Articles
Dua Jenis Zikir: Zikir Umum dan Adzkar yang Ditetapkan
Zikir bukanlah satu amalan dengan satu cara saja. Zikir terbagi menjadi dua garis besar yang saling lepas — seberapa bebas bentuknya, dan bagian diri mana yang sebenarnya sedang berzikir — dan memahami keduanya adalah kunci yang mengubah kebiasaan mengulang kata menjadi zikir yang meresap ke dalam hati.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Sebut kata “zikir” dan kebanyakan orang akan membayangkan satu hal: untaian tasbih, atau kalimat yang diulang-ulang dengan suara pelan. Bayangan itu tidak salah, tetapi itu hanyalah sebagian kecil dari amalan yang jauh lebih luas. Para ulama klasik membagi zikir ke dalam dua kategori yang berbeda, dan keduanya tidak mengukur hal yang sama. Kategori pertama melihat seberapa bebas bentuknya — apakah zikir ini bisa diucapkan dengan cara apa pun, di mana pun, dan berapa kali pun, ataukah berupa rangkaian kata baku yang terikat pada waktu tertentu? Kategori kedua melihat bagian diri mana yang melakukannya — apakah hanya lisan yang bergerak sementara hati entah ke mana, ataukah hati sudah sejalan dengan lisan? Memahami keduanya adalah pembeda antara sekadar menghafal daftar kalimat keagamaan dengan memiliki peta nyata tentang bagaimana wujud “mengingat Allah” sepanjang hari.
Kategori pertama membagi zikir berdasarkan seberapa baku bentuk dan waktunya.
Zikir mutlak (tidak terikat) tidak memiliki ketentuan lafal, tempat, atau jumlah tertentu. Ini mencakup tasbih (سُبْحَانَ اللّٰهِ — menyucikan Allah), tahmid (اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ — memuji-Nya), takbir (اَللّٰهُ أَكْبَرُ — mengagungkan-Nya), tahlil (لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ — persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia), hauqalah (لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله — tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya), istigfar (memohon ampunan), selawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membaca Al-Qur’an itu sendiri. Tidak satu pun dari amalan ini yang memiliki jadwal khusus. Anda bisa mengucapkannya sambil berjalan, duduk, menunggu air mendidih, atau saat berbaring terjaga — sebanyak yang Anda mau, selama yang Anda inginkan. Al-Qur’an menyinggung kategori ini secara langsung, tanpa menyebutkan bentuk atau jumlah tertentu:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan zikir (namanya) sebanyak-banyaknya,” — Surah Al-Ahzab, 33:41
Perintahnya adalah katsiran — sebanyak-banyaknya — bukan jumlah, lafal, atau waktu tertentu. Keterbukaan inilah yang menjadi inti dari kategori ini: menjadikan zikir selalu bisa dijangkau di setiap waktu ketika Anda tidak sedang sibuk dengan ibadah formal lainnya.
Sebaliknya, zikir muqayyad (terikat) sudah ditetapkan pada ketiga porosnya sekaligus — lafal, tempat, dan waktu. Ini adalah ranah adzkar yang sesungguhnya: zikir pagi dan petang, doa setelah salat lima waktu, doa sebelum tidur dan saat bangun, serta zikir-zikir pendek yang menyertai aktivitas sehari-hari — makan, berpakaian, masuk dan keluar rumah. Ini bukanlah kalimat yang Anda rangkai sendiri saat itu juga; melainkan kalimat-kalimat spesifik, diriwayatkan dengan lafal yang spesifik, dan diperuntukkan bagi waktu yang spesifik pula dalam sehari. Jika zikir mutlak ibarat pintu yang terbuka sepanjang hari, zikir muqayyad adalah serangkaian janji temu — dan zikir seseorang kepada Allah biasanya merupakan perpaduan dari keduanya, bukan pilihan antara salah satunya.
Kategori kedua tidak ada hubungannya dengan bentuk atau waktu. Kategori ini melihat bagian diri mana yang sebenarnya ikut serta — dan ini melintasi kategori pertama secara keseluruhan, karena baik zikir mutlak maupun muqayyad bisa dilakukan dengan lisan saja, atau dengan lisan dan hati secara bersamaan.
Klasifikasi Al-Qadhi ‘Iyadh mengenai hal ini, yang diabadikan dalam syarah Imam An-Nawawi atas Shahih Muslim, adalah penjelasan paling gamblang dalam literatur klasik: zikir kepada Allah terbagi menjadi dua jenis, zikir hati dan zikir lisan. Zikir hati itu sendiri terbagi menjadi dua — merenungkan kebesaran Allah, keagungan-Nya, dan kekuasaan-Nya atas langit dan bumi (yang beliau sebut sebagai bentuk zikir tertinggi dan paling mulia), serta mengingat perintah dan larangan-Nya saat hendak bertindak, sehingga seseorang menaati apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Zikir lisan semata, catat beliau, adalah yang paling lemah di antara ketiganya — tetapi tetap memiliki keutamaan yang nyata, sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis tentang keutamaannya — tercetak pada halaman 17/15 dari kitab .
Peringkat ini bukanlah bentuk pengabaian terhadap lisan. Ucapan adalah cara zikir mutlak dilafalkan dan bagaimana adzkar yang ditetapkan diriwayatkan kata demi kata; tanpanya, lafal-lafal yang sampai kepada kita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memiliki tempat bernaung. Namun, klasifikasi ini adalah peringatan agar tidak menyamakan sekadar gerakan dengan makna — kata-kata yang diulang sementara pikiran melayang entah ke mana tetaplah zikir, hanya saja dalam bentuknya yang paling lemah. Al-Qur’an menyatakan dengan jelas pada bagian mana dari pasangan ini ketenangan yang sesungguhnya dapat ditemukan:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” — Surah Ar-Ra’d, 13:28
Ketenangan tidak dijanjikan pada suku kata yang terucap; ketenangan dijanjikan pada hati yang hadir saat kata-kata itu diucapkan.
Jika disandingkan, kedua kategori ini menghasilkan empat kombinasi, bukan dua: zikir mutlak yang diucapkan dengan lisan saja (kalimat apa pun, kapan pun, diucapkan tanpa penghayatan — tetap dihitung, namun bentuk yang paling ringan); zikir mutlak yang diucapkan dengan hati yang hadir (kalimat yang sama, namun dihayati, di setiap waktu yang memungkinkan); zikir muqayyad yang dibaca secara hafalan (adzkar pagi diucapkan dengan benar tetapi seperti mesin otomatis); dan zikir muqayyad yang dibaca dengan kehadiran hati (kata-kata baku yang sama, dipahami saat diucapkan). Lafal baku pada pasangan kedua tidak lantas merendahkan kedudukannya di bawah pasangan pertama — hal itu sekadar menjawab pertanyaan yang berbeda. Cakupan memberi tahu Anda kapan dan bagaimana sebuah zikir boleh diucapkan; kehadiran hati memberi tahu Anda apakah zikir itu telah meresap ke dalam hati saat diucapkan.
Al-Qur’an memberikan satu gambaran yang menyatukan kedua kategori ini dalam satu ayat — cakupan yang mutlak (“berdiri, duduk, dan berbaring” — tidak ada postur yang dikecualikan, tidak ada waktu yang ditentukan) yang langsung disandingkan dengan keterlibatan hati (merenungkan penciptaan langit dan bumi):
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.‘” — Surah Ali ‘Imran, 3:191
Itulah pemaknaan paling utuh dari kedua kategori tersebut secara bersamaan: cakupan tanpa celah, yang diisi dengan hati yang benar-benar hadir.
Kedua klasifikasi ini bukanlah hierarki yang Anda daki sekali lalu ditinggalkan. Seseorang membutuhkan kategori mutlak untuk mengisi jam-jam biasa yang tidak memiliki bentuk ibadah baku, dan membutuhkan kategori muqayyad untuk menjadi jangkar hari pada titik-titik pentingnya — bangun tidur, usai salat, dan menjelang tidur. Dan di dalam keduanya, tujuannya tetap sama: biarkan gerakan lisan sejalan dengan perhatian hati, alih-alih merasa puas dengan versi paling ringan dari kedua kategori tersebut hanya karena itu lebih mudah dilakukan.
Jika Anda ingin mengamalkan zikir muqayyad dengan lafal utuh sesuai riwayatnya — adzkar pagi, petang, setelah salat, dan momen-momen biasa dalam sehari — koleksi Adzkar dari Quran Gallery menyajikannya lengkap dengan terjemahan, sehingga Anda dapat membaca persis seperti apa yang diucapkan oleh Nabi, bukan sekadar parafrasanya.
Kami telah berusaha menjaga agar setiap klasifikasi di atas tertaut pada halaman yang bisa Anda buka, bukan sekadar klaim yang harus diterima begitu saja. Jika Anda menemukan kutipan yang kurang tepat, beri tahu kami — kami lebih memilih untuk memperbaikinya daripada membiarkannya keliru. Dan kami memohon kepada Allah agar menjadikan zikir kita, dalam bentuk apa pun itu, sebagai zikir yang meresap ke dalam hati dan tidak hanya berhenti di lisan.