambarkan Al-Qur’an telah bertasbih kepada Allah, manusia adalah satu-satunya dalam daftar tersebut yang diberi pilihan untuk berhenti.
Itu bukanlah detail yang sepele — melainkan inti dari bobot ayat tersebut. Zikir, mengingat Allah melalui lisan dan hati, bukanlah lapisan ibadah tambahan yang ditumpuk di atas alam semesta yang netral. Zikir adalah satu-satunya ruang di mana makhluk yang sadar dan memiliki pilihan dapat secara sukarela melakukan apa yang dilakukan oleh seluruh ciptaan lainnya secara otomatis. Tasbih seekor burung tidak menuntut pengorbanan apa pun darinya, karena burung tidak memiliki hal lain yang bisa ia lakukan sebagai gantinya. Tasbih Anda menuntut sebuah pengorbanan, karena Anda selalu punya pilihan untuk melakukan hal lain — dan justru itulah yang membuatnya bernilai.
Zikir tidak membutuhkan segunung waktu luang atau momen khusus. Sebuah kalimat yang diulang saat menunggu, sebuah ayat yang diingat saat berjalan, sejenak memuji-Nya sebelum makan — hal-hal ini cukup kecil untuk diselipkan di mana saja dalam keseharian Anda, dan itulah intinya: langit pun tidak menunggu waktu yang luang untuk bertasbih. Jika Anda menginginkan cara untuk membangun kebiasaan zikir tersebut ke dalam ritme hari Anda alih-alih membiarkannya terjadi secara kebetulan, koleksi /adhkar di Quran Gallery mengumpulkan bacaan-bacaan sahih untuk pagi, petang, dan waktu-waktu di antaranya, sehingga pilihan di hadapan Anda hanyalah sekadar mengatakan ya.
Kami telah berusaha memverifikasi setiap kutipan dalam tulisan ini dengan korpus Al-Qur’an dan kumpulan hadis primer alih-alih sekadar mengulang referensi mentah; jika Anda menemukan kesalahan, kami akan dengan senang hati menerima koreksi. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami termasuk golongan orang-orang yang lalai — jadikanlah kami juga bagian dari tasbih yang tak pernah berhenti dipersembahkan oleh seluruh ciptaan-Mu yang lain. Amin.