Articles
Al-Qur'an Adalah Zikir: Apa Maknanya Jika Kita Benar-Benar Meyakininya
Allah menamai Al-Qur'an sebagai "Peringatan" (Zikir) di dalam Al-Qur'an itu sendiri — bukan sekadar pujian dari orang beriman, melainkan penjelasan kitab itu tentang dirinya sendiri. Empat hadis menguraikan konsekuensi dan keutamaan dari hal ini: pahala yang dihitung per huruf, perhatian dari Allah yang tidak diberikan kepada hal lain, dan derajat di surga yang ditentukan oleh ayat terakhir yang dibaca.
- Penulis
- The Quran Gallery team
- Dipublikasikan
- Waktu baca
- Baca 6 menit
Sebut kata “zikir”, dan kebanyakan orang akan membayangkan kalimat pendek yang diulang-ulang: subḥān Allāh, al-ḥamdu lillāh, lā ilāha illā Allāh. Dihitung dengan jari, menghadirkan ketenangan di hati. Praktik semacam itu memang nyata adanya, tetapi bukan itu yang akan kita bahas di sini.
Tulisan ini membahas pernyataan yang lebih mendalam, dan ini bukan berasal dari kami. Allah tidak sekadar memberi pahala bagi bacaan Al-Qur’an sebagai salah satu bentuk zikir di antara zikir-zikir lainnya. Dia menamai kitab itu sendiri sebagai “Peringatan” (Zikir) — dengan kata-kata dari kitab itu sendiri, tentang dirinya sendiri.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.
Kata yang diterjemahkan sebagai “Al-Qur’an” di situ, dalam bahasa Arabnya adalah al-dhikr — Peringatan. Ini adalah salah satu nama Al-Qur’an untuk dirinya sendiri, bersanding dengan Al-Furqan dan Al-Huda, dan kata ini memiliki makna yang kuat dalam kalimat tersebut: Allah tidak sedang berjanji untuk menjaga sebuah teks tentang peringatan. Dia berjanji untuk menjaga peringatan itu sendiri.
Perbedaan makna inilah yang menjadi inti dari tulisan ini. Jika Al-Qur’an hanyalah salah satu bentuk zikir di antara banyak zikir lainnya, ia akan bersaing memperebutkan waktu lima menit yang sama dengan hal-hal lain dalam daftar kesibukan kita. Namun, jika Al-Qur’an adalah zikir itu sendiri — sebagaimana sebutan Allah untuknya — maka membacanya, mendengarkannya, dan duduk merenunginya bukanlah sekadar jalan sampingan untuk mengingat Allah. Itu adalah jalan paling langsung yang pernah ada.
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisal. Aku tidak mengatakan alif-lām-mīm itu satu huruf, melainkan alif satu huruf, lām satu huruf, dan mīm satu huruf.”
— diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Jāmi’ al-Tirmidhī, halaman cetak 5/33 dari , yang dinilai oleh al-Tirmidzi sendiri sebagai ḥasan ṣaḥīḥ gharīb dari jalur periwayatan ini.
Bacaan zikir lainnya dihitung per kalimat: bacalah seratus kali, bacalah setiap selesai salat. Namun, yang satu ini dihitung per huruf, dan Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) secara khusus menegaskan agar tidak ada yang memperkecil satuannya — satu huruf Al-Qur’an, bukan satu kata utuh, membawa balasan sepuluh kali lipatnya sendiri. Tidak ada hal lain dalam perbendaharaan zikir standar yang diukur dengan ketelitian sedetail itu. Ini adalah perhitungan yang sepenuhnya berbeda, dan hanya berlaku untuk satu kitab ini.
Seratus pengulangan zikir pendek bernilai seratus kebaikan, yang dilipatgandakan dengan murah hati. Satu halaman Al-Qur’an berisi ratusan huruf, dan setiap hurufnya melakukan pelipatgandaan yang sama secara mandiri — tidak digabungkan menjadi satu amal ibadah, melainkan dihitung satu per satu, seolah-olah setiap huruf adalah bacaannya tersendiri.
مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ “Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan seorang Nabi yang bersuara indah, melantunkan Al-Qur’an dengan suara keras.”
— diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 2/192 dari .
Redaksi hadis ini secara spesifik menyebutkan seorang Nabi, dan sebaiknya kita membiarkannya demikian daripada memaksakan maknanya agar berlaku untuk semua orang. Namun, poin utama di balik kalimat tersebut tidak bergantung pada siapa yang membaca — melainkan tentang apa yang memenuhi syarat, dalam hadis ini, sebagai satu-satunya hal yang digambarkan paling diperhatikan oleh Allah di atas suara-suara lainnya. Bukan doa, bukan khotbah, bukan pula teriakan minta tolong. Melainkan suara yang melantunkan Al-Qur’an dengan lantang. Apa pun bentuk zikir lainnya, inilah yang dijadikan contoh oleh hadis ketika menggambarkan perhatian Allah yang paling penuh.
Jika disandingkan dengan pahala per huruf di atas, kedua hadis ini tidak sedang membicarakan hal yang terpisah. Yang satu mengukur apa yang akan diterima oleh pembacanya. Yang lain menyebutkan oleh siapa pembaca itu didengarkan — perhatian Allah sendiri, yang digambarkan di sini lebih tercurah padanya dibandingkan pada hal lain.
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ، وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا “Akan dikatakan kepada sahabat Al-Qur’an: Bacalah, dan naiklah, serta tartilkanlah sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia — karena sesungguhnya kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.”
— diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Sunan Abī Dāwūd, halaman cetak 1/547 dari .
Sebagian besar pahala dalam sunah dikaitkan dengan amal yang telah selesai dikerjakan: salat yang telah ditunaikan, puasa yang telah diselesaikan. Namun, pahala yang satu ini dikaitkan dengan batas atas yang terus bergerak naik selama seseorang masih membaca. Tidak ada versi dari hadis ini yang menyatakan bahwa menghafal lebih banyak atau membaca lebih jauh itu tidak ada pengaruhnya — derajat di akhirat kelak dipatok, ayat demi ayat, sejauh mana bacaan tersebut dilakukan di dunia. Bacaan zikir biasa tidak memiliki struktur seperti itu. Hanya Al-Qur’an yang memilikinya.
اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ… “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya…”
— diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili, Ṣaḥīḥ Muslim, halaman cetak 2/197 dari .
Tidak ada satu pun literatur hadis yang menyebutkan bahwa kalimat zikir pendek akan muncul pada hari Kiamat untuk membela seseorang. Namun, Al-Qur’an melakukannya — dan secara khusus bagi orang-orang yang senantiasa membersamainya, bukan sekadar orang yang memiliki mushafnya. “Sahabat” adalah kata yang digunakan dalam hadis tersebut, kata yang sama yang digunakan untuk orang-orang yang menghabiskan waktu bersama seseorang, bukan sekadar orang yang mengenalnya. Mushaf yang hanya tersimpan di rak tidak memiliki sahabat dalam pengertian tersebut, sesering apa pun pemiliknya menunjuk ke arahnya.
Semua ini tidak lantas membuat kalimat-kalimat zikir pendek yang diulang-ulang menjadi kurang bermakna atau tidak lagi dianjurkan — zikir-zikir tersebut tidak sedang bersaing dengan Al-Qur’an, dan Al-Qur’an itu sendiri memerintahkan orang-orang beriman untuk mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Namun, ini berarti Al-Qur’an tidak bisa sekadar dianggap sebagai “tambahan,” sesuatu yang disisipkan setelah zikir yang sesungguhnya selesai dilakukan. Penjelasan Allah sendiri menempatkan Al-Qur’an sebagai fondasi dari seluruh kategori zikir, bukan sekadar pelengkap di sampingnya. Salat lima waktu sudah memuat bacaan Al-Qur’an dalam ritme yang tetap; apa yang diubah oleh keempat hadis di atas bukanlah jadwalnya, melainkan bobot yang diberikan seseorang pada apa yang terjadi di dalamnya.
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Jika memang untuk itulah zikir dilakukan — agar hati menjadi tenteram, bukan sekadar menggugurkan kewajiban — maka tolok ukur apakah Al-Qur’an benar-benar telah dibaca hari ini bukanlah apakah target halamannya tercapai. Melainkan apakah ada ketenteraman yang hadir di hati.
Mulailah dari struktur yang telah diberikan oleh sunah: /adhkar memuat kumpulan zikir pagi, petang, dan setelah salat yang telah dijaga oleh umat Islam selama lebih dari seribu tahun. Tambahkan porsi bacaan Al-Qur’an ke dalam zikir yang sudah dibaca di sana, alih-alih menyisihkannya untuk waktu lain yang belum pasti di hari itu — dan biarkan keduanya berhenti bersaing memperebutkan waktu lima menit yang sama.
Kami lebih memilih untuk dikoreksi daripada mengulangi kesalahan, jadi beri tahu kami jika ada kekeliruan dalam tulisan ini. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari ahlul Qur’an (keluarga Kitab-Nya).