Articles
Hingga Tanah Pun Basah: Salat dan Khusyuknya Rasulullah
Lima riwayat sahih tentang bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendirikan salat — dada yang bergemuruh bak gilingan gandum, kaki yang bengkak karena berdiri terlalu lama, dan malam yang berakhir dengan tanah yang basah di bawah wajah beliau.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 5 menit
Khusyuk itu mudah didefinisikan, tetapi sulit dibayangkan. Kita bisa saja menyebutnya sebagai ketundukan hati yang tecermin pada raga—ketenangan, tangisan, dan pikiran yang benar-benar telah melepaskan urusan duniawi—namun tetap saja kita belum tentu tahu seperti apa wujud nyatanya pada diri seseorang. Untuk itu, sumber-sumber sejarah memberikan kita sesuatu yang jauh lebih baik daripada sekadar definisi: kesaksian dari orang-orang yang melihat langsung bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam salat, dari jarak yang begitu dekat hingga mereka bisa mendengar suara dari dada beliau dan melihat tanah di bawah wajah beliau. Lima di antaranya kami himpun di bawah ini, merujuk langsung pada halaman kitab cetaknya, bukan sekadar kutipan tanpa sanad yang jelas.
Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu pernah bermakmum dalam salat malam di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia kemudian menceritakannya dengan sangat rinci hingga kita hampir bisa membayangkan keseluruhan rakaat tersebut. Ia menuturkan bahwa Nabi membuka salatnya dengan Surah al-Baqarah, dan Hudzaifah mengira beliau akan rukuk pada ayat keseratus. Ternyata tidak. Hudzaifah lalu mengira beliau akan menyelesaikan surah tersebut dalam satu rakaat. Beliau juga tidak berhenti di situ—beliau langsung menyambungnya dengan Surah an-Nisa’, membacanya sampai selesai, lalu lanjut membuka Surah Ali ‘Imran, membacanya secara tarassulan—perlahan, tidak terburu-buru, dan memberikan hak pada setiap kalimatnya.
Hudzaifah juga menyadari hal lain dari cara beliau membaca: ini bukanlah bacaan yang mengalir begitu saja tanpa penghayatan. “Ketika beliau melewati ayat yang berisi tasbih, beliau bertasbih. Ketika melewati ayat yang berisi permohonan, beliau memohon. Dan ketika melewati ayat yang berisi permohonan perlindungan, beliau memohon perlindungan.” Saat rukuk akhirnya tiba, durasinya hampir sama panjang dengan saat beliau berdiri. Berdiri setelah bangkit dari rukuk (iktidal) durasinya hampir sama dengan rukuknya. Sujudnya pun hampir sama panjang dengan berdirinya. Tiga surah panjang, dibaca seolah-olah setiap ayatnya sedang dihidupi, bukan sekadar dilafalkan, dengan proporsi waktu yang seimbang sejak takbiratulihram hingga sujud terakhir.
— Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 1/536 dari , diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman.
Abdullah bin asy-Syikhkhir radhiyallahu ‘anhu pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang mendirikan salat, dan ada satu suara yang sangat membekas di benaknya. “Aku mendatangi beliau saat beliau sedang salat,” tuturnya, “dan dari dada beliau terdengar suara seperti gilingan gandum, karena menangis.” Para penyunting edisi Sunan Abī Dāwūd ini menilai sanadnya sahih. Memang terasa unik bahwa hal semacam ini ikut diriwayatkan—bukan sebuah sabda, bukan pula hukum fikih, melainkan sekadar deskripsi suara dari seorang saksi mata—dan justru itulah yang membuatnya mustahil untuk dikarang-karang. Tidak ada orang yang membangun argumen hukum berdasarkan suara dada seseorang. Mereka meriwayatkannya semata-mata karena mereka mendengarnya.
— Sunan Abī Dāwūd, halaman cetak 2/173 dari .
‘Atha’ dan ‘Ubaid bin ‘Umair rahimahumallah pernah mengunjungi ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan memintanya untuk menceritakan hal paling menakjubkan yang pernah ia saksikan dari diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Aisyah terdiam sejenak. Lalu ia berkata: “Pada suatu malam, beliau berkata, ‘Wahai ‘Aisyah, biarkan aku beribadah kepada Tuhanku malam ini.’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, aku sangat suka berada di dekatmu, dan aku juga menyukai apa yang membuatmu bahagia.‘”
Beliau pun bangkit, berwudu, lalu berdiri untuk salat. “Beliau menangis hingga pangkuannya basah,” tutur ‘Aisyah. “Kemudian beliau duduk dan menangis hingga janggutnya basah. Lalu beliau menangis lagi hingga tanah pun basah.” Bilal radhiyallahu ‘anhu datang untuk mengumandangkan azan dan mendapati beliau masih menangis. “Wahai Utusan Allah,” tanyanya, “mengapa engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab: “Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur? Malam ini telah turun kepadaku sebuah ayat—celakalah orang yang membacanya namun tidak merenungkannya”:
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.
Surah Ali ‘Imran, 3:190 — pembuka dari sepuluh ayat penutup surah tersebut, yang kemudian beliau baca hingga tuntas.
— Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān, halaman cetak 7/722 dari .
‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengenang sebuah malam yang penuh dengan ketegangan. “Tidak ada satu pun penunggang kuda di antara kami pada hari Perang Badar kecuali al-Miqdad,” ujarnya. “Dan aku melihat ke sekeliling, tidak ada satu pun dari kami yang terjaga kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di bawah sebuah pohon, salat dan menangis hingga pagi menjelang.” Di perkemahan pada malam menjelang pertempuran yang akan menentukan apakah komunitas Muslim yang masih belia ini akan bertahan hidup atau tidak—satu-satunya sosok yang tetap berdiri tegak sepanjang malam adalah beliau yang memikul tanggung jawab paling berat atas apa yang akan terjadi esok harinya.
— Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān, halaman cetak 6/319 dari .
Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu menggambarkan sebuah peristiwa yang menjadi salah satu riwayat paling sering diulang dalam tradisi Islam, dan tentu ada alasan kuat di baliknya. “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dalam salat,” tuturnya, “hingga kedua kaki beliau bengkak.” Seseorang bertanya kepada beliau, “Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang”—sebuah pertanyaan yang lugas dan masuk akal: mengapa harus memikul beban seberat ini, padahal jaminan ampunan sudah di tangan? Jawaban beliau tidak butuh penjelasan panjang lebar: “Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?”
Tidak ada satu pun dari kedudukan beliau di dunia ini yang menjadikan ampunan tersebut bersyarat pada usahanya. Ibadah yang beliau lakukan bukanlah harga untuk menebus ampunan itu. Ibadah tersebut adalah bentuk rasa syukur atasnya.
— Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, halaman cetak 4/1830 dari , diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu’bah.
Tak satu pun dari riwayat-riwayat tersebut yang menjabarkan sebuah teknik. Tidak ada yang mengajarkan metode untuk mencapai khusyuk dalam narasi-narasi ini—tidak ada instruksi, tidak ada rumus, tidak ada panduan “berdirilah seperti ini dan engkau akan menangis seperti itu.” Apa yang mereka abadikan adalah sebuah dampak alami: seorang hamba yang hubungannya dengan Tuhannya telah tumbuh begitu besar hingga meluap ke dalam salatnya, terdengar, terlihat, dan terjadi begitu saja tanpa dibuat-buat. Suara gemuruh di dada dan bengkak di kaki beliau bukanlah pertunjukan bagi siapa pun yang melihatnya. Abdullah bin asy-Syikhkhir dan al-Mughirah kebetulan saja berada di sana. ‘Aisyah ditanya secara langsung dan harus menyelami kembali ingatannya sebelum ia bisa menjawab.
Pada akhirnya, itulah hal paling jujur yang bisa diajarkan oleh riwayat-riwayat ini kepada kita tentang khusyuk: ia bukanlah sekadar postur tubuh yang kita terapkan dalam salat. Khusyuk adalah apa yang dilakukan oleh hati yang telah memahami Allah dengan benar ketika akhirnya diberi kesempatan untuk berdiri di hadapan-Nya tanpa gangguan—dan segala hal yang tampak dalam kelima kisah ini, air mata, suara isakan, kaki yang bengkak, lamanya berdiri, hanyalah wujud lahiriah dari pemahaman tersebut.
Jika Anda ingin memberikan ruang lebih bagi salat Anda untuk mencapai hal ini, pendamping salat Quran Gallery akan menyesuaikan waktu salat lima waktu dan sepertiga malam terakhir dengan lokasi Anda—rentang kegelapan malam yang sama yang terus diulang dalam riwayat-riwayat ini.