Lewati ke konten
Search blog
Search blog…
Semua tulisan

Articles

Makna Selawat kepada Nabi: Apa yang Sebenarnya Diucapkan oleh Allah, Malaikat, dan Kita

"Selawat kepada Nabi" begitu sering diterjemahkan sekadar sebagai "keberkahan" atau "rahmat" sehingga makna sebenarnya dari kata tersebut memudar. Inilah penjelasan tradisi tafsir mengenai makna kata kerja tersebut ketika subjeknya adalah Allah, malaikat, dan kita — tiga hal berbeda yang dibawa oleh satu kata kerja yang sama.

Penulis
The Quran Gallery team
Dipublikasikan
Waktu baca
Baca 5 menit

Ucapkan sebuah frasa berulang kali, maka frasa itu akan kehilangan makna spesifiknya. Jutaan kali dalam sehari, seseorang mengucapkan kalimat seperti “Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammad” — Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad — dan kata yang menjadi inti kalimat tersebut, yaitu selawat, sering kali hanya diartikan sebagai “rahmat” lalu dibiarkan begitu saja. Terjemahan itu tidak salah, tetapi menutupi sesuatu yang justru dipertegas oleh Al-Qur’an. Ada satu ayat yang menyandarkan kata kerja yang sama pada tiga subjek yang berbeda, dan tradisi tafsir memandang hal ini sebagai sesuatu yang disengaja: kata tersebut tidak bermakna sama untuk ketiga subjeknya.

﴿إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا﴾

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Surah Al-Ahzab, 33:56

Allah melakukannya. Para malaikat-Nya melakukannya. Orang-orang beriman diperintahkan untuk melakukannya. Jika selawat hanya memiliki satu makna baku, ayat ini akan terasa berputar-putar — sesuatu sedang dilakukan, maka lakukanlah juga. Para mufasir klasik tidak memahaminya seperti itu. Mereka menelaah masing-masing dari ketiga subjek tersebut secara bergantian, mencari tahu apa makna kata itu jika diucapkan oleh pembicara yang berbeda. Sebab, pembicara yang tidak memiliki kekurangan apa pun, pembicara yang bukan sasaran risalah Nabi, dan pembicara yang menjadi sasaran risalah tersebut, tidak mungkin memaksudkan hal yang sama melalui kata kerja yang identik.

Sebelum merinci makna untuk setiap subjek, Imam ath-Thabari menetapkan prinsip linguistik yang menjaga agar penafsiran ini tetap lurus. Saat menafsirkan ayat ini, beliau menulis: “selawat dalam bahasa orang Arab, jika datang dari selain Allah, hanyalah bermakna doa (duʿāʾ).” Satu kalimat itu menepis anggapan bahwa “malaikat berselawat” atau “kalian berselawat” bermakna lebih dari sekadar memohon sesuatu kepada Allah untuk Nabi — malaikat dan orang beriman bukanlah sumber kebaikan yang diminta, melainkan pihak yang memintanya. Allah adalah satu-satunya subjek dalam ayat tersebut yang mampu memberi, bukan meminta, dan itulah sebabnya selawat dari-Nya membutuhkan definisi tersendiri. Hal ini tercatat pada halaman cetak 19/174 dari , dalam tafsir beliau untuk ayat yang sama.

Ath-Thabari juga meriwayatkan, melalui sanad yang bersambung hingga Ibnu Abbas, sebuah penjelasan spesifik mengenai kata kerja yang digunakan bersama oleh Allah dan malaikat: “mereka melimpahkan keberkahan (yubarrikūn) kepada Nabi.” Riwayat ini bersanding — bukan mengungguli — riwayat-riwayat lain di bawah ini; ath-Thabari mencatatnya tanpa menyatakan bahwa riwayat ini adalah jawaban mutlak, begitu pula dengan artikel ini.

Ada dua jawaban berbeda yang sampai kepada kita dari para mufasir generasi awal, keduanya diabadikan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya untuk ayat ini. Pertama: al-Bukhari meriwayatkan, tanpa sanad yang bersambung (muʿallaq), sebuah pernyataan dari Abu al-‘Aliyah — “Selawat Allah adalah pujian-Nya (thanāʾ) terhadapnya di hadapan para malaikat.” Berdasarkan penafsiran ini, ketika ayat tersebut menyatakan bahwa Allah “berselawat” kepada Nabi, itu menggambarkan sebuah tindakan pujian ilahi, yang diucapkan tentang beliau di hadapan para malaikat.

Jawaban kedua datang melalui jalur yang sama sekali berbeda. Abu Isa at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Sufyan ats-Tsauri dan lebih dari satu ulama berkata: “Selawat Tuhan adalah rahmat (raḥmah).” Kedua penjelasan ini — riwayat Abu al-‘Aliyah dan ats-Tsauri — tercatat pada halaman cetak 6/225 dari . Ibnu Katsir tidak membenturkan keduanya; beliau menyajikan keduanya, lalu merujuk pada ayat lain di surah yang sama di mana selawat Allah kepada orang-orang beriman dijabarkan melalui dampaknya: “Dialah yang berselawat kepadamu, dan para malaikat-Nya [memohonkan ampunan untukmu], agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (33:43). Pujian di hadapan para malaikat dan rahmat yang mengeluarkan seseorang dari kegelapan menuju cahaya bukanlah dua klaim yang saling bertentangan — sanjungan dari Allah adalah sebuah rahmat, yang diungkapkan dengan dua cara. Kombinasi kata yang sama muncul lagi saat menggambarkan orang-orang yang bersabar menghadapi musibah: “Mereka itulah yang mendapat selawat dari Tuhannya, dan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (2:157) — Al-Qur’an menyandingkan akar kata yang sama dengan raḥmah untuk kedua kalinya, terlepas dari ayat ini, bagi siapa saja yang masih menimbang apakah kedua riwayat tersebut benar-benar mengatakan hal yang berbeda.

Hal yang disepakati oleh kedua riwayat tersebut, dan yang paling penting dalam penggunaan kata ini: selawat Allah adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh-Nya. Itu bukanlah sebuah permohonan. Itu tidak meminta apa pun kepada siapa pun. Itu adalah pujian yang diucapkan, atau rahmat yang diberikan, dari satu-satunya Zat yang tidak membutuhkan balasan apa pun.

Setelah selawat Allah didefinisikan sebagai tindakan yang Dia lakukan secara langsung, kata kerja identik yang disandarkan pada malaikat harus bermakna lain — kaidah ath-Thabari telah memberi tahu kita bahwa itu pasti berupa doa (duʿāʾ). Halaman kitab Ibnu Katsir memberikan rincian spesifiknya. Melanjutkan riwayat yang sama, Abu al-‘Aliyah dikutip mengatakan “selawat malaikat adalah doa” — sebuah istilah umum yang lugas untuk memohon kepada Allah. Riwayat ats-Tsauri, yang disampaikan bersamanya, mengerucutkan permohonan tersebut: “selawat malaikat adalah istigfar” — secara spesifik, memohonkan ampunan Allah untuknya.

Jika dibaca bersamaan dengan kata “yubarrikūn” dari Ibnu Abbas, yang diriwayatkan secara terpisah baik melalui jalur ath-Thabari maupun al-Bukhari, sebuah gambaran yang utuh akan terbentuk tanpa perlu memaksakan riwayat-riwayat tersebut ke dalam satu kalimat: para malaikat tidak menyanjung Nabi sebagaimana Allah menyanjungnya, karena mereka tidak memiliki kedudukan untuk memuji atas otoritas mereka sendiri. Apa yang mereka lakukan — memohonkan ampunan untuknya, memohonkan keberkahan untuknya — adalah sebuah permohonan. Ini adalah kategori tindakan yang sama yang disebutkan oleh ath-Thabari untuk setiap subjek selain Allah, dan itulah sebabnya penyebutan malaikat dalam ayat ini tidak meruntuhkan batasan antara Pencipta dan ciptaan; justru mempertegasnya. Bahkan para malaikat, makhluk yang paling dekat dengan Arasy, digambarkan sebagai pihak yang meminta, bukan memberi.

Ketika ayat tersebut beralih pada “Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuknya,” landasan semantiknya sudah jelas. Kita bukanlah Allah, sehingga selawat kita tidak mungkin berupa pujian atau rahmat seperti milik-Nya. Kita juga bukan malaikat yang memberi syafaat dari alam gaib, sehingga selawat kita bukanlah istigfar spesifik seperti mereka. Apa yang tersisa, berdasarkan kaidah ath-Thabari, adalah kategori umum yang sama dengan yang ditempati oleh para malaikat: doa — memohon kepada Allah, dengan kata-kata yang Dia ajarkan, agar Dia melakukan untuk Nabi apa yang hanya bisa dilakukan oleh-Nya.

Itu bukanlah tugas yang sepele seperti kedengarannya. Perintah ini tidak meminta orang-orang beriman untuk sekadar merasakan kehangatan yang samar terhadap Nabi; perintah ini meminta mereka untuk secara aktif memohon kepada Allah, mengembalikan kata-kata-Nya sendiri kepada-Nya, demi orang lain — sebuah tindakan syafaat-melalui-permohonan yang spesifik dan dapat diulang, yang sebagian besar orang yang mengucapkan “Allāhumma ṣalli ʿalā Muḥammad” tidak pernah sejenak pun menyadarinya. Mengetahui makna kata tersebut akan mengubah fungsi frasa itu di lisan Anda: ia bukanlah sekadar hiasan yang disematkan pada nama beliau. Ia adalah sebuah permohonan, yang ditujukan kepada Allah, menggunakan kata kerja yang maknanya telah Dia perjelas untuk para malaikat terlebih dahulu dan dibiarkan agar kita pelajari dari mereka.

Redaksi persis yang diajarkan oleh Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk doa ini, beserta zikir-zikir sahih lainnya untuk amalan sehari-hari, adalah alasan mengapa koleksi Adhkar Quran Gallery hadir — menyediakan redaksi yang terverifikasi, bukan sekadar parafrasa, untuk sebuah permohonan yang sangat layak dipanjatkan dengan benar.